Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Dress hitam pembunuh rindu


__ADS_3

Sudah dua hari ini Dirgantara tidak berkomunikasi dengan Senja, pun tidak membalas pesan gadis itu. Di samping karena kesibukan yang luar biasa, juga karena ada yang mengganjal di hatinya. Yah, apalagi kalau bukan tentang masalalu kedua orang tua mereka. Benar itu hanya cerita masalalu, tapi cerita itu berkaitan erat dengan hubungannya saat ini. Bahkan bisa di bilang menjadi ujung tombak nasib hubungan mereka.


Dari kemarin Senja berusaha memaklumi bahwa mungkin Dirga sedang sibuk hingga tak sempat membalas chatnya. Tapi hari ini Senja tak bisa lagi memakai alasan itu untuk menenangkan hatinya. Sebelah hatinya berkata kalau ada yang aneh dari Dirga.


Ketimbang berspekulasi macam-macam, Senja memilih menanyakannya langsung pada pria itu. Ia mencoba menghubunginya, tapi sama sepertinya kemarin, Dirga tak mengangkat telepon nya.


"Dirga, ada apa, kenapa aku merasa kau sedang mengabaikanku?" Kalau tidak salah ini adalah pesan ketiga dari Senja setelah dua pesan nya kemarin tak mendapat balasan.


Di seberang sana, pria berahang kokoh yang tengah berkutat dengan pekerjaannya menghela nafas. Ia sadar memang sudah mengabaikan gadis itu. Dia sedang membiarkan dirinya berpikir, tentang tawaran Ayahnya tempo hari.


Tapi chat menyedihkan dari Senja barusan sedikit banyak telah mengusik hatinya. Ia yang sejak kemarin memang berusaha mengabaikan, kali ini tergerak untuk membalas.


"Aku sedang sibuk, Senja. Maaf. "


Senja menautkan alisnya. Meski jawaban Dirga sesuai dengan tebakan nya, tapi--


"Sesibuk itukah sampai tak sempat membalas pesanku? " Pertanyaan yang mungkin akan di lontarkan semua orang saat pasangannya menjadikan sibuk sebagai alasan.


"Yah begitulah, " tulis Dirga karena bingung harus menjawab apa. Jujur ada sesak tersendiri saat menulis itu.


Pun dengan Senja, gadis itu juga merasa sesak dengan jawaban simpel namun cukup menohok dari Dirga. Ia bahkan sampai menghela nafasnya sambil berpikir apalagi yang akan ia tulis.


"Bisa tidak kita bertemu hari ini? "


"Aku rindu, Dirga. "


Senja membaranikan diri menulis dua pesan itu, meski awalnya ragu, tapi pemilik iris merah itu berharap Dirga tersentuh dengan kalimatnya.


Dan benar saja, pria maskulin di seberang sana langsung memejamkan netra sambil menetralkan nafasnya yang kian terasa sesak.


"Ke pantai sekarang ya, Sayang. Aku menunggumu disini. " Senja menambahkan sebuah foto di akhir pesannya. Foto dirinya yang sedang duduk manis di bawah pohon kelapa di tepi pantai.


Foto yang langsung membuat Dirga menghentikan aktifitasnya.


"Cantik sekali," gumamnya melihat foto Senja yang mengenakan dress hitam. Tidak biasanya gadis itu memakai dress ke pantai.


"Apa dia mengajak ku berkencan sore-sore begini?" Dirga kembali memperhatikan wajah itu. wajah yang cantiknya paripurna. Wajah yang selalu bisa membuat Dirga tersenyum, tak peduli seperti apapun suasana hatinya.


Dan kali inipun sama, niatnya untuk menenangkan diri beberapa hari ini langsung goyah melihat wajah duplikat prameswari itu. Apalagi gadis itu baru saja memanggilnya sayang, membuat pria tampan jadi makin gusar.


"Senja, Senja, tak bisakah kau membuatku tenang sebentar saja?"


Setelah bergumam begitu, Dirga langsung beranjak, meninggalkan begitu saja berkas yang masih menumpuk. Akh siapa peduli, toh ini sudah masuk jam pulang kerja.


Meski tadi ia berencana lembur, tapi niat itu gagal karena gadis bermata merah yang menggodanya dengan dress hitam.


***


Di pesisir pantai, di deretan pohon nyiur paling ujung. Gadis bermata merah nampak gusar dalam penantiannya. Duduknya tak tenang, berulang kali menoleh ke kanan memantau apakah sosok tinggi tegap dengan kulit bersih berjalan kearahnya. Tapi nihil, meski berulang kali menoleh bahkan sampai lehernya pegal, soaok itu tetap tak nampak.


Dirga tak membalas pesannya, sekedar untuk memastikan dia bisa datang atau tidak. Itulah yang membuat gadis berambut sebahu itu gelisah. Kalau tadi Dirga memberi kepastian, setidaknya gadis itu bisa sedikit tenang, meskipin jika jawabannya tidak.


Sudah setengah jam lebih berlalu, tapi Dirga belum juga datang. Kalau pria itu memutuskan datang, harusnya sih sudah sampai, karena perjalanan dari kantornya menuju pantai tidak memakan waktu sampai tiga puluh menit.


"Mungkin memang dia tidak mau menemuiku, " lirih Senja di antara kepasrahan nya. Padahal dia sangat ingin bertemu Dirga


Gadis itu tertunduk, sesak rasanya. Ia tak tahu apa masalahnya tiba-tiba Dirga mengabaikan nya. Bulir bening hampir saja jatuh dari pupil merah itu kalau saja ekor matanya tidak menangkap sosok tinggi tampan berjarak beberapa meter dari tempatnya.


Senja langsung menoleh dan bulir bening yang tadi sudah di pelupuk mata akhirnya jatuh juga, namun bukan jatuh karena sedih, tapi lebih kepada bahagia ataupun haru karena yang di nantinya akhirnya datang. Ayolah, airmata tak harus selalu tentang kesedihan bukan?


"Dirga.. " Ia langsung bangkit menyambut pemilik nama itu.


Dirgantara berjalan pelan mendekati Senja. Pria itu nampak gagah dengan kemeja putih yang ia lipat separuh lengan. Dirga belum sempat mengganti bajunya karena memang tidak berencana ke pantai. Tapi karena kurang nyaman pergi ke pantai dengan pakaian formal, pria itu memilih melepas jas juga dasinya dan hanya menyisakan celana serta kemeja slim fit yang sangat pas membungkus tubuh proporsional nya.


Senja tersenyum semanis yang ia bisa, rasanya senang bukan main melihat Dirga datang, membuktikan kalau pria itu tidak benar-benar mengabaikannya.

__ADS_1


"Dirga, kau datang? " sapa Senja saat Dirga telah berada di hadapannya.


Dirga tak menyahut, namun ia justru memperhatikan Senja dengan seksama, seperti tersihir melihat penampilan gadis itu. Dress hitam sebatas paha memamerkan kaki jenjangnya. Sepatu kets tebal berwarna putih sukses membuat tubuhnya terlihat lebih tinggi, dan jangan lupakan wajahnya yang sore ini nampak sangat anggun dengan make-up tipis namun sangat mempesoana.


Akh Dirga bahkan sampai menelan ludahnya. Kalau sudah seperti ini memang dia bisa mengabaikannya?


"Tentu, ada yang memaksa ku datang tadi,"


"Siapa? aku tidak memaksamu" Protes Senja karena memang dia tidak memaksa tadi. Hanya menyuruh dan bukan memaksa. Senja bahkan tidak protes saat Dirga mengabaikan pesan terakhirnya tadi.


"Bukan kau, tapi---" Memperhatikan Senja sekali lagi lalu menariknya untuk duduk di pangkuannya.


"Dress hitam ini. "


"Hah? " Senja yang kaget karena gerak cepat Dirga jadi tak paham maksud perkataan pria itu.


"Iya, dress mu ini yang sudah memaksaku datang. Padahal tadi aku sedang sibuk sekali. "


Entah dari mana datangnya rona merah itu, tapi tiba-tiba dia datang mewarnai pipi Senja.


"Kau ini, bisa saja," ucapnya hanya untuk sekedar mengusir gugup yang bersamaan hadir dengan rona di pipi.


"Kau sengaja menggodaku dengan dress ini kan?"


"Tidak, aku sama sekali tidak bermaksud begitu." Tentu saja Senja tak terima dengan ucapan Dirga yang menurutnya agak sedikit kasar. Gadis itu langsung melepaskan diri dari dekapan ataupun pangkuan Dirga.


Rona merah yang tadi sempat datang langsung lenyap seketika.


"Aku habis ada acara di butik ibu tadi, makanya aku berpakaian begini ... Kenapa kau menuduhku begitu? "


Dirga tertegun, tak menyangka reaksi Senja akan seperti itu. Padahal kan dia hanya bercanda, tapi lihatlah bahkan matanya yang memang sudah merah jadi semakin merah menahan marah.


"Hey aku hanya bercanda, kenapa kau serius begitu? " Kembali menarik Senja untuk duduk di pangkuannya. Dirga lupa kalau gadisnya itu memang sangat mudah tersinggung. Harusnya dia tidak se-bercanda itu.


"Tapi kau membuatku jadi seperti wanita ja*ang yang sedang menggoda pria, " gerutu Senja masih saja tak terima.


Senja langsung mengangguk. Warna merah di wajahnya perlahan memudar.


"Lagipula tanpa kau melakukan apapun, aku memang sudah tergoda padamu, bahkan saat baru melihatmu." ****, rayuan maut Dirga kembali keluar.


Tidak, tidak, Dirga pasti marah kalau itu di bilang rayuan. Karena nyatanya itulah yang selalu rasakan setiap melihat Senja. Gadis itu terlalu indah baginya. Bahkan meski saat ini ia sedang berusaha mempertimbangkan kemauan Ayahnya untuk menjauhi Senja, tapi hatinya berkata lain. Gerak tubuhnya tak bisa bohong kalau dia memang sangat menggilai gadis itu.


Jangankan melihatnya langsung, bahkan melihat fotonya saja sudah bisa membuat Dirga gila.


"Benarkah? " Senja yang agak risih duduk di pangkuan pria itu mencoba kembali melepaskan diri, tapi kali ini tidak berhasil. Dekapan Dirga terlalu kuat. Dan Senja tidak menggunakan kekuatannya sebagai setengah manusia, ia hanya menggunakan kekuatan sebagai gadis biasa.


"Hmm, " Dirga mulai mengendus leher mulus Senja. Selain cantik, aroma tubuh Senja juga terlalu menggoda baginya.


"Dirga, jangan begitu, takut ada yang melihat. "


Senja mencoba menghindar dengan menarik kepalanya.


"Tidak, tempat ini kan jauh dari keramaian, dan kalaupun ada juga aku tidak perduli. "


Jawaban konyol Dirga mau tidak mau membuat Senja mengernyitkan alisnya heran. Beberapa hari ini pria itu seperti mengabaikannya, tapi begitu bertemu kenapa jadi segila ini ya?


"Dirga kau baik-baik saja, " Senja kembali berusaha meloloskan diri, dan kali ini berhasil karena ia menggunakan sedikit tenaga setengah manusia-nya.


"Baik, " Dirga tau Senja pasti merasa ada yang aneh dengannya, tapi Dirga yakin gadis itu tak tahu betapa menyiksanya kemarin saat ini coba mengabaikannya dengan dalih Ingin menenangkan diri. Padahal nyatanya dia sama sekali tidak tenang. Entahlah, kenapa dia suka sekali menyiksa diri.


Dua hari tanpa berinteraksi dengan Senja benar-benar membuat ia tersiksa. Itulah kenapa sekarang dia seperti orang gila yang menemukan kembali kewarasannya.


"Tapi kau aneh akhir-akhir ini. Kau tidak menelponku, tidak membalas pesanku, tidak---"


"Tidak ada apa-apa, Senja. Aku hanya sedang sibuk."

__ADS_1


Senja mencibir


"Ternyata sibuk bisa membuatmu lupa padaku, ya?"


"Mana mungkin aku melupakanmu, nyatanya sekarang aku disini kan? " Tersenyum sambil mencolek hidung mancung Senja.


"Itu juga karena aku yang menyuruhmu datang kan?"


"Eum tidak juga, aku memang berencana datang tadi. Aku hanya ingin memberimu kejutan tadi." Kebohongan yang jelas terbaca, untung saja Senja gadis polos jadi dia percaaya saja, karena memang kenyataannya dia cukup terkejut tadi. Ia pikir Dirga tidak akan datang.


"Tapi kenapa kau lama sekali tadi? aku hampir saja pergi, kesal menunggumu. "


"Hehe, aku terjebak macet tadi. " Kali ini Dirga bicara jujur. Kemacetan di kota ini kadang memang cukup menjengkelkan.


Senja mengangguk-angguk. Perlahan mulai mengerti kenapa Dirga dari kemarin mengabaikannya. Rupanya dia hanya ingin memberi kejutan padanya. Begitulah menurut Senja


"Oh ya, Dirga. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan. "


"Tentang? "


"Eum tentang orang tua kita." Senja menatap Dirga sesaat.


"Tentang masalalu mereka, apa kau sudah tahu kalau---"


"Aku sudah tahu, " potong Dirga cepat. Ia langsung paham apa yang Senja maksud.


"Ayahku sudah bicara padaku." sambungnya setelah membuang nafas kasar. Apa yang sejak kemarin mengganjal hatinya kini kembali terdengar.


"Tapi bisakah kita tidak membahas nya sekarang? aku sedang tidak ingin membahas nya."


"Tapi aku ingin tahu reaksi orang tuamu, khususnya ibumu." Senja bicara dengan cukup hati-hati. Ia tahu Dirga tidak nyaman membicarakannya, terbukti dari ekspresinya yang langsung berubah.


"Ibuku tidak tahu tentang kau dan ayahmu, tapi kalau dia sampai tahu, aku yakin dia dia pasti akan menggunakan segala cara untuk memisahkan kita. "


Deg. Senja langsung terdiam. Ucapan Dirga terdengar sangat tegas seolah itu gambaran nyata tentang nasib hubungan mereka selanjutnya.


"Sudahlah, jangan membicarakan soal ini sekarang, aku kesini hanya untuk melepas rindu. Bukankah tadi kau bilang rindu padaku? " tanya Dirga sambil tersenyum berusaha menutupi gundah hatinya. ia tak ingin Senja tahu betapa ia bersusah payah mengesampingkan cerita masalalu itu demi bisa bertemu dengannya.


Senja tak tahu bagaimana tersiksanya ia selama dua hari ini berpura-pura mengabaikan padahal sebenarnya sangat merindukan.


Dan sekarang begitu dia bertemu, haruskah ia membiacarakan hal-hal yang membuatnya sempat ragu dan ingin melupakan? Tidak ! jawabannya tentu tidak. Dia hanya ingin melepas rindu sekarang, itu saja !


Senja akhirnya mengangguk. Ia paham. Mungkin cerita itu memang terlalu menyesakkan untuk di bicarakan. Mungkin yang terbaik sekarang adalah mengabaikan cerita itu dan menganggapnya tidak pernah ada supaya tidak lagi mengganggu hubungan keduanya. Kendati tetap saja mereka tahu kalau kisah lama itu adalah rintangan terberat yang akan mereka hadapi.


"Benar, aku hanya ingin melepas rindu. Aku hampir mati karena dua hari ini tidak melihatmu, " kata Senja sambil berdiri lalu berjalan beberapa langkah kedepan, kemudian menghela nafasnya merasakan kelegaan tersendiri setelah terlepas dari rindu yang menggebu.


Di tempat nya Dirga tertegun. Senja baru saja merayunya, apa dia tidak salah dengar? akh sepertinya gadis itu sudah belajar banyak dari Dirga dalam hal rayu merayu.


Pria itu tersenyum simpul. Entah kenapa dia sangat senang mendengar ucapa Senja. pria itu menatap gadis ber-dress hitam di depannya. Dress yang membuatnya sempat menelan ludah saat melihatnya tadi.


Dan sepertinya bukan hanya tadi, tapi sekarang pun Dirga kembali menelan ludahnya, bahkan kali ini dengan perasaan yang tak menentu, bagaimana tidak, dress yang di kenakan Senja melambai-lambai tertiup angin yang kebetulan sedang bertiup cukup kencang. Membuat kaki jenjangnya jadi makin terekspos, memperlihatkan paha putih mulus tanpa noda.


Dirga membuang pandangannya juga membuang pikiran mesumnya jauh-jauh. Tapi tetap saja matanya kembali tertuju ke situ. Terlebih angin semakin kencang mempermainkan dress mini Senja.


Kau salah kostum Senja, harusnya kau tidak memakai dress itu saat sekarang


Batin Dirga sambil berjalan mendekat lalu langsung memeluk Senja dari belakang.


"Aku juga hampir mati karena mu, " bisiknya lembut tepat di telinga Senja lalu bibirnya langsung bergerak cepat mengecup leher mulus gadis itu.


"Dirga, jangan. Aku takut ada yang melihat. "


Kalu tadi protes Senja masih coba ia dengarkan, tapi kali ini tidak lagi. Pria itu sudah tak peduli apapun lagi. Hanya ingin melepas rindu yang kemarin terasa sangat menganggu.


Senja akhirnya pasrah, membiarkan Dirga melahap lehernya seperti orang kelaparan yang sudah tiga hari tidak makan.

__ADS_1


Bahkan saat Dirga membalikan tubuhnya lalu menyesap bibirnya dalam-dalam pun tetap diam. Malah berusaha menikmati dengan memeluk pinggang Dirga.


Sebuah sentuhan kecil yang juatru membuat Dirga jadi makin berani. Ia mengusap paha mulus Senja yang dari tadi terus saja membuatnya menelan saliva.


__ADS_2