Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Semakin parah


__ADS_3

Uhuk, uhuk, uhuk..!


Suara batuk Wulan terdengar cukup intens sore ini. Senja dan Nenek yang mendengarnya di buat kian khawatir melihat kondisi Wulan.


"Kita ke rumah sakit ya, Bu. " Senja menawarkan alternatif untuk pengobatan Wulan, namun seperti biasa perempuan itu menolak.


"Tidak usah, Senja. Percuma saja. Ibu juga tidak akan sembuh. "


"Jangan bicara begitu, Wulan. Setidaknya kita tetap harus berusaha. Kau sudah terlalu lama sakit tapi tidak pernah mau berobat." Fatma sebagai orang yang sudah di anggap ibu oleh Wulan ikut memberi saran. Dia sendiri cukup iba melihat keponakannya terus tersiksa karena sakit tak kasat mata yang di deritanya.


"Tidak perlu, Bibi. Toh kita sudah pernah mencobanya kan? Dan hasilnya sama saja. Aku juga tetap tidak sembuh."


Senja dan Nenek kompak menghela nafasnya. Memang benar apa yang di ucapkan Wulan. Sejak pertama sakit, ia juga sudah coba beberapa kali berobat. Tapi hasilnya nihil. Dokter manapun mengatakan kalau Wulan tidak apa-apa. Hanya kelelahan saja. Lelah yang tidak pernah ada habisnya meski sepanjang hari wanita itu menghabiskan waktunya dengan beristirahat.


"Tapi setidaknya kalau di rumah sakit ibu bisa beristirahat dengan tenang. Ada dokter yang selalu memantau kesehatan ibu. " Senja masih mencoba membujuk. Tapi gelengan kepala dari Wulan membuat gadis itu hanya bisa kembali menghela nafasnya.


"Ibu tidak ingin kemana pun, Senja. Ibu hanya ingin di rumah saja. Ini tempat ternyaman bagi ibu. Lagipula kalau di luar ibu takut ada yang mengolok-olok lagi seperti tempo hari. "


Rupanya selain sakit, Wulan juga trauma pada perundungan yang di terimanya. Semua orang sudah tahu siapa suami dan anaknya. Mungkin tekanan perasaan itulah yang membuat kondisinya jadi makin parah.


"Ibu tenang saja. Tidak akan ada yang berani merundung kita lagi. Aku akan membungkam siapapun yang berani melakukannya. Yang penting sekarang ibu pikirkan kesehatan ibu. Kita ke rumah sakit sekarang ya, Bu? " Bujukan Senja tetap tak mampu membuat Wulan berubah pikiran. Ia tetap saja menggeleng.


"Kalau begitu, aku panggilkan dokter saja ya. Biar dokternya saja yang kemari, jadi ibu tidak perlu kemana-mana."


"Benar, Wulan. Sepertinya itu jalan terbaik. Setidaknya kau tetap mendapat pengobatan." Nenek Fatma kembali menimpali.


"Ya sudah terserah kalian saja. Yang penting aku tidak ingin kemana-mana. "


Karena Wulan tetap pada pendiriannya, akhirnya Senja tak punya cara lain selain memanggil dokter untuk secara intensif mengobati Ibunya. Setidaknya supaya ibunya bisa beristirahat dengan nyaman.


Dokter wanita berusia sekitar empat puluh tahunan yang di panggil Senja mulai memeriksa beberapa bagian tubuh Wulan. Usai memeriksa dokter itu terdiam dengan pandangan bingung.


Menurut hasil pemeriksaan nya tidak ada yang bermasalah, tapi kenapa pasien di depannya di nyatakan sakit.


"Sepertinya, Bu Wulan hanya kelelahan saja," ucap sang mengambil kesimpulan dari hasil pemeriksaan nya

__ADS_1


"Iya, Dok. Ibu ku tidak pernah bisa istirahat dengan tenang. " Senja tidak begitu heran dengan jawaban dokter karena hampir semua dokter yang memeriksa mengatakan demikian.


"Kalau begitu saya akan berikan obat supaya ibu anda bisa beristirahat dengan baik. " Dokter memberi beberapa butir pil untuk di minum Wulan.


"Obat itu akan membantu ibu anda istirahat dengan tenang. Tapi tidak boleh sembarangan memberikan obat padanya. Harus sesuai anjuran dokter dan itupun tidak boleh berlebihan. " Senja mengangguk-angguk mendengarkan arahan dokter. Apapun itu setidaknya ibunya bisa sejenak melupakan rasa sakitnya.


Selang setengah jam kemudian Wulan nampak tertidur pulas. Wajahnya yang semakin menua nampak tenang dalam lenanya.


Senja dan nenek bernafas lega. Setidaknya Wulan bisa istirahat sekarang. Karena setahu Senja ibunya itu sudah berhari-hari tidak bisa memejamkan mata. Sungguh menyiksa sekali.


"Ibu sudah tidur, Nek. Aku mau keluar sebentar. Nenek tolong jaga ibu, Ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku. " Pamit Senja setelah memastikan ibunya benar-benar tertidur nyenyak.


Nenek Fatma mengangguk.


"Pergilah, Nak. Kau juga sudah terlalu lama terkurung di rumah ini demi menjaga ibumu. Pergilah, cari suasana lain supaya kau tidak terlalu jenuh. "


"Terimakasih, Nek. " Gadis itu beranjak cepat menuju tempat yang sebenarnya sudah ada di pikirannya sejak kemarin.


Angin segar pantai yang tidak di rasakan nya beberapa hari ini membuatnya bukan main rindu dengan tempat ini. Namun tentu saja bukan hanya semilir anginnya yang membuatnya rindu. Seseorang yang sering ia jumpai di tempat inilah alasan rindu-nya yang paling kuat.


Gadis bernetra merah itu tersenyum senang saat sosok tinggi tegap yang di nantinya nampak berjalan mendekatinya. Bahkan mungkin saking senangnya, masih dalam jarak beberapa meter dari tempat nya duduk, Senja sudah berlari menghambur ke pelukan Dirga.


"Hey ada apa ini, kau sangat rindu padaku?" Senja memang tidak biasa melakukan itu. Paling banter dia hanya tersenyum saat Dirga datang. Namun gerak cepat nya kali ini tentu membuat pria itu heran. Meski tetap saja dia tak menolak pelukan hangat gadis itu. Ia membalasnya dengan mengusap rambut panjang terurai milik Senja.


"Hmm, " Hanya itu jawaban Senja. Seolah tak ingin banyak bicara dan lebih memilih menumpahkan semuanya lewat gerak tubuh.


Dirga yang sudah cukup mengenal Senja faham kalau gadis itu pasti tidak sedang baik-baik saja. Gerak tubuhnya cukup menggambarkan itu semua.


Perlahan Dirga melepaskan pelukan Senja lalu menuntunnya untuk kembali duduk di bawah pohon nyiur.


"Katakan ada apa, sepertinya kau sedang banyak beban? "


"Tidak ada. " Senja menggeleng lemah


"Hanya rindu. "

__ADS_1


"Benarkah? tapi aku lihat kau seperti sedang terbebani oleh sesuatu, apa ini soal ibumu?" Tebak Dirga sambil tangannya kembali mengusap kepala atau rambut Senja.


Senja terdiam sesaat, menghela nafasnya kemudia mengangguk. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain berterus terang. Toh Dirga juga sudah bisa menduganya.


"Ibumu masih sakit? "


"Hmm, malah semakin parah, " jawab Senja.


"Kalau kemarin-kemarin masih bisa beristirahat sekarang tidak lagi. Ibu tidak pernah bisa tidur nyenyak. Aku bahkan harus memanggil dokter untuk menidurkan-nya."


"Kasihan sekali ibumu. " Dirga tentu ikut prihatin dengan apa yang menimpa calon mertuanya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, Senja? Apa perlu ibu di bawa ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik? " Hanya sekedar saran dari Dirga, meski ia tahu sakitnya Wulan tidak terdeteksi secara medis.


"Percuma, tidak ada yang bisa menyembuhkan ibu kecuali Ayah. Tapi sayangnya Ayah sampai sekarang belum pulang-pulang. "


"Kalau begitu bersabarlah, aku yakin ayahmu pasti akan pulang. "


Senja menoleh menatap pria bermata tajam di sampingnya.


"Pernikahan kita, kau tidak keberatan kan kalau masih harus menunggu sampai Ayah pulang?" Senja tahu Dirga sudah menunggu cukup lama dan persiapan pernikahan juga boleh di bilang sudah rampung secara keseluruhan. Tapi makhluk yang di tunggu tak kunjung datang. Senja takut Dirga jenuh menunggu-nya.


"Tidak apa. Sayang. Kau tenang saja. Aku tidak se-terburu-buru itu. Sekarang kau fokus saja pada kesehatan ibumu. " Jawaban bijak Dirga ia lontarkan sembari tangan nya mengacak-acak rambut Senja.


"Ibu sepertinya sudah kehilangan semangat hidup, Dirga. Dia terus saja memikirkan Ayah."


Hela nafas Senja yang cukup berat membuat Dirga tahu betapa sesaknya gadis itu sekarang.


"Kalau begitu kau yang harus menyemangatinya. Kau putri satu-satunya, Senja. Kau harus selalu ada untuknya."


Kat-kata Dirga membuat Senja yang sedang tertunduk sontak mendongak. Kalimat itu semakin membuatnya teriris sekaligus terbebani. Benar dia adalah putri ibu satu-satunya. Tapi sayangnya dia tidak bisa berbuat banyak karena yang di harapkan ibu hanyalah ayahnya.


Dengan perasaan tak menentu Senja kembali memeluk Dirga. Entahlah, Senja merasa saat ini ia sedang butuh banyak pelukan. Rasa lelah sekaligus khawatir melihat ibunya seperti itu membuat gadis itu jadi merasa tak karu-karuan.


Dan Dirga tahu betul bagaimana perasaan Senja. Ia tak lagi banyak bicara. Membiarkan gadis itu meluapkan segala perasaannya adalah hal yang memang paling di butuhkan Senja saat ini. Dan dada bidang Dirga tentu saja siap menjadi sandaran nya.

__ADS_1


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja, " ucapnya kemudian mengecup lembut kening Senja hanya untuk sekedar memberi ketenangan untuk gadis itu. Gadis yang hati-nya sedang di permainkan oleh keadaan. Dan memeluk Senja seerat yang ia bisa adalah hal yang ingin berikan sebagai dukungan.


__ADS_2