Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Realita tak seindah ekspektasi


__ADS_3

Queenzi mendengus kesal sambil berjalan menuju area parkir. Hatinya remuk redam melihat pemandangan yang baru saja di lihatnya.


Dirgantara Sanjaya yang ia kira telah terjebak dalam rencana bususknya, ternyata justru balik menjebaknya.


Saat Dirga kembali ke pantai untuk menemui Senja. Queen ternyata melihatnya karena gadis itu memang masih berada di sekitar pantai. Ia fikir kalaupun Dirga masih mau menemui Senja, itu pasti karena ingin meluapkan kekecewaannya karena telah menyerang sang ibu.


Namun ternyata pria itu sadar kalau baik dirinya ataupun Senja telah masuk dalam perangkap Queen dan Melati. Dirga begitu percaya pada Senja dan sangat yakin kalau Senja tidak akan melukai ibunya. Pelukan erat keduanya benar-benar sukses memporak-porandakan hati Queen.


Ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk memisahkan dua sejoli itu, namun bukannya berpisah, mereka malah terlihat semakin lengket.


"Sial !" umpat Queen sambil memukul kemudi mobilnya.


"Harus dengan cara apa lagi aku memisahkan mereka. " Gadis itu lalu mengetuk-ketuk kemudi mobil dengan gusar seolah sedang mencari ide baru untuk menaklukan Dirga.


Namun sampai sekian menit termenung. Ia belum juga menemukan ide yang tepat. Otaknya seolah buntu dan tak bisa bekerja dengan baik. Mungkin karena hatinya sedang bergemuruh menahan kesal sehingga mempengaruhi kinerja otaknya.


"Aakkhh. " Karena tak kunjung menemukan ide, gadis itu kembali memekik kesal sebelum akhirnya memilih pergi meninggalkan pantai.


Sayangnya, sampai malam menjelang bahkan sudah hampir dini hari, Queen belum juga menemukan cara yang di anggap nya paling ampuh. Gadis itu bahkan sampai tak bisa memejamkan mata saking fokus nya ia berfikir. Disamping juga karena pikirannya yang sangat kacau hargai ini.


"Bibi Mel pasti belum tahu soal ini. Ia pasti tidak akan menyangka kalau ternyata Dirga membohonginya dan hanya berpura-pura masuk dalam jebakan. " Di dalam keheningan malam Queen bergumam sendiri. Di saat hampir sebagian orang sudah terlelap ia masih berkutat dengan pikiranya sendiri. Entahlah, kenapa gadis itu belum juga menyerah.


"Aku harus segera memberi-tahu bibi Mel. "


Queen meraba ponsel di atas meja samping ranjangnya.


"Tapi ini sudah terlalu larut, apa mungkin Bibi mau mengangkat telefon ku? " gumam Queen lagi sambil menimbang-nimbang.


Akhirnya karena merasa takut akan mengganggu istirahat Melati, Queen lebih memilih mengirim pesan saja. Bibi pasti akan membacanya besok. fikir Queen.


"Bibi temui aku besok siang di resorts xx. Ada yang ingin ku sampaikan Bibi. Ini menyangkut soal Dirga dan Senja, dan ini sangat penting. Jadi ku harap Bibi harus datang. "


Begitulah kira-kira isi pesan Queen.


***


Keesokan harinya persis seperti dugaan Queen, begitu bangun tidur Melati langsung mengecek ponselnya. Sebenarnya bukan hanya Melati, bahkan hampir seluruh orang di muka bumi akan melakukan hal yang sama saat baru terbangun di pagi hari. Ponsel adalah benda wajib yang akan langsung di lihat. Seolah benda itu lebih berharga dari apapun.


Melati tersenyum membaca pesan Queenzi. Perempuan itu mengira kalau Queen pasti akan memberi kabar baik untuknya.

__ADS_1


Kau pasti akan memberi tahu kalau Senja dan Dirga sudah tak bersama kan Queen? tebak Melati dalam hatinya.


Wanita pemilik hati Damar sanjaya itu memulai harinya dengan sangat bersemangat seperti baru saja mendapat doorprize tak terduga.


Dirga bahkan bisa melihat dengan jelas binar bahagia di wajah sang ibu.


"Pagi, Dirga. " perempuan itu menyapa putra tercintanya dengan sangat ramah.


"Pagi, Bu. " Meski agak sedikit heran tapi Dirga tentu tetap menjawab sapaan ibunya.


"Ini ginseng panas dan sunwich mu sudah ibu siapkan, makanlah. " sambil menyodorkan kedua benda itu ke hadapan Dirga.


Ibu terlihat bahagia sekali. Apa karena ibu mengira aku sudah tidak bersama Senja?


Seingat Dirga kemarin ibunya memang dengan wajah menghiba memintanya meninggalkan Senja. Dan Dirga demi melihat pengharapan ibu yang cukup besar langsung mengangguk mengiyakan tanpa berpikir terlebih dahulu bagaimana kedepannya nanti kalau ibu tahu dia ternyata tetap bersama Senja.


"Dan ini untukmu, sayang. " giliran suaminya yang ia suguhi sarapan.


"Sepertinya kau sedang bahagia? " Rupanya bukan hanya Dirga yang bisa membaca binar bahagia di wajah Melati. Damar sang suami pun bisa melihatnya.


Melati tersenyum penuh arti


Sontak saja Damar dan putranya saling pandang. Pandangan Damar juga menyiratkan tanya pada sang putra, namun Dirga lebih memilih berpura-pura tidak tahu dan hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban. Namun di dalam hati pria dengan ketampanan di atas rata-rata itu membenarkan asumsinya tadi.


Berarti benar ibu bahagia karena berpikir aku dan Senja sudah berpisah. Ya Tuhan, apa se-bahgia itu Ibu, Bu?


Dirga merasa cukup bersalah karena telah membohongi ibunya. Ingin sekali dia mengatakan yang sebenarnya, tapi demi melihat wajah bahagia sang ibu. Pria itu lantas mengurungkan niatnya.


Biarlah aku tetap menjalin hubungan dengan Senja secara rahasia, sampai ibu benar-benar bisa menerimanya.


Dirga tersenyum menatap sang ibu. tatapan antara sedih dan juga bahagia.


Sejujurnya dia sangat senang melihat wajah bahagia ibu, namun juga sedih karena sampai saat ini belum bisa menuruti kemauannya.


Seandainya ibu juga merasa senang melihat wajah bahagia putranya saat bersama Senja, tapi sayangnya kebencian yang teramat besar terhadap Senja membuat wanita itu menutup mata untuk kebahagiaan putranya.


***


Siang hari sesuai waktu yang di minta Queen, Melati memenuhi undangan makan siang gadis itu. Masih dengan raut bahagian yang mendominasi wajah cantiknya.

__ADS_1


"Queen, apa yang ingin kau sampaikan? pasti ini kabar baik soal Dirga kan? " tebaknya sambil mengunyah makan siang nya.


Sementara Queen tak menyentuh sedikitpun apa yang ada di piringnya. Ia hanya menyeruput sesaat minuman dinginnya berharap bisa sedikit menyejukan hatinya yang sedang sangat paanas.


Gadis yang suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja memaksakan diri untuk tersenyum. Tapi sayang senyum dari pemilik dagu berbelah kali ini terlihat sangat masam.


"Harusnya, Bibi. Tapi sepertinya harapan kita masih jauh dari kenyataan. "


"Maksudmu? "


Sebelum menjawab Queen terlebih dahulu mengambil nafas dalam-dalam seolah sedang menetralkan sesak di dadanya yang sejak kemarin terasa sangat menyiksa.


"Dirga tidak berpisah dari Senja. "


"Apa? " Melati langsung menghentikan aktifitas makan siangnya.Berita yang cukup mengejutkan bagi wanita itu yang langsung sukses mengubah ekspresi wajahnya


"Iya, Bibi. Mereka masih tetap bersama, " ucap Queen menjawab keterkejutan Melati.


"Tidak mungkin, Queen. Itu pasti tidak benar ... Kemarin setelah kejadian itu Dirga nampak sangat kecewa pada Senja, dan saat Bibi meminta dia meninggalkan gadis itu Dirga tersenyum sambil mengangguk. " Melati mengingat kembali kejadian sesaat setelah aksi jebakannya terhadap Senja. Wanita itu yakin sekali akan jawaban putranya.


"Tapi nyatanya setelah Bibi pulang Dirga kembali menemui Senja. Dia bahkan langsung memeluknya."


"Benarkah, atau mungkin itu hanya pelukan perpisahan karena dia akan segera meninggalkan Senja. " Melati masih saja tidak percaya.


"Tadinya aku juga berpikir begitu, Bibi ... tapi aku mendengar dengan jelas kalau Dirga bilang dia tidak akan menjauhi garis itu. " Kali ini suara Queen terdengar lirih seolah menggambarkan betapa hatinya hancur karena ekspetasinya berbanding terbalik dengan realita. Ia berekspektasi kalau setelah ini akan kembali menjalin kasih dengan Dirga, tapi nyatanya?


"Jadi menurutmu Dirga membohongi, Bibi? "


"Yaah, begitulah kira-kira. " Angguk Queen lemah.


"Awalnya kita yang berencana menjebak Senja, tapi nyatanya justru kita lah yang terjebak. "


"Kurang ajar sekali anak itu. " Melati meremas jarinya sendiri menahan geram yang tak terkira.


"Bisa-bisanya dia menipu ibunya sendiri ... Ini pasti karena pengaruh anak iblis itu. "


"Maksud Bibi? " tanya Queen tak mengerti. Ia tahu selama ini baik ia dan Melati memang sangat membenci Senja. Tapi cukup mengerikan juga kalau harus menyebut Senja sebagai anak iblis. Meski penampakannya memang terkadang seperti itu.


"Yah, Senja itu kan bukan anak manusia. Jadi dia pasti sudah menjerat Dirga dengan jiwa iblisnya itu. "

__ADS_1


"Hah..? apa yang Bibi bicarakan? Senja bukan anak manusia, lalu dia---?"


__ADS_2