Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Menahan emosi


__ADS_3

'Dirga, ibumu bilang sore ini ia akan menemui Senja di pantai. '


'Apa dia memberitahu mu? '


Dua buah pesan dari Queen sukses membuat kening Dirga berkerut


Ibu, menemui Senja, ada apa?


Pria itu bertanya pada dirinya sendiri


'Ada perlu apa ibuku menemui Senja? ' ketimbang penasaran, Dirga memilih bertanya langsung pada gadis yang baru saja memberinya informasi.


'Aku tidak tahu, ku pikir kau lebih tahu soal itu? '


Dirga mencoba mencerna kalimat Queen. Seperti ada yang aneh. Dia tidak tahu apa maksud ibu menemui Senja. Lalu dari mana dia tahu kalau ibu akan menemui Senja? apa mungkin ibu yang memberi tahu. Sedekat itukah hubungan mereka?


'Lalu dari mana kau tahu kalau mereka akan bertemu?' tanya Dirga lagi m m coba menggali informasi.


Di seberang sana Queenzi nampak sedang berpikir untuk mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan Dirga.


'Tadi aku mengajak ibumu bertemu, tapi dia bilang tidak bisa karena akan menemui senja.' Queen akhirnya menemukan jawaban yang pas. Gadis itu memang cukup pandai dalam hal mencari alasan. Dan menurut Dirga alasan Queen cukup masuk akal.


'Aku fikir sebaiknya kau menyusul mereka, aku takut kalau mereka bertikai. '


'Aku ragu apakah ibumu bisa bicara baik-baik pada Senja, mengingat dia begitu membenci gadis itu. '


'Kau pasti paham kan kalau Senja itu temperamen? '


'Aku takut Senja tidak bisa mengontrol emosinya menghadapi ibumu. '


Pesan beruntun dari Queen lagi-lagi membuat kening Dirga berkerut.


Gadis itu ternyata tahu banyak perihal hubungan tidak baik antara ibunya dan Senja, pasti ibu yang menceritakan semua itu. Batin Dirga menebak-nebak.


Pria itu tak lagi membalas pesan Queen. Namun pertanyaan yang sama masih terus bergelayut di fikiran nya.


Untuk apa ibu menemui Senja?

__ADS_1


Apa mungkin ibu akan meminta Senja menjauhiku?


Dirga kembali menebak. Fokusnya langsung terganggu mengetahui kabar kalau ibunya akan menemui Senja.


Sejak perdebatan sengit beberapa hari yang lalu. Dirga belum ada bicara apapun pada ibunya. Pun sebaliknya ibunya juga tidak mau bicara dengannya. Mereka seperti dua orang yang tidak saling kenal.


Sebenarnya Dirga sedih dengan kondisi hubungannya dengan orang tuanya, khususnya Ibu. Padahal mereka masih tinggal satu atap, tapi hubungannya terasa jauh seolah ada jarak yang memisahkan.


Dirga sendiri tidak ingin hal itu terjadi, tapi untuk memenuhi keinginan ibunya, sungguh Dirga lebih tidak ingin lagi.


Senja seolah menjadi detak jantungnya saat ini. Jadi jika tidak bersama Senja, maka Dirga akan merasa seperti tidak hidup. Bukan berlebihan, memang begitulah adanya. Dirgantara memang tergila-gila pada pemilik iris merah itu. Namun sayang ibunya terus saja memberi kendala.


Padahal ia berharap ibunya bisa mengikuti jejak sanga Ayah untuk segera memberi restu padanya, namun sepertinya harapan Dirga masih sangat jauh dari kenyataan.


Dan sekarang malah orang tua itu akan diam-diam menemui Senja, tentu Dirga merasa khawatir. Bagaimana kalau Ibu menguji kesabaran Senja lalu sikap temperamen Senja muncul? Ibu bisa saja terluka karena amukan Senja.


Akh, membayangkan hal itu membuat Dirga makin khawatir. Tanpa mempedulikan lagi pekerjaannya, pria berparas rupawan itu segera meninggalkan kantor menuju pantai.


Dan benar dugaan Dirga, begitu sampai di pantai ia melihat ibunya sedang terduduk sambil memegangi sikutnya. Di depannya Senja melihatnya dengan pandangan tidak mengerti.


"Ibu, Senja. Apa yang terjadi.?" Dirga langsung bergegas menghampiri ibunya dan membantu perempuan itu bangun.


"Gadis ini yang sudah mendorong ibu sampai ibu terjatuh. " Melati menunjuk kasar wajah Senja.


"Benarkah, Senja kenapa kau sampai mendorong ibuku? "


"Tidak, aku tidak melakukannya. " Senja menghilangkan kepalanya, tak terima dengan tuduhan Dirga.


"Dia bohong, Nak." Melati langsung membela diri


"Tadi ibu mencoba bicara baik-baik padanya. Ibu minta supaya dia menjauhimu. Tapi dia marah dan langsung mendorong ibu. "


"Senja---" Dirga menatap gadis itu tak percaya. Ia tahu Senja itu memang temperamen. Tapi akhir-akhir ini Dirga melihat gadis itu mulai berubah. Namun sekarang, anggapan nya bahwa Senja telah berubah ternyata salah. Senja tetaplah Senja yang mudah sekali menyerang orang hanya karena alasan sepele.


"Tidak, Dirga. Aku tidak melakukannya. Percayalah. " Senja terus berusaha meyakinkan. Namun sayangnya Dirga sudah terlanjur terpengaruh ucapan sang ibu.


"Ibuku memang tidak menyetujui hubungan kita, Senja. Tapi biar bagaimanapun dia tetap ibuku. Kau tidak seharusnya bersikap sekasar itu padanya. Kau sudah menyakitinya. "

__ADS_1


Deg! Senja langsung terdiam. Bagaikan tersambar petir dia mendengar Dirga menuduhnya. Pria itu bahkan tak percaya sedikitpun padanya.


"Dirga, kau tidak percaya padaku? " Ucapnya lirih seperti menahan sesuatu yang menyesakkan.


"Bagaiamana aku bisa percaya. Aku melihat sendiri ibuku sampai terjatuh karena ulahmu. "


"Tapi aku---"


"Sudahlah Dirga, jangan dengarkan lagi omongannya." Melati menjegal ucapan Senja sebelum gadis itu makin banyak bicara.


"Kau lihat sendiri kan betapa mengerikannya dia," Melati kembali menunjuk wajah Senja.


"Ibu tidak bisa membayangkan kalau kau hidup bersama gadis berbahaya ini. Kita semua bisa sewaktu-waktu menjadi korban kemarahannya. Hiii. " Melati bergidik ngeri membayangkan apa yang terlintas di otaknya.


"Kita bahkan bisa mati konyol di tangannya. "


"Sudah lah, Bu. Ayo pergi dari sini. " Meski kecewa karena Senja tega mendorong ibunya tapi tetap saja Dirga tidak sampai hati melihat gadis itu di caci maki oleh sang ibu.


"Apa kau masih mau berhubungan dengan makhluk ini? dia bahkan sudah berusaha memcelakai ibu. " Melati masih terus berusaha meyakinkan putranya bahwa Senja memang tak layak untuknya.


Sementara Senja hanya terdiam dengan dada bergemuruh. Sejak tadi sebelum Dirga datang, gadis itu sudah berusaha setengah mati menahan amarahnya mendengar semua ucapan tak mengenakkan Melati. Ia berusaha untuk tak terprovokasi.


Namun perempuan paruh baya itu benar-benar kelewat batas. Ia malah sengaja memfitnahnya dan membuat skenario seolah-olah Senja sudah menyerangnya.


Dada Senja naik turun menahan emosi yang hampir meledak.


"Kita bicarakan ini nanti saja, Bu. Yang penting sekarang kita pergi dulu dari sini. " Dirga berusaha membimbing ibunya untuk menjauh dari Senja.


"Benar, ibu tidak mau kalau sampai monster ini mengamuk lagi. "


Mendengar dirinya di sebut monster, Senja langsung memejamkan matanya. Rasanya ia hampir mati menahan emosi. Tapi demi mengingat yang di hadapinya adalah orang tua Dirga, maka gadis itu lebih memilih diam dengan badan sedikit gemetar. Bahkan tak sadar ada lelehan bening yang tumpah di sudut matanya.


Dirga dan ibunya akhirnya menjauh dari hadapan Senja. Sebelum benar-benar pergi, Dirga sempat menoleh pada Senja dengan pandangan yang sulit di artikan.


Sepeninggal Dirga dan ibunya, Senja langsung berlari ke pohon nyiur paling ujung. Ia ingin menumpahkan segala kekesalannya disana.


Sementara di salah satu gazebo yang luput dari pandangan Dirga dan Senja, seorang gadis pemilik nama Queenzi Arandita nampak tersenyum puas.

__ADS_1


"Setelah ini Dirga pasti tidak akan mau lagi dekat denganmu, Senja. . Ucapnya bebarengan dengan seringai tipis yang muncul dari sudut bibirnya.


__ADS_2