
Sepanjang perjalanan pulang setelah menemui Bayu, pikiran Damar terus berkecamuk. Ia terus saja terngiang semua ucapan makhluk itu. Makhluk antah-barantah seperti bayu saja bisa benar-benar menyayangi anaknya dan rela memohon-mohon demi kebahagiaan putrinya. Lalu apa kabar dia yang dengan egoisnya terus saja menentang hubungan Dirga seolah menutup mata akan semua kebahagiaan putranya.
Apa aku ini memang bukan Ayah yang baik? tapi aku hanya tidak ingin putraku kenapa-napa, aku hanya ingin dia bahagia.
Bathin Damar mencoba mencari pembenaran atas sikapnya selama ini
Tapi bukanlah Dirga juga sangat bahagia bersama Senja? gadis itu sangat berarti bagi putraku. Dia sumber kebahagiaan nya. Lalu kenapa aku menghalangi nya, bukahkah aku hanya ingin dia bahagia? dengan siapapun asalkan dia bahagia seharusnya tidak jadi masalah kan?
Alibi Damar di patahkan oleh dirinya sendiri. Pria itu lantas menghela nafasnya dalam-dalam. Tiba-tiba ada semacam keraguan yang bersemayam. Dia merasa sikapnya selama ini adalah salah. Ia sudah mengungkung kebahagiaan putranya dengan terus menentang hubungannya dengan Senja, dengan dalih bahwa Senja itu berbahaya baginya.
Padahal kenyataannya putranya justru terlihat sangat bahagia semenjak bersma Senja. Dan kalau soal bahaya atau rintangan yang akan mereka hadapi, bukankah hidup memang penuh rintangan? sesulit apapun jika memang mereka sudah di takdirkan bersama maka semesta pasti tetap akan menyatukan mereka.
Huuft, hela nafas berat Damar kembali terdengar.
"Baiklah, Ayah akan coba memahamimu, Nak. " Damar bergumam seraya membelokkan kemudi mobilnya ke pelataran rumah karena ternyata ia sudah sampai.
Damar memperhatikan garasi mobil yang masih kosong pertanda Dirga belum pulang. Bahkan sudah selarut ini tapi putra tampannya belum juga pulang. Mungkin suasana rumah saat ini membuatnya tidak nyaman sehingga ia enggan untuk pulang.
Saat memasuki ruang tengah Damar melihat istrinya sedang menonton televisi. Entah menonton atau tidak yang jelas televisi yang ada di hadapan wanita itu menyala.
"Belum tidur, Mel? " Meski sakhir-akhir ini selalu di abaikan, namun Damar tetap berinisiatif menyapa Melati. Seperti kata pepatah, 'Entah benar atau salah, pria harus tetap mengalah' karena jujur dia sendiri pun sudah tidak tahan dengan sikap dingin Melati.
Namun meski berusaha seramah apapun, usaha Damar tetap saja sia-sia. Melati tetap enggan bersuara, hanya menoleh sesaat lalu kembali membuang mukanya.
"Dirga belum pulang? " Mengabaikan sikap dingin Melati, Damar kembali bertanya sambil mendudukan badannya di samping sang istri tapi sialnya wanita itu malah langsung beranjak tanpa bersuara sepatah katapun.
Ya Tuhan Mel, haruskah kau bersikap seperti itu?
Damar hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap sang istri yang benar-benar menguji kesabarannya. Pria itu kemudian ikut beranjak menyusul istrinya ke kamar. Tak lupa ia mematikan dulu televisi yang masih menyala.
Sialnya sampai di kamar ia harus melihat istrinya memakai lingerie transparan yang sangat menggoda iman. Bukankah Mel sedang marah, lalu kenapa dia memakai pakaian seperti itu, apa dia sedang bermaksud menggoda ku? pikir Damar sambil melirik istri nya yang tengah merapikan diri di depan cermin.
Damar berusaha mengabaikan dan langsung bersiap tidur. Namun posisi Melati yang membelakangi nya tanpa menutup tubuhnya dengan selimut sukses membuat Damar berulang kali menelan ludahnya. Ia mencoba membuang hasratnya yang tiba-tiba mencuat dengan memiringkan badannya supaya tidak lagi melihat pemandangan memabukkan di depan mata. Namun sepertinya bayangan tubuh indah Melati yang memang masih terawat dengan sangat baik sudah terlanjur membuat pikirannya tak karuan.
Tak tahan, Damar akhirnya mendekati Mel dan memeluknya dari belakang.
"Belum tidur, Sayang," bisiknya sambil memeluk dari belakang.
Melati secara refleks menyingkirkan tangan Damar dari pinggangnya.
"Mel, Ayolah jangan seperti ini terus. Apa kau tidak kasihan padaku? "
"Kau menyimpan rahasia dariku selama puluhan tahun, untuk apa aku kasihan padamu? "
"Rahasia apa, Mel? " Damar sebenarnya tahu betul apa yang di maksud istrinya tapi seperti biasa dia berpura-pura tidak tahu.
"Ck berhenti berpura-pura, Damar," ketus Melati sambil tetap membelakangi Damar.
__ADS_1
"Tidak ada rahasia apapun, sayang. Bayu itu sama seperti kita. Hanya mungkin dia punya keanehan, aku sendiri juga tak tahu. "
"Oh ya, lalu untuk apa kau tadi menemuinya? apa yang kalian bicarakan. "
Deg ! jantung Damar tersentak
Dari mana Melati tahu aku habis menemui Bayu.
"Kenapa? kau terkejut kan karena aku tahu kau habis bertemu Bayu? " tanya Melati karena Damar tak mampu menjawab. Wanita itu lantas mengubah posisinya. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang sambil bersidekap.
"Dari mana kau tahu kalau aku baru bertemu Bayu, apa kau mengikutiku?" tanya Damar penuh selidik. Ia mengikuti gerak istrinya duduk bersandar.
Kalau memang Melati mengikuti ku berarti dia sudah benar-benar kelewatan, sampai mengikuti ku segala, pikir Damar
"Kau tidak perlu tahu." Melati tidak ingin memberi tahu suaminya kalau ia mendapat kabar itu dari Queen. Gadis itu secara tak sengaja melihat Bayu dan Damar sedang berbincang di sebuah resort. Gadis itu kemudian secara diam-diam mengambil foto mereka dan mengirimkannya pada Melati.
Entah kebetulan macam apa yang membuat Queen bisa berada di ruang dan waktu yang sama dengan Bayu dan Damar.
"Yang jelas aku tahu kalau kau baru saja bertemu Bayu." lanjut Melati lagi.
" Kau kelewatan Damar ! bisa-bisa nya kau bertemu diam-diam dengannya ... Kau sudah menyimpan rahasia tentang Bayu lalu sekarang diam-diam bertemu dengannya? apa sebenarnya yang sedang kalian rencanakan?"
"Bukan begitu Mel, aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya. Itu kebetulan saja." Melihat istrinya yang semakin marah Damar berusaha menjelaskan. Namun sayangnya Melati tidak segampang itu percaya.
"Bohong !" bantah nya langsung
Damar menghela nafasnya. Sepertinya memang sudah tak ada gunanya lagi berbohong, toh Melati sudah tahu kalau dia baru saja bertemu Bayu.
"Iya, Maaf. Kami memang sengaja bertemu." Damar melembutkan suaranya. Menghadapai istrinya yang sedang berada pada mode ganas memang harus banyak mengalah, terlebih kali ini dia memang bersalah karena telah membohongi sangat istri.
"Tapi itu juga bukan kemauan ku, Dirga yang memintaku bertemu Bayu. "
"Dan kau setuju, apa kau benar-benar ingin berbesan dengan mereka? "
"Bukan begitu, Mel. Dirga memaksaku bertemu dengan Bayu. Bayu sedang sekarat dan ia ingin bertemu denganku sebelum pergi."
"Bayu sekarat? maksudmu dia hampir mati begitu? " kata 'sekarat' dari Damar tentu langsung memantik tanya dari sang istri. Wanita itu bahkan langsung merubah posisi duduknya menghadap sang suami, seperti benar-benar membutuhkan penjelasan.
Damar sendiri langsung memutar otaknya mencari jawaban yang paling pas dan masuk akal. Ia sadar sudah salah bicara yang pada akhirnya membuat Melati jadi makin penasaran.
"Katakan, Damar. Kenapa diam saja? " Melati sepertinya tak sabar menunggu jawaban dari Damar karena memang pria itu terlalu lama berpikir.
"Eum sekarat itu maksudnya bukan mau mati, tapi---" Damar bingung, benar-benar bingung. Tak tahu harus menjelaskan apa.
"Tapi apa?"
"Tapi, dia harus pergi, " jawab Damar akhirnya karena tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
"Pergi kemana? " Semakin di jawab Melati justru jadi makin penasaran dan semakin membuat Damar tersudut.
"Pergi ke--- sudahlah Mel, berhenti lah bertanya soal Bayu. " Karena sudah makin tersudut Damar hanya bisa menggunakan kalimat itu untuk memaksa istrinya berhenti bertanya. Namun sayangnya jawaban ambigu nya malah kian membuat Melati penasaran dan sekaligus kesal karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan.
"Kau ini kenapa, kau melarangku bertanya tapi kau terus saja membuatku penasaran. "
"Sudahlah, aku tidak tau apa pun soal Bayu. "
"Bohong !" Bentak Melati yang hampir membuat Damar terlonjak. Ia tak menyangka istrinya bisa membentak nya seperti itu. Selama mereka menikah rasanya baru kali ini dia melihat Melati sampai semarah itu.
"Aku tahu ada yang kau sembunyikan dariku. "
"Tidak ada, Sayang percayalah. " Damar berusaha memegang pundak Melati namun langsung di tepis oleh si empunya pundak.
"Katakan kenapa Bayu bisa sekarat dan kemana dia akan pergi ... Kalau kau tetap tidak mau bicara maka sebaiknya kau juga jangan pernah bicara lagi padaku, dan mulai sekarang kau juga jangan tidur denganku. "
"Apa? " Nyaris tak percaya Damar kalau sang istri sampai memberi ancaman se-mengerikan itu.
"Mel, ayolah. Jangan berlebihan begitu. Kita ini suami istri mana mungkin tidur terpisah."
"Keluar sekarang !" Seolah tak memperdulikan rengekan Damar, Melati malah justru mengusir suaminya keluar.
"Huft.. " Damar membuang nafasnya kasar sambil mengusap wajahnya. Frustasi akan sikap Melati yang sangat kekanak-kanakan. Padahal ia sudah berusaha membujuk namun sepertinya kemarahan Melati memang sudah sampai di ubun-ubun.
Damar tahu betul bagaimana watak istrinya. Ia memang cenderung bawel, tapi kalau sudah terlanjur marah, wanita yang sangat peduli dengan penampilan itu bisa betah diam hingga berhari-hari, bahkan sampai berminggu. Dan jujur ketimbang melihat Melati yang mengabaikannya dengan diam, Damar lebih suka dengan Melati yang rewel dan banyak bicara. Suara racauan itu juga lah yang justru sering ia rindukan saat sedang tak bersama.
."Baiklah, baiklah. Akan ku ceritakan semuanya." Akhirnya Damar menyerah, ia tak sanggup lagi menghadapi kemarahan sang istri.
"Tapi kau harus bisa menjaga rahasia ini dan kau juga jangan marah lagi padaku. "
"Baiklah, aku janji, " jawab Melati cepat dan tanpa berpikir panjang. Ia bahkan langsung memeluk suaminya sebagai sinyal bahwa ia sudah tidak marah. Di dalam pelukan suaminya wanita itu tersenyum puas. Usahanya untuk memancing suaminya bicara akhirnya berhasil. Lingeri setipis tisu yang di kenakannya berperan penting dalam keberhasilannya malam ini.
Damar sendiri hanya tersenyum melihat sikap istrinya yang memang terkadang sangat kekanakan padahal usia mereka sudah tak lagi muda.
"Sebelum aku ceritakan kenapa Bayu bisa sekarat dan kemana dia akan pergi, terlebih dulu kau harus tahu siapa Bayu itu. "
"Hmm, " angguk Melati dalam pelukan Damar.
"Bayu itu bukan manusia. "
"Maksudmu? " Melati langsung melepaskan pelukannya dan menatap serius suaminya. Ucapan suaminya barusan benar-benar mengejutkan sekaligus membuat penasaran.
"Ya, dia bukan manusia seperti kita. Dia sebenarnya makhluk gaib yang berasal dari istana gaib di dasar laut. "
"Hah? " Melati melongo dengan mata membulat sempurna. Berita yang baru di dengarnya tak ubahnya seperti sambaran petir yang membuatnya kaku seketika.
Makhluk gaib, hantu dan sejenisnya adalah hal-hal yang sulit untuk di percaya. Tapi baru saja suaminya berkata kalau makhluk-makhluk itu memang benar ada dan bahkan menikah dengan manusia.
__ADS_1
Sampai Damar menyelesaikan semua ceritanya, Melati masih saja tertegun tak percaya.