
"Ayah, ibu. " Seusai makan malam Senja menghampiri orang tuanya di taman belakang. Tempat bercengkrama keluarga ini selain di ruang tengah juga di taman belakang rumah. Tempatnya memang cukup nyaman, banyak pohon buah yang berurukuran tidak terlalu besar dan juga bunga-bunga dari berbagai jenis.
"Hey, Senja. Kemarilah, " sahut Ibu yang sedang berada dalam dekapan Ayah. Entah apa yang sedang mereka lakukan.
"Ada yang ingin ku tanyakan pada kalian. " Senja memilih tempat duduk di kursi santai dekat kolam ikan hias di samping ibunya.
"Ohya, apa itu? " Nawang wulan melepaskan diri dari dekapan Bayu lalu memperbaiki posisi duduknya.
"Eh tapi ngomong-ngomong aku tidak mengganggu kalian kan? "
"Hahaha." Tergelak Bayu samudra mendengar tanya putrinya. Bagaimana bisa ia di anggap menganggu. Toh mereka bukan lagi muda-mudi yang sedang kasmaran, dan kalau memang ingin melakukan sesuatu yang lebih tentu mereka akan mencari tempat yang lebih aman, bukan di tempat terbuka seperti ini.
"Tentu saja tidak, memangnya kami sedang apa? hanya duduk-duduk santai saja, " jawab Nawang Wulan merasa sedikit aneh dengan pertanyaan Senja. Padahal dulu kalau melihat orang tuanya sedang berduaan dia tidak pernah bertanya begitu, apa mungkin ini karena Dirga, mungkin pria itu sudah mengajarinya cara bersentuhan dengan lawan jenis sehingga Senja bisa menebak apa yang sedang di lakukan orang tuanya, Mungkin !
Senja meringis menyadari pikiran kotornya yang sempat mengira kalau ayah ibunya sedang----
"Apa yang ingin kau tanyakan, Nak. Katakanlah, sepertinya penting." Kali ini Bayu samudra yang bicara, sedikit banyak Bayu tentu sudah bisa menebak apa yang akan di tanyakan Senja. Meski tidak tahu pasti, tapi ia yakin ini pasti soal Dirga.
"Eum sebenarnya sudah dari kemarin aku ingin menanyakan nya, tapi aku lupa"
"Pasti soal Dirga kan? " tebak sang Ayah.
Senja mengangguk
"Lebih tepatnya tentang orang tua Dirga. "
"Kenapa, apa mereka tidak menyukaimu? " Wulan mulai khawatir. Sebab itu memang hal yang membuatnya khwatir akhir-akhir ini, apalagi Senja belum menceritakan apapun pasca makan malamnya dengan keluarga Damar.
"Sepertinya begitu, Bu. Mereka melihat sikap temperamenku dan juga melihat wujudku dalam keadaan marah. "
"Lalu, apa mereka langsung mengusirmu? " tebak Wulan jadi semakin panik. Ia takut kalau makan malam kemarin tidak berjalan dengan lancar.
"Tidak, Dirga membawaku pergi dari situ dan menenangkan ku di suatu tempat. "
Wulan dan Bayu manggut-manggut, sedikit lega karena Dirga bisa menyelamatkan putrinya dari suasana yang tidak nyaman. Meski tetap saja mereka khawatir karena Senja masih saja belum bisa mengontrol emosinya.
"Memangnya apa yang terjadi sampai kau marah? ada yang mengganggumu? "
Senja mengangguk lalu menceritakan secara detail kronologinya.
__ADS_1
"Maaf, lagi-lagi aku belum bisa menahan emosiku," tutur Senja di akhir ceritanya. Ada raut sesal dan juga kecewa yang terbaca jelas dari wajahnya. Dan itu tentu mengundang simpati dari kedua orang tuanya, khususnya Wulan.
"Kami bisa memaklumi itu, Senja. Tapi kedepannya kau harus lebih bisa mengontrol dirimu sendiri"
"Benar, Nak. Kau sudah memutuskan untuk membuka duniamu, jadi pandai-pandailah dalam bersikap. Jangan terus mengumbar emosi dan membuat orang curiga, " Bayu menambahkan penjelasan Wulan.
"Iya, " Senja hanya menyahut dengan suara lirih seolah masih sangat kecewa dengan kejadian kemarin.
"Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin ku sampaikan? "
"Lalu? " Bayu dan Wulan saling pandang.
"Apa Ayah dan ibu kenal orang tuanya Dirga, mereka bilang mereka mengenal kalian? "
Alis Wulan bertaut, pun dengan Bayu. Keduanya penasaran dengan orang tuanya Dirga yang katanya mengenal mereka.
"Oh ya, memangnya siapa orang tuanya Dirga?"
tanya Wulan
"Kalo tidak salah Ayahnya Damar Sanjaya dan Ibunya Melati. "
"Damar? " tanya Bayu di antara keterkejutan dan ketidak percayaan-nya. Sementata Wulan tergugu tak bisa berkata-kata.
"Iya, Ayah. Apa kalian benar mengenal mereka." Ekspresi terkejut orang tuanya yang tidak main-main membuat Senja jadi makin heran.
Setelah berhasil menguasai diri dan meski masih cukup syok, Wulan akhirnya mengangguk.
"Benar, kami mengenalnya, "
"Mengenalnya hanya sekedar kenal atau---?"
"Damar tahu siapa Ayah. " Seolah tau apa yang di maksud Senja, Bayu langsung menjawab tegas.
Dan kalau tadi keduanya yang di buat terkejut bukan main, kali ini Senja pun demikian. Iapun melakukan hal yang fengan Wulan, refleks menutup mulutnya.
"Jadi mereka tahu siapa Ayah? pantas saja mereka sangat terkejut waktu tau kalau aku anak Ayah. "
"Hm, Ayahnya Damar tahu siapa Ayah, tapi kalau ibunya Ayah tak pasti ... Selama Damar tidak memberi tahu istrinya tentu rahasia itu tidak akan bocor.
__ADS_1
Senja tertunduk lemas. Ia sudah dapat membayangkan apa yang terjadi kedepannya.
" Sebelum mereka tahu tentang ini pun ibunya Dirga sudah menunjukan tanda-tanda tidak suka padaku. Terlebih setelah mereka tahu,"
Senja seolah sedang meratap, membayangkan nasib buruk yang setelah ini pasti akan mulai membayangi nya.
"Kenapa bisa kebetulan begini? apa kau benar-benar tidak tahu?" Wulan menatap Bayu seakan meminta tolong pada makhluk itu untuk memberi sedikit saja penjelasan supaya ia bisa menerima kenyataan yang cukup mengejutkan itu.
Bayu menggelang
"Aku benar-benar tidak tahu, dan juga tidak berusaha mencari tahu ... Aku ingin membiarkan Senja benar-benar menjadi manusia seutuhnya. Itulah sebabnya aku tidak ingin terlalu mencampuri urusannya. "
"Tapi kenapa bisa kebetulan begini?" Wulan mengulang ucapannya.
"Entahlah, mungkin ini yang namanya takdir. " Tak tahu harus menjawab apa, Bayu hanya bisa berkata demikian.
"Kebetulan? takdir? maksud nya bagaimana Ayah?" Senja merasa ucapan Ayahnya agak aneh. Benar semua yang terkadi itu karena takdir, tapi takdir yang bagaimana? dan kebetulan apa yang mereka maksud.
"Dan kenapa Ayahnya Dirga bisa tahu siapa Ayah?"
Wulan menghela nafasnya yang tiba-tiba terasa cukup berat. Ia kemudian menatap lagi suaminya, mempersilahkan makhluk itu saja yang menjelaskan, sebab dia merasa sudah tak sanggup berbicara lebih banyak.
"Ayahnya Dirga pernah sangat mencintai ibumu."
"Apa !" Keterkejutan yang sama yang pernah di perlihatkan Dirga saat mendengar berita itu. Senja langsung menatap ibunya meminta pembenaran, Dan anggukan dari perempuan cantik itu sukses membuat Senja seketika menelan salivanya. Tenggorokannya tiba-tiba seperti tercekat.
"Iya, Nak. itulah yang pernah terjadi dulu. Ayahnya Dirga curiga dengan semua keanehan Ayah. Ia kemudian mencari tahu, dan setelah tahu ia jadi makin terobsesi untuk memisahkan Ayah dan ibu. Segala cara ia lakukan untuk melakulan itu. Beruntung pada akhirnya Ayah tetap memenangkan hati ibumu, " jelas Bayu seraya tangannya kembali merangkul pundak Wulan. Ia tahu betul kalau sekarang Wulan pasti sangat syok. Kejadian buruk di masalalu yang sudah sudah payah ia lupakan, kini kembali muncul ke permukaan.
Senja mengusap wajahnya gusar, Bayangan tentang hubungannya dengan Dirga kian tergambar jelas.
"Setelah ini, hubunganmu dengan Dirga pasti akan jauh lebih sulit dan banyak rintangan, Nak. Kau harus kuat menghadapinya. " Wulan akhirnya bersuara. Meski masih cukup ayok, tapi dia tahu kalau ada yang paling khawatir dengan semua ini tentu putri cantiknya. Karena dia yang akan berada langsung di tengah-tengah lingkaran setan ini.
"Benar," Bayu menambahkan.
"Ini pasti tidak akan mudah, berjuanglah, Nak. Kalau kalian memang di takdirkan untuk bersatu maka Ayah yakin tidak ada siapa pun yang bisa memisahkan.
Akh entahlah ! Senja sudah tidak ingin berkata lagi. Hatinya sudah terlanjur takut, panik, khawatir akan nasib hubungannya. Bagaimana ia harus menghadapi orang tua Dirga nanti, apakah mereka masih sudi melihatnya, apakah hubungannya masih bisa di pertahankan?
Berbagai pertanyaan berkecamuk di hati Senja. Gadis itu terdiam dalam ketakutan.
__ADS_1