
Leon memicingkan matanya membaca pesan yang baru saja masuk di ponselnya.
"Dirga, dia sudah sadar? " gumamnya antara terkejut dan juga senang. Tanpa pikir panjang, Leon langsung menuju rumah sakit tempat Dirga di rawat.
Sampai di rumah sakit Leon di sambut oleh Ayahanda Dirga yang ternyata juga ada di situ.
"Hey, kau orang yang kemarin menolong Dirga kan? " Damar memperhatikan Leon dengan seksama untuk memastikan kalau pandangannya tidak salah.
"Iya, Ayah. Aku yang menyuruhnya kemari. " Dirga yang menjawab sementara Leon hanya tersenyum tipis.
"Bagaimana kondisimu? senang melihatmu selamat, " tanya Leon pada Dirga
"Ya beginilah, belum bisa di bilang baik-baik saja, tapi benar katamu tadi. Setidaknya aku sudah selamat."
"Iya benar, yang penting dia selamat. " Damar sanjaya ikut membenarkan.
"Oh ya, sebenarnya kau itu siapa, aku merasa tidak pernah mengenalmu. Apa kau saudaranya Wulan?" Kenapa Damar berkata demikian, karena menurutnya kebanyakan dari kita tidak akan mau menolong seseorang jika itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita. Tapi pria ini sepertinya dengan senang hati menolong. Dan yang membuat Damar makin heran adalah, pemuda di depannya ini seolah tahu banyak tentang siapa Senja dan dia bahkan tahu cara menyembuhkan gadis setengah manusia itu.
Leon menarik sedikit ujung bibirnya. Cukup maklum atas pertanyaan Damar.
"Paman memang tidak mengenalku. Tapi aku yakin paman pasti mengenal Ayahku. "
"Benarkah? memangnya siapa ayahmu?"
Reaksi Damar sama persis seperti reaksi Wulan saat Leon menyebut nama Ayahnya. Dan untuk seterusnya mengalirlah obrolan panjang mereka seputar pria berwajah oriental yang pernah berseteru dengan Bayu samudra itu.
"Jadi kau mewarisi bakat Ayahmu ya?"
"Eum tidak juga. Aku hanya berniat menolong. Sebelumnya aku bahkan tidak percaya kalau hal-hal semacam itu benar-benar ada. "
Damar mengangguk-angguk
"Yah memang, bagi orang yang tidak melihat atau terlibat langsung pasti akan sangat sulit percaya. Aku juga awalnya seperti itu, tapi nyatanya semua itu benar adanya. Aku dan putraku bahkan pernah terlibat langsung di dalamnya." Damar menatap Dirga yang sejak tadi hanya menyimak obrolannya dengan Leon. Pria karismatik itu seolah minta pembenaran dari putranya.
Dan sang putra membenarkan nya dengan seulas senyum tipis.
"Ayah, ada yang ingin ku bicarakan dengan Leon. Bisakah Ayah keluar sebentar." Tentu saja Dirga berkata begitu tanpa bermaksud mengusir Ayahnya. Hanya saja dia merasa tidak nyaman kalau orang tuanya itu mendengar obrolannya dengan Leon.
"Tentu, " angguk Damar tanpa sedikitpun merasa keberatan.
"Lanjutkan obrolan kalian. Ayah akan melihat ibumu ... Oh ya Leon, sampaikan salam ku untuk Ayahmu ya. " Damar menepuk pundak Leon. Karena Rimba dulu adalah temannya maka ia pun merasa tidak canggung melakukan itu.
"Baik, Paman. " Leon mengangguk hormat.
Sepeninggal Damar Leon mendekati Dirga dan duduk tak jauh dari ranjang pasien pria itu.
"Terimakasih, " Dirga mulai membuka obrolan.
Tapi ucapan terimakasih nya hanya mendapat sedikit reaksi dari sudut bibir Leon. Cukup bosan pria itu mendengar orang-orang ini terus saja berterimakasih padanya.
"Apapun niatmu menolong kami, aku tetap berterimakasih karena kau sudah menyelamatkan aku dan Senja. "
Leon menghela nafasnya.
__ADS_1
"Aku tidak menolongmu. Aku bahkan menuntun mu ke dalam bahaya. Beruntung kau bisa selamat. Aku pikir kau---"
"Tenanglah, aku tidak akan semudah itu mati. Yah walaupun rasanya hampir mati. Tapi nyatanya aku bisa melewatinya kan? "
"Benar." Leon mengangguk membenarkan.
"Kau hebat. Harus ku akui itu. Seandainya aku ada di posisi mu aku belum tentu bisa melakukannya." Puji pria keturunan asia dan timur Tengah itu.
Dirgantara tersenyum samar. Meski ungkapan Leon sedikit berlebihan. Tapi pria itu tak berusaha menampiknya.
"Aku sangat menyayangi gadis itu. Jadi apa pun pasti ku lakukan untuknya. "
"Yah, cukup bisa di lihat. Kau bahkan rela mati demi gadis itu. "
Lagi-lagi Dirga hanya tersenyum menanggapi ke kaguman Leon.
"Oh ya, Senja bagaimana. Dia baik-baik saja kan?" Dirgantara pingsan usai mengorbankan dirinya untuk gadis itu jadi dia sama sekali tidak tahu kondisi Senja sekarang.
"Kau sudah berkorban mati-matian untuk gadis itu, tentu saja dia baik-baik saja. Dia hanya perlu bersemedi untuk mengisi kembali energinya"
"Baguslah, Itu yang juga harapkan." Binar bahagia jelas terpancar dari wajah Dirga. Meski di antara wajah pucat nya karena baru saja kehilangan banyak darah.
"Berapa lama biasanya dia semedi? " tanya Leon hanya sekedar ingin tahu, sebab realita kehidupan Senja sangatlah unik menurutnya.
"Senja bilang sekitar atau purnama atau lebih."
"Ooh." Leon mengangguk-angguk
"Tidak terlalu lama sebenarnya. "
"Hahaha kau berlebihan kawan, " Loen terbahak mendengar kalimat konyol Dirga. Padahal pria itu berkata benar. Waktu memang seolah melamban saat kita dalam penantian.
Dirgantara tersenyum melihat Leon tertawa. Tak menyangka ia bisa sedekat itu dengan orang yang notabene baru di kenalnya. Padahal biasanya, akh sudahlah tidak usah di bahas.
"Oh ya, kau tidak ingin bertanya kabar Queen?" tanya Leon tiba-tiba yang membuat Dirga langsung mendengus.
"Mendengar namanya saja aku sudah tidak ingin. Gadis itu benar-benar keterlaluan. Kali ini aku tidak akan tinggal diam. Dia harus membayar mahal untuk semua yang di lakukannya."
Leon menghela nafasnya. Ternyata menyebut namanya saja sudah membuat Dirga jadi sebenci itu. Tapi kenapa Queen bisa sampai segila itu mengejar orang yang sudah jelas-jelas tak mau dengannya.
"Jangan melakukan apapun padanya."
"Kenapa? dia pantas mendapat hukuman. Selama ini aku diam saja dengan semua ulahnya. Tapi kali ini tidak lagi. " Dirga berkata begitu sambil menahan geram pada gadis yang dulu pernah sangat di sayanginya itu.
"Dia sudah sangat tersiksa saat ini. Jadi ku mohon jangan apa-apa kan dia. Dan kalau memang kau ingin berterima kasih padaku, berterima kasihlah dengan tidak melakukan apapun padanya. "
"Kau? " Dirga mengerutkan alisnya. Siapa pria ini sampai begitu peduli pada gadis ambisius itu. Tentu saja itu yang ada di kepalanya.
"Tunggu, tunggu. Aku lupa bertanya. Dari mana kau tahu tentang Queen. Apa kau mengenalnya?"
"Dia teman kecilku, " jawab Leon jujur dan apa adanya.
"Ooh, jadi karena itulah kau terlihat peduli padanya?"
__ADS_1
"Yah bisa di bilang begitu bisa juga tidak." Kalimat yang cukup ambigu dari Leon membuat kening Dirga makin berkerut.
"Akh sudahlah. Lupakan. " Loenil mengibaskan tangannya seolah tak ingin Dirga bertanya terlalu jauh.
"Berdoa saja semoga setelah ini dia tidak lagi mengganggumu. "
"Tentu, aku selalu berharap untuk itu. Gadis itu seperti parasit yang terus saja mengangguku," ucap Dirga masih dengan perasaan heran kenapa Leon begitu peduli pada Queenzi.
Leon tak ingin menanggapi ujaran kebencian Dirga pada Queen, ia lebih memilih berucap hal lain.
"Semoga setelah ini kau dan Senja benar-benar bisa bersatu. "
"Dan itu adalah harapan terbesarku. " Dirga tersenyum mengamini harapan Leon dan juga harapannya sendiri tentunya.
Merasa cukup berbincang-bincang. Leon kemudian beranjak.
"Maaf, Dirga. Aku tidak bisa berlama-lama. Penerbangan ku sebentar lagi. "
"Kau mau kemana? " tanya Dirga heran. Ia bahkan baru mengenal Leon dan sekarang pria itu sudah harus pergi.
"Aku harus pulang sekarang. Urusanku sudah selesai disini. "
"Sayang sekali, padahal kalau kondisiku sudah membaik aku ingin mengajakmu makan bersama." Dirga ingin melakukan itu sebagai ungkapan terimakasih nya pada pria yang sudah sangat berjasa padanya dan juga Senja.
"Mungkin lain waktu. Siapa tahu kita masih bisa berjumpa lagi," timpal Leon yang dapat melihat dengan jelas kalau ucapan Dirga baru saja bukan hanya sekedar basa-basi.
"Menyesal tidak bisa mengantarmu sampai bandara. " Dirgantara menjabat tangan Leon sebagai salam perpisahan, sebagai ucapan terimakasih juga sebagai simbol bahwa mereka memang sudah menjadi teman mulai sekarang.
"Tidak masalah, aku terbiasa sendiri. Fokus saja pada penyembuhan mu. "
"Hmm, Hati-hati kawan. "
Leonil mengangguk sambil tersenyum. Lalu beranjak keluar dari ruang rawat Dirga. Ada perasaan lega tersendiri. Dirga sudah selamat, itu berarti usahanya tidak sia-sia. Dan kalau mengenai Queen, Leon sudah memutuskan untuk tidak peduli. Meski tetap saja ia berharap gadis itu segera sembuh dari lukanya dan juga dari sakit jiwa-nya.
"Queen, aku pulang. Jaga dirimu baik-baik. "
Sesaat sebelum penerbangan Leon menyempatkan diri menulis pesan itu. Entah mengapa Leon merasa perlu melakukan itu.
"Kau pulang, kenapa cepat sekali? " Tak di sangka ternyata gadis itu membalas pesan Leon.
"Sudah tidak ada lagi yang harus ku lakukan disini. Tugasku sudah selesai. "
Di seberang sana, Queen yang masih terbaring lemah menghela nafasnya. Ia tahu secara tidak langsung Leon lah yang sudah menggagalkan rencananya. Tapi entah kenapa dia tidak bisa membenci pria itu.
"Cepat sembuh ya." Leon kembali mengirim pesan.
Mata Queen memerah. Ia sedang sangat terluka saat ini. Dan satu-satunya orang yang ia anggap respect padanya adalah Leon. Tapi sekarang pria itu justru akan pergi.
"Kau tidak mau membantuku menyembuhkan luka ku? "
Jawaban Queen membuat mata sipit Loen kian menyipit.
"Maksudnya? " pria itu bergumam sendiri. Jawaban Queen menurutnya agak sedikit aneh.
__ADS_1
Leon baru ingin menanyakan apa maksud Queen berkata begitu, tapi pramugari keburu mengingatkan kalau pesawat akan segera tinggal landas membuat pria itu buru-buru mengaktifkan mode pesawat lalu menyimpan ponselnya.