
"Kemana kita sayang? "
Sesuai janjinya sore ini sepulang kerja Dirga membawa Senja jalan-jalan keliling kota. Setelah meminta izin dari ibu dan nenek, Dirga langsung membawa gadis itu pergi dan saat ini mereka sudah berada di dalam mobil yang sedang berjalan pelan membelah jalanan kota.
"Aku mau ke pantai saja, Dirga. "
"Pantai? " Dirga mengulang kata itu seraya melirik heran pada gadis berpupil merah.
"Bukannya kau ingin keliling kota hari ini, kenapa malah ke pantai? ... Ayolah katakan tempat mana saja yang ingin kau datangi, aku akan mengantarmu kemanapun kau mau. Anggap saja hari ini aku adalah supir pribadimu. "
Senja menggelengkan kepalanya lemah.
"Aku tidak ingin kemana-mana. Aku ingin duduk-duduk saja di pantai seperti biasa. Bagiku pantai itu lebih indah dari tempat mana pun. "
"Memangnya kau tidak bosan ke pantai terus?" tanya Dirga tanpa bermaksud menolak kemauan Senja.
"Tidak, tidak ada kata bosan kalau sudah di pantai. Lagipula kondisiku seperti ini, aku takut orang-orang melihatku dengan tatapan aneh. "
Dirga mengangguk-angguk membenarkan. Penampilan Senja saat ini memang cukup berbeda di banding manusia pada umumnya. Mata merahnya yang kian menyala serta kulit pucat seperti mayat yang membungkus tulangnya membuat ia lebih mirip seperti mayat hidup. Meski tetap saja terlihat cantik namun orang-orang pasti akan heran atau bahkan takut melihatnya. Meskipun di pantai juga pasti banyak yang melihat, tapi entah kenapa Senja lebih merasa nyaman di tempat itu. Mungkin karena di tempat itu bnyak orang yang sudah cukup mengenalnya jadi tidak terlalu heran lagi dengan penampakannya.
"Benar juga. Aku bahkan tidak terpikirkan soal itu."
"Hmm kau terlalu sibuk mengajakku keliling kota sampai lupa kondisi ku ... Memangnya kau sudah bosan ya ke pantai terus? " Senja balik bertanya yang langsung membuat Dirga meringis kikuk
"Hehe ya tidak juga, aku hanya berpikir siapa tahu ada tempat lain yang ingin kau datangi, tapi kalau memang lebih suka ke pantai ya baiklah, kita ke pantai sekarang? " Pria maskulin pemilik tatapan tajam itu menoleh sambil tersenyum pada kekasih yang duduk bersandar dengan lemah. Sesekali gadis itu tampak meringis menahan sakit. Mungkin karena alasan itu jugalah Senja tidak ingin pergi kemana-mana.
Detik berikutnya Dirga langsung membelokkan kemudi nya ke kanan karena kebetulan mereka telah sampai di persimpangan menuju pantai.
Hamparan laut maha luas seolah menyambut keduanya dengan ombaknya yang tidak pernah berhenti bergulung. Angin sore yang cukup kencang juga seperti ikut senang akan kehadiran dia sejoli yang agak sedikit berbeda dari kebanyakan.
Hari ini adalah akhir pekan. Suasana pantai tampak lebih ramai dari biasanya. Bahkan sampai melam biasanya masih terlihat ada aktifitas di tempat ini. Terlebih jika cuaca mendukung.
Dirga menggandeng Senja berjalan menuju tempat favorit mereka. Tampilan Senja hari ini agak berbeda dengan topi yang menutupi kepalanya. Topi itu juga sengaja ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang yah katakanlah cukup mengerikan.
"Mau ku gendong? " Melihat Senja yang tampak sangat lemah, Dirga berinisiatif menawarkan jasanya namun langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh gadis itu.
"Memalukan sekali, apa kata mereka kalau sampai kau menggendong ku? "
Dirga melihat ke sekeliling. Cukup banyak orang memang, tapi apa pedulinya?
"Memangnya kenapa? aku tidak ada urusan dengan mereka. Aku hanya kasihan melihat mu lemah begitu. "
"Tidak apa, " Senja mengibaskan sebelah tangannya.
"Aku bahkan masih sanggup berjalan puluhan kilo lagi. "
"Ohya? " Antara percaya dan tidak Dirga mendengar kalimat itu.
"Hmm, " Pemilik iris merah mengangguk pasti meski sebenarnya saat ini dia merasa sudah hampir ambruk menahan sakit.
"Baiklah, Senja-ku memang luar biasa. " Sambil mengacungkan kedua ibu jarinya yang membuat Senja langsung terkekeh meski di antara wajah kesakitan nya. Saat Dirga menyebut gadis setengah manusia itu dengan sebutan 'Senja-ku' si pemilik nama pasti akan langsung tertawa. Baginya itu sangat lucu, seperti sebuah klaim kepemilikan.
"Kalau begitu apa kau mau makan sesuatu, sayang? " tanya Dirga sebelum sampai ke tempat yang di tuju. Karena kalau sudah sampai disana akan terlalu jauh kalau harus berjalan lagi mencari kudapan.
"Tidak, kalau sudah seperti ini aku tidak bnyak makan. Aku lebih bnyak minum karena dadaku setiap saat seperti terbakar. "
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu aku cari air mineral dulu yaa, kau tunggu disini sebentar. " Dirga sudah hendak berjalan namun langkahnya di cegah oleh Senja.
"Tidak perlu, nanti kalau aku haus aku bisa minum air laut. Aku hanya ingin cepat sampai disana sekarang. "
"Hah air laut? "
"Hm, " angguknya lalu menarik tangan Dirga untuk berjalan lebih cepat. Dan pria itu tentu tidak punya pilihan lain selain menurut meski masih merasa aneh.
Sejak kapan air laut bisa di minum?
Setelah sampai di tempat paling historis bagi mereka berdua, Senja langsung mendudukan badannya sambil melepaskan topi yang sejak tadi melindungi wajah anehnya. Ia kemudian bersandar pada kursi kayu. Rasa lelah yang mendera membuatnya langsung melakukan itu. Rasa sakit yang luar biasa juga membuatnya tak ingin melakukan aktifitas apapun selain duduk atau berbaring saja.
"Lelah sekali ya? " Ekspresi kesakitan Senja tentu dapat terbaca oleh indra penglihatan Dirga.
"Hmm, tubuhku lemah dan sakit semua. Dadaku juga rasanya seperti terbakar. Sakit sekali, Dirga.. ."
Rintihan menyedihkan Senja langsung membuat Dirga memeluk erat gadis itu. Seandainya kau bisa sedikit membagi rasa sakitmu itu, Senja. Fikir nya.
"Kalau begitu apa tidak sebaiknya kau istirahat saja di rumah? aku tidak tega melihatmu kesakitan begini. "
Senja menggeleng lemah dalam dekapan Dirga.
"Dirumah atau disini sama saja. Sakitku juga tidak akan berkurang. Tapi setidaknya kalau disini aku bisa bersamamu sambil menatap laut." Senja berhenti sejenak lalu mendongak menatap kekasihnya.
"Apa kau tahu, tidak ada yang lebih membahagiakan bagiku selain bisa menikmati pemandangan laut sambil memelukmu," ungkap gadis itu sambil makin mempererat pelukannya.
Dirga tersenyum getir sambil mengusap-usap kepala Senja. Ucapan Senja membuat hatinya semakin tidak karu-karuan. Antara sedih dan juga senang. Sedih karena Dirga merasa kalimat Senja tadi seperti kalimat perpisahan. Namun juga senang karena meski tidak bisa banyak menolong tapi Dirga masih bisa memeberikan pelukan terhangat nya untuk membahagiakan gadis itu.
"Senang melihatmu bahagia, Senja. Tapi jujur aku iba sekali melihatmu kesakitan begini ... Kalau memang kau sudah tidak sanggup menahannya, apa tidak sebaiknya kau pergi sekarang saja. "
Senja menggeleng lalu melepas kan pelukannya.
"Setidaknya biarkan aku bertahan sebentar lagi supaya aku tetap bisa memelukmu seperti ini. " Gadis itu merubah posisinya menjadi berbaring di pangkuan Dirga lalu memeluk perut atau pinggang pria itu.
Demi Tuhan Dirgantara tidak ingin punya pikiran kotor di saat-saat seperti ini. Saat kekasihnya sedang kesakitan. Namun pergerakan Senja mau tidak mau membuat hasratnya langsung bergetar.
Pria itu menghela nafasnya dalam-dalam untuk menetralkan dadanya yang tiba-tiba bergemuruh tidak karuan. Namun meski begitu Dirga sebisa mungkin berusaha untuk tidak terpancing. Ia sadar Senja hanya sedang ingin melampiaskan perasaannya sebelum ia pergi. Ia juga tahu kalau ia menyentuhnya terlalu dalam akan semakin membuat gadis itu kesakitan.
"Senja, Senja. Seandainya aku bisa menahanmu untuk pergi." Kalimat itu kembali terdengar namun tetap tak bisa merubah keadaan. Senja tetap akan pergi, dan sepertinya waktunya tak lama lagi.
Senja tak menyahut keluhan Dirga ia lebih memilih menenggelamkan rasa sakitnya dalam pelukan pria itu.
Namun dia antara rasa sakitnya dan entah dari mana datangnya, Senja tiba-tiba punya pikiran yang sedikit kotor. Gadis itu merasa sebelum pergi dia harus melakukan sesuatu yang akan terus di ingat oleh Dirga.
Senja takut nanti kalau dia pergi Dirga akan dengan mudah melupakannya. Dan Senja pikir sebuah sentuhan kecil mungkin akan membuat pria itu selalu mengingatnya.
Dengan tangan bergetar Senja memberanikan diri menaikan baju Dirga sebatas perutnya yang langsung memperlihatkan bentuk sispac nyaris sempurna.
Dirga yang tidak tahu apa maksud Senja melakukan itu hanya diam membiarkan.
"Kau seksi sekali, "
Ucapan konyol namun benar adanya yang keluar dari lisan Senja tentu membuat Dirga langsung tersenyum.
"Boleh aku menyentuhnya? " pamit Senja yang sontak membuat Dirga terkejut. Gadis ini kenapa berani sekali? bathinnya. Namun meski begitu Dirga tetap mengangguk mempersilahkan.
__ADS_1
Tangan dingin Senja bergerak pelan menyusuri bagian tubuh yang bentuknya mirip roti sobek itu. Kulitnya yang sangat lembut meskipun sangat dingin membuat Dirga langsung memejamkan matanya. Hasrat yang sejak tadi di pendamnya kembali mencuat seketika.
Namun tak sampai di situ Senja yang entah sedang dalam mode apa malah makin berani dan kali ini bahkan mendekatkan bibirnya lalu mengecup lembut perut seksi Dirga.
Kecupan nya sangat pelan namun cukup lumayan lama menempel di perut itu. Dan sambil bibirnya mengecup tangan Senja bergerak mengusap pinggang belakang Dirga.
Dirga pasrah dan tak berani menghentikan aksi aneh gadis itu. Ia hanya mampu terpejam sambil menahan hasrat yang seolah akan meledak. Bahkan saat Senja dengan beraninya menggigit perut Dirga pun Dirga tetap tak menolak.
Senja memagut sisi kanan perut Dirga dengan cukup kuat. Sepertinya gadis itu sedang membuat tanda merah supaya Dirga bisa terus mengingatnya. Entahlah apa yang ada di pikiran Senja. Yang jelas dia hanya ingin Dirga selalu mengingatnya saat ia pergi nanti.
Sementara Dirga rasanya sudah mau mati menahan diri. Ingin rasanya saat ia juga ia baringkan Senja di kursi panjang itu dan menuntaskan hajatnya. Namun tentu saja ia tak mungkin melakukan hal bodoh itu.
Ia hanya bisa menahan dan terus menahan sampai Senja menghentikan sendiri aksinya. Tapi alih-alih berhenti Senja malah makin menggila. Ia dengan berani mencoba membuka ikat pinggang Dirga.
"Senja.. " Kali ini Dirga mulai bersuara. Pikirannya benar-benar kotor sekarang. Gerak tangan Senja membuatnya takut.
Senja tak menjawab protes Dirga namun justru terus melanjut kan aksi gilanya. Kali ini ia sedang berusaha membuka kancing celana Dirga.
"Senja jangan. "
Damn it, Dirga tak bisa lagi tinggal diam. Senja benar-benar di luar batas. Entah apa maksudnya gadis itu, Dirga pun tak paham.
Tangan Dirga langsung bergerak mencekal lengan Senja. Dan dari situlah gadis itu baru tersadar dan menghentikan aksinya. Ia mendongak menatap pria tampan itu.
"Apa yang kau lakukan? " tanya Dirga tak mengerti. Bukankah Senja itu gadis yang sangat polos. Tapi kenapa sekarang jadi liar begini? siapa yang sudah mengajarinya?
"Aku ingin memberimu kenang-kenangan supaya kau selalau ingt padaku. Aku takut nanti saat aku pergi kau---"
"Senja kau bicara apa? jadi kau melakukan hal itu hanya karena ingin memberiku kenang-kenangan? " Dirga yang sudah berhasil menetralisir hasrat bodoh yang sempat menderanya segera merubah posisi Senja. Ia membantu gadis itu duduk. Berada di atas pangkuannya sangat tidak aman bagi mereka berdua.
"Kau tidak suka? kau tidak mau? " Senja sendiri juga bingung. Ia pikir Dirga akan sangat senang tapi pria itu justru terlihat tidak suka. Atau jangann jangan dia--
Dirga tersenyum menatap wajah polos Senja. Ia kemudian memegang kedua pipi gadis itu.
"Aku sejuta kali labih mau dan lebih menginginkanmu, tapi tentu tidak sekarang."
"Kenapa? "
"Karena belum waktunya. Lagipula kau sedang seperti ini, sedang kesakitan begini. Mana mungkin aku tega menyentuhmu. Kau pasti akan semakin sakit kan? "
Senja mengangguk membenarkan dengan wajah pucat kian menyeramkan.
"Tapi aku hanya ingin memberi kenangan kecil untuk mu, " lirihnya yang terdengar sangat menyedihkan.
"Tanoa kau melakukan apapun, aku akan tetap mengingatmu, selalu. Percayalah."
Kalimat Dirga yang memang terdengar cukup meyakinkan pada akhirnya membuat Senja yakin kalau Dirga memang telah benar-benar jatuh hati padanya.
"Maaf, aku bodoh sekali ya tadi? " sambil tertunduk menyembunyikan rasa malunya juga rasa sakitnya tentu saja.
"Eum sedikit, " jawab Dirga seraya menautkan ibu jari dan telunjuknya yang membuat Senja jadi tersenyum.
"Tapi ngomong-ngomong kenang-kenangan darimu bagus juga. Mudah-mudahan tidak cepat hilang. " Dirga menaikkan sedikit bajunya sehingga memperlihatkan tanda merah bekas gigitan Senja. Senyum jahil mendominasi wajah pria rupawan itu.
Sejujurnya ia masih sangat heran kenapa Senja jadi se-agreaif itu. Tapi ya sudahlah, fikir Dirga mungkin gadis itu hanya terbawa perasaan tadi.
__ADS_1
Sementara gadis yang baru saja membuat kissmark tersenyum malu menyadari kebodohannya.