
"Ayah, apa yang membawamu kemari? " Dirga tercengang saat sosok tegas berkarisma memasuki ruang kerjanya di kantor.
"Hey ini kantor Ayah juga kan? kenapa kau terkejut begitu? "
"Hehe, bukan begitu, Ayah. Aku hanya terkejut tadi soalnya tidak biasanya Ayah kemari, bahkan selama disini Ayah baru kali ini singgah di kantor ku kan? "
"Hmm, Ayah ingin melihat kondisi perusahaan mu. Apa semuanya baik-baik saja?" Damar mendudukan badannya di kursi depan meja Dirga.
"Baik, Ayah. Semuanya baik. " Dirga tersenyum tipis. Ia yakin bukan itu yang ingin di tanyaakn Ayahnya, tapi ia tetap meladeni basa-basi sang Ayah sebelum akhirnya orang tua itu sampai pada tujuana utamanya.
"Baguslah, kau memang selalu bisa di andal kan." Pujian itu tak sedikitpun membuat Dirga besar kepala sebab dia sudah terlalu sering mendengar itu. Pria itu jarang mau menanggapi, paling hanya sedikit tersenyum sebagai ucapan trimakasih.
"Ruangan mu cukup nyaman juga, " Damar beranjak memperhatikan seisi ruangan kemudian berpindah duduk ke sofa di ujung ruangan yang tepat berhadapan dengan jendela kaca. Dari tempat itu kita bisa melihat pemandangan kota yang cukup mengagumkan.
"Berapa banyak gadis yang sudah kau bawa kesini?"
Hah ! pertanyaan apa itu ? Dirga bahkan sampai melongo mendengar nya. Ayahnya terlalu gamblang membeberkan salah satu sikap uniknya, unik dalam hal negatif tentunya.
"Ayah bisa saja, " Dirga beranjak mendekati Ayahnya. Kurang sopan rasanya bicara berjauhan begitu.
"Tidak ada, Ayah. Aku kan belum lama tinggal disini, jadi koleksi gadisku juga belum banyak."
Cih, ternyata jawaban Dirga jauh lebih konyol dari pertanyaan Ayahnya, membuat pria itu langsung mencibir.
"Ayak tidak yakin, walaupun kau baru disini, tapi Ayah paham cara mainmu."
"Hahaha." Dirga langsung tergelak, terlebih Ayah mengatakan itu sambil menggerak-gerakan jari tengah dan telunjuknya. Selera humor sang Ayah ternyata lumayan juga.
"Tidak ada, Ayah. Hanya ... Queen. " Menyebut nama itu lirih seolah enggan mengingat kebersamaannya dengan gadis itu.
"Senja? "
Dirga terperanjat. Ayahnya sudah mulai menyebut nama itu, berarti pembicaraan sudah mulai serius.
"Tidak, Senja tidak pernah kesini ... Dia berbeda dengan gadis-gadis ku sebelumnya."
"Tentu," sahut Ayah cepat.
__ADS_1
"Dia kan bukan manusia. "
Lihatlah, sesuai dengan prediksi Dirga, sang Ayah sudah mulai serius, bahkan mulai sarkas.
"Bukan begitu maksudku, Ayah. Senja itu tidak seperti gadis kebanyakan. Dia tidak se-agreaif gadis-gadis ku terdahulu. "
Damar tidak menyahut, tapi sedikit cibiran yang muncul dari bibirnya mengisyaratkan kalau dia tidak se-pendapat dengan putranya.
"Eum bisakah kita tidak membicarakan soal itu, Ayah. Kita bicara yang lain saja. " Tanpa bermaksud lancang, tapi Dirga memang tidak nyaman kalau ada yang mulai bicara buruk tentang Senja, meskipun hanya lewat isyarat.
"Ohya, apa Ayah mau kopi? biar ku suruh Nayra membuatnya."
Damar melirik putranya. Sudah beberapa saat dia disini, Dirga baru menawarkannya kopi. Tapi Damar paham, putranya hanya sedang berusaha mengalihkan topik.
"Tidak, Ayah hanya minum kopi di pagi hari, "
"Oh baiklah, kalau begitu apa Ayah---"
"Kau pasti tahu kan kenapa Ayah kesini? " Damar menatap serius putranya. Pria itu sudah kembali pada mode asalnya, serius dan tegas.
Dirga menghela nafasnya kemudian mengangguk. Akhirnya sang Ayah sampai pada tujuan utamanya. Entah ia merasa lega ataupun sesak, tapi yang jelas hela nafasnya terdengar cukup berat.
"Sudah ... tapi maaf, Ayah. Aku tidak bisa menuruti kemauan Ayah. Aku tidak bisa meninggalkan perusahaan begitu saja? "
"Tidak bisa meninggalkan perusahaan atau tidak bisa meninggalkan Senja? " tebak Ayah tanpa basa-basi. Ia yakin jawaban Dirga tadi bukanlah jawaban utama.
"Kalau soal perusahaan, kau bisa melimpahkan kuasamu pada orang kepercayaan, atau lakukan rapat pemegang saham secepatnya, jadi kita bisa tahu siapa yang layak memimpin perusahaan selain kau ... Di kerajaan bisnis kita, Ayah tahu kita tidak kekuarangan stok orang hebat, jadi Ayah pikir itu bukan masalah berarti. " Panjang lebar Damar menjabarkan, bahkan saat putranya belum menjawab pertanyaannya soal Senja.
"Iya, tapi tidak semudah itu, Ayah. Ayah bahkan hanya memberiku waktu dua hari. Mana mungkin aku bisa menyelesaikannya dalam waktu sesingkat itu. "
"Baiklah, " sahut Damar menanggapi dalih putranya. Iya tidak yakin itu alasannya, tapi kalaupun memang benar begitu, pria itu tentu sudah punya jawabannya. Ia tak kan memberi kesempaatan Dirga untuk berdalih lagi.
"Ayah beri waktu sepekan lagi. Jadi minggu depan kau sudah harus menyiapkan semuanya. "
"Tetap tidak bisa, Ayah. " Dirga buru-buru menjawab. Dia sadar sudah terjebak olah jawabannya sendiri. Dia sadar Ayahnya terlalu pintar untuk di bodohi.
"Kenapa? apanya yang tidak bisa? kalau memang ada keaulitan nanti Ayah pasti menolongmu kan? terkecuali jika itu soal---"
__ADS_1
"Ayah benar, ini soal Senja. Aku tidak bisa meninggalkan gadis itu. Aku benar-benar tidak bisa. Aku tergila-gila padanya, ayah.. !" Akhirnya Dirga tak bisa lagi membendung perasaannya. Karena alasan yang paling memberatkan saat ini memang Senja, hanya Senja dan bukan yang lain.
"Huh, sudah kuduga. Kau terlalu lemah kalau sudah menyangkut gadis aneh itu. " Cibiran pedas di lontarkan pria bermata teduh itu, ia tak habis pikir kenapa putranya bisa jadi selemah ini sekarang.
"Tinggalakan gadis itu dan dapatkan yang sejuta kali lebih baik dari dia. Ayah yakin tak perlu waktu lama kau pasti bisa menemukannya."
"Ayah, kita sudah pernah membahas soal ini kan?" Ketegangan mulai terasa di antara keduanya. Sepertinya perdebatan sengit akan kembali terjadi.
"Dan jawabanku kali ini pun sama, aku tidak berniat sedikitpun menggantikan Senja dengan yang lain. "
"Tapi dia berbahaya untuk mu, Nak. " Damar bangkit dari duduknya, urat lehernya nampak jelas saat mengatakan itu, pertanda kalau emosinya mulai naik.
"Ayah yakin akan ada hal yang bahkan bisa mengancam nyawamu kalau kau memutuskan tetap bersamanya. "
"Akan aku hadapi, Ayah. Tidak peduli se-berbahaya apapun pasti akan tetap ku hadapi. Aku menyayanginya, Ayaah.. "
"Bodoh !"
Dirga langsung memejamkan matanya sambil tangannya terkepal meremas sofa. Seumur hidupnya rasanya baru kali ini ia mendengar makian dari Ayahnya. Darah Dirga rasanya sudah mendidih dan bahkan siap tumpah keluar. Namun pria itu masih berusaha menahanya.
"Ayah tidak menyangka kau jadi sebodoh ini sekarang ... kau bahkan tidak tahu apa yang akan kau hadapi nanti. Ayah yakin akan lebih berbahaya dari apa yang bisa kau bayangkan. "
"Apa Ayah sudah selesai bicara? " Dirga berusaha bersikap setenang mungkin kendati gemuruh di dadanya kian nyata terdengar.
"Kalau sudah mungkin sebaiknya Ayah pergi dari sini. Aku masih banyak pekerjaan. "
"Apa ! kau mengusir Ayah? beraninya kau mengusir---"
"Aku tidak mengusir, Ayah. Aku hanya menghindari perdebatan yang sia-sia ... Aku harap setelah ini Ayah tidak akan membahas soal ini lagi, karena jawaban ku akan tetap sama. Aku tidak akan meninggalkan Senja." Dirga tahu kalimat-kalimat nya tadi memang cukup lancang. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia ingin mempertahankan apa yang terbaik menurutnya, bukan menurut Ayahnya.
"Dasar keras kepala ! bisa-bisanya kau mengusir Ayah dari sini. Kalau Ayah mau Ayah bahkan bisa memecatmu sekarang juga. "
Mendengar itu Dirga langsung bangkit. Ayahnya sudah benar-benar kelewatan.
"Tentu. Ayah pimpinan tertinggi perusahan ini. Ayah bisa melakukan apapun yang Ayah mau ... tapi satu hal, Ayah tidak akan bisa memisahkan aku dari Senja. Tak peduli sekeras apapun usaha Ayah. "
Setelah mengatakan itu dengan urat leher yang juga sudah menonjol, Dirga kemudian pergi. Berada disini lebih lama ia yakin akan membuat kesabarannya benar-benar habis. Tidak lucu kan kalau sampai dia fight dengan Ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Dirga ! Dirga !" teriakan Ayahnya sudah tak di pedulikan lagi. Dirga bahkan sempat membanting pintu sebelum benar-benar keluar membuat Nayra dan yang lain terkejut bukan main. Ada apa dengan Bos besar dan putranya? tentu saja itu yang ada di pikuran mereka.
Tapi ya Begitulah, Dirga selalu lebih memilih pergi ketimbang terus meladeni ocehan Ayahnya. Itu di anggap cara terbaik menurutnya mengingat kesabaran nya yang setipis tisu.