Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Sakit yang kian menggigit


__ADS_3

"Senja kau kenapa, Nak. " Melihat putrinya yang pulang dalam keadaan lemah tentu membuat Wulan panik. Wajah pucat dan mata kemerahan Senja juga tak urung membuat nya memikirkan hal-hal sulit yang mungkin akan terjadi.


"Tadi habis selancar Senja bilang badannya sakit semua, Bibi. " Dirga mewakili Senja menjawab karena gadis itu sibuk meringis menahan sakit.


"Senja juga bilang dadanya seperti terbakar. "


Mata Wulan membulat sempurna. Penjabaran Dirga membuat pikirannya menjurus pada tanda-tanda awal habisnya energi Senja.


"Apa sudah waktunya, Nak? " Perempuan itu bertanya sambil membantu Senja duduk bersandar di sofa.


"Sepertinya begitu, Bu. " Senja menjawab lemah. Di sampingnya Dirgantara tetap setia menemani meski dengan wajah ngilu melihat gadisnya menahan nyeri


"Ya Tuhan, kenapa harus sekarang, Nak. Ayahmu bahkan baru pergi. " Salah satu hal yang paling menyedihkan bagi Wulan adalah saat anak dan suaminya harus pergi secara bersamaan. Dan hal itu sepertinya akan segera terjadi.


"Mau bagaimana lagi, Bu. Sudah saatnya," jawab Senja tak bermaksud mengabaikan kesedihan sang ibu.


"Tapi ibu tenang saja, aku masih bisa bertahan sampai beberapa hari kedepan. "


Wulan tak menyahut namun tangannya bergerak mengusap kening Senja. Perempuan itu juga sebenarnya tahu betul kalau apa yang menimpa Senja kali ini adalah pertanda kalau gadis itu akan segera pergi.


"Aku bahkan masih bisa menemani ibu di butik. " Senja bahkan masih berusaha menghibur ibunya. Namun sang ibu tahu putrinya hanya sedang berusaha kuat.


"Sudah jangan pura-pura kuat. Ibu tahu kau pasti kesakitan sekarang. "


"Sedikit, Bu. Tapi aku yakin kalau ibu pasti lebih sakit. "


Wulan memaksakan diri untuk tersenyum. Ia paham betul maksud Senja. Memangnya siapa yang tidak sedih kalau di tinggal oleh suami dan anak secara bersamaan. Meski ia sudah terbiasa mengalami hal itu, tapi tetap saja setiap waktunya datang, Wulan akan merasa menjadi orang paling menyedihkan.


"Tidak apa. Nak. Kalian juga pasti kembali kan? Kapan kau akan pergi? " Biasanya sebelum mengenal Dirga, Senja tak pernah menunggu lama untuk bersemedi. Begitu ia mulai merasa sakit dan dadanya seperti terbakar, gadis itu pasti akan langsung menenggelamkan dirinya ke dasar samudra.


Tapi sepertinya kali ini berbeda sebab ada Dirga di sisinya. Wulan yakin Senja tak akan langsung pergi begitu saja. Selama ia masih bisa bertahan, Wulan yakin putrinya akan lebih memilih untuk bertahan.


"Mungkin beberapa hari lagi, Bu. Aku ingin menemani dia dulu, " Senja menunjuk Dirga dengan kepalanya dan langsung di sambut sebuah senyum oleh Dirga. Sayangnya itu bukanlah senyum manis seperti biasa. Senyum itu bahkan terlihat sangat getir.


"Ibu juga sebenarnya masih ingin di temani olehmu, tapi sepertinya Dirga lebih membutuhkanmu. " Wulan tentu dapat melihat bagaimana raut sendu Dirga mengetahui kekasihnya akan pergi. Hal yang pernah ia rasakan dulu, dan rasanya sangat menyesakkan.


"Kalian berbincang lah dulu. Ibu akan ke belakang. Kalau dia sudah benar-benar lelah, antar dia ke kamarnya. " Sambil beranjak Wulan menepuk pundak Dirga memberi amanah pada pria itu.


"Baik, Bibi. " Dirga mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Kau mau ke kamar sekarang? " tanyanya selepas Wulan pergi.


"Hmm, aku lelah sekali. "


"Baiklah."


Dirga kembali menuntun Senja, Ia mengantarnya sampai gadis itu terbaring di ranjangnya.


"Istirahatlah, aku pulang dulu, besok aku kemari lagi. " Dirga mengusap kepala Senja sebelum beranjak pergi. Namun langkah Dirga terhenti karena gadis itu mencekal lengannya.


"Tunggu sebentar lagi, " liriknya sambil meringis. Ekspresi yang sejak tadi membuat Dirga ngilu membayangkan betapa kesakitannya Senja.


Pria itupun akhirnya menunda waktunya untuk pergi. Ia duduk di samping ranjang tepat samping di kepala Senja.


"Pasti sakit sekali, kan? " Melihat Senja terus meringis Dirga tahu kalau dia pasti kesakitan.


"Hmm, tapi sedikit berkurang kalau ada kau. " Senja memiringkan badannya kemudian memeluk kaki Dirga. Dirga sendiri tak sedikitpun menepis. Ia bahkan membalas dengan mengusap kepala gadis itu.


"Kalau begitu aku di sini saja terus supaya kau tidak perlu pergi. "


Senja tersenyum mendengar jawaban konyol Dirga.


"Kau memang bisa mengurangi sakitku, tapi tetap tidak bisa mencegahku untuk pergi. Kalau aku tetap disini bersamamu maka aku akan mati."


"huft, " Menghela nafas adalah cara terampuh bagi seseorang untuk menetralkan sesak yang mendera.


"Ya, aku hanya harus bersemedi, dan aku pasti kembali. "


Dirga mengangguk angguk.


"Berapa lama biasanya kau akan pergi? "


Sebenarnya Dirga sudah pernah menanyakan soal ini dulu, tapi kali ini ia ingin benar-benar memastikan berapa lama ia akan merasa kosong tanpa gadis itu.


"Bisa satu purnama atau lebih."


Tidak terlalu lama sebenarnya, tapi bagi orang yang sedang merindu tentu itu meruapakan waktu yang cukup lama.


"Baiklah aku akan menunggu sampai kau kembali. saat kau kembali nanti kau masih tetap jadi milikku."

__ADS_1


"Tentu saja, " Sambil menahan sakit Senja tersenyum geli. Ayolah hanya Senja yang masih tetap bisa tersenyum meski sedang kesakitan. Tapi itu juga bukan tanpa alasan. Pria di sampingnya lah yang membuat senyum itu bisa mengembang.


"Aku kesana untuk bersemedi, bukan untuk berselingkuh. Kau bahkan akan terkejut saat melihatku kembali besok? "


"Oh ya, kenapa? "


"Lihat saja besok. " Alih-alih menjawab Senja justru membuat pria berahang kokoh itu kian penasaran. Tapi melihat kondisi Senja, ia tak ingin memaksa gadis itu memberitahunya.


"Baiklah aku tunggu kejutan darimu. " Sambil tangannya terus bergerak mengusap rambut lebat Senja.


"Hmm, aku harap kau tidak terkejut. " Senja berucap sambil mempererat pelukannya.


"Tapi, Dirga. Sebelum pergi aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Aku ingin jalan-jalan denganmu. "


Dirga nampak berpikir sebelum menjawab.


"Tapi kau kan sakit? " tukasnya tentu saja tanpa bermaksud menolak kemauan Senja.


"Tak apa, kan aku sudah bilang aku mungkin masih bisa bertahan beberapa hari lagi."


"Baiklah, aku akan membawamu kemana pun kau mau. " Akhirnya Dirga mengiyakan meski tetap saja masih mengkhawatirkan kondisi Senja.


"Ya sudah istirahatlah, aku akan menunggumu sampai kau tidur. "


Senja menanggapinya dengan anggukan sambil terus memeluk kaki atau paha Dirga. Matanya terpejam menikmati sakit yang kian mengggigit.


Entah sampai berapa lama Dirga membiarkan kakinya menjadi bantalan untuk kepala Senja. Yang jelas sampai gadis itu tertidur dan dia sendiripun merasa cukup mengantuk.


Setelah memastikan Senja benar-benar terlena, Dirga baru beranjak dari kamar Senja. Dirga tak tahu kalau setelah dia benar-benar keluar dari kamar Senja, gadis itu kembali membuka matanya. Tentu saja, mana mungkin dia bisa semudah itu tertidur dalam keadaan sakit. Ia hanya berpura-pura terlena karena iba melihat Dirga yang pasti juga merasa lelah menunggunya.


Setelah Dirga pergi, Senja kembali melanjutkan penderitaan nya menahan sakit yang kian menggigit.


***


Sementara Senja berjuang dengan rasa sakit nya. Di salah satu sudut kamar rumah mewah berlantai dia. Queenzi nampak sedang berpikir keras memikirkan bagaimana caranya memisahkan Durga dengan gadis bermata merah.


Otaknya sibuk bekerja mencari siapa orang yang bisa membantunya menangani makhluk seperti Senja.


"Atau aku cari di media sosial saja yaa? " gumamnya setelah berpikir keras namun belum juga menemukan orang yang tepat. Gadis itu bahkan sebenarnya tidak tahu orang yang bisa menangani Senja itu orang yang bagaimana.

__ADS_1


Karena bingung akhirnya Queen benar-benar membuka sosial medianya. Gadis itu baru akan mengetik kata kunci di tombol pencarian namun jemarinya terhenti saat otaknya mengingat seseorang.


Gadis itu menautkan alisnya seperti sedang berpikir tentang satu nama yang tiba-tiba singgah di ingatannya. Entah siapa yang dia maksud, tapi swpintas gadis itu nampak tersenyum seolah sudah menemukan orang yang tepat yang bisa menangani masalahnya.


__ADS_2