
Damar pulang ke rumahnya dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Raut kekesalan bisa terbaca jelas bagi siapapun yang melihat. Tak terkecuali Melati istrinya. Wanita cantik itu mengernyit kan alisnya heran melihat penampakan suaminya dengan wajah tertekuk begitu. Terlebih Damar bahkan sempat membanting pintu saat baru datang tadi.
"Kenapa, sayang? sepertinya sedang kesal?" Melati yang sedang duduk di ruang tengah buru-buru bangkit.
"Putra mu sudah benar-benar jadi pembangkang sekarang, " jawab Damar sambil mendengus kesal.
"Dirga, kenapa lagi dia? "
Damar menghampiri istrinya lalu menghempaskan badannya di sofa empuk sambil membuang nafas kasar.
"Aku tadi dari kantornya, aku ajak dia bicara baik-baik soal Senja. Tapi dia tetap bersikukuh dengan keputusannya, dia tidak mau meninggalkan gadis itu ... dia bahkan meninggalkan ku begitu saja di kantor tadi. Benar-benar anak tak tau diri. "
Melati sedikit heran mendengar suaminya mengumpat begitu, terlebih pada putra mereka. Sungguh itu satu hal yang jarang atau bahkan tidak pernah di lakukan Damar. Biasanya bahkan semarah apapun pria tegas itu tidak akan bicara begitu.
Sepertinya kemarahan nya pada putra semata wayang mereka memang tidak main-main.
"Sabar, mungkin Dirga sedang labil, jadi tidak bisa berpikir jernih, " ujar Melati sambil mengusap-usap punggung suaminya mencoba menenangkan.
"Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk sabar, tapi dia memang makin lama makin kurang ajar, " Lagi, pria itu mengumpat membuat istrinya lagi-lagi terperanjat.
"Aku juga heran, sayang. Kenapa Dirga bisa jadi keras kepala begitu. Apa yang membuatnya bisa sampai tergila-gila begitu pada Senja? " tangan Melati masih bergerak aktif mengusap punggung Damar, ia tahu suaminya sedang marah besar sekarang.
"Dia pasti sudah menjebak Dirga. "
"Maksudmu? " tanya Melati heran dengan kata menjebak.
Damar menoleh sekilas pada istrinya. Bingung harus menjelaskan apa. Dia tidak mungkin menjelaskan tentang siapa Senja dan juga Bayu sebenarnya. Damar tidak mungkin bilang kalau makhluk seperti mereka memang pandai menjebak mangsa. Kalau sampai Melati tahu, dia pasti bisa pingsan di buatnya.
" Ya buktinya dia sampai tergila-gila begitu, bahkan sampai tidak bisa lepas, berarti kan dia sudah terjebak oleh pesona gadis itu. "
Melati makin heran oleh penuturan Damar. Menjebak bagaimana maksudnya, apa mungkin gadis itu menggunakan hal-hal mistis untuk mendapatkan putranya? akh tapi hal-hal seperti itu mana ad lagi zaman sekarang. " Wanita yang selalu berlenampilan modis itu membuang jauh-jauh pikiran buruk yang sempat bersarang.
__ADS_1
Jujur Melati akui, Senja memang sangat mempesona, kecantikannya sangat pari-purna. Perpaduan antara Wajah tampan Ayahnya dan cantik luar biasa milik sang ibu benar-benar membentuk wajah bak para Dewi dalam kisah mitologi. Mungkin itulah yang di maksud menjebak oleh Damar. Putranya sudah tergila-gila pada pesona kecantikan Senja yang unik dan luar biasa.
"Kau benar," kata Melati akhirnya setelah beberapa saat mencoba mencerna kalimat suaminya.
"Putra kita sudah terjerat pada pesona gadis itu ... yah jujur ku akui dia memang sangat cantik, tapi sayang sikapnya mengerikan. " Melati menjeda ucapannya sejenak lalu menatap suaminya yang sudah mulai tenang. Terbukti usapan tangannya sedikit banyak memang mampu menenangkan.
"Seandainya dia itu gadis baik-baik, aku pasti akan menerimanya, tak peduli dia anaknya Wulan atau siapa, aku akan tetap menerima. Aku akan melupakan kisah masa lalu itu. "
Ucapan Melati sontak membuat Damar langsung menoleh. Ia memperhatikan istrinya dengan pandangan yang sulit di mengerti.
"Kenapa? " Pandangan aneh Damar tentu mengundang tanya bagi Melati.
"Ucapanku benar kan tadi? Kita akan menerima Senja kan kalau dia itu gadis baik-baik. Kita akan melupakan masa lalu orang tuanya kan ... atau kau tidak bisa melupakan Wulan? "
Damar jadi makin terperangah. Kenapa ujung-ujungnya jadi kesitu, pikirnya heran. Terlebih Melati mengucapakan itu dengan tatapan penuh selidik yang di bumbu dengan kecemburuan.
"Tidak," Damar buru-buru menggeleng, gawat kalau Melati sudah mulai cemburu.
"Aku sudah lama melupakan kejadian itu, juga melupakan Wulan. Lagipula aku sudah denganmu sekarang, untuk apa memikirkan yang lain. " Itu tulus, ucapan Damar memang benar adanya. Dia sudah melupakan Wulan sejak puluhan tahun yang lalu, sejak ia kembali pada Melati. Tapi masalahnya sekarang tidak sesederhana itu.
"Dan yang kau bilang tadi benar, kita pasti akan menerima Senja kalau dia itu gadis baik-baik," usai mengatakan itu Damar menghela nafasnya.
Seandainya kau tahu siapa mereka, Mel
"Tapi sayangnya dia bukan gadis baik-baik, kan? " sambung Damar lagi.
"Dia lebih mirip monster atau bahkan iblis." Damar membuang pandangannya, tak ingin ekspresi bohongnya terbaca oleh sang istri.
"Kau benar, sayang. Kadang aku berpikir sikap dan mata merah gadis itu memang lebih mirip iblis," ujar Melati sepemikuran dengan suaminya.
"Tapi putra kita sangat mencintainya, aku jadi bingung. Apalagi melihatmu terus bertikai dengannya. Hubungan kalian juga jadi renggang kalau begitu terus. " Keluhan Melati tentu cukup beralasan, Ibu atau istri mana yang rela melihat anak dan suaminya terus berselisih paham.
__ADS_1
"Maaf, aku juga tidak ingin jadi begini. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Dirga. "
Melati mengangguk. Siapapun tak ingin hal ini terjadi, bahkan Dirga sekalipun, Melati yakin putranya juga sebenarnya tidak ingin hubungannya dengan sang ayah jadi renggang. Tapi anak itu hanya tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.
"Kalau masalahnya belum selesai apa kita tetap akan pulang?" tanya Melati karena mereka memang berencana pulang minggu ini.
"Tidak, kita akan menunda kepulangan kita entah sampai kapan. Setidaknya sampai masalah ini menemui titik terang."
"Baiklah, aku setuju. Walau bagaimanapun kita harus tetap mendampingi Dirga."
"Hm, " angguk Damar menyetujui kalimat sang istri.
"Huufh, " Melati menghembuskan nafasnya lalu bersandar di pundak Damar. Ada rasa lelah tersendiri yang sulit di jelaskan. Sejak awal mereka kesini sudah langsung di sambut dengan permasalahan pelik putranya. Padahal niat mereka kesini ingin berlibur, tapi jangankan berlibur, yang ada hari-hari disini selalu di isi dengan perdebatan.
"Apa menurutmu kita perlu pergi ke suatu tempat? yah sekedar untuk memenangkan diri. Aku rasa selama ini kita terlalu di pusingkan dengan masalah Dirga, kita bahkan lupa tujuan awal kemari. "
Usulan Melati di sambut baik oleh Damar
"Kau benar, sepertinya kita perlu refreshing sejenak untuk melemaskan otak," jawab Damar seraya tangan nya mengusap kepala Melati, sudah lama juga mereka tidak melakukan adegan romantis seperti ini.
"Ada tempat yang ingin kau kunjungi? "
"Eum bagaimana kalau kepantai? "
"Pantai? " Damar mengulang ucapan istrinya. Agak sedikit aneh mendengar tempat itu.
"Iya, bagiku pantai itu selalu bisa menenangkan."
"Kau tidak takut bertemu gadis itu, katanya dia sering ke pantai kan?"
Ucapan Damar langsung mengingatkan Melati pada Senja. Benar, Queen bilang gadis itu bahkan hampir setiap hari ke pantai. Melati sempat ragu, namun setelah berpikir sesaat dia akhirnya tetap memutuskan untuk ke pantai.
__ADS_1
"Tidak masalah, kalau nanti jumpa aku akan mengabaikannya, aku akan pura-pura tidak lihat. Lagi pula aku kesana bukan untuk menemui nya," ketus Melati yang membuat Damar langsung tersenyum. Tingkah istrinya mengingatkan Damar saat mereka baru menikah. Melati dengan sikap manjanya sering membuat Damar tersenyum geli.
Keduanya akhirnya sepakat untuk pergi ke pantai sore ini juga.