
Akhir pekan yang menyenangkan bagi Dirga, pasalnya malam ini untuk pertama kalinya dia bisa menghabiskannya bersama Senja, atau katakanlah ini kencan pertamanya dengan gadis itu.
Dirga Sengaja memesan ruang privat di sebuah kafe supaya tidak ada yang menggganggu acaranya dengan Senja.
Senja nampak sangat cantik dengan Dress diatas lutut berwarna navi, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Rambut bagian depannya ia jalin kebelakang sementara sisanya di biarkan terurai. Sementara Dirga mengenakan kemeja slim fit berwarna gelap yang di gulung sampai sebatas lengan.
Mereka terlihat sangat serasi. Dirgantara yang gagah dan tampan dan Senja yang cantiknya berlebihan. Apalagi malam ini gadis itu terlihat lebih feminim dari biasanya.
Dirga bahkan sampai melongo saking takjubnya melihat penampilan Senja. Ia hampir tak percaya kalau gadis manis di depannya ini bisa sewaktu-waktu berubah jadi monster kalau sedang mengamuk.
Melihat penampilannya, siapa pun tidak akan menyangka kalau gadis pemilik iris merah itu adalah perpaduan antara manusia dengan makhluk yang tak sepenuhnya nyata.
"Kau mau makan apa? "
Dirga menyodorkan daftar menu pada Senja. Pria itu sendiri juga mulai memilih menu.
"Steak daging. "
'Hah steak daging lagi? ' Dirga mengernyitkan keningnya.
"apa kau tidak memakan makanan lain selain steak daging? "
Sebenarnya Dirga tidak bermaksud sarkas atau semacamnya. Pria itu hanya sebatas bertanya saja. Namun Senja menunjukan reaksi berbeda. Memang tak lagi garang seperti dulu. Tapi kali ini juatru pandangannya aneh. Sulit di tebak
"Eum maksudku apa steak daging itu makanan kesukaanmu? " Buru-buru meralat ketimbang urusannya jadi panjang, sebab Senja mulai menunjukan raut tak nyamannya. Padahal itu baru obrolan pembuka mereka.
"Aku memang hanya makan daging. Dan makanan favoritku adalah steak daging. "
"Ooh, " Dirga mengangguk-angguk. Merasa nersyukur karena Senja tidak jadi mengeluarkan jurus mautnya
"Hanya daging sapi atau yang lainnya? "
"Semua daging, terkecuali daging ikan ataupun seafood."
Dirgantara kembali mengangguk.
"Ok, baiklah. Berarti aku tidak boleh membawamu ke restauran seafood."
"Yah begitulah, " Mood Senja tampak membaik. Wajah kurang bersahabat nyang tadi sempat ia perlihatkan kini kembali menjadi wajah manis nan menggemaskan.
Pria rupawan di hadapannya bahkan sampai menggeleng kan kepalanya heran. Mood Senja ia ibaratkan seperti cuaca di luar sana. Tak menentu dan bisa berubah sewaktu-waktu.
Tapi itu tentu bukan masalah bagi Dirga, ia sudah terbiasa dan sudah tahu cara memperbaiki mood Senja yang suka anjlok tak menentu.
***
"Eum Senja, sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan padamu, " Dirga membuka kembali obrolan setelah mereka selesai makan. Memang selain ingin mengajak Senja makan malam, ia juga sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu.
__ADS_1
"Oh ya, apa itu? "
"Ini tentang orang tuaku. "
"Orang tuamu, kenapa dengan orang tuamu? " tanya Senja heran.
"Mereka ada disini sekarang?"
"Maksudmu? " Senja memang belum tahu kalau orang tua Dirga bermukim di luar negeri. Itulah kenapa dia tak paham maksud Dirga sekarang.
"Oh iya aku lupa, aku kan belum bilang padamu kalau orang tuaku tinggal di luar negri, "
"Ooh." Senja mengangguk-angguk
"Jadi selama ini kau tinggal dengan siapa? "
"Sendiri."
"Sendiri? "
"Hmm, kanapa, apa kau mau menemaniku? " Selalu saja pemilik rahang kokoh itu menemukan cara untuk menciptakan rona merah di wajah senja.
"Aku tidak bilang begitu. " Dan sejauh ini usahanya tidak pernah gagal. Gadis yang bisa berubah ekspresi hanya dalam sekejap mata itu selalu saja gugup di buatnya.
"Tapi aku ingin nya begitu."
"Sudah, sudah jangan menggodaku terus. " Karena intimidasinya tidak berhasil. Senja kini lebih memilih memasang mimik serius.
"Jadi maksudnya tadi bagaimana ... orang tuamu selama ini tinggal di luar negeri dan sekarang mereka ada di sini, di rumahmu, begitukah? "
"Hmm, " Dirga hanya mengangguk karena mulutnya terisi penuh air. Pria itu baru saja meneguk minumannya hingga hampir tandas demi bisa menetralkan perasaan tak karuan saat bersitatap dengan Senja tadi. Tentu bukan perasaan ngeri, tapi lebih kepada perasaan ingin---
'Akh sudahlah' Dirga membuang jauh-jauh pikiran sesatnya.
"Baguslah. Itu berarti sekarang kau tidak sendiri lagi. Ada yang akan mengurusmu," Imbuh Senja lagi.
"Benar, tapi masalahnya bukan itu. "
"Lalu? " Gadis polos itu masih saja kesulitan membaca arah pembicaraan kekasihnya.
"Eum bagaimana menjelaskannya ya, " Dirga menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Begini Senja. " Menghela nafas sejenak sebelum mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat gadis di depannya berubah ekspresi.
"Saat ini orang tuaku belum tahu tentang hubungan kita ... Tapi seandainya suatu saat mereka tahu dan ingin bertemu denganmu, aku harap kau tidak keberatan. "
Dan benar dugaan Dirga ekspresi Senja langsung berubah. Gadis itu nampak sedih.
__ADS_1
"Tapi aku takut bertemu mereka. Aku takut mereka tidak menyukai ku. "
"Tidak sekarang, Senja. Aku tahu kau pasti belum siap." Melihat gadisnya langsung tertunduk sedih Dirga buru-buru menenangkan. Ia faham bagaimana perasaan Senja saat ini. Gadis itu pasti langsung teringat siapa dirinya.
"Kau tenang saja, mereka pasti menyukaimu. Lagipula aku juga tidak mungkin mengatakan kepada mereka tentangmu. " Dirga yang tadinya duduk berhadapan dengan Senja dan terpisah oleh meja, kini memberanikan diri mendekat. Ia menarik kursinya kesamping Senja. Lalu duduk menghadap gadis itu, memangkas jarak di antara mereka.
Senja tidak menjawab, hatinya gundah. Ia sadar, sampai saat ini ia belum bisa bersikap normal layaknya manusia biasa. Ia takut nantinya orang tua Dirga akan mencium gelagat anehnya.
"Tenanglah, semuanya pasti baik-baik saja. Kita hanya perlu mempersiapkan diri sekarang. " Dirga tahu cepat atau lambat orang tuanya pasti akan mengetahui hubungannya dengan Senja. Lagipula dia juga tidak ingin terus menerus menyembunyikannya.
Dirga meraih tangan Senja lalu meletakkan dalam genggamannya. Ia tahu betul kalau gadis itu sudah kehilangan mood nya. Terbukti dia sudah tidak lagi menjawab ucapan Dirga.
"Kau cantik sekali, " ucapnya seraya menyentuh rambut Senja di dekat telinga. Tangan sebelahnya lagi kian mempererat genggaman. Tak peduli kalau tangannya mungkin akan membeku karena meyentuh kulit sedingin es terlalu lama.
Dirgantara menyudahi topiknya tentang orang tuanya. Ia tak ingin lagi membebani pikiran Senja.
Dan usahanya berhasil. Ia bisa menenangkan gadis itu dan membuatnya kembali tersenyum. Tapi masalahnya, juatru dialah sekarang yang jadi tidak tenang. Apalagi melihat senyum gadis yang malam ini terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya.
Dirgantara menelan ludahnya sendiri. Alih-alih tidak ingin membebani pikiran Senja, juatru sekarang pikirannya lah yang terbebani. Pikuran kotor yang tadi sempat ia hemoas jauh-jauh kini muncul lagi. Ada semacam hasrat yang tiba-tiba menyeruak yang meminta lebih dari pada ini. Dari hanya sekedar menggenggam jemari.
Atas dasar dorongan yang sangat kuat dari hatinya. Dirga memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajah Senja.
Dadanya berdegup kencang seperti mau meledak. Demi Tuhan Dirga tidak pernah merasakan rasa gugup seperti ini sebelumnya.
Namun meski begitu, dia tetap memberanikan diri untuk mendekat. Matanya menghujam lurus ke mata kemerahan milik Senja. Dan kalau Dirgantara saja bisa gugup, apalagi gadis di depannya. Suara degup jantungnya bahkan mengalahkan suara alunan musik di ruangan itu.
Senja merasa berjuta-juta kali lipat lebih gugup dari Dirga. Tak hanya gugup, gadis itu juga takut. Tubuhnya gemetar hebat. Meski masih polos, tapi dia tahu apa yang akan Dirga lakukan.
"Dirga, " ucapnya lirih
"Tak apa, Senja. Aku tidak akan melewati batas. Aku hanya ingin---
Cup
Dirga mendaratkan bibirnya di kening Senja. Gadis itu tak bergeming. Tapi getaran di tubuhnya kian kuat. Seperti tersengat aliran listri bertegangan tinggi.
Dirga tersenyum. Senjapun meski gemetar tetap tetap berusaha tersenyum. Sebuah ciuman pertama yang sangat mendebarkan baginya.
Merasa tidak mendapat penolakan, Dirga kembali mendekatkan wajahnya. Kali ini tujuannya adalah bibir ranum Senja. Ia memegang kedua pipi Senja lalu mengecup lembut benda kenyal berwarna merah muda itu. Ia menyesapnya perlahan sambil matanya terpejam menikmati sensasi yang luar biasa.
Senja masih tak bergeming. Ia membiarkan saja Dirga melakukan aksinya. Secara naluriah matanya juga ikut terpejam. Tak di pungkiri gadis itu juga menikmati sentuhan lembut yang baru pertama di raskaannya, meski dengan tubuh yang masih bergetar.
Dirgantara tahu betul Senja pasti belum berpengalaman dalam hal ini, ia juga tak menuntut gadis itu untuk membalas gaerakan bibirnya, selama gadis itu tidak menolak saja itu sudah lebih dari cukup buat Dirga.
Pria berdada bidang itu menghentikan aksinya sejenak. Menuntun tangan Senja untuk mengalungkan ke lehernya lalu kemudian kembali menyesap bibir Senja dengan hisapan yang lebih intens dari sebelumnya.
***
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu mendukung karya ini ya,, tinggalkan like, komen, bintang, atau apapun itu yang bersifat mendukung. Supaya karya ini semakin berkembang dan makin di minati.