
Sudah dia hari ini Dirgantara tidak berjumpa dengan gadis pemilik iris merah kesayangannya. Kesibukan yang luar biasa membuatnya tak ada waktu untuk bertemu gadis itu.
Sebenarnya bisa saja dia bertandang ke rumah Senja setelah selesai kerja, tapi sudah dua hari ini Dirga selalu lembur hingga larut malam. Ia sungkan kalau harus bertamu se-larut itu.
Dan di hari ketiga inipun sama, kesibukannya tetap tak berkurang, bahkan saat jam makan siang saja aksekutif muda itu tak sempat keluar dari ruangannya.
Dirga baru menghentikan aktifitasnya saat merasa perih di bagian perut. Sepertinya cacing-cacing dalam perutnya meminta jatah makan siang darinya.
Pria itu melirik arloji berwarna silver di pergelangan tangannya. Sudah pukul dua belas lebih, wajar saja jika perutnya sudah keroncongan.
Tapi masalah nya ada banyak berkas yang harus ia selesaikan, terlebih selepas makan siang nanti ia juga ada meteeng di luar bersma Queen. Itu berarti dia tidak terlalu punya banyak waktu.
Sebenarnya mungkin bisa saja dia meninggalkan sejenak pekerjaannya. Lagipula dia adalah pimpinan tertinggi perusahaan, namun seperti yang kita tahu, Dirga adalah orang yang sangat displin dalam pekerjaan.
"Baiklah, aku makan di kantor saja, " gumamnya setelah menimbang-nimbang.
Pria itu akan memanggil sekertarisnya meminta untuk di sediakan makan siang, namun niatnya urung terlaksana karena mendengar ketukan dari pintu.
"Masuk, " perintahnya yang langsung membuat si pengetuk yang tak lain adalah Nayra sang sekertaris muncul.
Seperti tahu kalau bos besarnya sedang membutuhkan jasanya, sekertaris cantik itu datang tepat waktu.
"Ada apa? " tanya nya langsung karena tahu Nayra tidak akan berani masuk ke ruangannya kalau tidak ada perlu.
"Ada yang ingin bertemu anda, Tuan, " jawab Nayra
"Ini jam istirahat, aku tidak menerima tamu siapapun, " tanpa bertanya siapa tamunya Dirga buru-buru menolak.
"Baiklah, Tuan. " Nayra mengangguk tanpa bantahan. Sebenarnya Nayra ingin menyebutkan nama tamu itu, tapi berhubung si bos tidak bertanya, gadis itu jadi merasa tidak perlu melakukannya
"Oh ya, Nayra. tolong siapkan makan siang untuk ku. Aku mau makan disini saja. " Perintah Dirga lagi sambil kembali fokus pada berkas-berkas di depannya.
"Baik, Tuan. "
Nayra memutar tubuhnya hendak menjalankan perintah bos besar, namun saat hendak membuka pintu langkahnya terhenti.
"Tunggu dulu. "
"Ya, Tuan. " Nayra refkeks memutar kembali tubuhnya.
"Memangnya siapa yang ingin bertemu? "
Entah kenapa tiba-tiba Dirga jadi penasaran. Ia berpikir siapa tahu itu tamu penting.
"Senja, Tuan."
"Hah ?"
Dirga hampir melompat mendengar nama itu.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? " serunya dengan pandangan menghakimi Nayra. Padahal gadis itu tidak bersalah, dia bahkan belum sempat menyebutkan namanya tapi si bos sudah keburu menolak.
Tapi namanya juga bos, walaupun Nayra tidak terbukti bersalah, tapi gadis itu tetap meminta maaf.
"Maaf, Tuan. Tadi saya baru akan bilang tapi---"
"Ya sudah, suruh dia cepat masuk. " Tak memberi kesempatan sang sekertaris membela diri, Dirga buru-buru menyela. Dasar bos arogan. Tentu saja itu yang ada di hati Nayra.
"Oh ya kau juga tidak perlu menyiapkan makan siang ku. Aku akan makan di luar saja dengan Senja. "
"Baik, Tuan. " Meski sambil menggerutu dalam hati Nayra tetap menjalankan titah si Bos yang memang terkadang suka seenaknya saja
Selepas Nayra keluar Dirga segera mengemasi berkas-berkasnya. Senja untuk pertama kalinya datang ke kantornya, mana mungkin Dirga akan mengabaikan. Pekerjaan sepenting apapun pasti akan tetap Dirga kesampingkan. Kesampingkan ya, bukan di tinggalkan.
"Siang, Dirga. "
Suara renyah itu terdengar saat Dirga telah selesai berkemas.
Dirga langsung berdiri dan menyambut sang pujaan hati.
"Siang, juga Sayang," Sahutnya sambil membimbing Senja untuk duduk di sofa di depan dinding kaca. Sofa yang biasa di pakai Dirga untuk menerima tamu penting.
"Ini kejutan besar untukku ... katakan apa yang membawamu kemari.?"
Senja tersenyum lalu menyerahkan sebuah paper bag kepada Dirga.
"Apa ini? " antara senang dan penasaran Dirga langsung membuka isinya yang ternyata adalah bekal makanan.
"Kau membawa makanan untukku? "
__ADS_1
"Hmm, aku dengar ada yang sedang sangat sibuk akhir-akhir ini. Aku takut kau tidak sempat makan siang, jadi aku bawakan makanan untukmu. "
Dirga tertegun tak percaya. Tak menyangka Senja yang biasanya acuh dan tidak terlalu peduli pada rutinitasnya sekarang berinisiatif membawakan makan siang karena tahu Dirga sedang sangat sibuk.
"Ternyata kau cukup pengertian juga. Dan kau juga datang tepat waktu. Aku baru saja menyuruh Nayra menyiapkan makan siang ku, untung kau keburu datang, kalau tidak pasti makanan ini tidak termakan. "
"Hmm, aku bisa membaca pikiranmu dari jarak jauh, "
"Benarkah?"
Sebenarnya Senja hanya menjawab sekenanya, namun siapa sangka Dirga menganggapnya serius.
"Tidak, aku bercanda. Itu hanya kebetulan saja." Senja mengibaskan tangannya ke udara
"Aku ingin memberi kejutan untukmu, makanya aku tidak memberi tahu mu. "
"Dan kau berhasil, aku cukup terkejut tadi."
Senyum Senja mengembangkan melihat Dirga yang sepertinya sangat senang akan kedatangannya, padahal tadinya dia takut akan mengganggu pekerjaan Dirga.
"Ya sudah makanlah, aku akan menemanimu, " Senja meraih bekal yang di pegang Dirga lalu membukanya untuk pria itu.
"Kau tidak ikut makan? "
"Tidak, aku sudah makan di rumah tadi. Ini khusus untukmu, makanlah. " ucap Senja lagi sambil kembali menyodorkan bekal makanan.
"Baiklah, aku akan makan. Kebetulan aku sudah sangat lapar. " Dirga memulai suapan pertamanya dan untuk seterusnya pria itu nampak begitu lahap menghabiskan makan siangnya di bawah tatapan gadis bermata merah.
"Terimakasih, makanan nya enak sekali, " puji Dirga sambil menyeka mulutnya dengan tissu.
"Senang bisa menemanimu makan. " Senja menjawab sambil mengemasi bekas makan Dirga.
Kedatangan Senja siang ini sudah cukup membuat Dirga heran, dia tambah lagi sikap Senja yang sangat lembut menyiapkan sekaligus membersihkan sisa makannya. Semua itu semakin membuat Dirga heran.
Apa gadis ini sedang belajar jadi gadis baik-baik? atau sedang belajar bagaimana cara menjadi istri yang baik? Akh apapun itu, yang jelas Dirga merasa senang sekali.
"Oh ya Senja, bagaimana kabar ibumu pasca Ayahmu pergi?"
Mendadak Dirga teringat ibunda Senja. Masih terbayang di benaknya bagaimana sedihnya Wulan saat Bayu harus pergi.
"Yah begitulah, Ibuku menyibukkan diri di butik supaya tidak terlalu kepikiran Ayah. "
Dirga mengangguk-angguk.
"Padahal biasanya Ibu tidak pernah seperti itu, Dirga. "
"Maksudmu? " Tak paham Dirga akan maksud kalimat Senja
"Biasanya ibu tidak pernah sesedih kemarin waktu ayah pergi. Kalaupun sedih ya sewajarnya saja, tidak seperti kemarin. Ibu bahkan ingin mengantar Ayah langsung kelaut, padahal biasanya tidak, " tutur Senja yang tetap tidak mengerti mengapa ibunya bersikap demikian.
"Mungkin ibumu sedang lemah hati, makanya jadi sedikit berat melepas ayahmu. " Dirga berusaha memberi penilaian kendati ia sendiripun tak yakin.
"Yah bisa jadi, " jawab Senja sekenanya
"Kau juga harus baik-baik saja ya saat aku pergi nanti. "
Entahlah kenapa Senja harus mengatakan itu yang langsung membuat suasana hati Dirga yang tadinya bahagia mendadak luruh seketika
"Jangan bicara begitu, aku belum siap kalau kau harus pergi. " Dirga menghela nafasnya. Ada sesak yang tiba-tiba menyeruak.
Senja juga bukannya tidak bisa melihat. Gadis itu juga tahu kalau ekspresi Dirga langsung berubah. Tapi mau bagaimana lagi, semua memang harus terjadi kan? yah walaupun belum saatnya.
"Yah baiklah, aku tidak akan membicarakan itu dulu. Aku akan memberitahunu kalau waktunya sudah dekat. "
"Senjaa ... berhentilah bicara soal itu. "
Pemilik nama Senja meringis mendengar namanya di panggil dengan intonasi penuh penekanan begitu. Sepertinya akan sangat berat bagi Dirga kelak melepaskan gadis itu. Sedangkan membayangkannya saja sudah membuatnya cukup ketakutan.
"Iya, iya, baiklah, " sahut Senja akhirnya sambil memiliki penunjuk waktu di tangan kanannya.
"Aku tidak akan bicara soal itu lagi. Lagipula aku jga harus pergi. Kau harus kembali bekerja kan? " Gadis itu beranjak setelah mengambil paper bag tempat bekal Dirga tadi. Ia bermaksud hendak keluar dari ruangan Dirga namun tentu saja Dirga tidak akan segampang itu membiarkannya pergi.
"Hey mau kemana? " tangannya bergerak cepat menyambar tangan Senja untuk kembali duduk di sebelahnya. Dan kali ini bahkan sengaja ia jatuhkan tepat di atas pangkuannya.
"Dirga..jangan begitu, nanti ada yang melihat. " Senja berusaha kembali beranjak namun tidak bisa karena Dirga menahannya dengan memeluk pinggang gadis itu.
"Ini ruangan ku, tidak ada yang berani masuk tanpa seizin ku. " Tegasnya menolak alasan Senja tidak mau di peluk.
"Tapi kau kan harus bekerja. " Senja masih berusaha menolak karena sejujurnya dia sedikit risih dengan sikap Dirga, terlebih mereka sedang di kantor sekarang.
__ADS_1
"Masih ada beberapa menit lagi, " tukasnya
"Lagipula kau sudah datang kesini, mana mungkin pergi begitu saja. " Sambil berkata begitu Dirga menghirup dalam-dalam wangi rambut Senja yang memang baru saja di cuci sehingga meninggalkan aroma yang sangat wangi.
"Aku kan hanya ingin mengantar makanan untukmu, memangnya mau apa lagi. "
Ayolah Senja harusnya kau tidak mengatakan itu sebab itu hanya membuat Dirga jadi makin terpancing.
"Kau yakin tidak tahu? "
Tanpa menunggu jawaban Senja, Dirga langsung menyibakkan rambut gadis itu kesamping lalu mengecup lembut leher belakang Senja.
"Dirgaa." lirih Senja karena gerakan bibir Dirga langsung membuat seluruh tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.
Dirga yang sudah terlanjur terpancing tak mempedulikan panggilan Senja. Bibirnya bahkan kembali mengecup leher mulus Senja dan menyusuri nya hingga ke pundak. Dekapan tangannya juga semakin erat seiring organ tubuh di bagian bawah yang semakin mengeras. Terlebih karena Senja berada di atasnya
Saat hasratnya makin tak terkendali, Dirga membalikkan tubuh Senja lalu langsung menyergap bibir ranum milik gadis itu. Meny*sapnya lembut sambil tangannya memegang leher yang tadi telah di sesapnya terlebih dahulu.
Senja seperti biasa hanya terdiam. Ingin melawan tapi tak bisa mengimbangi. Ingin menolak tapi juga menikmati. Alhasil Senja hanya bisa terdiam sambil katakanlah menikmati. Toh selama ini Dirga juga tahu batasan dan tidak pernah sampai lupa diri.
Aktifitas bibir Dirga makin intens tak terkendali. tangan kanannya juga mulai aktif bergerilya. Leng*han Senja juga sesekali mulai terdengar. Pertanda keduanya memang saling menikmati.
"Kalian ! "
Namun sayangnya aktifitas mereka harus terhenti karena teriakan dari seseorang. Seseorang yang baru saja masuk tanpa permisi.
Dirga dan Senja yang terkejut langsung menghentikan aktifitasnya. Senja bahkan spontan meloncat dari pangkuan Dirga dan buru-buru merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Queen? " Dirga pun tak kalah terkejut melihat orang yang telah mengganggunya adalah mantan kekasih yang masih sangat tergila-gila padanya.
"Apa yang kalian lakukan, ini di kantor. Apa kalian tidak bisa melihat tempat? " protes keras di layangkan Queenz. Tentu bukan semata-mata karena Dirga di anggap tidak sopan karena bercumbu dalam kantor, melainkan karena hatinya yang seperti terbakar hebat menyaksikan adegan kedua nya.
"Berhenti menceramahi ku. " Mengabaikan protes Queen Dirga justru langsung menunjukan taringnya pertanda dia tidak suka akan kehadiran Queen yang tiba-tiba dan sangat mengganggu aktifitasnya.
"Aku tidak menceramahi ku, Dirga. Aku hanya mengingatkanmu. Ini kantor, tidak baik kalian berbuat seperti itu. " Sebenarnya dada Queen bergemuruh menahan cemburu, namun ia berusaha bersikap setenang mungkin.
"Ini kantorku. Ini ruangan ku, terserah aku mau melakukan apa. Lagipula kenapa kau masuk tanpa mengetuk? "
Queen meringis menyadari keteledoran nya. Mungkin memang benar Dirga berbuat tidak sepantasnya, tapi dia juga bersikap tidak sopan masuk ke ruangan orang tanpa permisi. Dan sekarang gadis itu tengah sibuk mencari alasan yang tepat.
"Hehe, aku kan sudah biasa masuk tanpa mengetuk, lagipula sebentar lagi kita akan ada meteeng di luar kan, jadi apa salahnya aku mengingatmu? " Dalihnya berusaha menutupi kesalahan.
"Sudah ada Nayra yang akan mengingatkanku. Kau tidak perlu repot-repot begitu ...Dan aku ingin ini jadi yang terakhir kalinya kau masuk ke rauangan ku tanpa permisi. " Tegas Dirga memberi ultimatum yang tidak bisa di bantah lagi oleh Queen.
"Iya, iya ... ya sudah ayo kita mau keluar kan? " Seolah tak memperdulikan kekesalan Dirga dan bahkan tidak menganggap keberadaan Senja, Queenzi terus saja berargumen
"Kau juga tidak perlu menjemputku kesini kan? kita bisa bertemu di lokasi. "
"Sudahlah, Dirga." Senja yang sejak tadi terdiam menyaksikan kedua orang yang pernah memadu kasih itu berdebat akhirnya buka suara juga.
"Pergilah kalau kau memang ada pekerjaan. Aku juga sudah harus pergi. " Senja sudah akan beranjak namun lagi-lagi Dirga menarik tangannya untuk kembali duduk.
"Kau tetap disini, tunggu saja sampai orang aneh ini pergi. "
Jleb! Dada Queen rasanya seperti di tusuk belati mendengar Dirga menyebutnya "orang aneh" Apa sudah benar-benar tidak ada lagi sedikitpun rasa-mu untuk ku Dirga, bathinnya pilu.
"Tapi aku kesini untuk menjemputmu, Dirga. Kenapa malah menyuruhku pergi? "
"Aku tidak pernah menyuruhmu menjemputku kan? " Kalimat Dirga mungkin terdengar kejam. Tapi memang kenyataannya begitu kan. Harusnya Queen tidak perlu repot-repot menjemputnya.
Dirga sebenarnya juga tidak pernah benar-benar membenci Queen selama gadis itu bisa menahan diri. Tapi sejauh ini gadis itu selalu menunjukan kegilaannya yang akhirnya justru semakin membuat Dirga tak ingin berada di dekatnya.
"Dirga pergilah, nanti kau terlambat. "
Dirga menatap Senja yang baru saja menasehati nya. Antara heran dan sedikit bahagia melihat Senja perlahan berubah menjadi gadis bijaksana. Lihatlah dia sama sekali tidak terprovokasi dengan kehadiran Queen.
"Kau sendiri mau kemana?" tanyanya lembut sambil menggenggam jemari gadis itu seolah sengaja ingin membuat Queen melihat betapa dia mencintai Senja.
"Aku mau ke butik ibu. "
"Kalau begitu aku akan mengantarmu. Kebetulan kita searah. "
"Tidak perlu, aku---"
"Stts sudah jangan membantah, " ucapnya seraya beranjak sambil menggandeng tangan Senja melenggang melewati Queen.
"Lalu aku? " tanya Queen yang merasa di abaikan.
"Kau bawa mobil sendiri kan? "
__ADS_1
Queen mengepalkan tangannya menahan geram akan jawaban tak perduli dan juga sikap acuh Dirga.
Ini semua gara-gara kau Senja. Lihat saja aku pasti akan merebut kembali Dirga darimu