
Dirga mempercepat langkahnya namun penguntit yang tak jelas wujudnya itu juga ikut melaju.
"**** " Pria itu mengumpat sambil kembali menoleh ke belakang. Namun sama saja, di belakangnya memang tidak ada siapa-siapa.
Apa mungkin itu Senja tapi kenapa dia harus menakutiku begini?
Merasa kesal sekaligus seram, ia merubah langkahnya menjadi langkah seribu. Ia berlari menembus malam. Dan entah kenapa pria itu merasa jarak dari pohon kelapa menuju parkir kali ini terasa lebih jauh dari biasanya.
Padahal ia sudah berlari cukup kencang, tapi belum juga sampai di tempat mobilnya terparkir.
Seperti di kejar sesuatu yang tak nampak, Dirga berusaha menambah kecepatan larinya. Namun laju kakinya mendadak berhenti karena mendengar suara seseorang.
"Kau tidak mau menungguku? " Sebuah seruan yang membuat Dirga refleks menghentikan langkahnya.
Pria itu terdiam di tempat mencoba mengenali suara siapa barusan. Ia tidak langsung menoleh takut kalau-kalau yang barusan bicara adalah---
"Kenapa lari, kau tidak mau bertemu denganku?"
Suara itu---
Dirga langsung menoleh dan mendapati gadis cantik dengan iris merah sedang tersenyum di belakang nya. Gadis itu berjarak sekitar Sepuluh meter di belakangnya. Mengenakan dress di bawah lutut berwarna putih dengan rambut hitam terurai. Cantik sekali.
"Senja? " Hampir tak percaya Dirga melihat gadis itu.
"Ini benar kau? "
"Tentu, apa kau tidak mengenaliku lagi?"
Dirga mengucek matanya meyakinkan diri bahwa yang berdiri di hadapannya memang benar Senja Wulan Samudra, gadis setengah manusia yang sangat di rindukan nya.
Detik berikutnya pria itu langsung berlari menyongsong gadis itu dan memeluknya seerat yang ia bisa.
"Kau sudah pulang? " bisiknya tepat di telinga gadis itu. Kebahagiaan yang tak terkira merajai hatinya saat ini. Akhirnya penantiannya selama empat puluh hari berakhir sudah.
"Hmm, karena ada yang sangat rindu padaku jadi aku terpaksa pulang. "
Dirga tertawa kecil sambil mengusap rambut Senja.
"Berarti yang membuntuti ku sejak tadi itu kau?"
"Hmm, kenapa kau terlihat takut sekali?"
"Hehe aku pikir---"
"Hantu? " tebak Senja sembari melepaskan pelukan Dirga.
__ADS_1
"Kau takut pada hantu, padahal aku juga kan bukan manusia? "
"Tidak, tidak. Bukannya takut. Hanya merasa aneh saja, aku merasa ada yang mengikuti tapi tidak terlihat. Jadi aku merasa sedikit seram, " pria itu meringis menutupi rasa malunya karena baru saja bersikap seperti pria pengecut yang takut hantu.
"Lagipula kau mana bisa di samakan dengan mereka, kau kan setengah manusia, " dalihnya lagi tak ingin menyamakan kekasihnya dengan makhluk antah-barantah yang entah berasal dari mana. Karena kenyataannya Senja itu manusia karena memang berasal dari rahim seorang manusia. Meski penanam benihnya bukan manusia.
"Iya, iya baiklah. Kau tidak takut hantu. Kau hanya takut pada---"
"Aku hanya takut kehilanganmu. " Dirga memotong kalimat Senja sambil kembali memeluk gadis itu. Dan kata-kata nya barusan membuat lengkung indah di bibir Senja.
Ia balas memeluk sambil mengusap-usap punggung bidang pria itu. Tahu betul bagaimana rindunya Dirga sebab ia juga merasakan hal yang sama.
"Aku juga," lirihnya
"Terimakasih sudah menunggu ku dan sudah berkorban hebat untuk ku. "
"Tentu, aku akan melakukan apapun untukmu." Bukan sebuah rayuan belaka karena pria itu bahkan sudah membuktikannya.
"Kenapa sendirian malam-malam begini, kau tahu aku akan pulang? "
Dirga menggeleng lalu melepas pelukannya.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba aku ingin sendiri saja. Kau sudah pergi selama empat puluh hari dan belum juga pulang. Aku sudah hampir mati menahan rindu. Itulah sebabnya aku sendirian tengah malam begini, hanya untuk melepaskan rindu padamu. "
"Benarkah? "
"Seandainya harus apa kau masih mau menungguku? " Entah itu sebuah tantangan atau apa. Yang jelas Senja hanya sekedar ingin tahu. Meski seharusnya itu sudah tidak perlu di tanya. Sebab memberikan nyawanya saja Dirga mau, apalagi kalau hanya sekedar menunggu.
"Yah, aku siap menunggu seribu tahun lagi."
Bukannya senang dengan jawaban Dirga Senja malah justru mencibir. Tentu saja, sebab kali ini jelas kentara kalau pria itu hanya bergurau. Seribu tahun? sedangkan umur manusia saja jarang yang sampai seratus tahun.
"Oh ya, ngomong-ngomong kau terlihat semakin cantik, Senja. Jadi terlihat makin fres, " Dirga menyampaikan pujiannya sambil mengusap kedua pipi Senja sampai ke rambut.
"Ya begitulah. Aku ini sama seperti ular, kalau habis bertapa pasti terlihat lebih bersih dan segar." Bukannya tersanjung Senja malah berkata begitu yang langsung membuat Dirga kesal.
"Ck berhenti menyamakan dirimu dengan binatang itu. Kau manusia mana bisa di samakan."
"Tapi kenyataannya memang begitu, Dirga."
"Tetap saja tidak bisa di samakan. " Dirga tetap saja tidak mau kalau Senja menyamakan dirinya ya dengan binatang melata tersebut. Itu sama saja seperti Senja merasa kalau dia tidak sempurna padahal kenyataannya kecantikan gadis itu sangat paripurna. Entahlah kenapa Senja selalu menyamakan dirinya dengan makhluk lain.
"Ya sudah, ayo ku antar pulang. " Mencoba mengalihkan pembicaraan yang tidak mengenakan itu, Dirga mengajak gadis itu pulang karena waktu sudah mendekati tengah malam.
Senja mengangguk menyetujui ajakan Dirga. Keduanya lalu berjalan bersama menuju mobil. Agak sedikit aneh karena Dirga buru-buru mengajaknya pulang padahal ia masih ingin berlama-lama dengan pria itu
__ADS_1
"Oh ya Senja aku punya berita baik untukmu." Sambil berjalan Dirga tetap berusaha mengajak Senja berbincang.
"Oh ya, apa itu?"
"Ibuku sudah menyetujui hubungan kita. "
"Benarkah? " Binar bahagia langsung tercipta dari wajah Senja. Iya juga mengungkapkannya dengan memeluk lengan Dirga.
"Iya. Aku bahkan sudah bilang pada mereka kalau aku akan langsung menikahimu begitu kau pulang. "
"Apa menikah? " Senja bahkan baru datang. Tapi Dirga sudah langsung membicarakan soal pernikahan, tentu saja Senja terkejut.
"Hmm, kau mau kan? " tanya Dirga sambil membukakan pintu untuk Senja karena mereka telah sampai di mobil.
"Eum aku-aku sih mau mau saja. Tapi apa itu tidak terlalu cepat? Aku bahkan baru pulang."
"Tidak masalah. Yang penting kan kau sudah pulang. Kalau soal persiapan biar aku semua yang menyiapkan. Kau hanya perlu berkata, iya."
Senja nampak berpikir. Jujur ia sangat senang mendengar rencana Dirga yang secara tidak langsung sedang melamar. Tapi karena terlalu mendadak membuat gadis itu bingung harus bicara apa.
"Aku bicara pada ibu dulu ya, Dirga, " ucap Senja akhirnya. Ia merasa hal sepenting itu tentu harus di rundingkan dulu dengan orang tuanya
"Baiklah. Kabari aku kalau ibumu sudah setuju. Aku akan langsung melamar mu."
"Hmm, " gadis dengan iris merah mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau begitu kita pulang sekarang? "
Lagi-lagi Senja mengangguk menanggapi. Dirga sudah mengajak pulang. Mana mungkin dia ingin menundanya. Itu akan membuatnya terlihat seperti gadis murahan. Senja masih terlalu gengsi untuk melakukan itu
"Tapi aku masih rindu padamu. Boleh aku melepas rindu dulu? "
"-------"
Senja menautkan alisnya sambil menatap Dirga. Seperti ada yang aneh dengan kalimat nya barusan. Namun sebelum Senja sempat menjawab pria tampan di sampingnya sudah keburu menyambar bibirnya.
Senja yang terkejut hanya bisa pasrah. Ia membiarkan Dirga menumpahkan segala rasanya. Rupanya inilah alasan Dirga mengajak Senja pulang. Sebenarnya dia hanya ingin ke dalam mobil agar bisa leluasa melepas rindunya. Ayolah, Dia dan Senja baru saja bertemu setelah sekian lama, mana mungkin pria itu membiarkan Senja pulang begitu saja.
Tentu dia ingin terlebih dahulu melebur rindu yang kemarin sempat hampir membunuhnya. Itulah sebabnya ia mencari tempat yang aman. Meski jika di tempat terbuka pun tidak akan ada yang melihat karena waktu yang sudah sangat larut, tapi tetap saja Dirga merasa lebih nyaman di dalam mobil.
Senja memberi sedikit reaksi pada gerakan cepat Dirga dengan memeluk pinggang pria itu. Namun reaksi yang sedikit itu ternyata berdampak besar bagi Dirga. Pria itu jadi menuntut lebih seiring hasrat yang makin mencuat.
Setelah meny*sap bibir Senja cukup lama. Kecupan Dirga kini beralih ke leher jenjang gadis itu. Menyusuri semua bagiannya dengan bibir dan juga lidahnya. Tak sampai disitu. Ia juga menggelitik telinga Senja dengan ujung lidahnya membuat Senja langsung bergetar sambil memejamkan mata.
Suara Senja mulai terdengar sebagai efek dari sentuhan Dirga. Tangannya kini beralih memeluk leher Dirga. Ia juga balas menggelitik rongga telinga Dirga dengan jemarinya membuat pria itu juga merasakan yang sama sepertinya. Bergetar seperti tersengat aliran listrik bertegaangan tinggi.
__ADS_1
Respon Senja yang cukup baik membuat Dirga kian leluasa melepas rindunya. Pria itu kini kembali menjelajahi leher Senja. Meny*sap cukup kuat di dekat pundak hingga menciptakan tanda merah lalu kemudian mulai turun ke bawah.