Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Mencoba melupakan


__ADS_3

"Jangaaan.. ! "


Dirga terlonjak dari tidurnya sambil berteriak cukup kencang. Untung saja dirumahnya tidak ada siapa-siapa. Kalau saja ada, pasti mereka akan terkejut mendengar teriakan Dirga.


Nafas Dirga terngeah-engah seperti orang yang baru saja melarikan diri dari komplotan pembunuh. Keringat dingin mengalir dari wajahnya.


Pria itu kemudian melihat ke sekeliling dengan pandangan bingung. Mencoba menerka tentang keberadaannya saat ini. Ruangan serba putih dengan perabotan yang sangat familiar di ingatannya menyadarkan ia bahwa saat ini ia masih berada di kamarnya.


Untuk meyakinkan diri, pria tampan itu meraba saklar lampu di samping tempat tidur lalau menghidupkannya.


Saat suasana nampak terang benderang barulah pria itu benar-benar yakin kalau tempatnya berada saat ini memang benar kamarnya. Bukan di alam lain seperti bayanganya.


Masih dalam keadaan bingung Dirga meraba lehernya kemudian memperhatikan seluruh tubuhnya. Semuanya masih baik-baik saja.


"Hufhh.. " Pria itu menghela nafasnya penuh kelegaan setelah sadar kalau yang baru saja menimpanya hanyalah mimpi.


Ia lantas mengusap wajahnya


"Kenapa aku bisa mimpi seseram itu yaa? apa ini karena aku terlalu memikirkan kejadian kemarin siang ?"


Bayangan amukan Senja dan juga kemarahan Bayu muncul kembali dalam ruang pikirnya.


Wajah Senja dan juga Ayahnya yang merah menyala dan juga bola matanya yang seperti bara api seolah masih terasa nyata di depan matanya.


Dirgantara kembali mengusap wajahnya kemudian melirik penunjuk waktu yang tergantung di dinding kamarnya.


Sudah pukul enam pagi. Dirgantara merasa sedikit lega karena itu berarti ia tak harus menghabiskan sisa malam dengan bergadang memikirkan segala hal di luar nalar yang ternyata adalah kenyataan.


Pria itu lalu memutuskan untuk mandi lebih awal dari biasanya. Ia ingin buru-buru membuang sagala bayangan tak masuk akal yang sejak kemarin terus saja menggangu fikirannya. Atau katakanlah seperti ritual buang sial.


Dinginnya air yang mengguyur tubuh seksinya tak lagi di rasakannya. Bahkan ia merasa air mandinya pagi ini tidak lebih dingin di banding tangan Senja ataupun Bayu Ayahnya. Pria itu berdiri di bawah shower dan membiarkan air terus saja menyiram badannya.


Setelah tubuhnya mulai menggigil kedinginan, barulah Dirga menyudahi sesi buang sialnya.


Ia merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Terasa sangat segar, meski tetap saja yang ada di kepalanya hanyalah Senja, Senja dan Senja. Di tambah lagi dengan mimpi buruknya tadi malam. Semuanya seolah menggumpal dalam ingatan dan tidak hancur meski coba di lebur dengan segelas ginseng panas.

__ADS_1


Sambil meneguk teman paginya. Dirga mencoba berpikir tentang bagaimana dia harus bersikap. Dalam benaknya terlintas kalau dia akan menyudahi saja semuanya dan memutuskan menjauh dari Senja.


Ia merasa mana mungkin ia bisa menjalin hubungan dengan makhluk yang jelas-jelas tak sama dengannya.


Namun baru saja pikiran itu terlintas. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari orang yang sejak tadi mengganggu pikirannya.


'Pagi Dirga, kau sudah bangun? '


Dirgantara menghela nafasnya. Ada perasaan hangat tersendiri membaca pesan manis dari Senja. Namun juga ada rasa sesak yang membarengi.


Rupanya sejak kejadian kemarin, gadis itu juga tak pernah berhenti memikirkan. Dia takut Dirga tak suka dengan temperamen nya. Apalagi sejak kemarin Dirga sama sekali tak menghubunginya ataupun mengirim pesan.


Gadis itu tidak tahu betapa syoknya Dirga saat mengetahui kebenaran tentangnya. Betapa sulitnya menerima kenyataan kalau orang yang di sayanginya ternyata berbeda dari dirinya.


Sampai beberapa menit pria tampan itu hanya memandangi pesan dari Senja. Tak tahu harus membalas apa. Atau mungkin malah sedang berusaha untuk tidak membalas.


'Dirga apa kau marah padaku? '


'Aku benar-benar minta maaf soal kemarin. '


Karena tak kunjung di balas. Senja kembali mengirim pesan. Namun Dirga masih tetap urung untuk membalas. Kenyataan tentang siapa Senja masih begitu lekat di ingatnya. Mencegah jemarinya untuk mengetik pesan balasan.


'Aku akan menunggu sampai marah mu hilang. '


'Satu hal yang harus kau tahu, meski semarah apapun aku, aku tidak akan pernah menyakitimu'


'Karena aku mencintaimu. '


Senja menambahkan emoji hati di ujung pesan nya yang membuat Dirga kembali menghela nafasnya. Bahkan kali ini lebih terasa lebih kencang.


Sesak. Sesak sekali rasanya. Sejujurnya dia sangat senang dengan isi pesan Senja. Namun lagi-lagi jati diri gadis itu meluluh lantakan perasaan itu.


Bahkan jujur saja, saat ini Dirgantara merasa takut. Tak hanya takut pada Senja tapi juga pada Ayahnya. Meski baru saja gadis itu mengatakan tidak akan menyakitinya, tapi tetap saja tidak ada yang bisa menjamin hal itu.


Bukannya ingin menjadi pecundang atau sejenisnya. Tapi saat ini dia lebih mementingkan keselamatan dirinya. Berhubungan dengan makhluk yang mudah sekali marah tentu sangat berbahaya.

__ADS_1


Bagaimana kalau tiba-tiba dua makhluk itu secara bersamaan menyerangnya. Pasti namanya sudah langsung tertulis di batu nisan.


"Hii.. " Dirga bergidik sendiri membayangkan. Ia akhirnya memutuskan untuk tak akan membalas pesan Senja dan bahkan bertekad untuk menjauhi gadis itu. Ia tak mau mati konyol di tangan kedua makhluk mengerikan itu.


Mengabaikan pesan dari Senja, Dirga justru memilih berangkat ke kantor lebih awal. Mulai sekarang dia akan menyibukkan diri dengan pekerjaan supaya ingatannya tidak terus menerus memikirkan Senja.


Mulai hari ini Dirga bertekad akan berusaha melupakan Senja dan menganggap Senja hanyalah mimpi buruk baginya.


Namun sayangnya gadis bernama Senja sepertinta tidak memberi kesempatan memori otak Dirga menghapus semua ingatan tentang dirinya.


Gadis itu terus berusaha mempengaruhi Dirga dengan pesan-pesannya.


Tadinya Senja memang ingin membiarkan Dirga tenang dahulu, setidaknya sampai rasa marah ataupun takutnya hilang.


Namun tadi pagi selepas ia men chat Dirga, Ayahandanya bilang kalau Dirga sudah mengetahui tentang siapa mereka sebenarnya.


Bayu Samudra tahu saat Dirga menguping pembicaraannya dengan Senja. Makhluk itu sengaja membiarkan Dirga tahu karena menurutnya sudah saatnya dia tahu segalanya.


Bayu juga berpesan pada putrinya kalau sekarang lah saatnya dia memperjuangkan cintanya. Kalau Senja memang benar-benar mencintai Dirga maka ia harus berusaha mempertahankan pria itu agar tak menjauh darinya.


Motivasi itulah yang akhirnya membuat Senja terus berusaha menghubungi ataupun men chat Dirga.


Ia tak mau nantinya Dirga kembali pada Queen. Gadis yang sudah menampar Senja di depan umum. Gadis yang sudah di ketahui Senja sebagai mantan kekasih Dirga.


Senja takut di saat hatinya sedang bimbang seperti ini, Queen akan datang lagi dan menggoyahkan perasaan Dirga.


***


Saat istirahat siang tiba. Dirga masih tampak berkutat dengan pekerjaannya. Fokus pada tumpukan berkas di mejanya. Belum ingin beranjak walaupun sudah waktunya makan siang.


Namun tak berselang lama getar ponsel mengacaukan fokusnya . Ia meliruk benda persegi yang ia letakkan begitu saja di atas meja.


Dari Senja. Dirga terdiam sesaat. Bayangan wajah Senja kembali menari di kepala. Tapi kali ini bukan tentang amukan dan wajah yang mengerikan, tapi lebih kepada wajah manis dengan mata kemerahan yg entah mengapa justru menjadi terlihat lebih manis dengan kecantikan yang unik dan langka.


Dirga mengambil ponselnya. Berniat ingin membuka pesan dari Senja. Tapi sesaat kemudian niatnya terhenti.

__ADS_1


"Tidak, tidak. Aku sudah bertekad akan menjauhinya. " Pria itu menggelengkan kepala berusaha membuang segala bayang yang membawanya pulang pada sosok Senja.


Sambil menghela nafas ia akhirnya memutuskan untuk tak membukanya lalu kembali fokus pada pekerjaan meski bayang-bayang gadis bermata merah masih saja mengganggu fokusnya, tapi ia berusaha mengabaikan nya. Kendati dadanya sesak tak terkira.


__ADS_2