Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Meminta restu


__ADS_3

Sore ini Senja absen ke pantai. Meski sebenarnya sangat ingin menikmati udara segar sambil berselancar, tapi gadis itu meredam inginnya dan lebih memilih menemani ibunya di rumah.


Wulan sendiri sebenarnya tidak masalah kalau putrinya akan pergi ke pantai. Toh meskipun sedang sakit, tapi dia tidak terbaring lemah. Masih bisa beraktifitas meski tidak terlalu banyak bergerak.


Senja keluar dari kamarnya sambil tersenyum sumringah. Baru saja ia mendapat kabar kalau Dirga akan ke rumahnya malam nanti. Mungkin itulah yang membuat pemilik iris merah itu menarik kedua sudut bibirnya dalam-dalam


Gadis itu berjalan menuju kamar ibunya. Ia ingin menyampaikan kabar gembira itu pada sang Ibu. Tapi sayang kamar itu kosong. Sang ibu tidak ada di dalam bilik kesayangannya.


Tempat ke dua yang di datangi Senja adalah taman belakang. Kalau tidak dikamar biasanya ibunya suka duduk-duduk beranda belakang.


Langkah Senja terhenti tepat di depan pintu belakang. Ia tersenyum melihat penampakan ibunya sedang bermain ayunan di bawah pohon rindang. Namun mendadak senyum Senja memudar begitu melihat wajah ibunya yang tampak suram.


Pandangan Wulan kosong. Matanya menerawang seolah menandakan kalau pikirannya sedang tidak ada di tempat. Siapapun yang melihatnya pasti bisa menebak kalau perempuan berwajah lembut itu pasti sedang memikirkan sesuatu.


Dengan langkah pelan Senja mendekati ibunya. Wulan tidak melihat kehadiran Senja karena posisi ayunan yang memang menghadap ke samping.


"Bu, " Panggil Senja begitu sampai di samping ibunya. Tapi perempuan itu tak menyahut. Seperti tidak mendengar atau bahkan tidak sedikit pun menyadari kehadiran Senja.


"Bu, " Kedua kalinya gadis itu menegur namun yang di tegur tetap tak bergeming. Senja menautkan alisnya heran. Apa sebenarnya yang sedang di pikirkan ibunya sampai begitu fokusnya.


"Ibu." Senja membesarkan volume suaranya sambil memegang pundak sang Ibu, barulah perempuan itu menoleh dan tersadar kalau ternyata ada makhluk lain di sampingnya.


"Senja. " Wulan terlonjak kaget melihat penampakan putri semata wayangnya.


"Sejak kapan kau disini? "


"Sejak beberapa menit yang lalu. " Senja ikut duduk di samping ibunya. Ayunan besi itu memang lumayan lebar sehingga cukup untuk dua orang.


"Benarkah, ibu tidak tahu. "


"Hmm, aku bahkan sampai memanggil dua kali tapi ibu tidak dengar ... Apa yang sedang ibu pikirkan sampai termenung begitu? "


"Oh, tidak. " Wulan langsung menggelengkan kepalanya. Tak ingin putrinya menduga-duga tentang apa yang sedang ada di ruang pikirnya saat ini.


"Ibu tidak sedang memikirkan apa pun. Mungkin karena terlalu nyaman berada di ayunan ini sampai ibu terlena dan tidak menyadari kalau kau datang. "


Wulan sebisa mungkin merubah ekspresi wajahnya. Dan sama seperti di pantai kemarin, ia juga enggan menjawab jujur. Ia tidak ingin membebenai Senja dengan apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


Senja menghela nafasnya. Ia tahu ibunya lagi-lagi berbohong. Tapi meski begitu Senja tidak ingin mendesak ibunya bicara. Ia masih akan terus menunggu sampai ibunya dengan sendirinya berbagi padanya.


"Cerita kan padaku kalau ibu memang sudah merasa siap untuk bercerita. " Senja yakin ibunya tahu apa maksudnya. Terbukti wanita itu langsung tersenyum menanggapi.

__ADS_1


"Kau tenang saja, Nak. Ini bukan sesuatu yang penting. " Wulan tetap berusaha berdalih kendati Senja tetap saja tak percaya. Bukan sesuatu yang penting tapi mampu menyita pemikiran, pandangan dan bahkan pendengaran seseorang, yang benar saja.


"Oh ya, kau tidak ke pantai? " Ya, mengalihkan pembicaraan adalah hal yang paling tepat yang di lakukan Wulan untuk lari dari topik utama.


Senja menggeleng.


"Tidak, aku ingin menemani ibu. "


"Ibu tidak apa-apa, Senja." Wulan menoleh pada putrinya.


"Kalau memang kau mau ke pantai pergilah. Atau kau ada janji dengan Dirga, pergilah. Ibu tidak apa-apa. Lagipula ada nenek kan di rumah."


"Tidak, Bu. Aku ingin di rumah saja. Lagipula rencananya Dirga juga nanti akan kemari."


"Benarkah? tumben kalian bertemu di rumah. Biasanya kalian lebih senang di pantai? "


Senja balas menatap sang ibu. Ada sedikit keraguan terpancar dari wajah cantik itu. Bingung antara harus memberi tahu atau tidak. Ia tahu ibunya sedang tidak baik-baik saja sekarang. Kendati wanita itu selalau coba menyembunyikan, tapi tetap saja Senja bisa merasakannya.


"Hmm sebenarnya Dirga kemari mau meminta izin pada ibu. " Akhirnya Senja memberanikan diri untuk bicara.


"Izin? "


Senja mengangguk.


Wulan spontan membulatkan matanya. Ini kabar yang cukup mengejutkan sekaligus membahagiakan. Meski kondisinya sendiri sedang tidak baik, tapi tetap perempuan itu tidak bisa menutupi rasa bahagia nya.


"Kau serius? Dirga mau melamar mu? "


"Iya, Bu. Rencananya nanti malam dia akan membicarakan soal itu. Tapi kalau kondisi ibu masih----"


"Tidak, Nak. Tidak. Ibu baik-baik saja. " Seolah tahu apa yang di khawatirkan Senja, Wulan buru-buru menyela.


"Suruh saja Dirga datang kemari. Ibu akan dengan senang hati menyambutnya."


Senja cukup tertegun dengan kalimat ibunya. Wanita itu begitu antusias menerima kedatangan Dirga. Padahal Senja pikir Wulan akan menolak atau setidaknya menunda sampai kondisinya benar-benar pulih.


"Ibu tidak apa-apa? "


Wulan mengangguk pasti.


"Ibu justru senang kalau Dirga akan datang. Itu berati dia benar-benar menunjukan keseriusannya padamu. Yah meskipun dia sudah membuktikannya dengan berkorban nyawa untukmu. Tapi tetap saja, semua harus di perkuat dengan pernikahan."

__ADS_1


Wulan benar-benar menutupi rasa sakit dan semua beban nya saat ini. Ia bahkan sudah tidak sabar menunggu saat di mana Senja dan Dirga mengucap janji pernikahan dan berjalan berdampingan dalam satu altar.


Senja tersenyum menatap Wulan. Ia tidak menyangka kalau ibunya bahkan lebih antusias dari apa yang ia bayangkan.


"Baiklah, Bu. Aku akan menyuruh Dirga datang nanti malam. "


Wulan mengangguk dan tersenyum. Keduanya lalu melanjutkan obrolan mereka sambil bermain ayunan. Mengenang masa saat Senja kecil dulu. Namun bedanya kalau dulu Wulan yang bertugas mengayun, kini sebaliknya. Senja yang mengayun sedangkan ibunya duduk manis dia atas buaian. Yah begitulah seharusnya. Kelak saat kita menua, harusnya anak lah yang akan menjaga kita, sama seperti kita menjaganya dulu.


****


Malam harinya. Pria dengan tinggi seratus delapan puluh enam senti meter datang ke kediaman Senja dengan memakai pakaian casual namun tetap rapi.


Berbalut kemeja slim fit berwarna navi dan celana semi jeans berwarna cream, Dirga nampak sangat mempesona. Senja bahkan sampai tak berkedip melihatnya.


Gadis itu menyambut mate nya di beranda.


"Berhenti melihatku begitu, kau membuatku takut. " Dirga mencolek hidung mancung milik gadis bernetra merah.


"Kau tampan sekali, " Tanpa ragu Senja melontarkan kalimat itu. Pria bernama Dirgantara memang sangat-sangat memukau baginya.


"Aku tahu, semua orang juga bilang begitu. "


Senja sontak merenggut. Padahal ia berharap pujiannya akan mendapat ucapan terimakasih dari pria berahang kokoh di depannya. Tapi pria itu malah menunjukan ke-narsisan nya.


"Tapi percayalah, ketampanan ku hanya untukmu." Dengan jahilnya Dirga membisikkan kalimat itu tepat di telinga Senja. Membuat wajah yang tadi merengut berubah tersipu.


"Kau juga, selaalu cantik. Beruntung bisa mendapatkan mu cantik. " Goda Dirga lagi yang kian memperjelas rona di pipi Senja. Tapi gadis itu memutuskan untuk tak menanggapi. Hanya sedikit tersenyum. Senja tahu akan panjang cerita nya kalau menanggapi rayuan pria mesum ini.


"Ya sudah ayo masuk. Ibu dan nenek sudah menunggu di dalam." Gadis itu memeluk lengan Dirga menuntunnya menemui ibu dan nenek di meja makan.


Tidak ada acara formal sebenarnya. Hanya makan malam biasa. Dan Dirga menggunakan kesempatan itu untuk meminta restu dari ibu dan juga neneknya Senja. Ia juga meminta maaf karena orang tuanya tidak bisa ikut hadir. Tapi Dirga bilang orang tuanya menyetujui apapun keputusan mereka. Dan keduanya juga berjanji akan datang tepat di hari pernikahan.


Wulan dan neneknya Senja tentu saja menyambut baik niat Dirga. Mereka juga tidak mempermasalahkan kalau orang tua Dirga tidak bisa datang. Cukup memaklumi karena memang orang tua Dirga sekarang berada di negri yang cukup jauh dari mereka. Tak masalah. Yang penting mereka sudah merestui.


Tapi Wulan punya satu syarat, bahwa Senja dan Dirga akan menikah setelah ayahnya atau Bayu samudra kembali.


"Ibu ingin ayahmu yang mengantar mu berjalan di altar. Ibu ingin ayahmu juga yang langsung menyerahkan mu kepada Dirga."


Dirga dan Senja kompak mengangguk.


"Tentu, Bu. Aku juga ingin seperti itu. Ayah harus ada di hari bahagiaku. "

__ADS_1


"Bibi tenang saja, kami pasti akan menunggu sampai paman kembali. " Dirga membenarkan jawaban Senja yang langsung di tanggapi senyuman oleh Wulan.


Senyum yang sangat sulit di artikan. Di satu sisi itu senyum bahagia karena sebentar lagi putrinya di pinang orang. Tapi disisi lain itu juga senyum kesedihan karena suaminya belum juga pulang. Padahal ini sudah lebih dari seratus hari semenjak Bayu pergi. Tapi makhluk itu belum menunjukan tanda-tanda akan kembali.


__ADS_2