Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Sama-sama tersiksa


__ADS_3

Keesokan harinya di kediaman Senja. Gadis itu nampak gusar tak terkira. Berulang kali ia mengecek ponselnya. Berharap ada balasan dari Dirga. Tapi jangankan membalas, bahkan membukanya saja tidak.


"Ayah, dia benar-benar tidak mau membaca pesanku. Aku harus apa sekarang? "


Ayahanda tercinta yang duduk tak jauh darinya di taman belakang rumah hanya tersenyum


"Biarkan saja, mungkin dia masih syok menerima kenyataan tentang mu. Nanti kalau hatinya sudah baik-baik saja, dia pasti akan merespon mu. "


"Tapi kapan, Ayah. Sejak kemarin dia tidak mau membalas pesanku. Menyebalkan sekali di abaikan seperti ini. " Gerutu Senja sambil melemparkan ponselnya begitu saja di atas meja.


"Sabar sayang. Biarkan Dirga tenang dulu. Ibu yakin nanti dia pasti akan menghubungimu. " Nawang wulan yang juga berada disitu ikut serta menenangkan putrinya yang mulai terlihat kesal.


"Iya seperti ibumu dulu. Saat partama tahu tentang siapa Ayah dia juga sempat marah dan bahkan menjauhi Ayah. Tapi pada akhirnya dia kembali juga pada Ayah."


Wulan tersenyum simpul. Tak berusaha menyangkal ucapan Bayu karena memang kenyataannya begitu.


"Tapi kalau ternyata dia benar-benar tidak mau lagi denganku bagaimana? "


"Kita akan membuat perhitungan dengannya," jawab Bayu langsung. Namun Jawabannya juga langsung di patahkan oleh istrinya.


"Tidak. Jangan mengajari anak ku untuk menjadi monster. " Tegasnya seraya menatap tajam ke arah makhluk tampan di sampingnya.


"Pakailah cara se manusiawi mungkin untuk mendapatkan cintanya, Senja. Kalau dia kembali padamu karena ancaman atau tekanan, maka itu bukan cinta namanya. "


"Maksud ibu? "


"Kalau dia memang benar-benar tulus mencintaimu maka dia pasti akan kembali padamu. Kalau ternyata dia lebih memilih pergi itu berarti dia tidak tulus. Dia tidak bisa memerimamu apa adanya. "


Senja tertunduk. Seperti pasrah menerima takdirnya.


"Teruslah berusaha merebut hatinya. Tapi jangan membuatnya terpaksa menerimamu. Karena kalaupun itu terjadi maka hubungan kalian pasti tak akan lama. Karena dalam keterpaksaan tidak akan ada ketulusan. " Wulan menepuk-nepuk pundak putrinya. Mencoba memotivasi segkaligus memberi energi positif.


"Benar, Senja. " Bayu samudra yang tadinya memberi usulan konyol kali ini justru berbalik mendukung istrinya. Entah karena takut atau memang pemikirannya sudah berubah, entahlah.


"Karena Ibumu tulus pada Ayah makanya sampai sekarang kami masih bertahan. "


Senja mendongakkan kepalanya. Setelah meresapi perkataan Ayah dan ibunya ia akhirnya mengangguk.


"Kalau memang dia tidak bisa menerimamu, itu berarti dia tidak pantas untukmu. Kau terlalu berharga untuk di sia-siakan oleh siapapun. "


Senja mengangguk pasti. Kepercayan dirinya mulai tumbuh mendengar suport demi support dari sang Ayah.


"Tapi kalau dia membeberkan identitasku pada orang lain bagaimana? pasti semua orang akan semakin menjauhiku. "


"Ibu yakin Dirga tidak akan melakukan itu. Kalaupun dia tidak bisa menerimamu, tapi dia pasti bisa menjaga rahasiamu."


Wulan bicara sambil menatap Bayu penuh arti.


"Tapi kalau seandainya dia memang tidak bisa menjaga mulutnya, maka Ayahmu pasti tahu bagaimana caranya membuat Dirga bungkam untuk selamanya. "


Bayu tersenyum. Cukup paham arah pembicaraan Wulan.


"Kau tenang saja, Nak. Kalau sampai Dirga buka suara dan membocorkan jati dirimu. Ayah pastikan tidak ada yang bisa menghalangi Ayah untuk melenyapkannya. "


Senja menatap Ayahnya. Gadis itu mendapati raut serius di wajah yang menolak tua itu. Pertanda kalau Ayahnya memang tidak main-main dengan ucapannya.


Tapi entah kenapa. Dia tidak suka mendengar itu. Bahkan jika seandainya Dirga menjauhinya dan membeberkan tentang jati dirinya. Senja tetap tidak rela kalau ada yang menyakiti pria itu, apalagi sampai melenyapkannya.


"Jangan, Ayah. Jangan menyakiti Dirga. "


Sang Ayah langsung tersenyum


"Rupanya kau memang sudah tergila-gila padanya ... tapi kau tenang saja, Ayah tidak akan menyakitinya selama dia juga tidak menyakitimu"


"Ayahmu benar. " Wulan kembali menepuk-nepuk pundak Senja.


"Sekarang kau hanya perlu tenang dan tetap berusaha memperjuangkan Dirga. Tapi ingat pesan ibu tadi, gunakan cara se manusia mungkin. "


"Baik, Bu. " Senja mengangguk lemah. Meski ucapan kedua orang tuanya cukup menenangkan tapi tetap saja hatinya gundah.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, Ibu dan Ayah harus ke butik, sudah siang. Kau mau ikut? "


Wulan mulai beranjak sambil tangnnya mengusap kepala Senja terus berusaha menenangkan.


"Tidak, Bu. Aku ingin di rumah saja. "


"Baiklah kalau begitu. Kami pergi dulu ya. " Wulan mulai melangkah di ikuti Bayu yang juga ikut mengusap puncak kepala Senja. Cukup iba melihatnya. Ia tahu saat ini Senja pasti tidak baik-baik saja.


Senja hanya tersenyum. Berusaha tenang meski hatinya gundah bukan kepalang. Ia tahu bagaimana perasaan Dirga sekarang. Pasti sulit baginya menerima kenyataan kalau orang yang di cintai ternyata berbeda darinya.


***


Senja menenggelamkan dirinya di dalam kamar. Sampai sore hari gadis itu baru keluar. Ia sudah berpakaian rapi dan membawa papan selancar kesayangannya.


Dia ingin melebur segala gundah yang ada dengan bermain ombak. Berharap segala yang tak mengena di hati akan mati di hantam kencangnya ombak pantai.


Senja mencoba menikmati permainan nya. Meliuk-liuk di antara gulungan ombak. Beberapa penonton juga tampak sudah antusias menyaksikan atraksi Senja.


Namun dari sekian banyak mata yang melihat, Senja tak bisa menemukan sosok yang membuatnya tak karu-karuan akhir-akhir ini. Ya siapa lagi kalau bukan Dirga. Biasanya pria itu menjadi orang yang paling antusias melihat atraksi Senja. Terkadang ia bahkan sampai bertepuk tangan saking terpukau nya.


Namun sekarang Senja tak lagi bisa melihat raut wajah itu. Meski berkali-kali ia mencuri pandang ke arah bibir pantai, namun netranya tetap tak menangkap sosok Dirga.


Fokus Senja terganggu. Ia tak lagi bisa menikmati permainan nya. Ombak laut yang biasanya membuatnya gila dan ingin terus mencoba menaklukannya. Kali ini justru terasa menampar-nampar wajahnya. Memaksa ia untuk menepi.


Pada satu kesempatan yang tidak bersahabat. Senja benar-benar kehilangan fokusnya. Tubuhnya oleng di hantam ombak besar. Ia kehilangan kendali dan akhirnya jatuh dari atas papan skinya.


Tubuhnya sempat menghilang di gulung ombak. Penonton yang menyaksikan bahkan sampai panik melihatnya. Untung saja tak berselang lama, gadis itu muncul ketepian sambil berenang dengan papan skinya.


Dengan nafas terengah-engah gadis itu naik ke permukaan.


"Kau baik-baik, Senja?" tanya salah satu penggemar setia Senja


"Hmm." Senja hanya mengangguk


"Oh syukurlah kau tidak apa-apa. Kami sempat khawatir tadi. Tidak biasanya kau sampai terjatuh, apa kau sedang sakit? " Timpal yang lain


"Tidak, aku baik-baik saja, hanya sedang tidak fokus. "


Namun Senja sepertinya tidak peduli pada pandangan heran mereka. Ia memilih untuk menjauh beberapa meter dari kerumunan orang-orang tersebut lantas mengistirahatkan badannya sejenak di bibir pantai.


Dengan pakaian masih basah kuyup, gadis cantik berambut sebahu itu mendudukan badannya beraalaskan papan selancar yang ia jadikan tempat duduk.


Tidak ada yang di lakukannya, hanya diam mematung memandangi lautan lepas dengan ombak laut yang sesekali mengenai kakinya.


Sepertinya gadis itu ingin menenangkan diri dengan hanya berdiam diri dan tak melakukan apapun. Setelah berselancar yang merupakan hobi terberat nya ternyata tak mampu meredam nyeri di dadanya, gadis itu kini lebih memilih mematung. Membiarkan sesak di dada menguap dengan sendirinya.


Sesekali tampak lelehan bening mengalir dari sudut matanya. Senja sepertinya sedang sangat terluka. Sikap dingin Dirga yang sejak kemarin terus mengabaikan nya membuatnya sangat terpukul.


Namun ada satu hal aneh yang terjadi. Biasanya saat sedang kesal atau saat suasanya hatinya tidak baik-baik saja, Senja pasti akan sering mengamuk ataupun uring-uringan. Tapi kali ini gadis bermata kemerahan itu memilih diam dan berdamai dengan keadaan, meski sakitnya luar biasa.


Senja tidak menyadari kalau di kejauhan ternyata ada orang yang juga merasakan sakit yang sama dengannya. Yang juga sama tersiksa nya dengannya.


Seseorang yang sejak kemarin merasa gelisah tak terkira. Meski sekuat tenaga mencoba melupakan, tapi ternyata tak sedikitpun mampu menghilangankan bayangan Senja dari hati dan pikirannya.


Tak tahan dengan semua bayangan yang menyiksanya, pria itu akhirnya memutuskan untuk datang kepantai. ia yakin kalau Senja pasti juga ada di pantai.


Tapi ia memilih untuk melihatnya dari kejauhan. Masih belum ingin bertatap muka dengan gadis itu.


Ia bersembunyi di balik pepohonan nyiur yang berjejer. Memperhatikan setiap gerak Senja dengan hati yang juga terluka. Terlebih saat Senja terjatuh dan menepi tadi, ingin rasanya dia langsung menghampiri dan memeluknya. tapi perasaan takut pada kenyataan tentang siapa Senja lagi-lagi mencegahnya.


"Dirga.. "


Orang yang sedang mengintai Senja terkejut saat ada yang memanggil namanya. Ia buru-buru menoleh karena takut kalau yang memanggil adalah Bayu samudra Ayahnya Senja. Namun ternyata bukan.


"Arya.. " Dirga juga tak kalah kaget melihat Arya tahu-tahu sudah ada di belakangnya.


"Hmm." Arya mengangguk.


"Aku memperhatikanmu sejak tadi. Sejak kau datang aku sudah melihatmu. Ku pikir kau akan menonton Senja berselancar, tapi kenapa kau malah mengintipnya dari kejauhan?"

__ADS_1


Dirga bingung mendapat pertanyaan seperti itu. Tak menyangka kalau sejak tadi ternyata Arya memperhatikan gerak-geriknya.


"Aku, aku---"


"Sedang ada masalah dengan Senja? " tebak Arya cepat memenggal ucapan Dirga.


"Oh tidak, aku hanya--"


"Jangan bohong. " Lagi-lagi Arya memotong ucapan Dirga.


"Kau mengintip dari kejauhan, sedangkan Senja sejak tadi ku perhatikan terus saja menoleh ke bibir pantai seperti mencari seseorang. Dia pasti sedang mencarimu kan? "


Dirga akhirnya hanya bisa menghela nafasnya. Merasa tidak bisa lagi berbohong. Karena memang sejak tadi dia juga tahu kalau Senja terus menoleh mencarinya, bahkan sampai gadis itu terjatuh dari papan selancarnya.


"Ada apa, ayo ceritakan padaku. Apa hubungan mu dengan Senja tidak berjalan lancar?"


Dirga menatap Arya sejenak. Ragu apakah ingin bercerita atau tidak.


"Entahlah, aku juga bingung. Terlalu rumit untuk di jelaskan, " ucap Dirga akhirnya karena tidak tahu harus menjawab apa.


"Rumit kenapa, apa Senja tidak bisa menerimamu?"


Dirgantara menggeleng


"Bukan dia, tapi aku yang tidak bisa menerimanya? "


"Ohya, kenapa, bukankah sejak awal kau yang penasaran dan ingin dekat dengannya. Kenapa sekarang malah kau yang tidak bisa menerimanya? "


Dirgantara terdiam. Ia tidak mungkin menjelaskan pada Arya tentang alasan yang sebenar nya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memberitahu siapapun perihal Senja.


"Kau benar, Arya," ucap Dirga setelah terlebih dahulu menghela nafasnya. Seolah apa yang akan di ucapkannya adalah hal yang sangat menyakitkan.


"Memang dulu aku yang ingin dekat dengannya. Tapi makin kesini aku semakin merasa kalau dia itu aneh. "


"Hah? " Arya melongo mendengarnya


"Bukankah sejak awal kau sudah tahu kalau dia itu aneh? kau bahkan bilang justru keanehan Senja lah yang membuatmu tertarik pada nya. Kau bilang Senja itu gadis yang unik dan lain dari gadis kebanyakan. Lalu kenapa sekarang kau mempermasalahkan keanehannya? "


Telak sekali semua perkataan Arya. Dirgantara bahkan sampai tak berani menampik. Tapi masalahnya, Arya tidak tahu masalah yang sebenarnya kenapa Dirga tidak atau belum bisa menerima Senja. Seandainya dia tahu pasti---


Dirga buru-buru membuang jauh pikiran kotornya. Sekali lagi ia sudah berjanji tidak akan pernah buka suara soal jati diri Senja. Ia tahu itu pasti akan sangat menyakiti Senja. Sikap Dirga saat ini saja sudah cukup melukai perasaannya. Dirga tidak ingin meyakiti yang lebih dari ini.


"Entahlah, Arya. Aku bingung. " Lagi-lagi hanya mampu menjawab itu


"Kau ini aneh sekali. " Arya menggelengkan kepalanya. Benar-benar tidak mengerti dengan sukap Dirga.


"Tapi kau ada benarnya juga sih? "


"Maksudmu? " tanya Dirga tidak mengerti. Sebab tadi Arya bilang kalau dia aneh, tapi sekarang dia malah bilang kalo Dirga benar.


"Ya sikap mu itu sudah benar. Kalau memang kau tidak bisa menerima nya ya untuk apa kalian bersama. Sebab bukan cinta namanya jika tidak bisa tulus menerima satu sama lain. "


Deg! ucapan Arya seolah tamparan keras bagi Dirga. Dia langsung tersentak. Benar yang di katakan Arya. Kalau memang dia tidak bisa menerima Senja apa adanya, itu berarti dia tidak tulus mencintai Senja.


"Tapi yang membuatku semakin heran, " sambung Arya lagi


"Kalau memang kau tidak bisa menerimanya, lalu sedang apa kau disini? diam-diam memperhatikan Senja dari jauh?"


Untuk kedua kalinya Dirga seperti tertampar oleh ucapan Arya. Pria itu seperti tersadar akan sesuatu.


'Benar, sedang apa aku disini? kenapa aku masih peduli padanya, kenapa aku sangat tersiksa saat mencoba melupakannya?'


pikiran Dirga berkecamuk. Mencari jawaban atas pertanyaan Arya dan juga pertanyaannya sendiri. Tapi ia tak menemukan jawabannya.


Matanya Sendu menatap kearah Senja yang masih mematung dengan hati seperti terpasung.


Dirga tidak tahu harus berbuat apa sekarang, benar-benar tidak tahu..


Bersambung

__ADS_1


Dukungannya dong tolong dukungan. Walaupun cm komen lanjut aja aku udah seneng. Apalagi kalau sampai ngasih bintang. Makin luph deh sma para reader's


__ADS_2