
Melati Sanjaya, wanita yang masih terlihat cantik dan bugar meski di usianya yang sudah lebih dari separuh abad. Wanita yang selalu berpenampilan modis dalam setiap suasana. Wanita pemilik hati tuan Damar Sanjaya itu tengah gusar menunggu di sebuah gazebo di tepi pantai.
Hari sudah hampir petang, tapi gadis peselancar bernama Senja belum juga menuntaskan aksinya. Saat ia kesini tadi, gadis itu sudah berada di tengah laut di antara gulungan ombak, jadi dia tidak bisa melihat wajah yang menurut Queen sangat mengerikan itu.
"Queen, kenapa gadis itu belum naik juga, Bibi sudah menunggunya dari tadi?"
Karena tak sabar, Melati mencoba menghubungi Queenzi melalui pesan. Sebenarnya tadi Melati mengajak gadis itu untuk menemaninya menemui atau memantau senja. Tapi karena Queenzi sedang tidak ada waktu luang, alhasil Melati melakukan aksi pantaunya seorang diri. Persis seperti detektif yang sedang membongkar identitas pelaku.
"Bibi tenang saja, ini sudah hampir petang, pasti sebentar lagi dia naik. Bibi tunggu saja disitu. "
"Biasanay kalau pantai sudah mulai sepi baru dia akan naik. "
Melati melihat kesekeliling. Masih cukup ramai. Mungkin itulah sebabnya gadis peselancar itu belum naik.
"Baiklah, Bibi akan tunggu sampai dia naik. "
"Ok, Bibi. Bibi hati-hati ya, jangan memantaunya dari jarak terlalu dekat, aku takut nanti dia akan mengamuk pada Bibi. " Entah itu sebuah peringatan atau ancaman, entahlah. Tapi yang jelas isi pesan Queen cukup menakutkan bagi Bibi Mel.
'Se menyeramkan itukah? '
Bosan terus menunggu tanpa melakukan apa-apa, Melati akhirnya bangkit dari duduknya. Berjalan beberapa langkah ke bibir pantai.
Perempuan cantik itu tersenyum saat netranya menangkap satu objek yang sangat memukau di ujung samudra. Bola raksasa dengan warna jingga keemasan sedang merangkak turun menuju peraduan, menciptakan sebuah lukisan alam yang sangat luar biasa indahnya.
Entah sudah berapa lamanya netranya tidak pernah dimanjakan dengan hal-hal indah seperti ini. Selama ini, keindahan baginya adalah bisa keliling dunia dan keluar masuk pusat-pusat perbelanjaan ternama.
Ia tak sadar kalau hanya dengan berdiri di tepi pantai dan menyaksikan matahari terbenam saja sudah cukup menyenangkan. Bahagia memang tidak harus selalu mewah, yang penting bisa menyenangkan sekaligus menenangkan. Bukankah demikian?
Entah sudah berapa menit Melati tenggelam dalam ketenangannya menatap objek jingga di ujung sana. Cukup menenangkan memang, di tambah debur ombak yang membersamai membuat siapapun pasti enggan beranjak.
Dan mungkin hal itu jugalah yang membuat gadis peselancar bernama Senja enggan naik ke permukaan. Sebab menyaksikan matahari terbenam dari tengah lautan tentu jauh lebih mengagumkan.
Melati baru bergerak saat dering ponsel mengejutkannya. Dan lebih terkejut lagi karena yang menelefon adalah suaminya. Pria itu pasti khawatir karena sampai hampir petang istrinya belum pulang, padahal tadi dia pamit hanya sebentar.
"Ya, Sayang. Ada apa? "
"Kau dimana, kenapa belum pulang? sudah hampir gelap. " Dan benar saja pria berwibawa di seberang sana merasa khawatir.
"Aku sedang pantai, Sayang. Sebentar lagi aku pulang. "
"Pantai? " Damar memicingkan matanya
__ADS_1
"Iya, aku sedang melihat sunset, sudah lama aku tidak melihatnya. "
Meski jawaban istrinya terdengar aneh, tapi Damar tetap berusaha memaklumi. Mungkin memang benar Melati sedang rindu melihat sunset, pikir Damar.
"Ya sudah, hati-hati. Sebelum malam kau sudah harus sampai di rumah. " Damar memberi ultimatum yang langsung di iyakan oleh istrinya.
Melati mematikan ponselnya dan kembali menatap sekeliling. Benar sudah makin petang, pantas saja suaminya mulai khawatir.
Perempuan itu teringat akan tujuananya datang kepantai ini. Ia melihat ke arah Senja. Ternyata gadis itu juga sudah naik ke permukaan.
Melati buru -buru beranjak mendekati Senja yang jaraknya cukup lumayan jauh darinya, mungkin sekitar puluhan meter.
Sebenarnya tujuan Melati kesini hanya ingin melihat Senja dari dekat dan membuktikan ucapan Queen tentang gadis yang katanya mengerikan itu. Itu saja, Melati tidak akan melakukan lebih, bahkan menyapapun tidak ada di daftar rencananya.
Dengan dada yang entah kenapa jadi berdebar, Melati terus berjalan mendekati targetnya. Namun semakin dekat dengan Senja, Melati semakin menangkap gelagat aneh gadis itu. Ia seperti sedang---
Bug, bug !
Senja melayangkan tinjunya secara bergantian pada dua orang pria yang ada di dekatnya.
Hal itu tentu membuat Melati terkejut bukan main. Langkah kakinya bahkan langsung terhenti.
Bug ! suara pukulan kembali terdengar. Kali ini Senja menendang dada salah satu pria sampai ia tersungkur. Tak cukup sampai di situ, Senja kembali menunjukan aksi beringas nya. Ia mencengkram kerah baju pria itu lalu menghujani wajahnya dengan tamparan.
Darah segar bahkan sampai keluar dari hidung dan mulutnya saking kuatnya tamparan Senja.
Pria yang satu lagi nampak gentar melihat rekannya mendapat serangan membabi buta begitu, terlebih gadis yang menyerangknya tiba-tiba menunjukan wajah yang cukup mengerikan
Sebenarnya ia ingin lari, tapi melihat rekannya yang sudah tidak berdaya di tangan Senja membuat keberaniannya muncul. Diam-diam dia mendekati Senja yang tengah asyik menyiksa kawannya. Ia mengambil bongkahan kayu yang kebetulan tergeletak di dekatnya bermaksud hendak memukul punggung Senja dari belakang.
Namun sebelum niatnya terlaksana, Senja sudah keburu menoleh dan mengetahui niatnya. Gadis itu melemparkan secara asal pria yang sedang di cengkeramnya. Lalu langsung menepis pukulan pria satu lagi.
Senja berhasil menangkap kayu itu, memutarnya dengan kekuatan penuh sampai pria yang menyerangnya ikut terpelintir dan akhirnya melepaskan kayu tersebut.
Senja menggunakan kesempatan itu untuk balik menyerang. Ia menghujamkan ujung kayu ke dada pria berjaket kulit itu. Untung saja itu benda tumpul. Seandainya itu benda tajam pasti dadanya sudah robek tak beraturan.
"Akkh.. " pria itu meringis menahan sakit. Namun sayang rintihan sakitnya tak mampu menghentikan Senja yang sedang dalam mode ganas. Gadis itu sepertinya masih belum puas.
Senja mendekati pria yang sudah terhuyung-huyung itu kemudian menghadiahkan satu pukulan di wajah nya.
Bug..!
__ADS_1
Pukulan terakhir Senja benar-benar sukses membuat pria itu tumbang. Ia terjerembab dengan ujung bibir pecah dan hidung berdarah. Persis seperti temannya yang sudah lebih dulu tumbang.
Setelah puas menumbangkan keduanya barulah Senja meninggalkan dua pria tak di kenalnya itu. Ia beranjak dengan wajah kemerahan karena masih menyimpan amarah serta bola mata yang merah menyala seperti bara api.
Mata merah dan raut wajah yang sejak tadi sebenarnya sudah membuat kedua pria itu ngeri dan tak habis pikir. Bagaimana bisa gadis yang awalnya cantik dan manis itu berubah seperti iblis yang sedang murka.
Dan tentu saja tak hanya kedua itu yang di buat ngeri. Seseorang yang sejak tadi menonton duel maut itupun tak kalah ngeri. Bahkan mungkin berkali-kali lipat lebih ngeri. Wanita itu bahkan sampai gemetar di tempatnya.
Ia terpaku dan tak bisa berbuat apa-apa. Terlebih saat Senja lewat di depannya dan menatapnya dengan iris merahnya yang seolah menyala di keremangan malam yang mulai menjelang.
Senja tak tahu apa maksud Melati memperhatilannya sejak tadi. Tapi yang jelas, gadis itu memang tidak suka kalau ada yang melihatnya secara intens begitu.
Amarahnya yang sudah terlanjur naik kian memuncak karena keberadaan Melati yang seperti sedang memata-matai nya. Untung saja Senja tidak sampai melukai ibunda Damar. Ia hanya menatapnya dengan pandangan tidak suka dan cukup mengintimidasi.
Tapi itu saja sudah sangat berhasil membuat Melati ketakutan dan makin gemetar sambil menelan ludahnya. Takut bukan main.
Melati benar-benar tak menyangka kalau ucapan Queen memang benar adanya. Ia sudah membuktikannya dan melihatnya secara langsung. Bahkan menurutnya apa yang baru saja di lihatnya jauh lebih mengerikan dari cerita Queen.
Ia baru bisa bernafas lega saat Senja sudah benar-benar menjauh darinya. Perempuan itu langsung mengusap wajah nya sambil menghela nafas mengembalikan kembali kembali kinerja darahnya yang tadi seolah berhenti mengalir.
"Kalian baik-baik saja? " sebuah pertanyaan aneh yang di tujukannya untuk kedua pria naas di depannya.
Keduanya tidak menjawab. Sedang sibuk menahan sakit. Lagipula harusnya Melati sudah cukup tahu bagaimana mengenaskannya kondisi mereka. Kenapa masih saja bertanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai gadis itu mengamuk begitu? " tanyanya lagi sambil meringis ikut ngilu melihat wajah mereka yang babak belur.
"Kami tidak sengaja menabrak nya. " Salah seorang menjawab lirih sambil meringis menahan sakit.
"Padahal kami sudah minta maaf, tapi gadis gila itu tidak mau terima dan malah menyerang kami." Pria satu lagi menjawab sambil berusaha duduk meski dengan susah payah.
"Hanya karena itu? "
Keduanya mengangguk bersamaan.
Melati kembali menghela nafasnya. Ia benar-benar ngeri di buatnya. Hanya karena hal sepele begitu Senja sampai mengamuk seperti iblis. Tiba-tiba ia langsung teringat putranya. Bagaimana kalau sampai putra tampannya itu mendapat perlakuan mengerikan itu dari Senja.
Melati tak sanggup membayangkan itu. Ia bergidik ngeri sambil berlalu meninggalkan kedua pria yang tengah bersusah payah untuk berdiri. Takut juga kalau dua pria itu macam-macam dengannya. Walaupun kemungkinannya sangat kecil mengingat kedua pria itu bahkan kesulitan membawa badannya sendiri.
Saat keduannya tengah berjuang melawan sakit dan saat Melati berjalan sambil di cekam ketakutan akan sosok Senja, di ujung sana, di area parkir paling ujung. Tampak seorang gadis berbelah dagu sedang tersenyum puas. Usahanya berhasil. Ia sukses membuat Ibunda Damar Ilfeel melihat Senja.
Tak sia-sia ia membayar mahal untuk kedua orang bayarannya. Meski mereka harus babak belur, tapi siapa peduli. Yang penting bagi Queen, usahanya berhasil.
__ADS_1
***
Jangan lupa dukungannya yaa. Kalau bisa dibaca, jangan cuman di like doang. Karena katanya itu mempengaruhi retensi karya.