
"Ayah, sudah tidur? " tanya Dirga melalui pesan singkat di salah satu aplikasi ponselnya. Ada yang ingin ia sampaikan pada Ayahnya, tapi berhubung dia akan pulang malam, maka ia memastikan dulu apakah ayahnya sudah tidur atau belum.
Dirga sendiri saat ini masih bersama Senja. Setelah dari pantai, pria itu tidak langsung mengantar Senja pulang, ia terlebih dulu mengajak gadisnya makan malam, karena memang hari sudah gelap saat ia dan Senja keluar dari area pantai.
"Ada apa? " Bukannya menjawab pertanyaan putranya, Damar justru balik bertanya. Sepertinya urat nadinya masih menegang mengingat sikap Dirga akhir-akhir ini yang di nilainya membangkang
"Ada yang ingin aku sampaikan. "
"Soal? "
"Nanti saja, Ayah. "
"Kalau soal Senja dan keluarga nya Ayah tidak mau. Ayah tidak ingin membahas apapun tentang mereka. "
"Ayah, aku mohon. Sebentar saja. " balas Dirga di sertai emoji tangan menangkup sebagai simbol bahwa ia benar-benar meminta waktu dari Ayahnya.
"Baiklah, " akhirnya meski sambil mengjela nafas berat, Damar menyetujui permintaan putra semata wayangnya.
"Kau sudah pulang? " tanyanya karena memang dia sudah berada di dalam kamar jadi tidak tahu putranya sudah pulang atau belum
"Belum, Ayah. Aku masih di jalan. Sebentar lagi sampai. Ayah tunggu saja di ruang tengah. "
"Tapi pastikan ibu tidak tahu soal ini. "
"Hmm, "
Jawaban persetujuan Ayahnya membuat Dirga tersenyum lalu langsung menutup ponselnya.
"Ayah ku sudah setuju untuk bicara. Mudah-mudahan dia juga setuju untuk bertemu Ayahmu, " ucap Dirga pada gadis bermata merah di sampingnya. Mereka baru saja sampai di depan rumah Senja dan masih berada di dalam mobil.
"Yah mudah-mudahan. " Senja tersenyum mengamini harapan Dirga dan harapannya juga tentunya.
"Ya sudah aku langsung pulang ya, maaf tidak bisa mengantarmu masuk. Aku takut Ayahku terlalu lama menunggu. "
"Hmm, pergilah, " angguk Senja
"Bicara baik-baik ya, jangan pakai emosi. "
Pesan bijak dari gadis itu sukses membuat Dirga menarik ujung bibirnya dan mengangguk pasti. Senja memang benar-benar berbeda hari ini. Mungkin dia sedang belajar jadi manusia seutuhnya.
Senja kemudian bersiap untuk keluar, namun geraknya tertunda karena tiba-tiba Dirga mencekal tangannya yang hendak membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Sepertinya aku butuh sesuatu supaya tidak terpancing emosi."
"Apa itu? "
Dirga menunjukkan pipi kanannya sebagai jawaban dan tentu saja langsung membuat Senja tersenyum
"Kau ini, " ucapnya heran melihat Dirga yang suka sekali menjahili nya. Namun meski begitu gadis itu tidak keberatan mengabulkan permintaan Dirga. Satu kecupan manis mendarat di pipi pria berwajah seksi itu. Ya satu kecupan yang membuatnya tersenyum sepanjang jalan pulang.
****
"Ayah, maaf lama menunggu. Aku mengantar Senja dulu tadi. "
Begitu sampai di rumah dan melihat Ayahnya tengah duduk di ruang tengah, Dirga langsung menghampiri.
"Jadi benar ini soal Senja?" tebak Ayah langsung dan tanpa bas-basi.
Dirga mendudukkan badannya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengangguk lemah.
"Lebih tepatnya soal Ayahnya Senja. "
"Ada apa, apadia menyuruh mu bicara pada Ayah?"
"Baiklah, katakan. " Namun demi mendengar nada putranya yang sudah mulai meninggi, Damar akhirnya mengalah. Biar bagaimana pun ia juga tidak ingin berdebat terus dengan anaknya sendiri.
"Ayahnya Senja ingin bicara pada Ayah. "
Damar langsung mengernyit heran.
"Bayu ingin bicara pada Ayah? bicara apa? apa dia ingin memita restu Ayah untuk putrinya? " Lagi-lagi menebak secara asal.
"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi kemungkinan besar sih begitu. "
Mendengar jawaban putranya, Damar langsung mencibir.
"Ayah rasa tidak ada yang perlu di bicarakan. Kalian semua pasti sudah tahu jawaban Ayah. "
"Ayaah." Dirga menatap orang tua laki-laki nya itu dengan tatapan menghiba.
"Aku mohon beri kesempatan Ayahnya Senja untuk bicara. Dia benar-benar ingin bicara pada Ayah. Dia sudah sangat kesakitan dan akan segera pulang."
"Pulang? " kata itu memantik tanya dari lisan Damar
__ADS_1
"Hmm, Ayah pasti tahu kan kalau paman Bayu itu tidak bisa berlama-lama di dunia kita. Kalau tenaganya sudah melemah maka dia harus segera pulang untuk bersemedi mengisi kembali energinya. "
Damar mengangguk-angguk. Ia baru ingat tentang semua yang di jelaskan putra nya.
"Dan sekarang paman Bayu sudah sekarat dan hampir pulang, tapi sebelum pulang dia ingin bicara pada Ayah. Aku mohon Ayah mau memenuhi permintaan nya. Bertemulah dengannya, Ayah. " Suara Dirga melembut, mungkin sedang berusaha merayu Ayahnya.
Tak ada jawaban dari Damar, namun pria itu tampak sedang berpikir. Mungkin bingung antara menerima atau tidak.
"Baiklah, " Akhirnya setelah berperang dengan hatinya pria itu menyetujui permintaan Bayu dan juga Dirga.
"Baiklah, Ayah akan mengatur waktunya. "
"Tidak ada waktu lagi, Ayah. Bayu sudah sekarat. Besok pagi Ayah harus segera bertemu dengannya. "
Entahlah tiba-tiba ada perasaan iba yang mendera. Mendengar Bayu tak lagi punya waktu membuat Damar akhirnya mengangguk mengiyakan. Pria yang usianya mulai beranjak senja itu tidak menyangka kalau Bayu dan Wulan ternyata masih harus melalui cobaan pahit itu. Ia pikir setelah keduanya menikah hidup mereka akan berjalan sewajarnya, tapi ternyata tetap sama, penuh cobaan dan drama.
"Terimakasih, Ayah. Nanti akan ku sampaikan pada Senja. Biar dia yang mengatur waktu dan tempatnya. "
Binar bahagia tak bisa di tutupi oleh Dirga dan itu tentu membuat Ayahnya terkesiap tak percaya. Hanya karena ia memenuhi permintaan Ayahnya Senja saja Dirga sudah sebahagia itu, apalagi kalau Damar sampai menyetujui hubungan mereka. Mungkin Dirga akan jadi orang paling bahagia di dunia.
Apa sedalam itu kau mencintai Senja?
"Oh ya, Ayah. Ada satu lagi yang ingin ku sampaikan. " ucapan Dirga membuat Damar yang sedang memikirkannya menjadi tersentak.
"katakan, " jawab pria berwajah tegas dan berkarisma itu datar.
"Kalau benar Ayahnya Senja nanti akan meminta restu dari Ayah, aku mohon agar Ayah merestuinya."
"Apa ! " Bentaknya untuk kalimat Dirga yang dirasa cukup mengejutkan.
"Ayah setuju menemui Bayu bukan berarti Ayah setuju pada hubungan mu dan gadis itu ... kau jangan menuntut lebih. "
"Ayaah, " Lagi-lagi Dirga menatap Ayahnya dengan tatapan menghiba kali ini bahkan sambil mengagtupkan kedua tangannya.
"Aku sangat menyayangi Senja Ayah."
Sang Ayah melongo. Tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada putranya. Memohon seperti itu adalah satu hal yang sangat jarang di lakukan nya. Damar tahu betul bagaimana watak anaknya. Ia keras dan tegas melebihi dirinya.
Pantang bagi Dirga memohon-mohon pada orang yang sudah menolak kemauannya, meskipun itu orang tuanya sendiri. Tapi sekarang, dia bahkan memohon dengan wajah menyedihkan begitu, ada apa dengannya?
Sepertinya Damar lupa kalau jatuh cinta memang bisa membuat gila dan melakukan sesuatu yang jauh dari biasanya. Dulu dia bahkan pernah melakukan hal yang lebih gila hanya untuk mendapatkan yang namanya cinta.
__ADS_1