Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Semangat baru


__ADS_3

Senja mengerjapkan matanya sambil menatap sekeliling. Ruangan yang masih di penuhi aneka jenis bunga membuatnya tersadar kalau ia sekarang berada di kamar Dirga. Lebih tepatnya di kamar pengantin.


Gadis itu tersenyum membayangkan apa yang terjadi tadi malam. Dirga benar-benar membuatnya gila, Hanya memberinya jeda sesaat lalu memulainya lagi. Akh sudahlah. Senja menggelengkan kepalanya sendiri membuang bayangan kejadian memabukkan tadi malam.


Ia lantas menatap suaminya yang masih terlelap dalam damai. Menatap tubuh tanpa busana yang saling menempel satu sama lain. Ya Dirga memeluknya sepanjang malam, seolah tak ingin melepaskan Senja barang sebentar saja.


Senja meraba wajah tampan bak titisan dewa itu dengan telapak tangannya yang selembut sutra. Masih tak percaya kalau pemilik tatapan elang itu kini benar-benar jadi miliknya.


Senja yang awalnya sama sekali tidak mengenal cinta dan bahkan tidak mengenal pria mendadak di buat tergila-gila oleh pria ini. Pria yang sudah rela mengorbankan nyawanya untuk Senja.


Demi Tuhan, bermimpi pun tak pernah Senja mendapatkan pria yang sesempurna Dirga. Mengingat siapa dirinya dan segala kekurangannya. Namun Dirgantara dengan segala cintanya mau menerima Senja dan menutup mata untuk segala perbedaan yang ada.


Sungguh tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain di cintai oleh seseorang dengan setulus-tulusnya.


Tangan Senja bergerak dari pipi turun ke bibir. Menyentuh bibir super seksi itu dengan telunjuknya.


"Masih mau lagi? "


Senja terlonjak kaget saat bibir seksi itu bergerak dan mengucapkan sesuatu. Lebih terkejut lagi karena ternyata Dirga sudah bangun dan sedang memperhatikan tingkah konyolnya.


"Hah, tidak. " Senja menggeleng cepat lalu membalikkan badannya menutupi rona merah di pipinya.


Tapi tangan Dirga tak tinggal diam. Ia mencegah Senja yang sedang berusaha menjauh. Pria itu langsung memeluk pinggang Senja dan mendekatkan nya kembali dalam pelukannya.


"Kenapa menjauh sayang? " bisiknya sambil menelusup di antara leher dan pundak Senja.


"Eum, aku-aku tidak ingin lagi, Dirga. Aku hanya---"


"Kalau aku yang ingin lagi bagaimana? "


Mati kutu Senja mendengar pertanyaan itu. Sekali lagi, Dirga memang benar-benar membuatnya gila.


"Sudah siang, ayo bangun. " Ketimbang menanggapi ke-konyolan Dirga, Senja lebih memilih mengganti topik. Yah setidaknya agar ia bisa menghindar dari kegilaan Dirga.


"Tidak masalah. Aku kan libur hari ini sampai beberapa hari kedepan. Jadi seluruh waktu ku hanya akan ku habiskan bersamamu. Dan tenaga ku juga pastinya. "


Senja makin bersemu mendengar itu. Tapi sumpah demi apapun, ini masih terlalu pagi untuk memulainya. Bukankah setidaknya mereka harus membersihkan diri dulu.


"Dirgaa, ayolah. Jangan menggodaku terus."


Dirga yang masih berada di antara ceruk leher Senja tersenyum. Menyenangkan sekali menggoda Senja pagi-pagi begini. Dan lebih menyenangkan lagi karena mulai sekarang setiap ia membuka mata yang pertama akan di lihatnya adalah gadis bermata merah kecintaannya. Semua hal itu seolah memberi semangat yang baru buat Dirga.


Pria itu mengangkat wajahnya kemudian menatap wajah ayu di depannya.


"Aku tidak menggoda mu. Aku memang menginginkan mu setiap saat. " Menatap Senja dengan pandangan serius.


"Tapi seperti yang pernah ku ucapkan, aku tidak akan memaksamu. Meski rasanya sudah di ubun-ubun sekalipun... jadi tenanglah.. " Telunjuknya bergerak mencolek hidup lancip Senja. Gadis yang baru resmi jadi istrinya itu jadi tak tahu harus berkata apa. Tapi yang pasti hatinya sangat berbunga-bunga saat ini.


Mengekspresikan kebahagiaan nya Senja memilih menenggelamkan diri di dada bidang suaminya. Dan langsung di sambut usapan kepala oleh Dirga.


"Oh ya sayang. Kau mau bulan madu kemana?" Kedua sejoli itu sepertinya masih enggan untuk beranjak. Meski sudah cukup lama terjaga namun masih belum ingin melepaskan diri satu sama lain.

__ADS_1


"Aku belum ada rencana, " jawab Senja sambil tangannya mengusap-usap dada Dirga yang sedikit berbulu.


"Ibu masih sakit. Jadi mungkin aku akan menunggu sampai ibu sehat dulu. "


"Baiklah, aku setuju. " Dirga mengangguk-angguk


"Kita tunggu sampai ibumu sehat. Setelah itu aku akan membawamu kemanapun kau mau, bahkan ke ujung dunia sekalipun. "


Senja tersenyum dalam dekapan Dirga. Pria ini memang ahlinya merangkai kata. Tapi percayalah, dia hanya mengatakan itu di depan Senja. Yah setidaknya setelah mengenal Senja, Dirga tidak pernah berniat untuk mengungkapkan keahliannya merangkai kata di depan gadis lain.


"Hmm, sekarang ayo bangun. Aku akan membuatkan sarapan dan ginseng hangat untukmu. "


"Benarkah? kau bisa membuatnya?"


"Tentu, ayo cepat bangun. " Senja beranjak dan hendak berdiri. Namun geraknya terhenti begitu menyadari kalau dia masih dalam keadaan tanpa busana. Posisinya yang sudah duduk membuat kedua bukit kembarnya terekspos sempurna. Dan pemandangan indah itu tersaji tepat di depan mata Dirga. Membuat pria itu sontak membulatkan matanya.


Senja yang gugup langsung kembali membenamkan diri di dada Dirga. Lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Gadis itu malu setengah mati. Namun Dirga justru tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Senja, senja, " gumamnya sambil tangannya mengacak puncak kepala gadis itu. Percayalah, saat ini wajah Senja bahkan lebih merah dari kepiting rebus. Meski tadi malam Dirga sudah melihatnya dan bahkan sudah merasainya. Tapi tetap saja Senja merasa belum terbiasa. Ia masih sangat malu.


****


Berbeda dengan dua sejoli yang sedang di mabuk cinta. Di pesisir pantai. Seorang gadis tampak muram sambil menatap lautan. Raut sendunya tak bisa di tutupi meski sebagian wajahnya tertutup masker.


Berulang kali gadis itu menghela nafasnya seolah sedang melebur sesak yang luar biasa menghimpit dadanya.


"Pagi, cantik? "


"Aku sudah tidak cantik lagi, " sahut gadis itu. Getar kekecewaan jelas terdengar dari suaranya.


"Tidak masalah. Yang penting sudah bisa berdamai dengan kenyataan. " Leon melirik pada Queen dan gadis itupun melakukan hal yang sama. Sedikit tersinggung dengan sarkas Leon. Tapi meski begitu ia tetap membenarkan ucapan pria itu. Dulu ia sangat cantik tapi matanya buta untuk bisa melihat kenyataan.


Mungkin dengan cara inilah hatinya menjadi tersadar bahwa sesuatu yang bukan lagi milik kita, mau kita paksakan seperti apa pun, tetap tidak akan mampu membuatnya kembali.


Queen tersenyum tipis dari balik maskernya.


Leon sengaja menghubungi Queen dan mengajaknya bertemu di pantai pagi ini. Siang nanti. Ia berencana akan kembali ke negrinya. Dan entah kenapa sebelum pergi ia ingin terlebih dahulu menemui Queen. Yah hanya untuk sekedar tahu bagaimana keadaannya.


"Mudah-mudahan Sudah, " jawab Queen mantap. Kendati jauh di sudut hatinya masih ada saja perasaan tak terima, tapi ia selalu mencoba membunuh perasaan bodoh itu.


"Baguslah. Lagipula aku tidak ingin punya teman yang lemah hatinya. "


Lagi-lagi Queen tersenyum dan lagi-lagi membenarkan ucapan Leon. Dia tidak boleh lemah. Takdir memang boleh menghancur leburkan kita, tapi kita juga selalu punya alasan untuk bangkit.


"Kapan kau pulang?" tanya Queen pada sahabat tampannya itu.


"Nanti siang, "


"Boleh aku ikut? "


"Hah? " Leon hampir tidak percaya Queen mengatakan itu. Dulu saat ia kembali ke negrinya Queen juga pernah mengatakan itu. Leon pikir itu hanya bercanda. Tapi sekarang gadis itu kembali mengatakan hal yang sama.

__ADS_1


"Dokter bilang, lukaku bisa di sembuhkan melalui beberapa kali operasi. Tapi teknologi disini belum begitu memadai. Jadi aku ingin melakukan pengobatan di negrimu. Sepertinya disana jauh lebih bagus. "


Leon tersenyum. Ia mengutuk kebodohannya yang sempat berpikir kalau Queen ingin ikut karena dirinya, tapi ternyata tidak. Gadis itu hanya ingin melakukan pengobatan. Tidak lebih, tapi sepertinya dugaan Leon salah karena tujuan Queen bukan hanya itu.


Selain ingin mengobati luka di wajahnya. Queen juga sangat ingin mengobati luka hatinya. ingin menumbuhkan kembali sayapnya yang sudah patah. Dan Leon adalah orang yang di anggap nya bisa membantu.


Bukan bermaksud menjadikan Leon sebagai pelarian. Tapi Queen benar-benar ingin kembali membuka hatinya untuk orang lain. Tidak ingin terus terpuruk dalam luka. Dan lagi, entah kenapa Queen merasa Leon memberikan sinyal yang sama. Mudah-mudahan ia tidak salah menduga.


"Boleh ku lihat? "


Queen langsung menggeleng.


"Tidak. Kau pasti akan takut melihatnya. Wajahku seperti monster. "


"Queen ayolah, mana ada monster secantik mu." Desak Leon yang entah kenapa begitu penasaran dengan wajah Queen sekarang.


"Tapi, Leon---"


"Percayalah, seperti apapun wajahmu. Aku akan tetap menjadi temanmu. "


Mendengar itu hati Queen luruh. Perlahan ia membuka masker yang menutup hampir sebagian wajahnya.


Bekas luka cakaran yang cukup besar tercetak di kedua pipi gadis itu. Kulit dari bekas luka nya menonjol cukup besar sehingga membuat kesan seperti codet tapi berukuran lebih besar dan banyak. Benar Queen jadi nampak berbeda. Tapi untuk mengatakan kalau dia seperti monster tentu itu sangat berlebihan.


Leon memperhatikan luka itu dengan seksama. Meski sempat terkejut tapi ia sebisa mungkin menyembunyikannya. Ia tentu tidak ingin Queen jadi berkecil hati karenanya.


"Cukup besar lukanya, tapi kau tetap terlihat cantik. "


"Berhenti menghiburku. " Queen memakai kembali maskernya. Tak ingin ada orang lain yang melihat wajah seramnya. Cukup Leon saja.


"Aku bukan anak kecil yang mudah di tipu."


Leonil kembali tersenyum. Sebenarnya ia tidak menipu. Mungkin hanya sedikit kurang jujur.


"Tapi setidaknya kau selamat. Itu sudah lebih dari cukup kan? "


Queen menghela nafas dalam kemudian mengangguk. Keduanya sepakat untuk itu. Tak perlu mengutuki keadaan. Karena seburuk apapun keadaan setidaknya kita masih di beri nafas untuk bisa menghadapinya atau setidaknya menerimanya.


"Jadi bagaimana, apa aku boleh ikut? " Gadis itu menatap Leon sambil tersenyum. Meski tertutup masker, tapi dari tatap matanya Leon tahu Queen sedang tersenyum hangat padanya.


"Tentu, aku bahkan akan menemani mu selama pengobatan. "


"Benarkah? "


"Hmm, " Leon mengangguk pasti.


"Kau memang sahabat terbaikku. " Queen mengacungkan ibu jarinya sebagai pujian sekaligus ucapan terimakasih nya. Sebuah gerakan tangan yang mengundang senyum dari pria tampan di depannya.


"Kalau begitu kita pergi sekarang. Kau juga harus bersiap kan? " ajak Leon yang langsung di tanggapi anggukan oleh Queen.


"Ayo," Leon berjalan terlebih dahulu dan Queen langsung mensejajari langkahnya. Leon tersenyum melihat gadis di sampingnya. Ia senang Queen sudah kembali menemukan semangat hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2