
Sudah sepekan semenjak Dirga memutuskan untuk melupakan Senja. Meski tempo hari saat ia melihat Senja di pantai hatinya sempat goyah, namun pada akhirnya ia kembali pada keputusannya untuk menjauhi gadis itu. Bahkan meski Senja masih kerap mengirim pesan padanya, tapi Dirga selalu mengabaikannya.
Jangan di tanya bagaimana rasanya. Dirga tersiksa bukan main. Bayangan Senja terus saja memenuhi ruang pikirnya. Ia tak pernah bisa melupakan gadis itu bahkan meski dalam keadaan sesibuk apapun.
Dirga seolah melihat Senja di mana-mana, tersenyum manis dengan mata kemerahannya. Dan kalau sudah begitu pria yang hatinya tengah bimbang itu hanya bisa menghela nafasnya atau malah terkadang mengacak-acak puncak kepalanya sendiri dengan harapan bisa mengusir bayangan gadis itu dari benaknya.
Seperti sore ini saat ia baru pulang dari kantor dan membuka pintu rumahnya. Ia melihat dengan jelas Senja sedang duduk di sofa ruang tamunya. Gadis itu kemudian berdiri sambil tersenyum seolah tengah menyambut kekasihnya pulang.
"Senja.. "
Antara sadar atau tidak Dirga menyebut nama itu. Hatinya seolah juga senang sekali melihat Senja menyambutnya pulang.
Perlahan pria itu berjalan mendekat. Namun saat jarak mereka semakin dekat, Senja justru bangkit lalu beranjak masuk ke ruang tengah.
"Senja kau mau kemana? "
Dirga berusaha mengejar, namun saat ia sampai di ruang tengah Senja sudah tidak ada. Gadis itu menghilang begitu saja seolah ruangan ini telah menelannya.
"Senja, kau dimana?" Dirga mengitari ruang tengahnya mencari gadis itu. Ia bahkan sampai mencari ke dapur, tapi kenyataannya Senja memang sudah tidak ada.
"Senjaaa..! " teriak nya saat menyadari kalau yang tadi di lihatnya hanyalah bayangan atau halusinasinya semata.
Padahal ia sudah sering kali tertipu oleh halusinasinya sendiri, tetapi kali ini pun ia masih saja tertipu. Seolah melihat Senja padahal sebenarnya tidak ada.
Dirga terduduk di salah satu kursi ruang makannya. Ia kemudian menundukan kepalanya diatas meja dengan menggunakan lengan tangan sebagai alasnya. Pria itu nampak sangat frustasi
"Senja, aku mohon berhenti melakukan ini padaku. Kau benar-benar menyiksaku, " gumamnya lirih atau lebih mirip seperti ratapan.
Entahlah, Dirga tidak tahu apa yang terjadi padanya. Dia sudah memutuskan untuk menjauhi gadis itu, tapi kenapa tetap tak pernah bisa melupakan nya.
Apa mungkin karena dia sudah terlanjur cinta padanya sehingga sangat sulit untuk melupakannya. Demi Tuhan Dirgantara Sanjaya tak pernah merasakan hal seperti ini. Ia seperti orang kurang waras yang kehilangan kesadarannya. Semakin ia berusaha melupakan justru Senja semakin lekat dalam ingatan.
Drrtt, drrtt..
Getar ponsel di saku jasnya mengejutkan pria itu, pria yang seperti sedang kehilangan arah.
Dirga mendesah. Itu pasti dari Senja. Gadis yang baru saja menghantuinya melalui bayangan kini coba kembali mengusiknya lewat pesan.
Namun ternyata dugaan Dirga salah. Pesan itu bukan dari Senja melainkan dari Arya. Sepupunya itu mengirim sebuah foto.
'Aku tak sengaja mengambil foto Senja,' tulis Arya pada deskripsinya.
Dirgantara tercengang. Apa maksud nya Arya mengirim foto Senja padanya
'Coba perhatikan wajahnya, sepertinya dia sedang sangat sedih. Pasti kau kan yang sudah membuatnya sedih? ' tulis Arya lagi
Dirga memperbesar foto Senja. Ia memperhatikan wajah itu dalam-dalam. Wajah cantik dengan rambut panjang terurau dan mata kemerahan. Cantik sekali.
Namun benar yang di bilang Arya, di balik wajah cantiknya terpancar raut luka yang mendalam. Dirga bisa melihat dengan jelas rona luka di wajah Senja.
Dirga meraba foto itu.
__ADS_1
Gadis yang sebelumnya tak pernah jatuh cinta dan bahkan tidak mengenal pria. Namun saat untuk pertama kali merasakannya, hatinya sudah langsung di patahkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Sebenarnya Dirga bukannya tidak mau bertanggung jawab atas luka Senja. Sebab dia juga merasakan luka yang sama menyakitkan nya. Hanya saja pria itu tak berani mengambil sikap. Ia seolah takut pada kenyataan.
'Arya benar. Akulah yang sudah membuat gadis ini sedih. '
Bathinnya menyalahkan diri sendiri.
Hati Dirga seperti tersayat-sayat melihat wajah sendu Senja. Wajah cantik yang seharusnya menjadi miliknya.
"Senja, " ucapnya lirih. Tiba-tiba ia merasa sesak tak terkira. Seperti ada bongkahan baru besar yang menghimpit dadanya.
'Kenapa aku harus menjauhinya kalau kenyataannya aku tak mampu? '
'Kenapa aku harus melupakan nya kalau kenyataannya aku sangat mencintainya? '
'Apa karena dia bukan manusia? '
'Lalu kenapa kalau dia bukan anak manusia? '
'Apa hanya manusia saja yang boleh jatuh cinta?
'Apa makhluk lain tidak boleh? '
'Lagipula Senja menjalani hidupnya seperti manusia biasa, meskipun sedikit berbeda.'
'Lalu apa masalahnya? '
'Kenapa aku begitu takut menerima kenyataan kalau dia itu berbeda? '
'Rasanya saat ini aku bahkan hampir gila karenanya. '
'Tapi kenapa aku selaalu mengabaikan nya? '
Dirga seperti sedang menginterogasi dirinya sendiri. Ia tak tau apa yang sebenarnya ia lakukan selama ini. Menjauhi Senja padahal dia sangat, sangat mencintainya. Dan lihatlah, dia bahkan sudah membuat gadis itu terluka karenanya.
Dirga memperhatikan wajah Senja sekali lagi kemudian ia bangkit dari duduknya.
Dirga sudah benar-benar tak sanggup lagi kalau harus terus menyiksa diri begini. Baru saja dia sudah memutuskan kalau dia akan menerima Senja tak perduli siapapun dia.
Setelah bertekad begitu, Dirga langsung tancap gas meluncur ke pantai. Ia tahu gadis itu pasti disana sekarang. Apalagi melihat background foto yang di kirim Arya tadi, ia jadi semakin yakin.
Sampai di pantai Dirgantara bertemu dengan Arya yang sepertinya sudah hendak keluar dari area pantai.
"Dimana dia? " tanyanya tanpa basa-basi. Seolah tak sabar ingin segera bertemu Senja.
"Kalau tidak salah aku melihatnya ke arah sana."
Arya menunjuk kearah deretan pohon nyiur yang berjejer rapi di sepanjang pesisir pantai.
"Baiklah, aku akan cari kesana."
__ADS_1
"Hmm, pergilah. Jangan mengecewakan nya, dia masih terlalu polos untuk disakiti. "
Dirga mengangguk pasti kemudian langsung berlari kearah yang di maksud Arya.
Dirga menyisir satu persatu deretan nyiur yang berjejer. Matanya jeli melihat apakah sosok Senja ada dia bawah salah satu pohon. Namun sampai beberapa pohon yang ia lewati. Netranya tak juga menangkap sosok Senja
Pria itu mulai gusar. Ia merasa harus bertemu Senja hari ini juga. Untung saja pada deretan pohon paling ujung Dirga melihat sosok yang di carinya. Gadis itu sedang termenung dengan tatapan kosong.
"Senja..! " panggilnya dari jarak beberpa meter.
Senja terlonjak dan langsung menoleh.
"Dirga.." Seperti tak percaya dia melihat pria itu berjalan cepat ke arahnya.
Begitu sampai di hadapan Senja, Dirga langsung menghambur memeluk gadis itu. Memeluknya dengan sangat erat.
Senja makin terkejut dengan aksi spontan Dirga. Tubuhnya gemetar dalam pelukan Dirga. Selain karena terkejut juga karena tubuh indahnya memang tak pernah tersentuh siapapun.
Dirga tentu bisa merasakan getaran itu. Getaran yang sama yang pernah dirasakannya saat ia pertama kali menyentuh tangan Senja.
Getaran yang membuatnya semakin yakin kalau Senja memang gadis polos yang tak pernah tersentuh pria manapun.
"Dirga ada apa? " Saat sudah mulai bisa menguasai diri, Senja memberanikan diri untuk bertanya.
"Maafkan aku," Bukannya menjawab Dirga malah justru meminta maaf.
"Maafkan aku karena sempat mengabaikan mu. Maafkan aku karena berusaha menjauhimu. Maafkan aku karena sempat tak bisa menerimamu"
Senja melepaskan diri dari pelukan Dirga. Ucapan beruntun dari pria itu memantik tanya di hatinya.
"Dirga, apa itu berarti----"
"Hmm, " Dirga langsung mengangguk sebelum Senja menyelesaikan kalimatnya.
"Itu berarti sekarang kau benar-benar resmi jadi kekasihku. "
"Walaupun aku bukan----"
"Lupakan." Lagi-lagi Dirga memenggal ucapan Senja.
"Aku tak peduli siapapun kau dan dari mana kau berasal, yang jelas aku sangat mencintaimu dan aku ingin selalu denganmu. "
Senja tertegun. Ucapan Dirga seperti mimpi baginya.
"Be-benarkah? "
Dirga mengangguk pasti.
"Aku tidak akan mempermasalahkan soal jati dirimu. Aku hanya akan mencintaimu. "
Senja tak mampu lagi berkata-kata. Perasaan bahagia yang tak terkira menguasai hati dan pikirannya. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca. Nampaknya gadis itu begitu emosianal menerima kenyataan yang sungguh di luar ekspektasi nya.
__ADS_1
Dirga tersenyum melihat Senja yang terdiam dengan rasa bahagianya. Tak di pungkiri, ia juga sangat bahagia saat ini. Juga sekaligus merasa lega seolah satu beban berat yang selama ini menyiksanya dan bahkan membuatnya sulit bernafas, kini telah terurai dengan indah.
Mengekspresikan rasa bahagianya Dirga kembali menarik Senja dalam peluknya. Meyakinkan gadis itu bahkan apa yang baru saja terjadi bukanlah mimpi. Getar tubuh dan juga suhu dingin gadis itu tak di pedulikannya lagi. Hal itu justru semakin membuatnya mempererat pelukan.