
Merasa sesak di peluk terlalu lama, Senja akhirnya melepaskan diri dari dekapan Dirga. Mereka kemudian memilih duduk di bawah kursi kayu di bawah batang nyiur.
"Kau mau minum?" Melihat Senja yang masih di landa gugup pasca adegan romantic mereka, Dirga berinisiatif menawarkan minuman, sekedar untuk menormalkan kembali kondisi tubuh Senja supaya tak lagi gemetar.
"Tidak, aku tidak haus, aku hanya---"
"Kenapa? "
Senja menggeleng, tak berani melanjutkan kalimatnya.
"Kau gugup? "
"Hmm." Senja mengangguk. Kali ini tak hanya matanya yang kemerahan. Wajah cantiknya juga nampak bersemu merah.
"A-aku tidak pernah bersentuhan dengan pria manapun. "
"Aku tahu. " Dirga tersenyum.
"Dan aku senang sekali menjadi pria pertama yang menyentuhmu. "
Senja mendongak memperlihatkan ekspresi tersipu yang membuat Dirga langsung menelan ludahnya. Geram bukan kepalang.
Senja yang dulu terlihat sangat garang dan menakutkan, siapa sangka kini berubah jadi gadis manis yang menggemaskan.
Tak tahan hanya melihat, Dirga memberanikan diri meraih tangan Senja lalu menggenggamnya erat. Senja terlihat makin gugup, tapi ia tak berusaha menepis.
"Tidak apa, Senja. Aku hanya ingin menyentuh tanganmu. Tidak akan lebih dari itu. "
Senja mengangguk meski hatinya masih saja gugup.
"oh ya, kenapa kau memilih tempat sejauh ini untuk termenung? aku sampai kesulitan mencarimu."
Dirga memperhatikan tempat dia berada dan tempat di mana biasanya orang ramai berkunjung. Jaraknya cukup jauh, sekitar seratus meter. Tempat ini juga sepertinya jarang di datangi orang.
"Aku memang sengaja kesini. Ini adalah tempat favorit Ayah dan ibuku dulu sebelum mereka menikah."
"Ooh, jadi ini tempat kencan mereka dulu?"
"Ya begitulah. "
Dirga mengangguk-angguk. Menurutnya tempat ini memang cocok untuk tempat berkencan, karena letaknya yang jauh dari keramaian.
"Apa kedepannya tempat ini juga akan jadi tempat favorit kita? "
"Hah..? aku tidak bilang begitu." Buru-buru Senja menggeleng dengan ekspresi gugup yang langsung tercipta membuat pria di depannya tak kuasa menahan senyum
"Aku hanya bercanda, Senja ... Tapi kalau kau memang suka tempat ini ya apa salahnya kan? "
__ADS_1
Tak berani menjawab Senja lebih memilih mengalihkan pandangan nya ke lautan lepas. Membuang gugup yang selalu saja tidak bisa di ajak kerjasama.
"Aku suka setiap sudut pantai ini, " ucapnya kemudian setelah rasa gugupnya sedikit berkurang.
"Bagiku semuanya indah, semuanya bagus, karena sejak kecil pantai adalah rumah kedua bagiku. Aku tidak pernah melewatkan satu haripun tanpa ke pantai, kecuali---"
"Kecuali..? "
Kalimat menggantung Senja tentu saja memantik penasaran lawan bicaranya.
Senja menatap Dirga, seperti ragu akan bercerita atau tidak. Selalu saja dia begitu setiap kesulitan menjelaskan sesuatu.
"Tidak perlu di jawab kalau kau memang tidak siap. " Dan Dirga juga selalu tanggap setiap Senja menunjukan ekspresi bingungnya.
"Akan ku ceritakan ... Tapi aku berharap kau bisa menerima segala keanehan ku yang mungkin untuk kedepannya akan semakin terlihat."
Dirgantara tersenyum seramah mungkin.
"Aku sudah memutuskan untuk menerimamu. Jadi apapun yang akan terjadi nanti, aku akan tetap menerimamu. "
Ucapan tulus Dirga mengikis keraguan di hati Senja. Toh Dirga sekarang sudah jadi kekasihnya, jadi apa salahnya kalau dia tahu.
"Aku tidak akan kepantai kalau aku sedang sakit"
"Ooh, tentu saja. Orang sakit pasti akan lebih nyaman beristirahat di rumah. " Dirga cukup bisa memaklumi alasan Senja, namun sayang bukan itu yang di maksud gadis itu.
"Maksudmu? "
"Lazimnya manusia kalau sakit pasti akan beristirahat di rumah ataupun rumah sakit ... Tapi karena aku bukan sepenuhnya manusia, maka cara menyembuhkan sakitku pun berbeda"
Pria tampan di depan Senja belum begitu paham arah pembicaraan Senja. Ia memilih diam membiarkan Senja melanjutkan penjelasanya.
"Kalau aku sakit maka aku harus bersemedi. "
"Bersemedi maksudmu bertapa? "
"Hmm, " angguk Senja.
"Aku harus bersemedi di tempat yang tidak terjangkau oleh manusia. "
"Dimana? "
Senja menatap Dirga sesaat sebelum netranya tertuju ke lautan lepas.
"Disana, di bawah laut. "
"Hah, bawah laut? memangnya kau tidak akan tenggelam ... dan memangnya kau tahan berlama-lama di dalam laut? "
__ADS_1
Senja tersenyum, berusaha memaklumi keheranan Dirga. Dia manusia biasa. Hal-hal seperti ini tentu terdengar aneh baginya.
"Kan sudah ku bilang tadi, pantai atau laut ini merupakan rumah kedua bagiku. Aku adalah cucu penguasa laut ini,"
Yang di ajak bicara semakin melongo tidak mengerti. Tapi untungnya tak lama kemudian Dirga tersadar kalau Senja kekasihnya memang bukan manusia sepertinya. Hal-hal aneh seperti itu harusnya sudah tak lagi mengejutkannya.
"Cucu penguasa laut. " Dirga mengulang kalimat Senja.
"Baiklah, aku akan berusaha mengerti. " Dirga mengangguk-angguk. Benar yang di bilang Senja tadi, dia akan semakin melihat kejanggalan gadis cantik di depannya.
"Tapi ada yang mau ku tanyakan, Senja. Itupun kalau kau tidak keberatan. "
"Tentu, tanyakan saja. " Meski tak tahu apa yang akan di tanya akan Dirga tapi Senja bertekad akan memjawab kalau memang dia bisa
"Kalau kau benar bukan anak manusia, lalu siapa di antara kedua orang tuamu yang bukan manusia ... atau mungkin keduanya? "
Senja tak menunjukan ekspresi terkejut atas pertanyaan kekasihnya. Karena menurutnya hal itu wajar saja di tanyakan.
"Tidak, hanya salah satu saja. Aku ini setengah manusia karena terlahir dari salah satu orang tua yang bukan manusia. "
"Siapa? "
"Menurutmu? " meminta Dirga menebaknya sendiri.
"Eum aku tak yakin, tapi kalau aku boleh menebak aku rasa itu Ayahmu. " Menurut Dirga di bandingkan sang ibu, Ayahnya Senja jauh lebih terlihat aneh dan menyeramkan
"Dan jawabanmu benar, " sahut Senja tak ingin membuat Dirga penasaran.
"Ayahku adalah putra penguasa laut ini ... Jadi di dasar laut ini ada sebuah kerajaan yang tak terlihat oleh kasat mata ... Nenek ku adalah penguasanya, dan seperti yang ku bilang tadi, aku adalah cucu dari penguasa laut. "
Dirga tercengang dengan rasa heran yang kembali bersarang, meski sudah di coba mengerti tapi tetap saja semua yang di jelaskan Senja tadi sulit di mengerti. Ia bahkan sebelumnya tak pernah percaya hal-hal tak masuk akal seperti yang di bicarakan Senja.
"Kau bingung? "
Melihat ekspreai Dirga, Senja juga tahu kalau pria itu masih kesulitan untuk bisa mengerti.
"Hmm aku hanya tidak menyangka kalau hal-hal seperti yang kau bilang tadi itu benar-benar ada," jawabnya di sela-sela keheranannya.
"Tak masalah, lambat laun kau pasti akan semakin mengerti. Semakin dekat denganku kau pasti akan semakin banyak tahu ... tapi seperti kataku tadi, aku berharap kau tetap bisa menerimanya. "
"Huffh.. " Dirga menghela nafasnya. Ini baru permulaan dan ia sudah di buat terheran-heran tidak karuan. Akh tapi peduli setan dengan semua keanehan Senja, yang jelas dia tetap mencintainya.
Dirga tersenyum lalu meraih kembali tangan Senja. Tangan dingin yang memurutnya juga merupakan salah satu keanehan.
"Jujur saja setiap fakta baru tentangmu selalu sukses membuatku terkejut. Tapi meski begitu aku senang karena aku jadi semakin banyak tahu tentangmu ... dan seperti yang aku bilang juga tadi, aku akan menerimamu lengkap dengan segala keanehanmu. "
Pengakuan tulus Dirga langsung membuat Senja tersenyum senang, Dan yang lebih senang lagi tentu pria di depannya. Ia bahkan refleks menarik tangan Senja dan mengecupnya lembut.
__ADS_1
Untung saja pemilik tangan tidak murka meski harus gemetar menahan gugup yang selalu saja melanda.