Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Hanya pertanda


__ADS_3

Senja berjalan terhuyung-huyung menuju daratan. Badannya terasa lemah sekali, kepalanya juga seperti berkunang-kunang.


Sambil memegangi papan selancar nya gadis itu berjalan ke permukaan.


Dirga dan Arya yang masih asyik mengobrol tak menyadari kalau Senja berjalan sempoyongan. Mereka melihat kalau gadis itu sudah berjalan di bibir pantai, tapi tidak cukup melihat gestur Senja yang seperti orang mabuk.


Saat Senja merasa tak kuasa lagi menopang badannya lalu kemudian ambruk ke bumi, barulah Dirga melihatnya.


"Senja.. " Pria itu langsung bangkit di ikuti Arya yang juga melihat.


"Kenapa dia, Dirga? "


"Entahlah, sepertinya terjatuh. " Dirga dan Arya gegas berlari menemui Senja.


"Senja kau kenapa? " Panik Dirga begitu sampai di hadapan Senja dan melihat gadis itu terkulai lemah. Tidak pingsan memang, tapi terlihat begitu lemas.


Senja tak menjawab tapi ekspresi wajahnya yang seperti sedang menahan sakit membuat Dirga kian khawatir.


"Senja kau baik-baik saja kan? " Dirga menopang tubuh Senja dari belakang.


Arya yang kebetulan juga berada disitu cukup heran melihat penampakan walah Senja yang pucat pasi dengan mata yang kian memerah.


"Kita bawa ke rumah sakit saja, Dirga. Aku khawatir dia kenapa-napa. "


Lupa akan siapa kekasihnya membuat Dirga hampir saja menyetujui usulan Arya. Untung saja Senja di antara rasa sakitnya mencoba menolak.


"Tidak perlu, a-aku hanya lemas saja. " Lirih gadis itu sambil meringis.


Rupanya tak hanya Arya yang di buat heran dengan penampakan Senja, beberapa orang yang sempat melihat pun terheran-heran.


"Kenapa dia, kenapa wajahnya seperti itu? "


"Benar, apa dia habis tenggelam? "


Pertanyaan dari orang-orang itu membuat Senja langsung menyembunyikan wajahnya di dada Dirga.


"Suruh mereka pergi, Dirga. Aku tidak ingin mereka melihat wajahku yang seperti ini, " bisik Senja tepat di telinga Dirga supaya yang lain tidak mendengar.


Dirgantara yang cukup sadar siapa kekasihnya langsung memeluk kepala Senja, melindunginya dari tatapan aneh orang-orang.


"Kau tenang saja, aku akan melindungimu, " Bisiknya lirih sambil terus memegangi kepala Senja.


"Dia baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir. Dia hanya kram saat berenang tadi. Sebentar lagi juga membaik. " Secara tidak langsung Dirga mengusir orang-orang yang mengerumini Senja. Dan mereka pun sepertinya cukup paham maksud Dirga, terbukti setelah Dirga berkata begitu mereka serempak membubarkan diri dan hanya menyisakan Dirga dan Arya.


"Arya, tolong bawakan papan selancar Senja, aku akan membawanya ke sana. " Dirga menunjuk salah satu gazebo dengan kepalanya. Kemudian memapah Senja berjalan sampa gazebo.


"Kau benar-benar merasa tidak perlu ke rumah sakit Senja? " Arya kembali menunjukan kekhawatiran nya. Maklumlah ia baru kali ini melihat perubahan wajah Senja yang cukup signifikan, dan jujur dia bahkan sedikit ngeri tadi.

__ADS_1


Berbeda dengan Dirga, meski iapun baru pertama melihat perwujudan mengerikan Senja, namun pria itu sadar siapa kekasihnya.


Senja menggelengkan kepalanya.


"Aku benar-benar tidak apa-apa Arya ... Dirga bantu aku ke mobil, aku mau ganti baju di mobil saja. "


Tanpa memprotes sedikitpun, Dirga langsung memenuhi permintaan Senja. Ia kembali memapah Senja sampai ke mobil dan membiarkan gadis itu mengganti pakaiannya. Sementara ia dan Arya menunggu di luar.


"Apa dia sering begitu, Dirga? " Masih dengan keheranan akan penampakan Senja. Meski ia cukup mengenal Senja, tapi Arya memang belum pernah melihat gadis itu berubah wujud begitu.


"Hmm tidak juga, hanya saat sedang kelelahan ataupun kesakitan biasanya wajahnya memang


akan seperti itu. Yah mungkin faktor genetik.


"Begitukah? "


"Yah, setauku begitu, " Dirga mengangguk mengiyakan meski ia sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin dengan jawabannya, tapi ketimbang Arya jadi berpikiran macam-macam ia terpaksa mengarang jawaban.


Untunglah Arya cukup bisa memahami dan tak lagi bertanya. Pria itu juga sejak awal mengira kalau Senja punya kelainan genetik sehingga membuatnya jadi sedikit berbeda. Dan sejauh ini ia cukup bisa memaklumi itu.


Merasa tidak di perlukan lagi di situ dan karena ia juga memang ada urusan lai, Arya akhirnya memilih undur diri.


"Ya sudahlah kalau memang dia baik-baik saja, aku mau pergi dulu. Aku ada janji dengan ibuku," Pamit Arya sembari melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya.


"Hmm, " angguk Dirga


"Jaga dia baik-baik, dia itu gadis langka, " Arya berlalu sambil menepuk-nepuk pundak Dirga. Pria itu berkata seolah-olah Senja itu adiknya. Tapi tidak masalah, kedua orang tua mereka berteman cukup dekat dulu, jadi wajar kalau dia merasa khawatir pada Senja. Dirga cukup bisa memahami itu, pria itu bahkan mengurai senyum tipis menanggapi amanah sepupunya.


Selepas Arya pergi Senja nampak membuka pintu mobilnya. Gadis itu sudah selesai berganti pakaian.


"Sudah siap? " Dirga masuk lalu duduk disamping Senja di kursi belakang.


"Sudah, bisakah kau antar aku pulang. Aku lelah sekali. " Gadis itu mengeluh sambil menyandarkan kepalanya di jok mobil.


"Tentu, aku memang sengaja melarangmu bawa mobil supaya aku bisa mengantarmu. "


Tak menjawab, Senja hanya mengangguk lemah. Rasa tidak karu-karuan yang di rasanya membuat ia enggan banyak bicara. Dan hal itu cukup bisa di lihat oleh pria tampan di sampingnya.


"Sebenarnya kau kenapa, Senja. Kau terlihat begitu kesakitan. " Tangan Dirga bergerak mengusap kening Senja. Iba melihat gadis itu begitu tersiksa.


"Entahlah, aku juga tidak pasti. Tadi sat sedang berselancar tiba-tiba aku merasa berkunang-kunang. Aku jadi tidak stabil lalu jatuh. "


"Apa sebelumnya kau merasa tidak enak badan?"


"Tidak juga, tadi aku baik-baik saja, tapi sekarang badanku sakit semua dan dadaku rasanya seperti terbakar. "


"Benarkah? " Penuturan Senja membuat Dirga jadi makin khawatir. Ia memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama dan seketika ingatannya langsung tertuju pada Bayu samudra saat hendak pergi dulu. Ia juga merasa kesakitan seperti Senja sekarang. Atau jangan-jangan---

__ADS_1


"Sepertinya tak lama lagi aku akan pergi, Dirga."


Deg ! Ekpresi wajah Dirga langsung berubah. Apa yang baru saja terlintas di benaknya langsung di benarkan oleh Senja, seolah gadis itu tahu apa yang sangat ia khawatirkan.


"Tidak, Senja. Jangan secepat ini. " Dirga menggelengkan kepalanya sambil tangannya menggenggam erat tangan Senja yang mendadak jadi sangat dingin.


Dalam sakitnya Senja masih mampu sedikit tersenyum. Raut panik Dirga membuatnya bahagia sekaligus sedih.


"Tentu saja tidak sekarang. Aku masih punya waktu beberapa hari. Ini hanya pertanda, Dirga. Kalau sudah mulai kesakitan begini itu artinya energiku sudah mulai menipis dan itu berarti aku harus segera pergi."


Dirga tak bergeming mendengar penjelasan Senja. Ia tiba-tiba merasa sangat takut. Takut kalau gadis bermata merah itu akan meninggalkannya.


"Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkan sakitmu? Aku kau benar-benar harus pergi?"


Lagi-lagi sambil menahan sakit Senja kembali tersenyum. Kali ini bahkan mengulurkan tangannya mengusap pipi Dirga.


"Tidak ada, itu satu-satunya cara. Kalau aku tidak segera bersemedi, maka aku akan benar-benar mati."


Mendengar kata mati tentu membuat pikiran Dirga jadi tidak karu-karuan. Membayangkan Senja harus pergi saja sudah sangat mengerikan. Apalagi kalau Senja sampai---akh sudahlah, Dirga membuang jauh-jauh pikiran kotornya.


"Lalu aku harus apa, Senja. Katakan apa yang bisa ku lakukan untuk menolongmu? "


"Tidak ada. " Senja menggelengkan kepalanya lalu kembali memegang pipi Dirga.


"Kau hanya harus bersabar menungguku. Dan kalau bisa kau juga harus tetap mencintaiku. " Mata Senja mulai berkaca-kaca. Di saat dia baru merasakan indahnya cinta. Rasa sakit harus mengganjal kebahagiaan nya. Tapi gadis itu buru-buru membuang pandangan nya ke langit-langit mobil, menahan supaya air matanya tidak sampai tumpah. Ia tak ingin membuat Dirga jadi makin sedih.


"Itu pasti. " Dirga meraih tangan Senja yang sedang mengusap pipinya lalu menggenggam tangan itu seerat yang ia bisa.


"Jangan selingkuh dengan Queen atau gadis manapun yaa."


"Tidak akan. " Gelengan cepat dari Dirga sontak membuat Senja tersenyum. Meski ia terlihat seperti bercanda sangat menyampaikan amanahnya tadi, tapi jauh di lubuk hatinya dia sangat berharap Dirga mau menjaga hati hanya untuk dirinya.


"Aku akan menunggu sampai kau pulang. "


"Benarkah? "


"Hm." Dirgantara mengangguk pasti masih dengan raut panik yang mendominasi.


"Ya sudah antar aku pulang sekarang. Aku mau istirahat. "


Dirga tidak langsung bergerak. Ia justru menatap Senja yang pucat pasi dengan mata merahnya yang memang cukup mengerikan bagi otrang-orang, tapi tentu saja tidak bagi Dirga. Baginya Senja tetaplah sangat cantik meski dengan wajah aneh begitu.


Duha terus saja menatap dengan pandangan yang sulit di mengerti. Seperti ketakutan yang amat sangat akan kehilangan gadis itu.


"Tenang saja, aku belum akan pergi sekarang. Aku masih punya waktu beberapa hari. " Untuk kesekian kalinya gadis dengan iris merah itu mengusap pipi Dirga. mencoba memberi ketenangan karena belum apa-apa Dirga sudah panik duluan. Pria yang biasanya selalu ingin terlihat baik-baik saja kini berubah jadi pria melankolis yang tak bisa menutupi gundah di dada.


Sepanjang perjalanan tangannya tak berhenti menggenggam tangan Senja. Ia mengemudi hanya dengan menggunakan sebelah tangannya. Perasaan takut kehilangan membuatnya tak ingin melepaskan tangan gadis itu barang sebentar saja.

__ADS_1


__ADS_2