
Senja terduduk lemas di bawah pohon nyiur paling ujung pesisir pantai. Hatinya panas meredam amarah. Sudah sebisa mungkin menahan diri untuk tidak marah tapi malah semakin di fitnah.
Ucapan ibunda Dirga yang sangat menyayat hati juga masih terngiang di telinganya.
"Senja, seandainya kau manusia normal mungkin aku akan mencoba menerimamu meski kau putrinya Wulan ... Tapi sayangnya kau itu bukan manusia seutuhnya. Ayahmu sebenarnya makhluk jenis apa akupun tak tahu."
Selain ucapannya yang sangat menyakitkan. Tatapan Melati juga terkesan sangat meremehkan membuat Senja langsung membuang nafasnya menahan sesak yang tiba-tiba memyeruak.
"Harusnya kau sadar diri untuk tidak mendekati putraku. Putraku itu terlalu sempurna untukmu. Dua punya segalanya, sementara kau? "
Mata Senja terpejam sempurna menahan marah sekaligus sakit yang kian menggigit. Namun meski begitu, ia tak menampik dan bahkan menanggapi ucapan Melati. Ia membenarkan semua yang wanita itu bilang, meski tetap saja, itu tidak seharusnya di ucapkan. Karena biar bagaimanapun Senja itu punya perasaan.
"Maaf." Hanya itu yang mampu di ucapankannya.
"Percuma saja kau minta maaf kalau kau masih tetap bersama Dirga. " Ketus Melati menanggapi permintaan maaf Senja.
"Lalu aku harus apa, Bibi? "
"Jauhi, Dirga. Jauhi putraku !"
"Kalau begitu suruh saja Dirga menjauhiku, apa dia bisa? "
"Tentu saja bisa, asalkan kau tidak lagi mengganggunya !"
"Aku tidak pernah mengganggu nya, Bibi."
"Lalu siapa yang menganggu? Kalau sejak awal yang tidak mengganggu nya, aku yakin dia tidak akan seperti ini sekarang. Dia bahkan tak mau lagi mendengarkan ucapanku, dan itu semua karena kau, Senja."
Senja makin tertunduk sambil membenamkan rasa marah sekaligus sakit hatinya. Namun tak sampai di situ, Melati terus saja meracau mempermainkan kesabaran nya yang sebenarnya setipis kulit ari.
"Itulah sebabnya sejak awal aku menyebutmu gadis tak tahu diri ... Dirga itu bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih sempurna darimu, tapi kenapa harus kau yang di pilihnya? " Pekik Melati setengah berteriak. Untung saja pantai masih sepi sehingga teriakan nya tidak terlalu terdengar oleh banyak telinga.
"Menjauhlah dari Dirga karena aku tidak rela putraku berhubungan dengan monster sepertimu. "
Senja langsung mendongak. Ucapan Melati sudah benar-benar menciderai perasannya. Netra gadis itu memerah menahan marah. Tanganya terkepal seolah siap menghantam siapapun yang ada di depannya.
Namun beruntung garis itu masih bisa menguasai diri. Betapapun marahnya Senja, ia masih cukup sadar kalau yang ada di hadapannya saat ini adalah ibunda Dirga. Gadis itu sadar betul kalau dia tidak mungkin menyakiti perempuan itu, meskipun ucapannya sudah sangat mengobrak-abrik kesabarannya.
Senja lebih memilih membuang pandangannya sembari menetralkan dadanya yang kian sesak.
Tapi anehnya meski Senja tidak meluapkan amarahnya dan bahkan tidak menyentuh Melati sedikitpun, wanita itu tiba-tiba terjatuh, atau lebih tepatnya menjatuhkan diri. Senja yang tidak tahu kenapa dan apa maksud Melati hanya memandangnya dengan pandangan tidak mengerti.
Sebenarnya Senja berniat menolong meski Melati sudah sangat membuatnya marah, namun belum sempat niat baiknya itu terlaksana, Dirga sudah keburu datang dan menganggap kalau Senja lah yang sudah menyerang ibunya sampai ia terjatuh.
Dirga tidak percaya sedikitpun pada pembelaan Senja, terlebih Melati terus saja menyudutkan nya.
__ADS_1
"Aaakkhh.. " Senja menjerit kesal mengingat kejadian menyebalkan yang baru ia alami. Gadis itu masih saja tak percaya kalau ibunda Dirga tega memfitnahnya. Dan lebih tidak percaya lagi kalau Dirga bahkan tak membelanya sama sekali.
"Tega sekali mereka memfitnah ku. Aku bukan monster," Senja bergumam sendiri meluapkan kekesalannya.
"Semarah apapun aku tidak akan menyakiti ibumu, Dirgaa. " Ucap Senja lagi seolah-olah Dirga ada di hadapannya. Padahal jelas-jelas pria itu lebih memilih ibunya dan meninggalkan dia sendirian tadi.
"Apa setelah ini kau akan benar-benar menjauhiku? "
"Tidak akan. "
"........ "
Senja terkejut karena tiba-tiba ada yang menjawab ucapannya, padahal ia merasa hanya sendiri di tempat ini. Dan suara itu, sepertinya ia sangat familiar. Rasa penasaran yang tinggi membuat gadis itu langsung menoleh.
"Dirgaa? " Ucapnya tak percaya karena sosok tinggi tampan itu tahu-tahu sudah ada di belakangnya.
"Kau, sejak kapan kau di situ? bu-bukannya kau bersama ibumu? "
"Baru saja, ibuku sudah pulang. " Dirga tersenyum lalu berjalan mendekati Senja.
"Aku benar-benar tidak menyerang ibumu, Dirga. Aku---"
"Aku percaya pada mu. Tenanglah. " Tangan Dirga terulur mengusap kepala Senja.
"Tapi tadi---" Senja tak melanjutkan kalimatnya. Meminta Dirga sendiri yang menyimpulkan maksudnya.
Senja mengangguk meski masih merasa bingung.
"Aku tahu semua itu tadi pasti rencana ibu dan Queen. Ibu sengaja menguji amarahmu supaya kau menyerangnya, tapi karena tidak berhasil maka ibu menjatuhkan dirinya sendiri seolah-olah kau yang sudah menyerangnya."
Meski tidak melihat secara langsung, tapi Dirga sudah bisa menebaknya.
Senja kembali menganggguk-angguk. Ia sangat setuju dengan pemikiran Dirga.
"Tapi dari mana kau tahu kalau semua itu rencana mereka? "
Dirga tersenyum simpul. Sebelum menjawab ia terlebih dahulu menggenggam tangan Senja.
"Tadi Queen memberitahu ku kalau ibu akan menemuimu. Tadinya aku sempat terkejut. Tapi setelah ku pikir-pikir untuk apa Queen memberi tahuku. Dia bahkan sudah bisa menebak kalau kau akan menyerang ibuku ... Aku jadi curiga kalau mereka sedang merencanakan sesuatu. Dan tebakanku benar, mereka sengaja menjebakmu supaya aku jadi benci padamu. "
"Huft.. " Senja bernafas lega. Akhirnya tanpa harus menjelaskan panjang lebar Dirga sudah percaya padanya.
"Baguslah kalau kau memang sudah tahu kebenarannya. Aku sempat benar-benar khawatir tadi. Aku takut kau akan benci padaku dan menjauhiku. "
"Menjauhi mu? mana mungkin. Jauh darimu sebentar saja aku bisa merasa seperti orang gila."
__ADS_1
Senja tak menyahut. Tapi senyum manis di bibirnya menjadi jawaban betapa ia senang mendengar kalimat Dirga.
"Tapi kedepannya kalau ibumu tahu kau hanya berpura-pura membelanya bagaimana? "
"Yah kita hadapi saja. Pada akhirnya ibuku pasti tetap akan tahu. "
Senja mengangguk membenarkan. Meski di hatinya tetap saja khawatir, tapi mau bagaimana lagi. Mereka tidak akan bisa terus menutupinya.
"Sudahlah tidak usah terlalu di pikirkan, yang penting sekarang kita tetap baik-baik saja. " Melihat Senja yang tampak masih khawatir Dirga berusaha meyakinkan sampai akhirnya gadis di sampingnya bisa tersenyum lebar. Baginya sekarang yang penting Dirga percaya padanya.
"Terimakasih sudah mau mempercayaiku. "
"Tentu." Dirga mengangkat tangan Senja lalu mengecupnya lembut
"Aku menyayangimu, aku tahu kau tidak mungkin menyakiti ibuku ... Maaf meninggalkanmu sendirian tadi, dan maaf juga jika ibuku berkata yang bukan-bukan. Dia pasti sudah sangat menyinggung perasaanmu. " Lirih Dirga tak bisa menutupi rasa kecewanya karena tak bisa membela saat orang terkasih nya di sakiti.
Seandainya Senja tahu betapa hati Dirga hancur saat harus meninggalkannya tadi. Tapi demi tetap menjaga perasaan sang ibu, Dirga lebih memilih pergi begitu saja. Setelah ibunya pulang dan ia sendiri beralasan akan kembali ke kantor, barulah dia bisa kembali menemui Senja.
Pria itu berlari secepat yang ia bisa agar bisa segera bertemu Senja. Terlebih saat melihat Senja terdiam sendiri dalam lukanya. Rasa bersalah semakin menggerogoti nya. Untunglah hal tidak mengenakkan itu sudah berlalu.
Senja tersenyum sambil mengusap tangan Dirga yang sedang menggenggam sebelah tangannya. Tangan mereka kini bertumpu menjadi satu.
"Tidak masalah, selama kau tetap bersama ku. Aku paham, Ibu manapun pasti ingin yang terbaik untuk putranya."
"Sayangnya ibuku tak pernah mau mengerti kalau yang terbaik bagiku adalah kau, Senja Wulan Samudra." Dirga menyebut nama itu dengan sangat yakin. Sayakin perasaannya yang tak pernah berkurang untuk pemilik iris merah itu.
Akh sudahlah, tak perlu di tanya bagaimana perasan Senja saat ini. Setelah tadi dadanya panas bergemuruh menahan marah. Saat ini berbalik bergemuruh manahan bahagia tak terkira. Tak menyangka Dirga punya perasaan sedalam itu untuknya. Mengungkapkan rasa bahagianya, Senja menyandarkan kepalanya di pundak Dirga yang langsung di sambut Dirga dengan dekapan.
"Oh ya aku juga ingin berterimakasih padamu?" ujar Dirga lagi yang juga tak kalah bahagia saat ini. Meski beban berat masih saja bersarang di pundaknya tentang bagaimana kelanjutan hubungannya nanti.
"Untuk? "
"Untuk tidak menyerang ibuku meski dia sudah sangat membuatmu marah ... Terimakasih sudah bisa menahan emosimu. "
"Lupakan," Sahut Senja seolah enggan mengingat kembali hal-hal menyebalkan yang baru saja terjadi.
"Mungkin jika itu bukan ibumu, aku sudah membuat tulang-tulangnya patah. Tapi aku sadar kalau dia adalah ibu dari orang yang sangat ku sayang. Jadi mana mungkin aku menyakitinya ... Kedepannya kita hanya harus bersabar sambil terus menyakinkan nya kalau kita memang tak terpisahkan. "
"Oooh, Senja ku sudah makin bijaksana sekarang." Dirga memuji sembari makin mempererat dekapannya. Pelan tapi pasti, Senja benar-benar menunjukan perubahannya.
Gadis itu kemudian melepaskan diri dari dekap an Dirga. Menatap pria itu sesaat lalu---
Cup, Senja menghadiahkan sebuah kecupan manis untuk orang termanis dalam hidupnya.
Setelah itu gadis bermata merah kembali membenamkan diri dalam pelukan Dirga membiarkan Dirga yang tertegun tak percaya pada apa yang baru saja di lakukannya.
__ADS_1
Pria itu meraba pipi yang baru saja di kecup Senja sambil tersenyum kemudian mendaratkan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala gadis itu.