Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Perundungan


__ADS_3

Wulan langsung syok begitu Senja memberitahu kalau suaminya harus bertapa lebih lama lagi. Kondisinya yang memang sudah tidak sehat menjadi kian parah dengan kabar tersebut.


Perempuan itu tertunduk lesu di dalam kamarnya. Rasa ingin segera bertemu dengan suaminya harus ia redam sampai puluhan hari kedepan.


Sanggup kah ia menunggu sampai selama itu? sementara semakin hari Wulan merasa dirinya semakin lemah.


Wulan merasa sudah tidak ingin melakukan apapun. Kondisinya yang kian lemah membuatnya enggan beraktifitas berlebihan. Wanita itu lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar. Bahkan untuk makan saja terkadang Senja yang membawanya ke kamar Wulan.


Putri semata wayang Wulan tentu saja iba melihat ibunya dalam kondisi tertekan begitu. Tapi tak banyak yang bisa di lakukannya selain merawat dan selalu berusaha menguatkan.


"Ibu makan dulu ya, "


Siang ini Senja juga nampak membawa nampan berisi makan siang untuk ibunya karena wanita itu belum makan sejak tadi pagi.


"Ibu tidak lapar, Senja. "


"Tapi ibu harus tetap makan, kalau tidak nanti ibu akan semakin lemah, " timpal Senja menanggapi penolakan ibunya.


"Ibu harus tetap kuat, Bu. Setidaknya demi aku. Aku masih sangat membutuhkan ibu. "


Wulan memaksakan diri untuk tersenyum. Meskipun terlihat sangat getir. Ia sadar ia telah membuat putrinya khawatir dan cemas. Tapi terkadang ia juga tidak bisa menutupi keadaannya kalau nyatanya ia memang sedang sangat lemah sekarang. Baik jiwa maupun raganya seperti sedang berada di titik terendah.


"Maaf ibu sudah membuatmu cemas, Senja. Tapi ibu memang merasa---"


"Bu, Ibu akan baik-baik saja, percayalah. " Tahu apa yang akan di bicarakan ibunya, Senja buru-buru menyela. Ia tidak ingin ibunya berpikir yang bukan-bukan. Ia tetap ingin ibunya berpikir positif tak peduli seperti apapun keadannya.


"Ibu hanya harus menguatkan diri. Dan aku yakin ibu bisa melakukan itu. " Senja mengusap-usap punggung Wulan mencoba menyalurkan energi positif untuk orang tua tersayangnya itu.


Demi melihat harapan anaknya yang cukup besar akan kesembuhannya. Wulan akhirnya mengangguk. Benar kata Senja, Setidaknya ia masih punya anak yang harus di jaga. Meskipun Senja sudah cukup dewasa untuk bisa menjaga dirinya sendiri, tapi tetap saja, gadis itu butuh kasih sayang orang tuanya.


"Baiklah, ibu akan makan. "


Senja langsung tersenyum dan bergegas mengambil nampan yang ia letakkan di atas meja. Gadis itu dengan telaten menguapi ibunya sedikit demi sedikit. Meski Wulan sebenarnya masih bisa makan sendiri, tapi Wulan tidak menolak saat Senja menyuapi nya. Ia justru senang putrinya benar-benar menunjukan kepedulian nya.


"Selesai makan kita jalan-jalan ya, Bu, " ajak Senja sambil menyuapi ibunya.


"Kemana? "


"Kemana saja, ke mall juga boleh. Yang penting kita kita jalan-jalan hari ini, supaya ibu tidak jenuh di rumah terus. "


Sebenarnya Wulan sangat ingin menolak, namun tak sampai hati demi melihat putrinya yang berusaha sebisa mungkin menghiburnya.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya, nanti ibu kelelahan. "


"Tenang saja, Bu. Tidak sampai sore kita sudah pulang. Aku hanya ingin ibu berganti suasana. Tidak melulu mengurung diri di dalam kamar."


Wulan tersenyum lalu mengangguk. Baiklah, siapa tahu berada di pusat keramaian bisa sedikit menghibur hatinya yang sedang sangat kesepian.


Selesai Wulan makan, keduanya langsung meluncur ke pusat perbelanjaan. Sebenarnya mereka juga mengajak nenek Fatma. Tapi perempuan tua itu menolak dengan alasan takut kelelahan.


Senja dan Wulan turun dari mobilnya di pelataran parkir pusat perbelanjaan ternama dan boleh di bilang terbesar di kota ini.

__ADS_1


Wulan berjalan pelan di dampingi Senja yang setia menuntunnya.


"Ibu mau beli sesuatu? " tanya Senja sambil berjalan.


"Tidak, Senja. Kau saja yang belanja. Belilah apa pun yang ingin kau beli. Ibu hanya---"


Bruk..! Kalimat Wulan terhenti karena tiba-tiba dari arah depan ada orang yang menubruknya.


Seorang wanita paruh baya yang di perkirakan usianya sama dengannya terjatuh usai menabrak dirinya. Barang bawannya tercecer di sekitar tempatnya jatuh.


Wulan sendiri kalau tidak di topang oleh Senja mungkin juga akan terjatuh. Tapi gadis itu sigap menghadang ibunya supaya tidak tumbang.


"Kau tidak apa-apa? " Wulan memperhatikan wanita yang menabrakanya dengan sedikit heran. Padahal jalan cukup lebar, tapi entah kenapa dia bisa menabrak Wulan.


Wanita yang terjatuh menggeleng kan kepalanya sambil mengambil kembali barang bawanya. Tak lupa ia juga menyimpan ponselnya ke dalam tas. Rupanya ponsel inilah yang membuatnya jadi menabrak Wulan. Ia terlalu asyik menatap ponselnya sampai tidak melihat ada dua orang di depannya.


"Aku tidak apa-apa, maaf aku tidak sengaja, " ucapnya sambil berdiri.


"Hmm, lain kali hati-hati. "


Perempuan itu mengangguk lalu berniat hendak beranjak dari hadapan Wulan. Namun mendadak ia menghentikan langkahnya dan memperhatikan wajah Wulan dengan seksama.


"Kau, Kau Wulan kan? orang yang menikah dengan makhluk astral itu? "


Deg ! Jantung Wulan hampir meloncat keluar mendengar wanita itu bicara segamblang itu. Kalaupun benar dia mengetahui siapa Wulan, haruskah dia bicara se-gamblang itu?


"Dan kau pasti anak dari hasil pernikahan aneh itu?" Wanita itu menambahkan sambil berpindah memperhatikan wajah Senja.


"Benar, wajahmu sangat aneh. Matamu mengerikan begitu. "


"Tidak usah di dengarkan, Senja. Ayo cepat pergi dari sini." Wulan mendorong Senja untuk segera beranjak namun belum lagi melangkah gerak keduanya di jegal oleh beberapa orang wanita yang sepertinya teman-teman dari wanita penabrak tadi.


"Ada apa, Ren? " tanya salah satunya pada wanita yang menabrak Wulan.


"Tidak apa-apa, aku tidak sengaja menabrak wanita ini, dan kalian tahu mereka siapa? "


Teman-teman perempuan itu kompak menggeleng.


"Siapa memangnya? "


"Dia ini adalah orang yang di kabarkan menikah dengan makhluk astral, dan dia ini hasil dari pernikahan itu? " wanita itu secara bergantian menunjuk wajah Wulan dan Senja membuat wajah gadis itu memanas dan netranya jadi kian memerah. Ingin rasanya ia menarik tangan perempuan itu dan mematahkannya menjadi beberapa bagian.


"Benarkah? " teman si wanita dan yang lainya ikut memperhatikan.


"Benar, lihat saja wajah anaknya. Lain dari anak manusia kan? "


Sekelompok ibu-ibu itu kembali memperhatikan dan mengangguk-angguk membenarkan tuduhan rekannya.


"Benar mengerikan sekali! "


"Cukup !" Tak terima dia dan putrinya di jadikan bahan olok-olok, Wulan langsung membentak gerombolan ibu-ibu itu.

__ADS_1


"Kalian keterlaluan ! Ayo, Senja cepat pergi dari sini. Tidak perlu meladeni orang-orang ini. " Wulan tahu betul kalau putrinya sedang berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya. Akan berakibat buruk kalau sampai Senja benar-benar mengamuk di tempat ini.


"Keterlaluan apa, memang benar kan kau menikah dengan makhluk astral." Salah satu dari gerombolan pengganggu sepertinya masih belum puas merundung Wulan dan putrinya. Sepertinya mereka adalah ibu-ibu sosialita yang gemar membuli seseorang.


"Iya seperti sudah tidak ada manusia saja. Menjijikan sekali. "


Demi Tuhan darah Senja mendidih mendengar kalimat sadis itu . Ia mengeluarkan seringai tajamnya sebagai bukti kalau amarahnya sudah benar-benar di ujung kepala. Tangan Senja sudah terangakat dan siap melayang ke salah satu pipi wanita-wanita itu. Tapi lagi-lagi sang ibu mencegah.


"Sudah, Senja. Sudah. Tidak perlu mendengarkan omongan mereka. "


"Ibumu, Benar. Senja. Kau tidak perlu mendengarkan mulut-mulut busuk ini !"


Di tengah suasana yang kian me-manas. Seseorang datang menengahi. Seoarang yang sepertinya seorang gadis. Tapi karena ia menutupi wajahnya dengan masker membuat Senja dan ibunya tidak mengenali gadis itu.


"Siapa kau seenaknya saja bicara? " Salah satu genk sosialita yang tak terima mulutnya di anggap busuk angkat bicara.


"Kau yang seenaknya saja bicara. Merundung seseorang di tempat umum begini, sungguh tidak tahu diri. " Sang gadis dengan lantangnya menjawab omelan si ibu.


"Kami tidak merundung, memang kenyataannya begitu. Perempuan ini memang menikah dengan makhluk astral. Semua orang juga sudah tahu."


"Lalu urusannya dengan kalian apa?" Bentak gadis itu lagi.


"Dia mau menikah dengan siapapun itu urusannya. Tidak ada hubungannya dengan kalian. Toh dia juga tidak merugikan siapapun kan? "


"Ya memang tidak, tapi kan aneh saja, Masak manusia menikah dengan hantu? " Salah satu ibu tetap kekeh pada asumsinya.


"Kalau dia mau memangnya kenapa? Apa dalam hal ini kalian merasa di rugikan? atau mereka jadi mengganggu kehidupan kalian, tidak kan? "


Kelompok ibu-ibu sosialita terdiam. Tak berani menjawab ucapan gadis ber masker karena memang benar adanya. Wulan mau menikah dengan siapa pun itu pilihannya. Tidak ada yang bisa melarangnya karena memang dia tidak merugikan atau mengganggu siapapun. Toh segala resikonya dia sendiri yang menanggung. Lalu apa masalahnya?


"Sebaiknya kalian pergi dari sini. Dan setelah ini berhenti lah mengganggu orang. Sebab kita tidak pernah tahu dengan siapa kita berhadapan." Kalimat terakhir gadis ber masker di ucapkan nya dengan penuh penekanan seolah sedang menceritakan pengalaman buruknya karena sering mengganggu orang.


Kalimat terakhir gadis itu juga memaksa selompok ibu-ibu melihat kembali orang yang sedang mereka rundung. Dan seringai Senja yang masih saja tajam dengan mata kemerahan menahan marah seolah siap merobek mulut usil ibu-ibu itu sukses membuat mereka menelan ludah menahan ngeri.


Akhirnya karena merasa tertohok oleh ucapan gadis ber masker dan juga karena ngeri melihat raut marah Senja, sekelompok wanita paruh baya itu kompak pergi dari situ.


Menit berikutnya usai sekelompok pengganggu pergi. Gadis ber masker juga ikut pergi. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun. Namun sebelum pergi gadis itu mengangguk pada Senja dan ibunya. Gerakan kepala yang sulit di artikan. Entah sebagai kata pamit undur diri, atau sebagai permintaan maaf, Entahlah. Hanya gadis itu yang tahu.


"Siapa dia, Senja. Kenapa dia langsung pergi. Ibu bahkan belum sempat berterimakasih padanya." Wulan memperhatikan punggung gadis ber masker itu dari jauh. Ia seperti tak asing dengan gestur tubuh ataupun suaranya.


"Entahlah, Bu. Tapi kalau aku boleh menebak itu sepertinya Queen. "


"Queen? " Wulan mengulang nama itu dengan nada heran.


"Gadis itu bukannya----" Seingat Wulan Queen adalah gadis ambisius yang selalu mengganggu hubungan Senja dan Dirga. Tapi kenapa sekarang dia malah menolongnya?


"Itulah yang membuatku heran, Bu. Sejak kapan Queen peduli pada kita. Atau jangan-jangan semua ini rencananya. "


"Hust jangan berpikiran buruk, Nak. Siapa tahu dia memang berniat menolong. Dan ibu rasa semua yang di ucapkan nya tadi juga cukup benar. "


Senja mengangguk-anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Yah, Mudah-mudahan begitu, Bu ... Tapi kenapa dia harus menutupi wajahnya? atau mungkin dia merasa tidak enak hati karena selama ini sudah sering menggangguku? "


"Bisa jadi. " Wulan membenarkan asumsi putrinya. Keduanya tidak tahu kalau alasan Queen menutup wajahnya selain karena merasa tidak enak hati juga karena malu dengan wajahnya yang telah rusak akibat cakaran dari Bayu samudra. Bayu telah merusak wajah gadis itu sehingga sekarang wajah Queen cacat dengan bekas luka cakaran yang sulit di hilangkan.


__ADS_2