
"Bibi, Mel? "
Queenzi Anandita menyapa seseorang yang sedang memilih sepatu di sebuah pusat perbelanjaan. Awalnya ia tidak yakin kalau itu adalah orang yang di kenalnya, tapi setelah memperhatikan dari jerak lebih dekat, barulah gadis itu yakin.
Orang yang di panggil Bibi Mel mendongak. Ia memperhatikan Queen sejenak, mencoba mengenali wajah gadis itu.
"Queen? " ucapnya kemudian antara yakin dan tidak.
"iya, Bibi. Ini aku, syukurlah Bibi masih ingat"
"Tentu, Bibi hanya sedikit pangling tadi ... kau apa kabar, nak? " Melati atau yang tak lain adalah ibunda Dirga memeluk Queen dengan ramah.
"Baik, Bibi. Bibi sendiri apa kabar?" Queen nampak senang sekali bertemu dengan seseorang yang seharusnya menjadi calon mertuanya itu.
"Baik, Bibi juga baik. " Melati menyudahi acara pilih-pilihnya lalu mengajak Queen duduk di kursi panjang di samping etalase.
"Bibi kapan datang, kenapa tidak memberitahu ku? Aku kan bisa menemani Bibi belanja. "
"Beberapa hari yang lalu ... Eum sebenarnya Bibi ingin memberitahumu, tapi tidak tahu nomormu. Bibi lupa memintanya pada Dirga."
Melati mencoba berdalih, sebenarnya dia tidak lupa. Tapi karena putranya mengatakan kalau dia dan Queen sudah tidak bersama, perempuan berkulit bersih itu jadi enggan untuk menanyakannya.
"Tidak apa, Bibi. Nanti kita bisa saling bertukar nomor ... Oh ya, Bi. Dirga apa kabar? "
Pertanyaan Queen sontak membuat Melati tertegun. Queen menanyakan kabar Dirga, apa gadis ini masih peduli padanya, fikir Melati.
"Dirga baik-baik saja, " Melati berhenti sejenak. Ia menatap Queen, ragu apakah ingin menanyakan tentang hubungan mereka atau tidak.
"Dirga bilang kalian sudah---" Melati tidak berani melanjutkan kalimatnya, meminta Qyeen menafsirkannya sendiri.
"Iya, Bibi. Aku dan Dirga sudah tidak bersmaa lagi." Queen tentu faham betul apa makaud ibunda Dirga. Air mukanya bahkan langsung berubah Sendu, seolah ingin menunjukan pada Bibi Mel kalau dia sebenarnya tidak ingin berpisah.
Melati menghela nafasnya. Ternyata benar ucapan putranya kalau dia dan Queen memang sudah tak bersama. Dan ia bisa melihat dengan jelas betapa gadis itu sedih atas perpisahan mereka.
"Bibi turut prihatin untuk kalian. Padahal Bibi ingin kalian tetap bersama. Bibi bahkan pernah berfikir kalau kau yang akan jadi menantu Bibi. "
"Benarkah, Bibi? " Seutas asa muncul dalam benak Queenl. Kalau ibunda Dirga ingin dia jadi menantunya, itu berarti dia masih ada kesempatan untuk kembali pada Dirga.
__ADS_1
"Bibi pernah punya pikiran begitu?"
"Ya." Bibi Mel mengangguk.
"Tapi ternyata kalian sudah berpisah, ya sudah mau bagaimana lagi. "
Seberait asa yang sempat muncul di benak Queen lenyap seketika demi melihat Ibunda Dirga yang tampak pasrah dengan keputusan putranya.
Melati tersenyum kecut. Otaknya berfikir bagaimana caranya untuk membuat orang tua Dirga berpihak padanya.
"Bibi tidak mau tahu kenapa kami berpisah? " Entahlah, Tiba-tiba saja muncul ide untuk menanyakan itu di ruang pikir Queen.
"Kenapa memangnya, kalau Bibi boleh tahu? "
Pancingan Queen berhasil. Ibunda Dirga tertarik untuk tahu.
"Semuanya karena gadis bernama Senja, Bi. Dia yang telah merusak hubungan ku dengan Dirga. Dia sudah merebut Dirga dariku. " Queen tertunduk, mencari simpati Bibi Mel, agar wanita itu juga ikut menyalahkan Senja.
"Senja? "
"Iya, Bibi. Senja yang sudah merayu Dirga hingga ia pergi dariku. "
"Bibi jadi penasaran, seperti apa wanita yang bisa membuat Dirga berpaling darimu. "
"Kalau Bibi nanti bertemu dia, sebaiknya Bibi jaga jarak darinya. "
"Kenapa? "
Queen memang sengaja memantik rasa penasaran Bibi Mel.
"Dia itu sangat brutal, Bi. Dia pernah menyerangku di depan orang banyak ... Dan menurutku dia itu sangat mengerikan, apalagi kalau sedang marah, wajahnya berubah jdi menyeramkan. Pokoknya aneh lah, Bi. "
Queen terus berusaha mendoktrin otak Melati supaya antipati terhadap Senja.
"Benarkah, kenapa mengerikan sekali? kau yakin Dirga berhubungan dengan gadis seperti itu? " Melati tiba-tiba di dera rasa khawatir.
"Iya, Bibi. Aku juga sampai sekarang tidak percaya kalau Dirga ninggalkanku karena perempuan aneh itu."
__ADS_1
Melati mendengarkan cerita Queen sambil memicingkan matanya, antara aneh dan juga ngeri.
"Tapi Dirga belum menceritakan soal gadis itu pada Bibi ... apa jangan-jangan karena gadis itu aneh ya, makanya dia tidak berani menceritakan"
"Kemungkinan besar begitu, Bi. Dirga pasti takut kalau Bibi tidak menyukai gadis itu." Sungguh Queen benar-benar total dalam memprovokasi ibunda Dirga.
"Kalau memang gadis itu benar seperti yang kau bicarakan, tentu Bibi tidak akan setuju. "
'Yes ! ' Gadis bernama Queen bersorak dalam hati. Tak sia-sia lisannya berceloteh paniang lebar sejak tadi. Bibi Mel sepertinya sudah mulai termakaan omongannya.
"Iya, Bi. Memang begitu adanya. Aku tidak mengada-ada. Aku melihat Sendiri bagaimana mata gadis itu bisa berubah seperti mata iblis"
Melati semakin ngeri mendengar semua tentang Senja, gadis yang konon menjadi kekasih putranya saat ini.
"Baiklah, bsok Bibi akan coba tanyakan pada Dirga. "
"Jangan dulu, Bibi. " Larang Queen cepat
"Sebaiknya Bibi jangan bertanya dulu pada Dirga, aku takut dia nanti akan tersinggung ... kalau Bibi memang ingin tahu tentang gadis itu, Bibi bisa melihatnya langsung. Nanti bibi juga bisa membuktikan kalau semua ucapanku tadi bukanlah omong kosong. "
Melati kembali mengangguk-angguk. Sepertinya perempuan sosialita itu menyetujui usulan Queen.
"Tapi dimana Bibi bisa bertemu gadis itu, Bibi tidak mungkin datang kerumahnya kan? "
"Bibi tenang saja, gadis itu hampir setiap hari kepantai. Kalau Bibi ingin melihtnya datang saja ke pantai. "
"Pantai? "
"Hmm." Queen mengangguk pasti.
"Dia peselancar Bibi. Hampir tiap hari dia berselancar di pantai."
"Baiklah, besok Bibi akan cari tahu siapa gadis itu"
Rasa penasaran benar-benar sudah merajai hati seorang Melati. Ia ingin membuktikan kebenaran omongan Queen. Dan kalau memang semuanya terbukti. Wanita itu bersumpah tidak akan mengijinkan anaknya berhubungan dengan gadis aneh itu.
Di sampingnya Queen tersenyum sambil mengeluarkan seringainya. Asa nya kembali berkobar.
__ADS_1
'Bibi Mel pasti bisa membantuku merebut kembali Dirga dari gadis itu. '