
Pukul sepuluh malam Dirga baru pulang dari kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan membuat ia harus bekerja hingga larut.
Rasa lelah mendera sekujur tubuhnya. Tak hanya karena lelah seharian bekerja, tapi juga lelah efek habis bercumbu dengan Senja. Semua seolah berbaur menjadi satu menciptakan sebuah rasa penat yang teramat sangat.
Dirga masuk ke dalam rumahnya dengan gontai. Rasanya ingin cepat-capat mandi lalu beristirahat, namun sayang niatnya urung terlaksana karena melihat Ayahnya masih berada di ruang tengah sedang menonton layar kaca.
"Ayah belum tidur, " sapanya sambil mendekat
"Belum, kau baru pulang? " Pria pemilik wajah tegas namun berwibawa menoleh
"Iya, lumayan sibuk tadi, jadi harus lembur. "
"Ooh, apa ada masalah, beberapa waktu yang lalu Ayah dengar perusahaan mu sedang dalam masalah? "
Pertanyaan Ayah memaksa Dirga untuk duduk sejenak. Ia menghempaskan badannya di sofa empuk di depan Ayahnya.
"Bukan masalah serius, Ayah. Sudah bisa ku atasi. Ayah tenang saja. "
"Ooh, " Damar mengangguk-angguk. Ia menatap putranya sesaat.
"Ada apa, Ayah? " Di tatap begitu Dirga tau ada yang ingin disampaikan oleh Ayahnya, dan soal perusahaan tadi Dirga yakin itu hanya basa-basi Ayahnya agar bisa membuka obrolan.
Ayahnya tau betul kemampuan Dirga dalam hal bisnis. Ia tidak akan pernah meminta bantuan Ayahnya selama dia bisa menyelesaikannya sendiri. Dan selama dia di kota ini, Dirga tak pernah sekalipun mengeluh ataupun meminta bantuan Ayahnya dalam hal mengurus perusahaan. Terbukti bahwa semua memang masih bisa di tangani olehnya.
__ADS_1
Jadi kalau tiba-tiba orang tua laki-laki nya itu bertanya soal perusahaan nya, Dirga tentu tahu itu hanya basa-basi saja.
"Ada yang ingin Ayah sampaikan? Ayah pasti sengaja menungguku kan? "
Sang Ayah tersenyum. Selalu saja dia kagum dengan kemampuan putranya dalam menyimpulkan sesuatu.
"Ayah dan ibumu sudah hampir seminggu disini. Rencana kami dari awal hanya akan bertandang tidak lebih dari seminggu. "
"Hmm, lalu? " Dirga menanggapi ucapan sang Ayah yang menurutnya agak sedikit berbelit-belit. Tidak to the point.
"Seperti yang sudah pernah kau ceritakan kemarin kalau kau sudah punya teman dekat atau kekasih. Jadi alangkah baiknya kalau sebelum kami pulang kau sudah mengenalkannya pada kami. "
Dirga yang tadi deduk santai sambil setengah berbaring sontak langsung bergerak memperbaiki posisi duduknya.
"Iya kurang lebih begitu ... Ayah memang sudah mendengar sedikit tentang dia dari ibumu. Tapi picik rasanya kalau Ayah langsung menilai gadis itu hanya dari cerita ibu. Apalagi kau tahu kan kalau cerita ibumu lebih banyak mengandung unsur negatif? "
Dirga mengangguk. Dimata ibunya saat ini memang Senja adalah gadis yang tidak baik, menyeramkan dan beringas.
"Ayah ingin bertemu dengan gadis itu langsung supaya Ayah juga bisa menilainya sendiri ... Ibumu juga sudah sepakat ingin bertemu dengan Senja sekali lagi. Ia berharap apa yang di lihatnya kemarin hanya kesalah-pahaman saja. Ya seperti yang kau bilang. "
Dirga kembali mengangguk-angguk. Ayahnya memang tipikal orang yang tidak mudah percaya ucapan orang lain sebelum melihatnya sendiri.
"Setidaknya sebelum kami pergi, kami sudah bisa memastikan kalau kau bertemu orang yang tepat ... kau putra kami satu-satunya, Dirga. Tolong ijinkan kami turut andil dalam memilih yang terbaik untukmu, " Imbuh sang Ayah lagi. Ayah yang dimata Dirga selalu bijaksana. Dan ucapannya barusan adalah salah satu buktinya.
__ADS_1
"Baiklah, Ayah. Aku akan membawa Senja kemari. Tapi aku mohon apapun yang ayah lihat dari Senja nanti, Ayah dan ibu tetap berusaha menerimanya. Aku menyayanginya Ayah. "
Meski masih bingung memikirkan alasan yang tepat, tapi Dirga tidak punya pilihan lain selain menurutu kemauan orang tuanya. Terlebih Ayah memintanya dengan bahasa yang paling baik dan sopan.
Damar hanya tersenyum menanggapi permintaan putranya. Terbersit heran di dalam hatinya. Yang ia tahu putranya dulu adalah seoarng pemain cinta yang tidak pernah betah hanya dengan satu wanita.
Sifat yang sangat bertolak belakang dengan sifat Ayahnya yang setia meski cenderung dingin dan tidak banyak bicara.
Seingat Damar, meski kerap berganti-ganti teman wanita, tapi putranya tidak pernah sekalipun mengatakan padanya kalau dia mencintai seorang gadis. Bahkan Queen, satu-satunya gadis yang pernah ia kenalkan padanya dan Melati pun tidak di ikrarkan sebagai gadis yang di cintainya. Waktu itu Dirga hanya mengatakan kalau Queen itu teman dekatnya.
"Ayah jadi benar-benar penasaran pada gadis yang sudah membuatmu mengatakan cinta di depan Ayah. "
"Ayah, " Entahlah, Dirga merasa sedikit aneh saat Ayahnya berkata begitu. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa dia bisa begitu gamblang mengakui perasaannya di depan sang Ayah. Hal yang memang tidak pernah di lakukannya.
"Kau tidak seperti ini sebelumnya, Dirga. Kalau memang kau benar mencintai gadis itu, pastikan dia adalah orang yang tepat dan layak untukmu. " Pesan terakhir Ayah sebelum akhirnya beranjak. pesan yang di ucapakan dengan sangat lembut namun bermakna tajam.
"Iya, Ayah. " Hanya itu yang di ucapkan Dirga karena ruang pikirnya masih terlalu sibuk mencari-cari alasan yang akan di kemukakan pada pertemuan mereka besok.
"Iatirahatlah, kau pasti lelah kan? " Damar menepuk pundak putranya sebelum benar-benar meninggalkannya sendirian di ruang tengah.
Dirga hanya mengangguk membiarkan Ayahnya beristirahat terlebih dahulu. Ada satu hal yang mengganjal pikiran Dirga saat ini. Ayahnya tidak menanggapi ucapannya saat ia meminta untuk menerima Senja tadi, sebuah indikasi bahwa tidak akan mudah untuk membuat mereka menerima gadis bermata merah itu.
Meski Dirgantara tidak pernah meragukan kebijaksanaan Ayahnya, tapi dia juga tidak pernah lupa kalau sang Ayah adalah makhluk paling tegas yang pernah di kenalnya. Kalau pria paruh baya itu sudah berkata tidak, maka itu pasti tidak akan terjadi.
__ADS_1