
Memasuki hari ke tiga pernikahan Senja dan Dirga. Semua masih terasa legit bak coklat italiano. Dirga masih dengan kegilaan nya yang terus saja menempel pada istrinya. Rumah besar yang biasanya hanya ia tempati seorang diri jadi terasa lebih hangat setelah ada Senja.
Seperti harapannya, setiap membuka mata yang pertama di lihatnya adalah wajah cantik seindah dewi. Atau kalaupun gadis itu sudah bangun terlebih dulu, Dirga pasti akan mencarinya ke segala ruangan hanya untuk memeluknya dan mengucapkan " Selamat pagi, sayang"
Segelas ginseng hangat yang selalu di sediakan Senja menambah suasana paginya jadi kian hangat. Semoga kehangatan itu akan bertahan seterusnya.
Pagi ini kedua pasutri itu berkunjung ke kediaman orang tua Wulan. Bayu samudra yang memintanya. Makhluk itu bilang ada sesuatu yang akan ia sampaikan.
"Kau yakin akan memberi tahu mereka? " Sebelum anak dan menantunya datang, Wulan terlebih dahulu menanyakan kesungguhan Bayu. Pasalnya apa yang akan di sampaikan adalah hal yang sangat penting.
"Ya, biar bagaimanapun mereka harus tahu kan?"
"Tapi mereka sedang berbahagia, Bayu. Aku tidak mau merusak kebahagiaan mereka."
Bayu tersenyum hangat lalu mengusap kepala Wulan.
"Aku tahu, sayang. Tapi waktu kita tidak banyak. Energiku juga semakin menipis. Aku takut keadaan akan memburuk sebelum kita sempat memberi tahu mereka. " Bayu memperhatikan istrinya sejenak sebelum melanjutkan bicara.
"Dan keadaanmu juga makin tidak baik. Aku iba melihatmu tersiksa begitu."
Wulan yang sedang terbaring lemah di kamar nya akhirnya mengangguk. Sepertinya memang tidak ada pilihan lain selain menyampaikan kabar ini secepatnya.
"Baiklah, katakanlah kalau memang itu harus."
"Apa yang harus di katakan, Bu? "
Bayu dan Wulan sontak menoleh. Mereka tidak menyadari kalau anak dan menantunya ternyata sudah berada di ambang pintu.
"Hey kalian sudah datang? " Berusaha tersenyum ramah meski di antara sakit yang kian parah.
"Hhm, " Senja masuk ke dalam bilik di ikuti Dirga.
"Aku pikir setelah Ayah pulang, Ibu akan langsung sembuh. Tapi ternyata---" Senja tak melanjutkan kalimatnya. Meminta semua orang yang ada disitu mengartikannya sendiri.
Gadis itu duduk di tepi ranjang, tepat di samping ibunya terbaring. Bayu duduk di sebelahnya sedangkan Dirga di dekat kaki Wulan.
"Ibumu tidak akan sembuh, Nak." Dengan berat hati Bayu harus mengatakan itu. Di bawah tatapan sendu istri tercintanya.
"Maksud, Ayah? " Tentu saja Senja terkejut mendengarnya. Tidak akan sembuh apa itu berarti---
Bayu menatap Wulan meminta persetujuannya sekali lagi. Dan wanita itu mengangguk.
"Maaf sebelumnya, Nak. Kami tidak bermaksud merusak kebahagiaan kalian. Tapi ini memang harus di sampaikan. "
"Ada apa sebenarnya, Ayah? Jangan membuatku khawatir "
Dirga yang duduk terpisah dari Senja langsung mendekat. Ia melihat raut cemas jelas terpancar dari wajah indah itu. Dan tentu sebagai suaminya ia bermaksud menenangkan.
"Tenanglah, biarkan Ayahmu bicara dulu." Pria itu berdiri di samping Senja sambil memegangi pundak gadis itu
"Seperti yang kalian tahu, " Bayu memulai penjelasannya.
"Ayah pulang sebelum waktunya. Energi Ayah tidak terkumpul penuh. Jadi Ayah harus segera kembali ke tempat asal, Ayah. "
Sesuai permintaan Dirga. Senja mendengarkan dengan khidmat tanpa berusaha menyela lagi.
"Tapi masalahnya, energi ibumu juga sudah terkuras habis. Sepertinya ia juga tidak bisa bertahan lebih lama. "
Wajah Senja kian panik. Ia mulai paham arah pembicaraan Ayahnya.
__ADS_1
"Jadi, Ibu harus ikut, Ayah? "
"Tidak harus, Nak." Wulan yang menjawab pertanyaan putrinya.
"Ibu punya dua pilihan. " Wulan membuang nafasnya sebelum menyebutkan kedua pilihan itu.
"Ikut ayahmu sekarang atau tetap disini sampai ajal menjemput ibu. "
Giliran Senja yang menghela nafasnya. Sungguh dua-duanya bukan pilihan yang baik bagi Senja. Ikut Ayah atau menunggu ajal apa bedanya. Keduanya tetap saja membuatnya harus kehilangan ibu.
"Apa tidak ada pilihan lain, Bu? Aku ingin ibu tetap ada bersama kami. " Mata Senja mulai berkaca, suaranya pun mulai bergetar.
"Benar, Bibi. Apa tidak ada pilihan lain? " Dirga ikut bertanya. Biar bagaimana pun ia juga tidak ingin kehilangan ibu mertuanya secepat itu.
"Tidak ada, Nak. Hanya dua pilihan itulah yang harus ibu pilih. " Tangan Wulan bergerak mengusap kepala putrinya. Niatnya untuk tidak merusak kebahagiaan putrinya tidak berhasil. Karena sekarang gadis itu tampak sangat sedih. Menyesal harus mengatakan itu. Tapi Wulan tidak punya pilihan lain.
"Tapi kau tenang saja, apapun pilihan ibu, pada akhirnya ibu tetap akan bersama ayahmu. "
Bayu mengangguk membenarkan sambil tangannya memegang paha atau kaki Wulan.
"Hanya saja, kalau ibu sudah tidak ada, maka Ayahmu juga tidak akan pernah kembali lagi kedunia ini. "
"Hah? "
Sungguh berita yang makin menyedihkan. Senja bahkan sudah tak kuasa membendung air matanya. Bulir bening itu lolos begitu saja dari sudut matanya.
"Jadi kalian berdua akan sama-sama meninggalkan aku? "
"Kami tidak punya pilihan lain, Senja." Bayu menimpali. Ia juga tentunya merasakan kesedihan yang sama. Tapi mau bagaiamana lagi.
"Kami juga sangat ingin tetap bersama kalian dan melihat kalian bertumbuh. Kami juga sangat ingin melihat cucu kami lahir dan tumbuh besar" Tak sadar Bayu juga ikut menitik kan air matanya. Bayangan indah itu hanya akan jadi khayalan semata bagi ia dan Wulan.
"Ibu, hiks hiks.. " Tangis Senja pecah dalam pelukan sang ibu. Bahagia yang baru di rasanya seolah hancur oleh semua kabar buruk itu.
"Tenanglah, Nak." Wulan mengusap kepala Senja di ikuti Bayu. Keduanya ingin sama-sma memberi kekuatan untuk putri tercinta mereka.
"Kalaupun kami harus pergi, kami tetap akan selalu menyayangi kalian dari jauh ... Lagipula sekarang kan sudah ada Dirga. Kami yakin kau akan tetap baik-baik saja. "
"Bibi tenang saja, " Dirga sebagai orang yang di maksud langsung menanggapi.
"Aku akan selalu menjaga Senja dan membuatnya bahagia, " ucapnya tulus sambil kembali memegang pundak Senja.
"Tentu, kau suaminya. Kau bertanggung jawab penuh atas dirinya. " Bayu menambahkan. Ini di anggap nya waktu yang tepat untuk menitipkan putrinya pada Dirga. Dan Bayu yakin Senja akan selalu bahagia dalam penjaaan pria itu.
"Pastikan kau menjaganya dengan baik setelah kami tidak ada. "
"Baik, Paman. Aku pasti akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Senja. "
"Hmm, dan satu lagi. " Bayu kembali menambahkan.
"Berhenti memanggil kami paman dan Bibi. Mulai sekarang kau harus memanggil kami Ayah dan ibu. "
"Benar, Dirga. Sebelum kami benar-benar pergi kami ingin kau juga benar-benar menganggap kami sebagai orang tuamu, " Wulan membenarkan permintaan suaminya juga permintaannya tentu saja.
"Tentu, Ibu. Ayah. Kalian orang tua Senja yang otomatis orang tuaku juga. " Meski baru pertama memanggil, namun Dirga tidak terlihat canggung sama sekali.
Senja yang masih dalam pelukan Wulan tidak bersuara sedikitpun. Kesedihan masih sepenuhnya merajai hatinya.
"Sudahlah, Nak. Jangan terlalu larut. Semuanya akan baik-baik saja. " Wulan memang cukup bijaksana. Tak peduli seperti apapun kondisinya. Ia pasti akan selalu mengatakn demikian.
__ADS_1
Senja kemudia melepaskan pelukannya dan menyeka sisa air matanya. Berusaha menerima meski tetap saja tak terima.
"Jadi apa pilihan ibu? " tanyanya dengan aura masih di liputi kesedihan.
Wulan tersenyum samar sambil memperbaiki posisinya menjadi setengah berbaring.
"Ibu manusia, Senja. Jadi kalaupun harus pergi, ibu ingin pergi dengan cara se-manusia mungkin. Ibu tidak mau orang-orang mengganggap ibu menghilang begitu saja."
Senja mengangguk-angguk
"Jadi itu berarti ibu akan menunggu? "
"Ya ibu akan menunggu sampai ajal ibu tiba."
Senja kembali menatap Sendu ibunya. Pupil merahnya kembali berkaca-kaca. Namun sebelum tangisnya kembali pecah. Sang ibu sudah buru-buru menenangkan.
"Sudah, jangan sedih. Pengantin baru tidak boleh bersedih. " Goda Wulan yang membuat Senja tersenyum meskipun sangat samar.
"Seandainya Ayah tetap disini apa ibu akan tetap---"
"Ya, ibu akan tetap pergi. Energi ibu sudah terkuras habis selama menjadi istri Ayahmu. Jadi sekarang, Itulah resiko yang harus ibu tanggung. Tapi tak apa, ibu tidak pernah menyesalinya. Lagipula setiap yang hidup juga akan mati kan? "
Senja, Dirga kompak mengangguk. Ibunya benar. Meski dengan cara apapun. Pada akhirnya setiap yang hidup pasti akan mati.
"Sudah, sudah, tidak perlu bersedih lagi. Apapun itu kita tetap harus menghadapi apapun yang akan kita hadapi" Tak ingin suasana sendu terus menggelayuti, Bayu berinisiatif mencairkan suasana.
"Oh ya sebenarnya ayah dua dua kabar untuk kalian .. . Setelah tadi kabar yang kurang mengenakkan, sekarang Ayah punya kabar baik untuk kalian."
"Apa itu, Ayah. " Senja mulai terpancing. Ia sedikit melupakan kabar buruk yang baru di terimanya.
Bayu samudra tersenyum menatap anak dan juga menantunya.
"Dirga sudah mengorbankan nyawanya untukmu. Kau sudah meminum darahnya dan dia juga sudah meminum darahmu ... Dan kalian berdua Ayah yakin pasti sudah saling bertukar energi dalam jumlah besar. "
Dirga dan Senja tersenyum. Cukup paham apa yang di maksud Ayah dengan " Bertukar energi dalam jumlah besar. "
"Jadi itu artinya mulai saat ini Senja adalah manusia biasa sama seperti ibunya. "
Kedua orang yang mendengarkan kabar baik itu terkejut bukan main. Keduanya bahkan sampai tak mampu bicara. Hanya saling pandang dengan tatapan yang masih bingung. Seolah tak percaya pada apa yang baru disampaikan oleh Ayahnya.
"Maksud, Ayah. Senja sudah bukan setengah manusi lagi. Senja sudah manusia normal? " tanya Dirga usai berhasil menguasai keterkejutan nya.
Sang Ayah mengannguk sambil tersenyum. Pun dengan Nawang Wulan. Ia yakin anaknya senang dengan kabar itu.
"Dan mulai sekarang Senja sudah tidak perlu lagi bersemedi atau pulang ke dasar laut. "
"Benarkah, Ayah? " Kali ini Senja yang tampak cukup antusias.
"Iya, Nak. Sebelumnya kau adalah setengah manusia. Dan akan menjadi manusia seutuhnya jika ada dari bangsa manusia yang rela mati untukmu ... Semedimu yang kemarin itu adalah semedi terakhirmu. Setelah Dirga menikahimu maka kau telah benar sah menjadi manusia, " jabar Bayu panjang lebar
Tak dapat menutupi perasaannya, Senja langsung memeluk perut Dirga yang berdiri di sampingnya. Dan di balas Dirga dengan usapan kepala. Adegan manis yang tergambar di depan kedua orang tuanya, membuat mereka juga ikut bahagia.
"Penampakan mu tidak akan berubah, Nak. Matamu tetap akan merah seperti itu. Kau juga tetap saja mudah marah. Tapi setidaknya kau tidak perlu lagi kembali ke dasar laut untuk semedi ... Tapi satu hal, Sebisa mungkin berusahalah untuk tidak mengumbar amarahmu. Karena selain itu membahayakan itu juga akan membuatmu lemah setelahnya. " Kembali Bayu menjelaskan. Sebelum pergi, makhluk itu ingin anaknya tahu tentang segala hal yang berhubungan dengan dirinya.
"Jadi, Dirga. Berusahalah untuk tidak membuat Senja marah. " Wulan ikut menjelaskan.
"Baik, Bu. Aku akan selalu berusaha menjaga emosinya. "
Ke empat nya lalu tersenyum. Di balik kabar buruk yang harus di sampaikan dan di dengarkan. Ternyata ada kabar baik yang membersamai.
__ADS_1