Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Makan malam yang menegangkan


__ADS_3

Malam yang entah di tunggu-tunggu oleh siapa akhirnya tiba. Damar sanjaya dan istrinya sudah staytune di salah satu ruangan privat di sebauh resort. Dirga sendiri yang memilih tempat tersebut. Pria itu memang selalu menyediakan ruang khusus saat bertemu Senja, terlebih saat ini juga ada orang tuanya, tentu Dirga tak ingin ada satupun yang menggangu. Ia ingin semuanya berjalan lancar malam ini.


Dirga dan Senja datang sekitar sepuluh menit lebih lambat dari Damar dan istri.


"Ayah, Ibu? kalian sudah sampai dari tadi? " Sebuah pertanyaan yang lumrah di tanyakan kepada orang yang terlebih dahulu datang.


"Tidak, kami baru saja datang, " Damar yang menjawab sementara Melati langsung fokus menilai Senja dari ujung kaki sampai kepala.


Tentu saja yang di lihat merasa risih, tapi sejak awal gadis itu sudah bertekad untuk bisa menahan diri dan tidak terprovokasi oleh siapapun.


Alih-alih tersinggung, Senja justru berusaha tersenyum sambil mengangguk.


"Selamat malam, Bibi, Paman? " sapanya ramah meski itu sangat jauh dari kebiasaannya.


"Malam ... Oh jadi ini yang namanya Senja? " lagi-lagi Damar yang menjawab, sedangkan iatrinya hanya balas mengangguk.


"Iya, Ayah. Ini Senja. Kekasihku. " Dengan begitu bangga Dirga memperkenalkan Senja. Pria itu tahu reaksi ibunya kurang baik, tapi ia coba mengabaikan. Ia tetap berusaha menghangatkan keadaan supaya Senja tidak canggung.


Saat Dirga menarik satu kursi untuk Senja duduk, disaat yang sama Damar mencuri pandang sekilas pada pemilik iris merah.


'Benar matanya kemerahan, tapi tidak se menyeramkan yang Melati bilang. Dia bahkan sangat cantik. Dan wajah nya seperti tidak asing bagiku, seperti mirip seseorang, tapi siapa ya? '


Sambil memperhatikan Damar berusaha mengingat, tapi tak ada satupun nama yang singgah di ingatannya. Ia akhirnya melempar pandangannya sebelum gadis itu merasa sedang di perhatikan.


Senja sebenarnya bukan tidak tahu kalau Ayahanda Dirga sedang memperhatikannya, tapi lagi-lagi dia berusaha untuk tidak terpancing dan balas menatap dengan tatapan tajam seperti biasanya. Gadis itu memilih berpura-pura tidak tahu. Ia sedang berakting sebagai gadis manis dan lembut malam ini


Makam malam yang menegangkan bagi Senja, terlebih pandangan Ibunya Damar benar-benar membuatnya tidak nyaman. Sejak tadi perempuan itu tak banyak bicara. Hanya sesekali menanggapi obrolan anak dan suaminya.


Hal yang sama juga di lakukan oleh Senja. Gadis itu lebih banyak diam. Untung saja Dirga selalu berusaha melibatkan dia dalam setiap obrolannya, sehingga Senja tidak merasa di abaikan.


"Ohya, Senja. Apa kau lahir dan besar dikota


ini?" tanya Damar pada satu kesempatan


"Iya, Paman, " angguk Senja.


"Dirga juga dulu lahir di kota ini, tapi saat umur nya tujuh tahun kami semua hijrah ke luar


negri. "

__ADS_1


Senja sebenarnya sudah tahu akan hal itu karena Dirga memang sudah pernah menceritakannya. Tapi demi tetap menghargai ucapan sang calon mertua, gadis itu tetap mengangguk menanggapi.


"Ngomong-ngomong siapa nama orang tuamu? siapa tahu kami mengenalnya, soalnya kami juga lahir dan besar di kota ini? " Menatap sang istri seolah meminta pembenaran dari ucapannya, dan istrinya langsung mengangguk.


"Dan apa pekerjaannya? " imbuhnya melengkapi pertanyaan suaminya.


Di bawah meja tangan Dirga diam-diam menggenggam tangan Senja. Disamping karena ingin menenangkan gadis itu supaya tidak gugup, juga sebagai isyarat agar dia saja yang mewakili menjawab.


"Orang tua Senja itu pebisnis yang hebat, Ayah, Ibu. Cabangnya bahkan sudah ada


dimana-mana."


"Oh ya, bergerak di bidang apa? " antusias Ayah


"Butik, paman. " Kali ini Senja memberanikan diri menjawab.


"Butik? "


"Iya, Ibu. Keluarga Senja memiliki butik besar dan cukup ternama. Kapan-kapan ibu bisa memesan baju disana. Aku yakin pasti akan cocok dengan selera ibu. " Cukup bersemangat Dirga mempromosikan, supaya mereka tahu kalau keluarga Senja bukan dari kalangan biasa.


"Boleh juga, kapan-kapan ibu akan melihatnya." Mendengar kata butik membuat jiwa belanja ibunda Dirga meronta-ronta. Wanita highclass itu sepertinya mulai tertarik pada Senja.


"Eum kalau boleh tahu siapa nama orang tuamu?siapa tahu kami kenal. "


Dirga menatap Senja kemudian mengangguk. Mempersilahkan gadis itu sendiri yang menjawab tanya Ayahnya.


"Ibuku Wulan, Paman. dan Ayahku---"


"Wulan? " Damar terkejut dan langsung memotong ucapan Senja. Nama itu sepertinya sangat familiar di telinganya.


"Iya, Paman. Nawang Wulan. "


Deg ! Jantung Damar seperti berhenti berdetak mendengar nama itu. Pun dengan Melati, wanita cantik itu juga melotot tak percaya. Keduanya kemudian saling pandang dengan tatapan yang sulit di mengerti.


"Dan Ayahmu Bayu Samudra? " Damar sangat berharap Senja akan menggelengkan kepalanya dan mengatakan kalau tebakannya salah. Tapi harapannya berbanding terbalik dengan kenyataan.


Bayu samudra memang Ayahnya Senja. Gadis itu langsung mengangguk mengiyakan.


"Ayah kenal orang tua Senja? " Kalau orang tuanya terkejut bukan kepalang, Dirga justru nampak senang, kalau kedua orang tua mereka saling kenal, itu artinya hubungannya dengan Senja kemungkinan akan berjalan mulus, pikir Dirga seraya tersenyum. Tidak tau kalau otak Ayahnya seperti mau meledak, tak kuasa menerima kenyataan yang tak pernah di sangkanya.

__ADS_1


Damar hanya mengangguk dengan pandangan bingung, sementara melati langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi tidak bersahabat. Tapi untungnya Damar masih bisa menguasai diri. Ia bahkan langsung menggenggam tangan istrinya supaya tetap tenang dan tidak bertindak gegabah.


Dalam waktu bersamaan, seorang pelayan datang membawa makanan penutup mereka. Beberapa mangkuk makanan bertekstur lembut dan sedikit berkuah itu ia angkat dalam sebuah nampan.


Namun kejadian aneh terjadi. pada jarak beberapa langkah sebelum sampai ke meja, pelayan itu seperti tersandung kakinya sendiri sehingga membuatnya hilang keseimbangan dan nampan yang di pegangnya jatuh tepat mengenai badan Senja.


Prang ! Dua buah mangkuk jatuh membentur lantai setelah sebelumnya isinya tertumpah di pundak dan dada Senja. Dua buah lainnya bahkan masih tertinggal di pangkuan Senja.


Senja yang terkejut tentu tidak sempat menghindar. Alhasil tubuh dan pakainya kotor berlumur makanan.


"Hey apa yang kau lakukan? " Bentak Dirga yang juga sangat terkejut.


"Maaf, maaf Tuan. Saya tidak sengaja, kaki saya tersandung tadi, " Pelayan tertunduk ketakutan menyadari kebodohannya.


Dirga buru-buru membantu Senja membersihkan makanan yang tumpah mengenai badannya. Rakat, bukan membantu tapi melakukannya sendiri karena Senja tak bergeming sambil mengepalkan tangannya. Gadis itu tertunduk menyembunyikan mata merahnya yang sudah menyala terbakar amarah.


"Biar saya bantu membersihkannya, Nona. " Pelayan pria itu dengan beraninya menyentuh pundak Senja. Mungkin niatnya baik bermaksud hendak bertanggung jawab atas sikap teledornya.


Tapi tindakan nya tentu hanya makin memantik amarah Senja. Ya tentu saja, pria itu dengan lancangnya menyentuh pundak Senja tanpa persetujuan dari gadis itu. Amarahnya yang tadi berusaha ia redam dalam-dalam seolah mencapai puncak dan tidak bisa di bendung lagi.


Senja mendongak memperlihatkan tatapan mautnya yang merah menyala . Tangannya bergerak cepat menepis tangan si pelayan. Dan bukan hanya menepis, tapi juga mencengkeram tangan itu lalu menolaknya dengan kasar sampai pelayan terjatuh karena sentakan yang cukup kuat.


Damar dan Melati saling pandang. Melati yang sudah pernah melihat ke beringasan Senja saja tetap masih terkejut, apalagi Damar yang baru perdana menyaksikan.


Sama seperti istrinya tempo hari. Damar juga di buat melongo sambil menelan ludahnya melihat perwujudan dan ke beringasan Senja.


Mata merah dan wajah mengerikan itu, ia pernah melihatnya dulu. Ya, itu adalah penampakan milik Bayu samudra. Damar benar-benar ingat itu. Dan itu makin membuktikan kalau Senja memang keturunan makhluk itu.


Damar gemetar menyadari kenyataan buruk itu. Ia terdiam. Benar-benar tak bisa berkata-kata lagi.


Sementara Dirga yang menyadari kalau Senja sudah berubah ke mode ganas, lekas mengambil sikap dengan membawa gadis itu pergi.


"Maaf, Ayah, Ibu. Pakaian Senja kotor sekali. Aku harus segera membawanya pulang."


Tanpa menunggu jawaban orang tuanya Dirga gegas menarik Senja menjauh.


Dirga menyadari kalau orang tuanya pasti syok melihat penampakan dan sikap Senja. Karenanya dia cepat tanggap demi menormalkan keadaan.


Dirgantara tentu tak tahu kalau rasa syok dan keterkejutan Ayahnya saat ini berkali lipat lebih besar dari yang ada di pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2