PAHIT

PAHIT
BAB I SENJA DIPERBATASAN


__ADS_3

Satu bulan sudah, aku ditugaskan di daerah perbatasan. Aku tak punya kekuatan untuk memilih apa yang aku inginkan. Aku seorang wanita harus bersaing dengan para pria, yang tentu saja lebih berpengalaman dengan lapangan. Aku sangat bosan berhadapan dengan layar komputer dan laptop.


" Hari ini aku mau ikut menjaga perbatasan", ujar ku yang datang dengan peralatan lengkap. Pak Aris melotot tajam kepada Sania.


"Sania.


Kamu tidak masuk dalam daftar tugas menjaga perbatasan.Medan ini sangat berat,untuk saat ini kami tidak bisa mengikuti sertakan dirimu",ucap Pak Aris tegas tak terbantahkan. Sania memutar bola matanya karena jenggah dengan alasan  Pak Aris yang itu-itu saja.


"Jadi, selama ini Pak Aris  memandang ku lemah",protes ku tidak terima dengan keputusan yang mereka buat untuk menghambat karir ku.


"Aku tidak bisa menerima perlakuan yang menyepelekan kemampuan ku,ujar ku kecewa. Kalian pikir aku datang kesini hanya untuk bermain.


Aku datang kesini  berdasarkan perintah, untuk ditugaskan ditempat terpencil yang indah. Mungkin orang lain akan menolak ditugaskan daerah yang terpencil ini.Tetapi, aku tidak akan pernah menolaknya, karena bagiku NKRI adalah harga mati",ujar ku tegas.


Aku sangat kesal pada mereka,karena menganggap rendah diriku.


"Suka tidak suka aku tetap latihan bersama kalian.Jangan karena aku seorang wanita,kalian menganggap aku tidak penting disini",ucapku pada mereka.


"Dasar keras kepala.Sudahlah pak Aris kita lihat saja nanti sampai dimana kemampuannya",ucap Andi.


"Kalau udah tahu beratnya medan yang kita tempuh,ia akan mundur dengan sendirinya",tambah yang lainnya.


*****


Hari ini kita turun kepos 1.


Giliran jaga.


"Berapa lama perjalanannya?", tanyaku pada Pak Aris.Karena ini tugas ku yang pertama memasuki hutan.


"Ini hanya memakan waktu setengah hari, karena jalannya sering dilewati warga",jawab pak Aris.


"Kita ada berapa pos disini,pak?", tanyaku lagi pada pak Aris karena penasaran.


"Kita ada empat pos yang harus dijaga,yang paling berat pos tiga, karena medannya sangat curang dan berbahaya",jelas pak Aris padaku.


"Maksudnya?",tanyaku lagi.


"Nanti dirimu akan tahu sendiri",kata pak Andi padaku.


"Banyak yang baru tugas disini, menolak jaga dipos tiga",timpal Nyoman. Hanya orang-orang tertentu yang mau jaga disana.


"Suatu saat aku akan membuktikannya",ucap ku kepada mereka. Kalian sama seperti ayah menganggapku tak penting berkata ku dalam hati

__ADS_1


"Baik kami akan tagih janji mu itu",ucap pak Andi yang masih meremehkan kemampuan ku. Mereka mentertawai ku.Kita lihat saja nanti,ucap ku dalam hati.


Kami menyelusuri jalan yang semakin sempit.Kalian tidak tahu derita hidupku lebih berat dari, yang hanya mendapatkan perlakuan buruk.


Aku tidak tahu seperti apa rasanya pelukan seorang ayah, belaian seorang ibu dan cinta serta kasih sayang antara saudara.Kalau aku diberikan dua pilihan antara rumah dan tugas negara, aku akan memilih menjalani tugas negara.


Bisa diberikan pendidikan pun aku sudah bersyukur. Tak dihargai sudah jadi makanan ku sehari-hari, hanya satu orang yang benar-benar menyayangi ku. Kak Firman yang mau memberikan perhatiannya pada ku.


********


(Flash back)


"Non Sania kok makannya di dapur?.


Mengapa tidak di ruang makan bersama keluarga?",tanya bi Inah pada ku mungkin merasa sedikit aneh.


"Saya bosan,bi Inah. Duduk makan di sana.


Ke pengen saja kalau makan bareng sama bi Inah, mang ujang, dan kang usman kayak apa rasanya",jawab ku untuk memberi alasan.


Kalau ditanya seperti apa duduk makan bersama keluarga sendiri,seperti menduduki bara api.Sangat panas sampai ke ubun-ubun.


"Sania..


'Memangnya kenapa?.


Saya juga anak ayah dan ibu,jadi saya juga punya hak yang sama dengan kakak untuk duduk di sini",jawab ku.


"Ibu yang mana,Sania?",sahut kak Nisma dan kak Titah.


"Aku tidak  sudi berbagi ibu sama lo. Ibu, lo itu istri ketiga dari ayah dan lo tidak  jelas juga anak siapa?", ucap kak Nisma.


'Karena ibu lo itu selingkuh dengan orang lain. Paviliun yang lo tempati itu,jadi saksi bisu perbuatan ibu, lo?",paham ucap kak Titah.


"Hentikan",teriak ayah.


Semua kaget mendengar teriakkan ayah. Duduk semuanya, pagi-pagi sudah ribut di meja makan",ucap sang ayah.


Semua orang menjauhi ku dan tidak ingin duduk disamping ku. Hanya kak Firman yang selalu duduk disamping ku dan membela ku.


Aku tidak tahu,sampai kapan kak Firman sanggup membela ku.


"Ayo, kita makan?",Sania mau yang mana. kakak ambilin,yah.Kak Firman mengambil piring ku.

__ADS_1


"Nasi putih sama telur saja, kak?",ucap ku.


"Ini makan. Perintah Firman yang menulikan pendengarannya.


"Kak, ini kebanyakan",ucap ku.


"Kakak tidak  perduli,sekarang habiskan",perintah kak Firman pada ku.


"Kak, perut Sania nanti buncit,dong?",ucap ku.


"Dengarkan kakak, Sania?. Dirimu butuh banyak tenaga untuk berpikir dan belajar,kalau hanya makan nasi putih dan telur kau tidak akan kuat". Firman sudah jenggah dengan alasan Sania


"Baiklah. Sania akan makan semuanya demi kakak  Firman", ucap ku menghargai kasih sayang dari kakak  Firman, walaupun yang ku telan terasa seperti duri.


"Hai...


Mengapa melamun?.


Menyesal ikut kita?", tegur Sidik dengan menepuk pundak ku.


"Siapa yang menyesal,sih. Saya malah senang",ucap ku untuk menyembunyikan derita ku.


"Kita istirahat dulu untuk makan. Hari ini istri ku masak agak istimewa untuk kita semua", Pak Sidik membuka rantang yang berisikan makanan.


"Waw...


Banyak, ini pasti enak", ucap ku dengan mata berbinar?


Haha....


"Mengapa tertawa?", tanya ku tidak mengerti.


"Telur, tempe dan tahu di semur, kamu bilang enak?, tanya pak Sidik


"Tentu saja", Jawab ku karena kehabisan uang aku pernah mencari sisa makan yang layak untuk dimakan.


"Yah, terserahlah.


Ayo kita makan", ucap pak Sidik.


Baru kali ini aku merasakan nikmatnya kebersamaan.


.

__ADS_1


__ADS_2