PAHIT

PAHIT
BAB 13


__ADS_3

"Mbak...!


Maafkan Kalista telah mendengar semuanya".


Kalista berusaha berdiri dengan tegak, agar tidak terlihat kalau pada saat ini menahan ketakutan karena tidak sengaja mendengar perdebatan antara sania dengan pria yang bernama Diky.


Sania terkejut melihat tubuh Kalista gemetaran.


"Hai, Kalista ada?. Apa yang kamu takutkan?",tanya Sania.


Kalista menangis dalam pelukkan Sania. Sania agak sedikit bingung melihat sikap Kalista.


"Maaf, kak. Kalista tidak sengaja mendengarnya", ucap Kalista.


"Tidak apa-apa. Masa lalu tidak bisa dihapus akan selalu meninggalkan jejak.


Kakak bukanlah orang suci, akan banyak cerita ketika kakak kembali.


Diky adalah cinta pertama kakak. Ada rahasia yang harus kakak simpan rapat darinya.


Sean yang menjanjikan segalanya. Pria yang sangat menganggumkan. Ia pergi selama-lamanya. Sean mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.


David adalah obsesi. David hampir kehilangan nyawanya karena ulah kakak, karena mengira David adalah penyebab Sean meninggal.


Sebelum kepergian Sean,ia sudah mengatakan tidak akan ada yang bisa menyentuh apa yang sudah menjadi milikku.


Kakak ngak menyangka,David masih menanti kakak sampai sekarang. Kakak ngak mau membuat David kecewa.


Kakak mau ia mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada kakak". Sania menatap langit malam, mengharapakan ketenangan.


"Mengapa kakak tidak kembali dengan Diky?. Bukankah ia masih mencintai kak Sania?, tanya Kalista.

__ADS_1


"Kakak ingin kedamaian, diakhir hidup kakak", jawab Sania sebelum berlalu pergi dari hadapan Kalista.


Hari ini dengan terpaksa aku harus kerumah sakit. Sakit ini kembali datang setelah setahun aku tidak merasakannya.


"Selamat pagi?".


"Pagi,bu..?.


Ada yang bisa saya bantu", tanya salah satu perawat yang berdiri dimeja resepsionis.


"Saya ada janji dengan dokter Alan Santoso.Apakah beliau ada?", tanya Sania.


"Atas nama siapa, bu?", tanya sang perawat yang bertugas.


"Atas nama Sania Putri Dirgantara.


Aku sangat males berdebat dengan siapa pun.


Alan Bukankah orang asing, dia adalah orang yang dipercayakan Sean selama ini untuk memantau kesehatanku.


Aku melengang masuk keruangan Alan. Karena Alan memintaku untuk menunggu, karena ada pasien lain yang harus diperiksa.


Sudah lebih dari satu jam aku menunggu, terdengar suara pintu dibuka.


Kreek


"Lumayan untuk dokter, yang sedang naik daun",ucap ku memuji Alan.


"Sudah hampir 1 tahun Sania,kau tidak memeriksakan kesehatan.Sekarang ada masalah,apa?", tanya Alan.


"Aku ingin kau memeriksa kesehatanku secara keselutuhan. Aku merasa ada yang salah dengan kesehatanku", ucap Sania.

__ADS_1


"Aku sudahkan sejak dulu,Sania. Sakit mu ini bukan main-main. Mengapa dulu kau tidak terima saja permintaan dari David,untuk hidup bersama?", tanya Alan.


"Aku tidak ingin melibatkan orang lain lagi,Alan.Cukup Sean saja", jawab Sania dengan menatap sendu.


"Aku tak mengerti mengapa Sean begitu mencintaimu,Sania". Ucap Alan dengan tatapan sedih yang ditujukan kepadanya.


"Sebaiknya aku segera memeriksamu,ini memakan waktu yang sangat lama, sebaiknya kamu mengganti pakaian",pinta Alan.


Masuklah dua orang perawat,dengan membawa pakaian bewarna biru laut.


Sanja mengganti pakaian keruangan yang berada disebelah kiri Alan.


Setelah itu Sania diminta untuk berbaring, tempat tidur yang telah disediakan,tidak lama kemudian Alan masuk dengan pakaian serba putih.


"Sania tahan ini akan menyakitimu", ucap Alan. Sania menganggukan kepala tanda mengerti.


Setelah itu Alan memasukkan cairan berwarna putih ketubuh Sania.


Setelah dua jam, obat yang diberikan Alan mulai beraksi. Sania merasakan mual-mual dan tubuh yang terasa nyeri.


"Alan, ini sangat sakit", rintih Sania.


"Sania, ini tidak baik?", ucap Alan.


"Ada apa,Alan?. Kau jangan menakutiku",tanya Sania mulai panik.


"Tubuhmu menolak obat. Ini sangat berbahaya Sania", jelas Alan.


"Berapa lama aku bisa bertahan,Alan?",tanya Sania.


"Enam bulan dari sekarang",jawab Alan jujur.

__ADS_1


__ADS_2