
Setelah merasa lebih baik, Sania masuk kedalam mobil meninggalkan rumah dimana ia pernah tinggal. Walaupun hanya di paviliun kecil.
Sania merasa ada yang salah dengan dirinya. Dibanjiri keringat dingin,tangannya mulai gemetaran. Sania meraih ponsel di dalam tasnya.
"Alan,angkat dong". Sania kembali menghubungi Alan.
"Alan cepat angkat telponnya", batin Sania yang berusaha untuk tidak panik karena keringat dingin membasahi pakaiannya.
"Sania...! Ada apa?",tanya Alan yang melihat banyaknya panggilan masuk dari Sania.
"Alan... !, gue ngak tahu apa yang terjadi. Gue berkeringat dingin,tangan gue ngak kuat pegang steir, Alan".
Sania berusaha berkonsentrasi membawa kendaraannya.
"Lo, ada dimana?",tanya Alan tak kalah paniknya.
"Gue mau menuju rumah sakit", ujar Sania.
"Jangan...!", teriak Alan.
"Sebaiknya pinggirkan mobilmu,cari penjual air mineral,lo minum sebanyak-banyaknya", perintah Alan.
"Buka semua jendela Mobil dan matikan AC, aku yang menjemputmu.Ingat jaga kesadaranmu, jangan sampai pingsan.
Dua jam lagi aku datang,berusahalah untuk bertahan", ujar Alan.
"Oke..!", aku akan menunggumu.
Ya, Allah. Jangan sekarang, aku ingin bertemu dengan putriku.Phoenix putriku belum bertemu dengan ayahnya.
Aku mohon,ya Allah. Batin Sania diantara menjaga kesadarannya.
"Sania...?", teriak seorang pria yang panik melihat Sania yang tidak merespon panggilannya.
Sebuah mobil bewarna silver berhenti saat melihat Sania. Dan buru-buru keluar dari mobil menuju kearah Sania.
"Sania...!,Lo kenapa?", tanya yang berusaha menyadarkan Sania.
"David..?", panggilnya.
"Mengapa gue harus lihat dia lagi? Mengapa, lo masih dikota ini?", tanya Sania berusaha menolak pertolongan David.
__ADS_1
"Sania..?.
Lo sakit?,gue antar Lo kerumah sakit", David menulikan pendengarannya disaat Sania menolak bantuannya.
"Tidak,David. Sebentar lagi temanku segera datang,dia dalam perjalan untuk menjemputku.
David pergilah gue enek, lihat lo. Ngelihat,lo nafas gue makin sesak", ujar Sania.
Sania menyirami tubuhnya dengan air mineral.Untuk mengembalikan kesadarannya.
"Sania..!
Lo,jangan gila. Apa yang kau lakukan?", tanya David yang bingung dengan kondisi Sania saat ini.
Sania tak ingin menjelaskan apapun kepada David. Sedikit orang tahu kadaan dirinya, makin aman untuk.
"Sania... apa yang terjadi denganmu?", tanya David.
"Berhentilah untuk tidak perduli, David", ucap Sania.
David mengepalkan tangannya, karena geram Sania selalu menolak bantuannya.
Sebuah mobil hitam berhenti mendekati Sania.Seorang pria keluar langsung memegang kedua pundak Sania.
Sania menyerahkan kunci Mobil pada Alan. Lalu memasangan oksigen agar Sanua bisa bernafas.
Alan turun dari mobil dan mengambil barang-barang dari dalam mobil Sania.
David hanya terdiam melihat pria tersebut membantu Sania. Berapa banyak pria disampingmu,Sania. Tanya Alan pada angin.
Sania menatap David. Maafkan aku David, aku tidak ingin dirimu kecewa.
Lebih kau membenciku David, itu lebih baik untukku dan dirimu.Batin dalam hati tak tega.
"Siapa dia Sania?", tanya Alan.
"David, yang cinta mati padaku",ucap Sania jujur.
" Kau menolak cintanya,Sania?.Apakah dia bukan pria baik-baik?",tanya Alan.
"Apakah kau pikir aku perempuan baik-baik,Alan?",tanya Sania kepada Alan.
__ADS_1
"Cinta ku hanya untuk Sean. Sayang, aku tidak sempat memberikan keturunan untuknya",ucap Sania mengenang sosok Sean.
Mobil yang dibawa Alan telah sampai dirumah sakit. Alan memanggil beberapa petugas rumah sakit.
"Pasien ini harus dikemotrapis,dia adalah pasien saya",ucap Alan kepada para perawat yang bendorong tempat tidur rumah sakit.
"Baik, dok?".
"Alan,ini harus dirahasiakan", pinta Sania.
"Iya, aku tahu?
"Mana ponselmu?
"untuk apa Alan?
"Untuk menghubungi keluargamu
"Aku harus menghubungi keluargamu dan memberitahukan bahwa dirimu mendadak harus keluar kota, selama empat hari.
Diantara sakitnya Sania merindukan sosok Sean.
"Aku merindukan Sean,Alan. Saat-saat seperti ini,aku membutuhkan Sean disisiku",ucap Sania tanpa sadar.
"Entah mengapa,Sean selalu hadir dalam mimpi-mimpiku.Rasanya aku tidak ingin mimipi-mimpiku berakhir,Alan".
Alan tahu, sakit Sania sudah cukup parah. Seharus beberapa tahun yang lalu Sania sudah harus mendapatkan pertolongan awal.
"Mengapa dia juga datang Alan?", tanya Sania kaget melihat wanita disamping Alan.
"Sania,aku punya nama?", ucap wanita itu tidak terima.
Helena dan Alan adalah sepasang suami istri.
"Lama kita tidak bertemu,apa kabarmu?",tanya Sania.
"Aku baik-baik saja, mengapa tidak datang kerumah?",tanya wanita yang bernama Helena.
Helen sengaja mengajak Sania bercanda, saat Alan dibantu perawat lainnya memasangkan alat medis kepada Sania.
Diantara sakit yang dirasakan Sania, sosok Sean hadir merengkuh Sania dalam dekapan hangatnya.
__ADS_1
"Sean... Sean...Tunggu aku..", racau Sania.