PAHIT

PAHIT
BAB 29


__ADS_3

"Welcome to Paris"


Waktu menunjukan Pukul 19.30 waktu Paris.Saat memasuki pintu kedatangan Sania merapatkan pelukkannya kepada Sean.


Dinginnya suhu udara menerpa tubuhnya. Pada hal ia sudah menggunakan jaket yang sangat tebal.


"Kau kedinginan,sayang?", Sean menatap lekat mata Sania yang hitam.


Sania mengeratkan pelukannya mencari kehangat. Ia sedikit gugup saat menginjakkan kakinya di Paris.


"Ada apa,sayang?. Jangan takut, keluargaku tidak akan memakanmu", ujar Sean yang mengerti perasaan Sania saat ini.


"Apakah aku pantas menjadi pendamping, mengingat kau bukan orang biasa,Sean".


Sania takut kehadirannya tidak akan diterima dalam keluarga besar Sean.


*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*


Kedatangan Sean disambut oleh Paul dan Scot dibandara.


"Hello, Sean".


Sean tidak membalas sapan keduanya, karena kaget melihat kehadiran Paul dan Scot.


Sean melangkah mendekati mereka berdua.


"How are you,Sean?", tanya Scot yang matanya tidak lepas melihat wanita yang bersama Sean.


"I'm fine...?",ucap Sean kepada kedua sahabatnya.

__ADS_1


"How are you guys?", tanya Sean yang sangat bahagia bisa.


"We are very kind", timpal Paul.


Mereka bertiga saling berpelukkan dan melupakan diriku. Gerutu Sania dalam hati.


"Who is with you,Sean?",Sean hampir lupa dengan Sania. Kalau saja Scot tidak bertanya, ia pasti lupa kalau ia datang bersama Sania.


"Hi, honey come here?", panggil Sean. Sania mendekati Sean dan sedikit kesel dengan memperlihatkan wajah cemberutnya.


"Sorry honey, forgive me?" Sean memeluk Sania dengan mencium puncak kepalanya.


"I promise I will repeat it again",ucap Sean menyesal dengan mengenggam jari tangan Sania.


"Introduce him Sania my wife", ujar Sean dengan memeluk Sania dari belakang.


Kedua sahabat Sean hanya termenung mendengarnya.Mereka tidak percaya, kalau pemburu cinta akan jatuh kepada wanita yang ciut dan manis.


"I'm Sania?", ucap Sania merasa canggung.


Scot dan Paul menyambut uluran tangan Sania secara bergantian.


"Welcome to Paris, Sania",ucap Scot tersenyum. Sean dengan cepat melepaskan tangan Scot yang menjabat tangan Sania.


Sambil menunggu Paul mengambil mobil dari area parkir,Sean bertanya kepada Scot.


"How did you know about you arrival?",tanya Sean sediki terkejut dengan kemunculan kedua sahabatnya.


"From Mrs. Alenta. Who informed us and asked to pick you up", ujar Scot menjelaskan, karena ia sangat paham siapa Sean sesungguhnya.

__ADS_1


"What are you stopping,Mrs.Alenta?",ucap Scot dengan memperhatikan mimik wajah Sean.


"Yes, I understand",jawab Sean.


"Sean apakah ini masih lama?",tanya Sania dengan begelayut manja dilengan kekar dan berotot Sean.


"Sebentar lagi,sayang". Sean tahu saat ini Sania sedang menahan kantuk,karena terlihat matanya yang mulai sayu.


Sean mengecup bibir Sania, yang manis.


"Selalu seperti itu", ucap Sania dengan memasang wajah jutek. Malu dilihat dua sahabat Sean.


Scot sangat jengah melihat adegan sepasang pasturi yang sedang berciuman.


Melihat Sean yang berubah menjadi penyayang dan lembut sungguh membuat Paul dan Scot bahagia.


Berbeda saat bersama Leticia,Sean lebih brutal dan tidak ada perlakukan lembut dari Sean kepada Leticia.


Mungkin karena berbeda perempuan, berbeda pula sikap Sean dalam menghadapinya,gumam Scot dalam hati.


"Ayo, masuk?", Sean menuntun Sania masuk kedalam mobil.


Mobil melaju membela jalan raya kota Paris.Sania sudah tertidur didalam pelukkan Sean.


Sean tersenyum mendengar dengkuran kecil Sania.


"Sleep,honey I take care of you",ujarnya dengan mencium dahi Sania terasa dingin membuat Sean khawatir dan meminta Scot menurunkan suhu ac Mobil.


"Scot, can you turn the air conditioner down a bit,because my wife has little desire", pinta Sean kepada Scot.

__ADS_1


"Okay",jawab Scot yang melihat wajah Kekhawatiran Sean.


Scot bahagia melihat perubahan Sean. Bangga melihat ada wanita yang mampu menjinakkan singa lapar.


__ADS_2