PAHIT

PAHIT
BAB 34


__ADS_3

Sania panik dan juga bingung melihat Sean ketakutan melihat Almaoura.


Tak ada yang salah dengan Almaoura. Kuda betina itu baik-baik saja tidak menakutkan. Lalu dimana letak kesalahannya sampai membuat Sean panik saat Sania menunggangi Almaoura.


Kami kembali masuk kedalam rumah, karena tubuh Sean yang masih gemetaran.


"Honey, I'm sorry?. Aku tidak meminta izin kepadamu bermain dengan Almaoura" ujar Sania merasa bersalah


"What really happened,Mrs.Alenta?", tanya Sania kepada Ny.Alenta. Sean masih diam tak mau berbicara.


Matanya menatap kosong saat berhadapan dengan Sania. Melihat ekspresi Sean seperti itu. Membuatnya sedih dan juga menyesal.


"Why did Sean, suddenly turn scared when he saw Almaoura". Sania bertanya kepada Ny, Alenta.


Ny.Alenta dapat melihat kesedihan dan penyesalan dibalik pertanyaan Sania.


"Sean was traumatized when he saw Almaoura. He wanted all his family to stay away from his beloved white horse.


When Sean is ready he will surely tell you why", jelas Ny. Alenta tentang trauma Sean dengan kuda putihnya.


Sania memeluk Sean disertai deraian airmata. "Aku takut kehilanganmu,Sean?", gumam Sania tak mampu bersuara.


Tatapan kosong Sean membuatnya sangat terluka dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


"Sania..??", panggil Sean saat menyadari kalau ia telah membuat Sania menangis.


"Don't cry anymore,honey?", ucap Sean yang menghapus jejak airmata dipipi Sania.

__ADS_1


"Are you mad at me?",tanya Sania menundukkan wajahnya tak berani melihat mata Sean yang terluka.


"I'm sorry Sean I scared you". Sania kembali menangis karena tidak ada kata yang keluar lagi dari mulut Sean.


"Hiks... hiks..."


Sean berdiri bagaikan patung seperti tidak perduli dengan tangisan Sania. Melihat Sean terdiam membuat pedih hati Sania.


Semua tidak berani membantah kalau Sean sedang marah.


Sania masuk kekamar dan duduk disudut lemari dengan menekukkan kedua lututnya dan membenamkan wajahnya.


Sean mendengar ringkikkan Almaoura. Sudah bertahun-tahun,baru kali ini ia mendengarnya.


Penasaran Sean keluar menuju kandang kuda dan melihat airmata keluar dari kedua mata Almaoura.


Terdengar isak tangis Sania. Sean mendekati Sania. Merengkuhnya kedalam pelukkan dengan mengelus punggung Sania.


"Ya, Tuhan. Sania dear, forgive me",ucap Sean yang masih bisa merasakan kesedihan Sania.


Direngkuhnya kembali tubuh Sania kedalam pelukkannya.


"Aku tidak marah padamu,sayang. Aku hanya takut kehilanganmu.


Kalau kita terus berpelukkan seperti ini.Maka aku akan kelaparan",ucap Sean mencairkan suasana.


"Do you want to take a bath together?",tanya Sania kepada Sean.

__ADS_1


"Okay", jawab Sean dengan mengangkat tubuh Sania dan meletakkan dibak mandi berbentuk oval.


Sean menghidupkan Kran air hangat untuk menyirami tubuh mereka berdua. Kali ini tidak ada adegan panas-panasan. Mereka berdua murni mandi sesungguhnya.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, mereka berdua turun kebawah untuk makan bersama.


Sania tidak mau Sean melepaskan gengaman tangannya.


"Is anger is over?",tanya Ny.Alenta kepada kami berdua.


"Seems like already?",sahut Paul dari arah ruangannya tamu.


"Sorry I could not stay here last night",ucap Paul.


"Gwen,I want to ask you a question",ucap Sean.


"Is it?",tanya Gwen kembali.


"Whether a woman will remain a virgin, even if she is married",tanya Sean dengan hati-hati.


"Not Sean and never will be",jawab Gwen.


"Are you still a virgin?",tanya Gwen.


"Yes",jawab Sean dengan cepat.


"Really dear, but I don't feel it",ucap Sania tanpa melihat ekspresi wajah Sean yang sedang melototinnya.

__ADS_1


"Tomorrow you go to the hospital",ucap Gwen kepada keduanya.


__ADS_2