PAHIT

PAHIT
BAB 4 DIAMANKAH DIA BERADA


__ADS_3

Happy birthday to you... Happy birthday to you. Happy birthday Sania...happy birthday Sania.


Ia meniup lilin dikamar gelap yang hanya diterangi dengan sebuah lilin sebagai penerangnya.


Selamat ulang tahun Sania, selamat ulang tahun Sania, semoga panjang umur,adikku sayang",dengan suara bergetar menahan tangis.


"Setiap tahun kakak tidak pernah melupakan hari ulang tahunmu, walaupun kamu tidak pernah kembali.


Semoga dirimu selalu didalam lindungann-Nya. Dimanapun kamu berada.


Kakak tidak pernah melupakan kejadian enam tahun lalu,Sania.


*****


Sania baru saja pulang dari sekolah. Suara sang kakak sudah seperti genderang perang. Sang kakak tidak akan berteriak, kalau belum medengar balasan suara Sania.


"Sania...?", teriak sang kakak.


Sania tahu siapa yang memanggil dirinya. Dalam keluarga besarnya hanya ada satu yang sangat menyayanginya. Siapa lagi kalau bukan kak Firman.


Dengan malas Sania mendekati sang kakak.


"Iya, ada apa sih?". Sania capek kak Firman.


"Kakak akan mengadakan pesta ulang tahun", ujar Firman.


Sania sedikit bingung dengan ucapan sang kakak. Bukankah dari dulu kalau kak Firmannya ulang tahun selalu dirayakan.


Bedanya apa dengan sekarang, membatin Sania dalam hati.


"Jangan suka bergumam dalam hati. Kalau bingung tanya saja. Begitu saja dibuat susah" ujar Firman dengan menyentil dahi Sania.


"Aduhhh..


Kakak suka banget menyentil dahi Sania, dari Sania kecil sampai SMA ini dahi selalu menjadi sasaran.


Firman merangkul pundak Sania dan membawanya duduk dikursi meja makan.


Karena tanggal dan bulan hari lahir Sania sama dengan kakak. Jadi kakak mau membuat pesta besar-besaran untuk merayakannya, ucap Firman dengan senyum sumringah.


"Apakah kakak udah minta izin sama ayah?",tanya Sania ragu pada kak Firman. Ia tahu tingkat kebencian sang ayah padanya.


"Tentu saja. Kakak anak kesayangan ayah?",jawab Firman antusias.


"Terserah Sania ikut saja",jawab Sania sebelum berlalu pergi.


Menjelang sore, Sania masih terbuai indahnya pulau kapuk. Sehingga sudah beberapa kali bibi membangunkannya dari mimpi yang indah. Sania tidak bergeming.


Mau tidak mau Firman harus turun tangan untuk membangunkan Sania dari tidur manisnya.


"Sania...


Bangun dek.


"Sudah sore, kita harus siap-siap sebelum pesta", ucap Firman dengan menepuk pipi Sania yang tirus.


"Sania masih ngantuk,kak. Acara pestanya bukankah nanti malam. Sania mau puas-puasin tidur dulu", ucap Sania dengan mata yang masih terpejam.


"Kamu mau kakak gendong bawa kekamar mandi", ancaman Firman dengan melipat tangan di depan dada.


Sania membuka matanya dengan terpaksa mendengar ancaman sang kakak.


"Oke..

__ADS_1


Sekarang Sania sudah bangun. Kakak maunya apa lagi, tanya Sania yang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Cepat mandi dan berpakaian",perintah Firman pada Sania. Dan ini gaunnya, Firman menunjukkan gaun yang tergantung indah didekat lemari hias.


Mata Sania membola melihat bentuk gaunnya.


"Kakak..!!!


Teriakan Sania membahana. Firman menutup kedua telinganya


"Apa yang salah sih, dek?", tanya Firman.


"Sania tidak mau hadir dengan gaun ini,kak?", ucap Sania. Tanpa aba-aba Sania meremas gaun ditanganinya dan melemparkannya dilantai.


Firman tertawa melihat ulah Sania yang menurutnya sangat unik. "Kakak tahu kamu pasti akan membuang gaunnya.


Ini yang harus kamu pakai",ucap Firman dengan mengacak rambut sang adik karena gemas dengan menyerahkan kado yang berisikan gaun yang harus Sania pakai nanti malam.


Sania memeluk sang kakak karena hanya dia yang paling peduli padanya.


Bi Inah tersenyum bahagia melihat kedua anak majikannya. Ia tahu cerita nona mudanya yang tidak diinginkan kehadirannya.


Setelah mandi dan memakai gaun pemberian sang kakak. Sania menuju rumah besar melalui dapur yang memang terhubung dengan paviliun.


"Waw..!!!


Mata Sania berbinar melihat makanan yang banyak banget.


"Bi Inah saya ambil satu laper",ujar Sania langsung duduk menikmati makanan yang didapur.


Ada dua mobil datang masuk kerumah, tidak lama kemudian terdengar bunyi keributan dari arah ruang tamu.


Samar-samar Sania mendengar namanya disebut oleh seseorang. Dengan langkah pelan ia menuju kearah ruang tamu.


Bi inah mencekal tangan Sania untuk tidak keluar.


"Bi Inah,ada apa sih?. Lepasin tangan saya,"ucap Sania.


Semua tertuju kearah Sania. Melihat Sania wanita itu menatap tajam dengan menarik tangan Sania.


"Ini..


Ini anakyang membuat putri saya masuk rumah sakit. Sekarang anak saya berada diruang ICU",ucap wanita itu dengan menunjuk wajah Sania.


"Itu gara-gara ulah kamu",ujar wanita yang ingin menampar wajah Sania.


Sania dengan cepat mencengkal tangan wanita itu.


"Tante jangan coba-coba berani menampar saya. Memangnya anak tante siapa?",tanya Sania dengan menatap tajam wanita yang ada dihadapannya.


"Anak saya Lila, nama anak saya Rista dan anak saya Siska. Ketiganya mendekati Sania


"O... Mereka.


Jawab Sania santai.


"Mengapa mereka?",tanya Sania kembali.


"Enak banget kamu ngomong,yah?. Anak saya masuk rumah sakit, karena buah beracun yang kamu berikan.


"What?...


Buah beracun, Sania kaget mendengarnya. Tidak mungkin saya mau membunuh anak orang.

__ADS_1


Memangnya saya penjahat",jawab Sania.


"Kalau kamu ngak percaya,ini hasil LABnya.


Semua ini menempel dibaju mereka",ujar mamanya Riska yang menunjukkan hasil dari rumah sakit.


"Ini ngak mungkin tante?",ini salah.


saya...


Kalimat Sania terputus,karena mendapatkan tamparan keras dari ayahnya.


"Plak..!


Bunyi tamparan mengema.


Dan dari sudut bibir Sania keluarlah darah segar. Rasa asin dan amis menjadi satu.


Sania tersenyum sinis.


"Kau dan ibumu sama-sama perempuan yang tidak tahu diri",ucap sang ayah.


"Ayah....?",teriak Firman.


"Ini akibat dirimu selalu membelanya,tunjuk sang ayah dengan wajah memerah.


Kau tidak diizinkan menginjak rumah besar ini.Kau tinggal saja dipaviliun itu,tempat yang pantas untukmu.


"Baiklah..


Pak Surya Atma Wijaya, mulai saat ini aku dan kau tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi


Mulai hari ini, bagiku kau sudah tiada dan aku hanyalah anak yatim piatu. Apa yang kau lakukan padaku ini suatu saat kau akan menyesalinya.


Saat kau menyadari kesalahan atas perbuatanmu aku sudah tidak ada lagi untuk memberikan maaf padamu",ucap Sania yang berlalu pergi.


Firman menghapus airmatanya karena merindukan sosok sang adik.


Semenjak kepergian Sania.


Firman berubah jadi pendiam.Ia tidak menghiraukan pesta yang sedang berlangsung dirumah orangtuanya.


********


Ditempat lain Sania sudah mabuk berat.


"Happy birthday Sania,happy birthday Sania". Sania bernyanyi sambil berteriak setelah itu menangis.


"Apa yang terjadi pada Sania?",cepat kita keluar. Mereka cepat-cepat keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Pak Aris mendekati Sania dan bau alkohol menyeruak keluar dari mulut Sania.


Bekas airmata masih tertinggal dipipi Sania.Dimatanya terdapat kesedihan yang mendalam.


"Pak Aris...?


Pak Aris mau tahu siapa aku?. Aku ini anak yatim piatu disaat keluarga masih hidup.


Aku anak yatim piatu.Sania anak yatim piatu", ucap Sania sambil menangis.


Saat tubuhnya tidak mampu menjaga keseimbangan,teman-temannya memegang tubuh Sania.


Mereka membawa Sania masuk kerumah dan membaringkannya diatas tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2