
Sania mengusap makam Sean. Kembali mengunjunginya karena rindu.
"Aku datang sayang. Aku sangat merindukanmu, sayang. Sayang izinkan aku membuat mereka menderita melebihi sakitmu.
Dengan bantuan keluargamu. Aku akan membalas kematianmu. Maafkan aku memilih jalan yang ekstrim untuk mendapat dukungan dari keluargamu.
Aku melakukan itu, untuk melatih fisik dan fisikisku, apabila ada sesuatu yang akan mengancam nyawaku.
Aku sangat kesepian tanpamu. Saat aku membuka mata selalu ada dirimu yang menghiasi hari-hariku.
Hiksss..!!!..hiksss....
Aku merindukanmu. Hadirlah selalu dalam mimpi-mimpiku". Sania meletakan kepalanya dipusaran Sean dengan lelehan airmata.
Orang yang paling menyayangiku,direnggut secara paksa dariku. Aku hanya memberikan pelajaran kepada mereka,untuk merasakan apa artinya kebahagiaan yang direnggut.
Setelah itu, aku akan menerima dengan ikhlas hukuman yang Engkau berikan padaku nanti.Asalkan dendamku terbalas, itu saja yang aku inginkan.
"Dari kecil sampai saat ini, aku sudah menderita, aku juga ingin orang lain merasakannya.
Bukankah itu adil
*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*
"Are you sure to do it,Sania?",tanya Paul karena ia takut kalau ini hanyalah obsesi Sania.
"Of course I'm sure,do you doubt me?",tanya Sania agak sedikit kecewa,karena Paul tidak mempercayainya.
__ADS_1
"I will it alone,because you still doubt my ability.You heard it carefully",ujar Paul
Sania malas berdebat dengan Paul dan berlalu pergi meninggalkan Paul. Merasa kecewa Paul masih meragukan kemampuannya.
Sania menangis,ingin rasanya ia menyusul Sean, hanya Sean yang tidak meragukannya.
"Sean..!!!!
Aku ingin ikut. Disini tidak ada yang mempercayaiku", ucap Sania lirih.
Hiks.. hiks... hiks....
Paul tidak tega setelah mendengar isak tangisan Sania.
"What happened,Paul?",tanya Scot dengan menepuk-nepuk pundak Paul.
Paul balik bertanya kepada Scot karena seharian ia tidak melihatnya.
Scot hanya tersenyum mendengar Pertanyaan Paul.Ia tahu Paul sedang banyak pikiran, karena itu ia tidak memberitahukan rencana yang telah ia susun bersama Sania.
*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*
Evan Shelvano sangat bahagia berhasil mengakhiri hidup Sean Alexsander. Pengusaha muda yang menguasai segala bidang bisnis, terutama untuk permainan saham.
Evan Shelvano mengadakan pesta merayakan kemenangannya.Evan mengundang rekan-rekan bisnisnya untuk berpesta.
Gio berkumpul bersama Evan dan yang lainnya,ia sangat merasa kehilangan rekan bisnis seperti Sean.
__ADS_1
Hanya Sean yang mau bekerja sama dengan perusahannya yang hampir bangkrut.
Setelah perusahaanku stabil,ia tidak pernah memutuskan kerjasamanya,asalkan aku tidak berkhianat padanya.
Seperti yang dilakukan John terhadap dirinya,sehingga Sean menghabisi John beserta keluarganya.
Sean tidak segan-segan menjilati darah musuh-musuhnya.
""Are you sure you can master the business world today,everyone knows your hassles".
Gio bertanya kepada Evan tentang kemampuannya didalam dunia bisnis dengan senyum mengejek.
Wajah Evan memerah menahan amarah yang sudah diujung kepala.Evan tahu siapa Gio William Wilson.
Pengusaha muda yang menguasai bidang promosi dan pemasaran.
Karena ia mempunyai studio periklanan yang terbesar,dikota ini. Maka dari itu ia harus Berhati-hati dalam berbicara saat bersama Gio.
"Do you doubt my ability,Mr.Gio?",Evan bertanya kepada Gio,dengan mengepalkan jari-jari tangannya,karena meragukan kemampuannya.
"No, mister Evan? I don't have the ability to do business like you". Rasanya muak melihat kelakukan Evan dan kawan-kawannya.
Aku hanya ingin menyaksikan apakah Evan mampu menguasai dunia bisnis seperti Sean.
"Ah..!!,
Sean aku sangat merindukan teman bisnis sepertimu. Gio pamitan pulang kepada orang yang punya pesta.
__ADS_1
Ia membenci pesta diatas duka Sean. Gio juga ingin menyelidiki peristiwa kematian Sean yang menurutnya sangat jangal.
Tak semudah itu mengakhiri Sean yang memiliki banyak keahlian. Gumamnya dalam hati.