
Selama setahun aku sudah dipindah tugaskan sebanyak empat kali. Hukuman berat aku terima tanpa mengeluh. Surat permohonan dari pak Aris untuk menjadi ajudannya, membuat aku tidak dipindah tugaskan lagi untuk kelima kalinya.
Kedatangan ku disambut pak Aris dan juga ibu. Keduanya memelukku secara bergantian.
"Selamat datang,nak. Dirumah sederhana kami".
Mendengar ucapan bu Sari yang menyebutkan rumah sederhana, membuat ku cemberut seketika.
"Rumah yang hampir sama dengan luas lapangan sepak bola. Apakah bisa disebut sederhan,bu?", tanya Sania yang membuat pak Aris tersenyum bahagia.
"Nak Sania, perkenalkan ini kedua putri kami.
Ini namanya Kalista dan yang terakhir Rahayu". Bu Sari memperkenalkan kedua putrinya kepada Sania.
"Salam kenal, saya ajudannya bapak dan ibu", Sania memperkenalkan dirinya dihadapan kedua putri pak Aris dan Bu Sari.
"Nak Sania anggaplah seperti rumahmu sendiri. Kalau mau istirahat kamar nak Sania ada dilantai dua berdampingan dengan kamar Rahayu". Pak Aris tahu kesulitan yang dialami Sania saat ia berpindah-pindah tugas.
Sifat tidak suka diatur, membuat banyak orang tidak menyukainya. Keberhasilannya mengungkap jaringan mafia yang merugikan negara membuat nyawanya hampir melayang.
Ia ingin karir Sania lebih meningkat dengan menjadi ajudannya. Ia tahu akan banyak sekali rintangan yang akan Sania hadapi.
Sania bukan orang lemah, sekali terjatuh ia tidak akan menyerah apa lagi kalah.
"Tentu saja, pak.
Terimakasih banyak atas kebaikan pak Aris dan ibu Sari", ucap Sania dengan penuh rasa hormat.
Hari ini aku dan pak Aris kemarkas besar AD.
__ADS_1
Aku juga membantu pekerjaan pak Aris dikantor.
"Selamat pagi", ucap pak Aris.
"Pagi..
Sania memberi hormat, seragam kebanggan membuat Sania terlihat lebih berwibawa.
"Mari kita sarapan", perintah pak Aris setelah duduk dikursi utama sebagai kepala keluarga.
Sania memangkas rambutnya lebih pendek dari biasanya, sehingga terlihat ketegasan dari wajahnya.
Kalista dan Rahayu sudah ribut dimeja makan. Melihat penampilan Sania yang sangat berbeda.
"Mbak Sania...
Sania mengangkat wajahnya melihat kearah Rahayu.
"Mbak Sania beda",ucap Kalista.
Sania hanya tersenyum mendengarnya.
"Beda apanya?",Sania balik bertanya karena penasaran.
"Gagah,mbak?",sahut Ayu.
"Kalian ada-ada saja", jawab Sania dengan mengelengkan kepala.
"Benaran,mbak. Seandainya mbak Sania laki-laki, Ayu minta sama papa untuk dinikahkan sama mbak", ucap Ayu yang membuat Sania terbatuk-batuk mendengarnya.
__ADS_1
"Ahahaaaa...!
Otak kalian berdua tidak beres", jawab Sania setelah batuknya reda.
Pak Aris dan bu Sari,bisa melihat senyum Sania yang sangat mahal itu. Dulu jarang melihat Sania tersenyum lepas.
"Mbak Sania..?". Sania menyudahi sarapannya untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan dari kedua putri pak Aris dan Bu Sari.
"Iya!
Sania fokus kearah Kalista.
"Mbak Sania, udah punya pacar", tanya Kalista yang tertarik dengan kehidupan pribadi Sania yang menurutnya penuh misteri.
"Punya. Tapi sudah berakhir, kalau sekarang masih betah sendiri. Mungkin mereka takut sama,mbak. Ini anak laki-laki atau perempuan", jawab Sania
"Hii... mbak Sania ada-ada saja", walaupun tidak puas dengan jawaban Sania. Kalista senang bisa memiliki teman baru.
Kalista hampir saja lupa untuk membicarakan kelanjutan hubungannya dengan pacarnya Arga.
"Pak..
Pak Aris menoleh kearah Kalista. Ia melihat ada ketakutan dimata putrinya.
"Iya, ada apa?" pak Aris berusaha bersikap sewajarnya.
"Keluarga mas Arga,meminta keputusan Kalista tentang lamaran mereka", Kalista tertunduk malu.
"Bapak setuju saja, asalkan tidak menganggu kuliahmu. Syaratnya setelah bertunangan bulan berikutnya kalian harus menikah", ucap pak Aris tegas.
__ADS_1
Ia tidak mau terjadi sesuatu sebelum mereka menikah.
Sania tidak mau ikut campur dalam urusan keluarga pak Aris. Cukuplah ia sebagai pendengar yang baik. Jika tenaganya dibutuhkan dengan senang hati, ia akan turut membantu.