PAHIT

PAHIT
BAB 7


__ADS_3

Malam yang menghasilkan segumpal darah, berbagi hidup yang tidak aku rasakan kehadirannya.


Berkembang sempurna yang selalu aku jaga dan lindungi dengan taruhan nyawa. Dia adalah gadis kecil ku, penyemangat hidup ku.


Sebuah kamar apartemen sederhana duduklah dua pasang kekasih,mereka terdiam karena memikirkan kelanjutan hubungan mereka.


"Sania, maafkan gue. Kita harus berakhir, demi mami. Aku tidak mungkin menyakiti hatinya". Dicky menggenggam tangan Sania berat untuk berpisah.


"Aku tahu Diky, jangan khawatir. Aku memaklumi semuanya. Jangan pernah merasa bersalah padaku. Maut, jodoh dan rezeki sudah ada yang mengatur".


Sania memaklumi pandangan orang tentang dirinya. Sejak awal ia sudah pesimis dengan hubungan cintanya bersama Dicky.


Sania merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menutupi wajahnya dengan selimut disertai dengan tangis yang memilukan hati.


Walaupun ia berusaha tegar dan menerima, air mata keluar tak mampu ia dibendung.


Melihat kesedihan Sania, Dicky merebahkan tubuhnya disamping Sania. Memeluknya dengan erat. Ada segurat penyesalan karena melukai wanita yang akan menjadi pelabuhan hatinya.


Ia membuka selimut yang menutupi tubuh Sania dan menatapnya dari atas sampai kebawah. Ia melihat bibir indah Sania yang tampak alami dan tanpa ragu ia mencium lembut bibir Sania.


Sania membalas pagutan Dicky. Mengalungkan kedua tangannya dileher Dicky.

__ADS_1


Semakin lama permainan keduanya, semakin panas. Dicky melepaskan kaos yang dipakai Sania, sehingga terlihat tubuh mulus bak seputih kapas.


Ia menghisap leher jenjang Sania, sehingga meninggalkan jejak kemerahan. Diky melepaskan seluruh pakainnya dan langsung menindih tubuh Sania.


Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Sania mendesah disaat bagian yang ia jaga, telah ia serahkan.


Mereka berdua tidak melakukan hanya sekali tapi berkali-kali sampai rasa lelah menyampari.


Dicky mengusap pipi Sania, menatap maniak mata kelam Sania untuk terakhir kali.


"Aku tidak akan menuntut tanggungjawab darimu. Jika dia hadir di dalam sini". Sania mengarahkan tangan Dicky keperut datarnya.


"Tidak..


Dicky memeluk erat tubuh Sania. Kata-kata yang diucapkan Sania seperti pesan kalau mereka tidak akan pernah bertemu lagi.


"Aku sangat letih, ki. Sania dengan manjanya merebahkan kepalanya didada bidang Dicky.


"Sebaiknya kita tidur dan aku tidak mau mendengar lagi ocehan yang membuat aku bimbang", ucap Dicky dengan melambuhkan mencium bibir manis Sania.


"Dicky...

__ADS_1


Maafkan aku, malam ini malam terakhir aku melihatmu. Jangan kau mencari perempuan yang tidak berharga ini. Selamat jalan", ucap Sania dalam hati.


Menjelang tengah malam Sania pergi tanpa sepengetahuan Dicky. Sania menitikkan air mata saat melihat wajah Dicky untuk terakhir kalinya yang masih tertidur.


Sinar matahari memasuki sela-sela gorden yang tidak tertutup rapat. Dicky merasa tertanggung, tangannya meraba-raba disisi tempat tidur disebelahnya.


Dicky membuka matanya. Saat terbangun, ia sudah tidak menemukan Sania lagi, yang tertinggal hanya noda merah sisa percintaan mereka berdua tadi malam.


Dicky menggitari seluruh ruangan mencari keberadaan Sania. Hasilnya nihil, Sania benar-benar pergi.


Bukan perpisahan seperti ini yang ia inginkan. Ia akan mencari keberadaan Sania suatu saat nanti.


Mengingat itu, hati Dicky terasa teriris bukan karena sakit hati atau pun kecewa,tetapi sedih tidak bisa bertemu dengannya lagi. Selama enam tahun secara diam-diam, ia tetap mencari Sania, walaupun tanpa hasil.


**//**//**


Apa kabarmu sekarang?


Maaf membuatmu tersiksa. Aku tidak akan menganggu hidupmu, jika suatu saat kita bertemu.


Sania tersenyum melihat foto seorang lelaki yang dulu sangat ia cintai. Kalian berdua sangat mirip.

__ADS_1


Maafkan ibu belum bisa mempertemukan kamu dengan ayah. Sania tersenyum melihat foto gadis kecilnya.


__ADS_2