PAHIT

PAHIT
BAB 11


__ADS_3

Kehampan inilah yang ku rasakan. Timbul rasa benci karena kasih sayang yang tidak terbagi. Disaat orang lain merasakan cinta seorang ayah, aku kebalikannya.


Miris, hanya angin malam yang menemani. Dia yang tahu bagaimana sepinya aku menjalani hidup yang tanpa cahaya.


David membuka pintu yang mengarah kebalkon kamar. Ia menghirup udara malam menyegarkan pikiran.


Wajah Sania berputar dalam pikirannya. Mengeluarkan sebungkus rokok dan mengambil salah satunya untuk ia hisap.


Saat menoleh kekanan, ia melihat wanita yang dirindukan ada disana. Ditemani cairan merah yang ada ditangannya.


Ia melihat kalau Sania dalam keadaan tidak baik-baik saja. Potongan rambut pendek dengan pakaian tipis membuat jakun David turun naik.


"Shhht..


Umpat David melihat pemandangan disampingnya. Melihat Sania masuk, hatinya sedih melihat airmata yang mengalir dimata Sania.


Mendengar suara panggilan masuk dari ponselnya, membangunkan Sania dari tidur lelapnya. Ia meraih ponsel diatas narkas dan langsung mengeser ikon hijau tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo...


"Mbak kebiasaan menghilang. Rahayu sudah dari tadi menghubungi, mbak. Tapi tidak ada jawaban".


Sania ingin tertawa mendengar ocehan Rahayu. "Ada apa,sih?", berisik Rahayu.


"Mbak, keluarga mas Arga mau sarapan bersama sebelum mereka pulang. Bapak sama ibu sudah dari tadi mencari keberadaan, mbak", Sania menghela nafas dalam.


"Oke,


Mbak mandi dulu. Mbak baru bangun tidur. Tunggu saja lima belas menit, mbak nanti kesana", ucap Sania memutuskan panggilan.

__ADS_1


" Dimana Sania, Yu?", pak Aris bertanya.


"Masih dikamar, baru bangun tidur,Yah", jawab Rahayu.


Pak Aris mengkerutkan dahinya, merasa ada yang janggal pada Sania.Itu bukan kebiasaan Sania bangun siang, kecuali kalau ia minum alkohol.


Surya memperhatikan mimik wajah pak Aris. Ada rasa iri yang terselib dihatinya ketika Aris mengkhawatirkan Sania.


"Selamat pagi semuanya, maaf saya ketiduran", Sania menarik kursi untuk duduk.


Mata Sania merah efek kurang tidur, menyiratkan kalau ia menyimpan beban berat.


"Pukul berapa kamu tidur, sehingga kesiangan?" Sania nyengir kuda mendengar pertanyaan pak Aris.


" Kepengen bangun siang disuasana hotel", jawab Sania sambi menyeruput kopi panas yang diminta.


Baru saja ia meletakan cangkir diatas meja. Tak sengaja matanya melihat pria yang telah menghancurkan hidupnya.


"Mengapa kau bisa ada disini?.Sania menarik kaos pria tersebut. Bagaimana dirimu bisa tahu kalau aku tinggal dikota ini, David?".


sania berteriak sehingga menarik perhatian semua oraang.


"Sekarang apa yang kau inginkan dari diriku,David?", tanya Sania berapi-api.


"Aku menginginkan dirimu, hanya itu. Bagaimana dengan hukuman yang aku berikan padamu?", tanya David yang tersenyum nelihat kemarahan Sania.


"Ternyata aku salah langkah. Mengapa tidak sekalian saja kau ku habis, sehingga aku tidak perlu melihat mu lagi", ujar Sania.


"Kalau aku perlihatkan ini kepada semua orang. Apakah akan menghabisi ku, sekarang?.

__ADS_1


David menunjukan foto-foto Sania saat masih menjadi model diperusahaannya, sebelum ia dan teman baiknya menjebak Sania.


Sania memberikan bogem mentah dipipi David. Melihat pisau ada diatas meja ia seger mengambilnya dan siap menghujamnya kedada David. Sehingga membuat semua orang panik.


"Sania hentikan", pak Aris coba mengingatkan.


"Diam...


Teriak Sania yang membuat Kalista, Rahayu ketakutan dengan perubahan sikap Sania.


Keluarga Atma Wijaya juga kaget melihat perubahan Sania. Lama tak bertemu banyak yang berbeda dari Sania.


"Sania..


Apakah dengan menghabisinya masalahmu selesai,nak?, pak Aris berbicara lembut pada Sania.


Mendengar suara pak Aris yang menegurnya dengan lembut, membuat ia sadar dan menjatuhkan pisau yang ada ditangannya.


Ia menyingkir dari atas tubuh David, rasa sesak memenuhi rongga dadanya.


Melihat David membuatnya ingat akan masa lalu. "Mengapa kau harus muncul dihadapanku, David?.


Tidak cukupkah hukuman yang kau dan keluargamu berikan padaku", tanya Sania dengan tatapan kosong.


"Aku lelah...


Sungguh aku sangat lelah, David. Aku tidak punya siapa-siapa untuk berbagi.


David terenyuh mendengarnya, ada rasa sesal menyakiti Sania dulu. Dan berlalu pergi meninggalkan banyak tanya kepada semua orang.

__ADS_1


Karena obsesi untuk memiliki Sania, ia menghalalkan berbagai cara. Ia tidak bisa memiliki Sania, sungguh untuk siapakah cinta itu?. Inilah yang masih misteri bagi David.


__ADS_2