
"Phoenix....!" teriakan Sania memanggil nama putrinya. Membuat yang sipunya nama terharu bahagia.
"Ibu.....!" Ia berlari saat melihat kedatangan ibu yang sangat dinantinya.
"Assalamualaikum,sayang". Sapa Sania kepada putri yang sangat dirindukannya.
"Walaikumsalam,ibu". Phoenix sangat merindukan ibu, ungkapnya.
"Ibu tidak sibuk?", ucapnya sebagai bentuk kekhawatiran.
"Tidak" ,ibu meminta izin untuk menemui putri ibu yang cantik.
Sania mengecupa seluruh wajah putrinya, sebagai ungkapan rindu.
"Ibu..?" jangan lagi, Phoenix kegelian,bu. Protesnya.
"Ibu..?" panggil Phoenix dengan keraguan.
Sania tahu ada sesuatu yang ingin ditanya putrinya.
"Iya. Adap apa, sayang?", Sania menunggu apa yang ingin putrinya katakan.
"Ibu, seperti apa,ayah?. Mengapa Phoenix tidak boleh bertemu dengan ayah,bu?". Phoenix menautkan jarinya tidak berani menatap sang ibu.
Sania membawa putrinya duduk dikursi taman. Dibawah pohon yang rindang.
__ADS_1
"Ayah pria yang sangat baik. Saking baiknya ayah, ibu tidak mau ayah dan Oma bertengkar gara-gara ibu.
Phoenix bukan tidak boleh bertemu ayah, tetapi belum waktunya,sayang.
Ayah dan ibu tidak tahu kalau Phoenix sudah ada di dalam sini". Sania meletakan tangan Phoenix diperutnya.
"Jadi ayah tidak tahu kalau ada Phoenix di sini?" Phoenix meletakan tanganny kembali di atas perut rata Sania.
Sania mengganggukan kepalanya. Tersenyum manis karena tidak melihat kekecewaan dimata putrinya.
"Ibu ditolong kepala panti disini. Ibu berjanji kepada mereka akan membantu membiayai kebutuhan anak-anak disini, termasuk dirimu.
Hanya satu pinta ibu. Maukah Phoenix selalu mendo'akan,ibu?". Sania bertanya kepada putri kecilnya.
Phoenix mengganggukan kepalanya dan memberikan kecupan hangat di dahi sang ibu.
Sania melihat putri kecilnya menunggu apa yang ingin katakan lagi.
"Kapan ibu membahagiakan diri sendiri?.Phoenix akan memberikan restu jika ibu mau menikah lagi?".
Sania kaget dan terkejut karena tidak percaya kalau putrinya memikirkan kebahagiaanya.
" Phoenix mau bertemu dengan papa Sean". Sania sebenarnya belum siap menceritakan sosok Sean kepada putri kecilnya.
Tetapi setelah mendengar ucapan Phoenix yang memberikan restu, ia pun menceritakan siapa Sean dan bagaimana ia bertemu dengan Sea.
__ADS_1
Sania meninggalkan panti asuhan, setelah berpamitan dengan putrinya. melajukan mobilnya membelah jalan raya.
Sepanjang perjalanan Sania selalu tersenyum. Hati berbunga setelah mendapatkan restu dari putri kecilnya.
Ia akan mengungkapkan kebahagiannya dengan Sean. Sesampainya dirumah, Sania sangat heran melihat mobil Sean sudah ada digarasi.
Sania memakirkan mobilnya dihalaman dan keluar dari mobil berlari kearah Sean yang berdiri diteras rumah dengan merentangkan kedua tangannya, siap merengkuh Sania kedalam pelukannya.
Sania menangis dalam pelukan Sean. Memeluk Sean dengan erat.
"Honey...? Phoenix memberi restu. Aku sudah menceritakan semuanya tentangmu.
Phoenix ingin bertemu", ungkap Sania dengan menghujani Sean dengan banyak kecupan diwajahnya.
"Really?", tanya Sean tidak percaya. Sania mengganggukan kepalanya membenarkan.
Sean menggendong Sania membawanya masuk kedalam rumah. Sebagai ungkapan kebahagiaan.
" Sean jangan pernah tinggalkan aku. Sungguh aku hanya ingin ini yang terakhir sampai menutup mata", ungkap Sania yang mengelus dada bidang Sean yang selalu memberikan kehangatan.
" Kau rumahku Sania. Rumah yang sangat aku nanti-nantikan sejak lama. Aku lelah bertualang dengan banyak wanita.
Kaulah tempatku menutup mata", ucap Sean yang melabuhkan ******* kecil dibibir Sania.
Dengan senang hati Sania menyambutnya dengan memberikan aksen Sean menjelajahi setiap jengkal tubuhnya.
__ADS_1
Kabut gairah telah menguasai keduanya, lenguhan Sania membuat Sean bersemangat menyerang Sania dari berbagai sisi yang ia sukai.