
Sudah satu minggu kepergian,Sean.Sania belum sadarkan diri. Sampai Sean dimakamkan di Paris tanpa sepengetahuan Sania.
Saat ini Sania diawasi secara intensif dibawah pengawasan Helena dan Alan dibantuin dengan orang-orang kepercayaan Sean.
"Hai,honey?"
"Sean...
Apakah ini benar dirimu? Aku sangat merindukanmu, jangan pergi dariku. Aku tak sanggup hidup tanpamu".
Sania menarik senyum manis dan begelayut manja dilengan Sean. Takut kalau Sean pergi meninggalkannya.
"Kembalilah sayang. Suatu saat kita pasti bersama. Hanya kita berdua, aku menunggumu".
"Tamannya sangat indah Sean. Aku suka, mengapa baru sekarang membawaku ketaman yang indah ini.
Sejak kapan dirimu membuat taman ini?", tanya Sania sambil berjalan menggelilulingi taman.
"Sudah lama hanya untuk kita. Tetapi Saniaku belum boleh tinggal disini.
Kembalilah sayang,suatu saat aku akan menjemputmu", Sania menatap lekat wajah Sean.
"Benarkah,janji?",ucap Sania.
"Hehmmm....
Aku janji, sekarang tidur dan pulanglah sayang", Sania menurut merasakan kecupan Sean di dahinya.
"Sean...
__ADS_1
Sean.... Sean.... Sean...."
Teriak Sania yang membuat perawat kaget mendengarnya.
Semua berlari melihat keadaan Sania,yang sudah sadar dari pingsannya.
Baru kali ini Helena dan Alan melihat keadaan Sania yang dalam keadaan tidak baik-baik.
"Dimana Sean, Alan? Dia janji akan menjemputku",ucap Sania yang mulai mengamuk.
"Aku tidak akan pulang sebelum ia menjemputku. Katakan padanya kalau masih sibuk kerja jangan pulang sekalian", ucap Sania dengan pandangan kosong.
Helena memeluk Sania dengan linangan airmata.
"Sania dengarkan aku baik-baik.Helena menangkup kedua pipi Sania. Kuatkan hatimu Sania.
Sean sudah tiada,Sania. Ikhlaskan kepergiannya.kita akan ke Paris, melihat makam, Sean". Ujar Helen yang membuat dahi Sania mengkerut.
"Tenanglah Sania.. tenang.
Tenangkan dirimu", Helena meminta Wulan memberikan obat penenang kepada Sania.
Sania kembali tertidur,mereka membiarkan Sania untuk beristirahat.
*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*
Sekarang Sania berada di Paris. Setelah satu bulan bisa menerima kepergian Sean.
Sania, duduk dihadapan makam Sean.
__ADS_1
"Apakah dirimu kedindinginan? Mengapa aku tidak dibawa serta bersamamu?.
Aku tidak punya siapa-siapa,selain dirimu. Apa yang harus aku lakukan tanpamu?
Katakan kepadaku. Bagaimana caranya aku harus meneruskan hidupku?", Sania meletakan kepalanya dimakam Sean. Mengusap nisan yang bertuliskan namanya.
Semua menatap iba kearah Sania yang begitu besar cintanya pada Sean. Berjam-jam Sania menangis dipusaraan. menuangkan rasa cinta dan rindunya yang tidak tersampaikan.
"Paul,I want to ask you ? Who is the culprit ? I'm waiting for you answer".
Paul dan Scot hanya terdiam,mereka tidak mungkin membahayakan nyawa,Sania.
"If I don't get it, you guys don't regret it if I do it any bolder",ucap Sania dingin tanpa ekspresi.
Maafkan aku,Sean. Aku tidak terima kebahagianku direnggut. Aku akan memberikan kepada mereka apa yang namanya penderitaan.
Aku akan memilih jalani ini Sean. Untuk membalas dendam. Walaupun kedua tangan ini harus berlumuran darah.
Airmata Sania mengalir saat melihat video kebersamaannya dengan Sean.
Untuk menghilangkan rasa frustasinya. Sania meracik berbagai minuman,yang pernah dilakukannya saat masih diclub malam,yang mempertemukanku ia dan Sean.
Ny. Alenta dan yang lainnya tidak berani mencegah apa yang dilakukan Sania.
Sania meneguk habis minuman yang diraciknya.
Entah berapa jenis minuman yang diraciknya, tetapi tidak sedikitpun Sania mabuk, yang membuat semuanya heran.
Semua kaget melihat Sania mencampurkan obat didalam minumannya.
__ADS_1
Sania memerintahkan semuanya untuk tidak mendekatinya, sangat berbahaya bila ada yang mendekat padanya.
"Don't come near me,I'm begging you guys. I'm testing medicine on my body",ucap Sania, yang melemparkan botol kecil bekas obat yang telah ia minum.