PAHIT

PAHIT
BAB 19


__ADS_3

"Rindu Sean"


"Assalamualaikum?".


"Itu suara kak Sania!",ujar Ayu yang langsung berlari menuju pintu depan.


"Walaikumsalam...?". Kak Sania pulang, teriak Ayu bahagia.


Sania hanya tersenyum melihat kebahagian Ayu. Sania merangkul pundak Ayu dan berjalan beriringan.


"Selama empat hari kak Sania pergi kemana?", tanya Ayu yang merindukan Sania.


Sania tidak Lupa mencium punggu tangan pak Aris dan ibu Sari. Sebelum menjawab pertanyaan Ayu.


"Rahayu..!".


Panggil pak Aris tak suka.


"Iya,maaf", ucap Ayu.


Setelah Sania duduk barulah pak Aris bertanya.


"Mengapa mendadak sekali perginya?. Bapak sama ibu khawatir,nak", tanya pak Aris.


"Maafkan Sania,pak?. Saya harus menemui sahabat Sean yang selama ini mngurus usaha yang tinggalkan Sean untuk saya.


Saya tidak tahu kalau Sean memiliki beberapa usaha atas nama saya", jelas Sania.


"Maafkan bapak,nak. Bapak sangat khawatir takut terjadi apa-apa", ucap pak Aris.


"Bapak tidak baik meminta maaf, Sania yang salah", ujar Sania.


"Apakah pihak hotel sudah menghubungi bapak?",tanya Sania. Sebab kepulangannya untuk memastikan persiapan pernikahan Kalista.


"Sudah, rencananya besok bapak mau lihat lagi bagaimana dengan persiapannya",jawab pak Aris.


"Kak..


Lusa kita fitting pakaian keluarga, bu Susi menghubungi Kalista karena ponsel kak Sania tidak bisa dihubungi", ujar Kalista.


"Baiklah.


Minta bu Susi datang kerumah. Membawa desain yang telah kita pesan", ucap Sania kepada Kalista.

__ADS_1


Bu Sari melihat kearah Sania. Ada sesuatu yang dirahasiakan Sania. Kecurigannya adalah melihat fisik Sania yang kelihatan kurus.


"Kamu sakit,nak?", tanya bu Sari.


Sania kaget mendengar pertanyaan bu Sari.


"Mengapa ibu bisa tahu. Pada hal Sania sudah berusaha menutupinya?", jawab Sania dengan cengirannya.


"Kak Sania sakit,apa?", tanya Ayu panik.


"Beberapa minggu ini kak Sania kurang sehat, masalahnya usus kakak mengalami peradangan.


Kurang tidur, makan tidak teratur karena banyak yang harus kakak kerjakan", jelas Sania.


"Maafkan Kalista yang merepotkan kak Sania",ucap Kalista.


"Maafkan kami,nak",ucap pak Aris tak enak hati telah menyusahkan Sania yang bukan keluarganya.


"Sania tidak pernah merasa direpotkan, ini adalah wujud terima kasih Sania karena bapak, ibu, Kalista dan Rahayu mau menerima Sania menjadi bagian keluarga.


"Sekarang Sania harus istirahat. Ibu akan membuatkan bubur untuk Sania agar peradangannya cepat sembuh", ucap bu Sari.


"Hai...?".


"Sean, no.


I still want to sleep, ucap Sania yang enggan membuka matanya. Ia baru tertidur menjelang subuh karena pergulatan panas bersama Sean.


"Oke!".


Karena gemes,Sean mulai menghujani Sania dengan ciuman,sehingga pagi yang dingin ia hangatkan dengan olahraga ditempat tidur.


"Sean...!", teriak Sania.


"You are naughty".Sania kesel karena tidak bisa tidur lagi.


Sean cepat-cepat berlari,masuk kekamar mandi sebelum Sania melemparinya dengan bantal.


Pukul tiga Sania baru bisa tidur melayani hasrat Sean yang seperti singa kelaparan.


Pagi ini dia mengulanginya lagi.


"Apakah seperti ini punya suami orang asing?", tanya Sania dalam hati, Sania menyungging senyum bahagia.

__ADS_1


"Sania.... Sania...


"Kak...


Sayup-sayup terdengar suara mengetuk pintu kamarnya.Aku pikir Sean,ternyata hanya mimpi.


"Iya,tunggu?", jawab Sania


"Kakak tidur, yah?", tanya Kalista melihat muka bantal Sania.


"Iya,kak ngantuk banget?", jawab Sania.


"Apakah ada tamu,Kalista?.Seperti ada suara Sean", ucap Sania yang membuat Kalista kebingungan.


Sania berlari keluar mencari sumber suara yang dicarinya.


"Sean siapa,kak?", tanya Rahayu.


"Ada apa,tanya yang lainnya kebingungan?", melihat wajah panik Sania.


"Kakak mendengar suara Sean, Pak?", Kalista.


"Sania duduklah,nak?, pinta pak Aris.


"Dikamar Sania ada Sean,pak. Sean,datang menemui Sania, pak. Airmata Sania mulai membasahi pipinya.


"Sania,lihat bapak, nak?", Pak Aris menepuk-nepuk pipi Sania.


Akhirnya Sania sadar kalau dirinya hanya berhalusinasi.Tangisnya pecah tengah-tengah ruangan seperti anak kecil.


"Sania rindu Sean",ucapnya dengan menekukan kedua kakinya.


"Kak...


Jangan seperti ini. Apa yang terjadi kak?",tanya Kalista pada Sania.


"Kak mau bertemu Sean,Kalista".Ucap Sania lirih dan tergeletak tak sadarkan diri.Membuat semuanya panik.


Selama Sania tinggal bersama mereka, baru Kali ini melihat Sania menangis seperti anak kecil. Pak Aris meletakkan tubuh Sania diatas sofa dan menyelimutinya.


"Pak bagaimana ini?", tanya bu Sari.


"Tenang, bu?. Kita tunggu Sania sadar", ucap pak Aris.

__ADS_1


__ADS_2