
Enam bulan. Waktu yang diprediksi Alan untuk aku hidup di dunia. Hanya prediksi karena Alan bukan Tuhan.
Tidak apa-apa mungkin, inilah karma yang harus ku terima. Melihat raut wajah sedih Alan tentang penyakitku.
Aku tidak tahu mengapa harus memiliki kelebihan darah yang golongannya sangat langkah. Seharusnya masalah ini sudah bisa diatasi saat aku masih bayi.
Tapi ini baru aku ketahui setelah aku mengenal Sean. Aneh dan juga ajaib.
"Jangan bersedih Alan. Terimakasih telah menjagaku selama ini",ucap Sania untuk menguatkan hati.
"Setiap satu bulan sekali kamu harus melakukkan terapi,ucap Alan padaku.
"Apakah itu harus,Alan?", tanya Sania dengan tersenyum getir.
"Hanya ini cara satu-satunya. Dengan cara memasuk memasukkan obat kedalam selang infus,selama dirimu melakukan therapy.
Kalau menggunakan cara yang biasa rekasinya lama terlihat hasilnya",jelas Alan.
"Efeknya sangat tinggi. Setelah therapy, kamu harus rawat inap selama dua hari.
Dirimu tidak boleh pulang kerumah kalau tidak ingin ketahuan",jelas Alan lagi.
"Baiklah.
Aku ikuti saranmu,tapi Alan jangan ada yang tahu dengan kondisiku saat ini,tolong rahasiakan",pinta Sania.
"Tentu saja,Sania?. Aku sudah berjanji kepada Sean untuk menjaga dan melindungimu",ucap Alan.
__ADS_1
"Kapan dimulainya therapy ini,Alan?", tanya Sania.
"Aku akan memberitahukanmu setelah hasil labnya keluar", jawab Alan.
Sania hanya mengganggukan kepalanya.Sean adalah pria yang mampu membuat dirinya membuka hati untuk kembali mengenal cinta.
Setelah cinta itu hadir, Sean pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan cinta yang masih bersemi dalam hatinya hanya untuk Sean.
Setelah Sania memberi tahukan kalau ia keluar kota bersama teman-temannya, membuat pak Aris tidak bertanya-tanya lagi tentang keberadaan Sania.
Tapi kehadiran seorang pria yang mengaku sebagai saudara laki-lakinya. Menjadi tanya besar bagi pak Aris.
Masalahnya pria yang ada dihadapannya adalah keluarga dari calon besannya.
Siapakah Sania sebenarnya?.
"Walaikumsalam". Pak Aris terkejut melihat kedatangan dari kerabat calon besannya.
"Maaf kalau kehadiran saya sedikit menggangguk ketenangan keluarga pak Aris", ucap Firman.
"Silahkan masuk,nak. Tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut melihat kedatangan nak Firman.
Apakah ada masalah sampai keluarga Arga mengutus nak Firman kesini?", tanya pak Aris.
"Maaf sebelumnya. Saya datang kesini tidak ada kaitannya dengan Arga. Saya mencari Sania. Adik perempuan saya yang pergi dari rumah", jelas Firman.
Sania..
__ADS_1
Pak Aris agak sedikit bingung dengan penjelasan Firman.
"Sania adik peremuan saya, lain ibu. Sania pergi setelah bertengkar dengan ayah, bertahun-tahun tak pernah kembali.
Melihatnya kemarin membuat saya ingin menemuinya",jelas Firman yang mengerti dengan kebingungan pak Aris.
"Saya mengenal Sania saat bertugas diperbatasan.Tak ada yang aneh dengan identitasnya.
Hanya ia selalu tertutup dengan masalah keluarganya. Saat ini Sania tidak ada dirumah. Ia keluar kota bersama teman-temannya.
Saya juga tidak kenal siapa teman-teman Sania. Sejak ia tinggal bersama saya, tidak pernah melihat teman yang lain selain dari kesatuan", jelas pak Aris.
Ada rasa kecewa dihati Firman karena tidak bisa bertemu Sania. Rasa kekecewaan Firman tergantikan saat mendengar suara Sania mengucapkan salam.
"Assalamualaikum. Ada tamu yah,dek?", tanya Sania melihat mobil yang terparkir diluar pagar rumah.
"Walaikumsalam.
Iya,kak",ucap Kalista.
"Kakak masuk dulu capek habis jalan-jalan", ucap Sania.
Sania langsung masuk kedalam rumah lelah karena menjalankan therapy selama dua hari dirumah sakit.
Langkahnya terhenti saat melihat tamu yang duduk diruang tamu. Ia menyugar rambutnya melihat kedatangan Firman.
"Pergilah dari sini", Sania menunjuk kearah pintu. Dan berlalu pergi menuju kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1