
Perasaan Bram tidak enak saat meninggalkan Sean diarea parkiran mobil.
"Pak Bram bawa saja mobil ini", Sean memberikan kunci salah satu kolesinya yang berwarna hitam.
"Saya akan memakai mobil yang ada dikantor",perintah Sean kepada pak Bram.
"Besok dan seterusnya Pak Bram tidak perlu mengantarku lagi?",ucap Sean yang menurut Bram terasa aneh.
"Memangnya kenapa,tuan?", tanya Bram penasaran.
"Aku ingin istirahat. Aku sudah sangat bahagia dan merindukan pelukkan Sania.
"Pesanku padamu Pak Bram,jangan sakiti orang yang paling kau sayangi dan aku meminta padamu kawal terus Sania saat aku tidak ada.
Kalau sampai ia terluka itu sangat berbahaya", pesan Sean lagi
"Singa betinaku yang tenang akan berubah menjadi singa yang berdarah dingin",ucapan tuan Sean seperti pesan terakhir.
Karena tidak tenang Bram kembali memutar mobilnya untuk melihat keadaan Sean,melalui jalur rahasia yang hanya diketahui oleh Sean dan dirinya.
Belum sempat Bram memasuki jalur rahasia, terdengar dentuman dari arah barat dan suara tembakan.
Bram kembali memutar mobilnya,menuju arah barat dengan kecepatan tinggi melalui jalan sempit.
Saat dirinya sampai disana,mobil Sean sudah terguling, ia melihat Handoko juga hadir disana.
Bram menghubungi Alan untuk mendapatkan bantuan, karena sendiri ia tidak bisa berbuat banyak.
*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*
Sean tidak bisa berbuat apa-apa,tubuhnya seperti mati rasa.Darah keluar dari luka-luka yang dideritanya.
Dalam tidak keberdayaannya,Sean mengambil ponsel untuk menghubungi Sania.
Suaranya yang lembut penuh rasa khawatir.
"Halo.. honey?",dengan suara tersengal-tersengal, Sean berusaha untuk berbicara.
"Sean dirimu berada dimana,sayang?Aku membencimu karena meninggalkanku", ucap Sania dari seberang sana.
"Sorry, honey?. Aku tidak bisa menepati janjiku kepadamu dan Phoenix putri kita.
__ADS_1
"Maafkan aku, honey?. Maafkan aku", ucap Sean.
"Sean dirimu berbicara apa? Cepat pulang aku tidak suka mendengarnya.
"mCepatlah pulang,aku menantimu malam ini.
"Dor... dorrr...
Salah peluru menembus tempurung lutut Sean yang membuat kakinya mata rasa.
"Sean itu suara apa,sayang?", teriak Sania.
'Sean...... Sean......", panggil Sania lagi.
Sean mematikan ponselnya,agar mereka tidak bisa melacak keberadaan Sania.
Ia melihat musuh-musuhnya mendekat kearahnya. Semuanya ia kenal termasuk adik tirinya.
"Sean Alexsander finally I can finish you",ucap Evan Shelvano.
Sean tersenyum,walaupun seluruh tubuhnya terasa sakit.
"Bagaimana Sean bisa tahu tentang, mama?.Apakah dia juga mengawasi keluargaku?", gumam Evan dalam hati.
"Because,your mother is my mother too,and I hate it my last blood", Sean mentitikkan airmata menahan rasa sakit,karena telah dibuang dan dilupakan oleh ibunya sendiri.
"Mr, Evan, we should leave soon, there are police".
Semua pergi setelah mendengar serine polisi.
*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*
Sean merintih menahan rasa sakit dari luka-luka ditubuh. Sayup-sayup terdengar suara serine mobil.
"Ya Tuhan izinkan aku melihat istriku, walau hanya satu detik", pinta Sean.
Sean berusaha untuk menggerakan tubuhnya.
"Sean sadar,aku akan memindahkan tubuhmu", Sean mengenali suara itu.
"Alan.....
__ADS_1
"
Alan apakah itu dirimu?", tanya Sean.
"Ini aku, untung pak Bram menelponku, Walaupun sudah terlambat", ujar Alan.
"Saniaku",ucap ku dengan suara lirih.
*/*/*/*/*/*/*Flahsback /*/*/*/*/*/*/*/*
Alan sangat kaget menerima panggailan masuk dari Bram dan terkejut melihat keadaan Sean yang terluka parah.
"Ia meminta pak Bram,untuk tetap mengawasi keadaan, Sean. Sampai ia dan teman-temannya datang.
Alan bergegas bangun dari tidurnya dan membangunkan Helen untuk menyiapkan meja operasi.
"Sean diserang", ucap Alan.
Helen tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Cepat kerumah sakit", perintah Alan kepada Helena.
"Kalau sudah melihat kondisi Sean,aku akan menghubungimu", ucap Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Alan terkejut dengan keadaan Sean.
Dari kepala sampai kaki,luka Sean sangat parah. Tipis harapan Sean bisa diselamatkan.
Alan merasa kelopak matanya menghangat. Sahabat yang mengangkat dirinya dari kubangan kemiskinan.
"Halo,sayang dengarkan aku.Tulang rusuk patah menghantam paru-paru kemungkinan bocor.
Kedua tempurung lutut Sean tertembus peluru. Kepalanya mengalami benturan, Helena.
Bagaimana cara menyelamatkannya, Helena?", tanya Alan setelah melihat kondisi Sean.
"Ini sangat parah. Bagaimana caranya memberitahukan kabar ini kepada Sania?", ungkap Alan.
Dia yang paling hancur. Rencana untuk bersama hanya tinggal kenangan.
"Bertahanlah Sean untuk Sania",batin Alan meminta.
__ADS_1