PAHIT

PAHIT
BAB 45


__ADS_3

Kebahagian yang ku rasakan selama bersama Sean tidak berumur lama. Aku kembali kehilangan.


Kembali berduka dan hidupku diselimuti kegelapan. Duniaku ditutupi awan tebal,sehingga tidak ada cahaya yang mampu meneranginya.


Saat ini yang ada didalam pikiranku adalah balasan dendam untuk Sean. Aku biarkan kedua tangan berlumuran darah.


Aku dekati orang-orang yang menyebabkan Sean pergi untuk selamanya.


*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*


"Assalamualaikum".


Sania paling tidak suka kalau salamnya,tidak dijawab oleh sang anak.


"Walaikumsalam,ibu?.Bu... dia tampan,aku rasa temana-teman akan melupakanku,karena melihat wajah ayahku yang tampan", ujar Phoenix dengan bangganya.


"Apakah kau merasa tersaingi?",tanya Sean sambil mengelitik tubuh kecil Phoenix.


"Ayah jangan mengendongku seperti anak kecil",teriak Phoneix kepada Sean.


"Ayah tidak pernah mengendongmu


selagi dirimu masih bayi, Phoenix. Ini yang pertama dan yang terakhir ayah mengendongmu", ujar Sean tanpa sadar.


"Ayah... "panggil Phoenix dengan lembut.


"Hehmm... Ada apa?",jawab Sean.


"I asked for a sister with blue eyes,just like father",Sean kaget mendengar permintaan Phoenix, yang ingin mempunyai adik bermata biru seperti dirinya.


"No,"jawab Sean yang membuat Phoenix kaget dan tersenyum hambar.


"Why,dady?",tanya Phoenix sedih.


Ayah tidak mau,karena takut tersaingi", ujar Sean.


Ahahaha...


Sean tertawa melihat wajah Phoenix yang memerah menahan marah.


"Phoenix,sayang ayah?", ucap Phoenix menangis bahagia didalam pelukkan Sean. Akhirnya ia mempunyai seseorang yang bisa dipanggil dengan sebutan ayah.

__ADS_1


"Thank you father,for being present in the life of Phoenix and mother", ucap Phoenix berterima kasih kepada Sean karena telah hadir dalam kehidupan mereka berdua.


Sean mencium puncak kepala Phoenix. Ia mempererat pelukannya,bahagia rasanya ada yang memanggil diriku dengan panggailan ayah.


Terima kasih Tuhan,Engkau berikan aku kesempatan untuk merasakan mempunyai keluarga,istri dan anak yang tulus mencintai dan menyayangiku,batin Sean menatap dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


Akhirnya Sean dan Sania pamit pulang.


"Dengarkan pesan ayah baik-baik,kita akan tinggal bersama,jika ayah tidak bisa menepati janji padamu.


Ayah akan memberikan segala-segalanya untuk kebahagianmu yang akan datang", ucap Sean dengan mencium rambut Phoenix.


Sania menyukai interaksi keduanya. Tak ada kecanggunggan. Terlihat seperti ayah dan anak.


"I love you,dad?",ucap phoenix,yang tidak mau melepaskan pelukannya.


"I love you to,my princess", balas Sean.


"Ibu pergi sayang. Jaga kesehatanmu", pesan Sania sebelum pergi.


"Aku titip putriku kepada ibu", ucap Sania.


"Tentu saja,nak. Terima kasih atas segala semua bantuan yang telah kau berikan", ujar sang ibu panti.


"Assalamualaikum".


"Walaikumsalam".


*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*


"Halo,sayang?. Tebak aku ada dimana?", tanya Sania.


"Halo,very beautiful I like",ucap Sean yang melihat Sania memakai atasan tshirt hitam celana Jeans warna navy.


"Apakah kau ingin berbelanja?", tanya Sean melihat Sania berada dipusat perbelanjaan.


"Iya.


Biasa kebutuhan rumah", jelas Sania.


"Berhati-hatilah dan Selamat berbelanja", ucap Sean.

__ADS_1


"Dah.. cup.. ",Sania menempelkan bibirnya dikamera ponsel.


Sean membalas hal yang sama kepada Sania.


Masih dipusat perbelanjaan.Sania mengirimlan beberapa foto kepada Sean tentang aktifitas belanjanya hari ini.


Sean hanya tersenyum melihat foto-foto yang dikirimkan Sania.


Sean membesarkan matanya,saat foto Sania berada disebuah restoran,karena disana terdapat wajah Evan Shelvano bersama Handoko dan beberapa kolega lainnya.


"Mengapa Evan ada disini? Apakah dia ingin berusaha menghancurkan ku lagi?", tanya Sean dalam hati.


"Tidak Evan. Tidak akan ku biarkan usahamu berhasil untuk yang kedua kalinya".


Sean menghubungi pak Bram untuk datang keruangannya.


"Halo,pak Bram?".


"Iya, Pak. Ada apa?", tanya Bram mendengar suara Sean yang tidak biasa.


"Cepat keruangan saya", perintah Sean.


"Kevin.."


Pak Bram juga kaget melihat Kevin keluar dari ruangan Sean. Saat berpapasan mereka harus pura-pura tidak saling mengenal.


"Apa yang sebenarnya terjadi?",batin Bram bertanya-tanya.


Tok... tok... tok...


"Masuklah,pak Bram", perintah Sean.


"Ada keadaan yang mendesak,aku sudah meminta Kevin untuk melakukan pengamanan seluruh aset yang namanya tertulis anonim.


Agar suatu saat orang-orang yang kepercayaan dan orang yang paling ia sayang dapat menggunakannya", ujar Sean.


Pak Bram sangat terkejut mendengarnya. Ia tak menduga ia dan keluarganya mendapat bagian.


Begitu juga dengan Siska. Ia kaget mendengarnya kalau dirinya juga mendapat bagian.


Karena situasinya yang mendesak Sean harus cepat memindahkannya.

__ADS_1


Sean meminta kepada mereka untuk merahasiakannya dari Sania dan selalu memantau keadaannya,apabila terjadi sesuatu padanya.


"Pesan yang aneh", batin Bram.


__ADS_2