PAHIT

PAHIT
BAB 46


__ADS_3

Sania duduk santai diteras halaman belakang rumah,ditemani secangkir kopi dan keripik tempe kesukaannya dan juga Sean,ia kembali membuka foto-foto yang ia kirimkan kepada Sean.


Mata Sania nanar melihat salah satu foto yang membuat wajahnya memucat.


"Evan Shelvano".


Ada apa ia datang kemari? Mengapa ia bisa mendekati pemegang-pemegang saham diperusahaan Sean.


Perasaan Sania tak tenang saat melihat Evan datang kenegaranya. Ada kekhawatiran tentang keselamatan Sean.


"Aku harus menghubungi Paul dan Scot", ujar Sania.


Sania mengirimkan foto Evan saat berada direstoran kepada keduanya.


"Mengapa belum ada balasan dari mereka berdua?", batin Sania bergemuruh.


Sebaiknya aku hubungi salah satu dari mereka. Sebaiknya aku mengirimkan ini juga kepada Gwen dan Ny.Alenta.


*/*/*/*/*/*/*/*/*/*


"Drrreeet.....drrreeet......."


Ponsel Sania bergetar,ia sangat bahagia karena Paul menghubunginya.


"Hello,sania are you alright?",tanya Paul karena ia juga sangat khawatir,dia tidak bisa menghubungi Sean dari nomor pribadi.


"Yes.


I'm fine,can you guys come here help Sean?", Sania meminta bantuan Paul untuk melindungi Sean.


Paul sudah memberitahukan kepada Alan dan Helena,untuk berjaga-jaga.


Paul,scot dan Gwen akan menganonimkan aset-aset yang dimiliki Sean di Paris.

__ADS_1


Setelah itu menyusul keindonesia.


"OK, Paul?.I understand,hurry up and you guys come I'm very scared",


Sania sangat khawatir. Walaupun Paul sudah menghubunginya,karena ia belum berhasil menghubungi Sean.


"Honey,pulanglah aku sangat khawatir padamu", mohon Sania dalam hati.


*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*


"Tuan anda tidak memberitahukan nona Sania, Kalau anda saat ini berada diluar kota", pak Bram.


"Tidak.


Aku ingin memberikan kejutan untuknya dan juga anakku Phoenix", jawab Sean.


"Rumah ini tidak jauh dari kota dan sekolah putriku. Dua hari lagi aku akan mengumumkan tentang pernikahan kami.


Tetapi terlebih dahulu aku harus membuat mereka aman.Aku akan membuat mereka tidak bisa menyentuh keluargaku.


Dua hari lagi kita menepati rumah ini, princessku",ujar Sean dalam hati saat melihat foto Sania dan Phoenix diponselnya.


"Pak Bram lihatlah putriku?", tunjuk Sean dengan memperlihatkan foto-foto Sania dan Phoenix.


Bram sangat kagum, pada phoenix yang sangat mirip dengan ibunya.


"Sama-sama cantik,kalau tuan mempunyai anak dari nona Sania tentu akan menambah ikatan keluarga,tuan", ujar pak Bram.


Sean tersenyum getir."Tidak bisa pak Bram?"ucap Sean lirih.


"Mengapa tidak bisa tuan?",tanya Bram sedikit bingung.


"Ada masalah dengan kandungan Sania", jawab Sean.

__ADS_1


Bram menjadi merasa tidak enak dengan ucapannya tadi.


"Maafkan saya, tuan?", ujar Bram tak enak hati.


"Tidak ada apa-apa,pak Bram. Kalau Sania tahu,dia akan meninggalkanku.


Aku tidak bisa kehilangan Sania,pak Bram.


Lebih baik aku kehilangan, kekuasaanku dari pada aku kehilangan Keluargaku.


Sania tidak tahu tentang masalah ini, yang ia tahu akulah yang bermasalah dengan kesehatanku.


Pak Bram tidak boleh memberitahukan rahasia ini,kepada Sania.


Pak Bram,ada tugas untukmu.Selidik orang-orang yang bekerja sama dengan Evan Shelvano.


Dan mengapa Pak Handoko bisa mengenalnya? Pria itu adik tiriku", jelas Sean.


"Baik,tuan", ujar Bram.


"Perketat keamanan secara diam-diam.


Belum banyak yang tahu kalau Sania adalah istriku.


Tinggal dua hari lagi,wajahnya akan menghiasi majalah ternama,beserta putriku Phoenix.


Tuan Sean Alexsander dan Ny.Sania Sean Alexsander dua pasangan elegant", ujar Sean senang bisa memiliki keluarga.


"Pak Bram,jangan sesekali menyakiti perasaan pasangan", pesan Sean kepada pak Bram.


"Aku berjanji tidak akan menyakiti mereka walau sesulit apapun hidupku", jawab Bram.


Sean memukul pundak Bram karena bahagia, senyum semeringah selalu terlihat selama perjalanan pulang.

__ADS_1


__ADS_2