
Ku lihat langit kelam tanpa bintang. Membelenggu kerinduan ku kepada putri kecil ku yang jauh disana.
Mengingat kejadian tadi pagi dikeluarga pak Aris. Aku memikirkan putri kecil ku, jika ia berada diposisi Kalista. Apa yang harus aku lakukan?.
Melihat Kalista, aku teringat dengan kisah ku sendiri yang tak berujung. Cinta bagaimana rasanya? aku pun sudah lupa.
"Bahagia sebentar lagi akan bertunangan dan menikah", Kalista tersipu malu saat aku menggodanya.
Aku mendaratkan bokongku disofa balkon kamar Kalista, yang sedang duduk menikmati angin malam.
" Sudah dua tahun tertunda,mbak. Keluarga mas Arga selalu menanti kepastian, kapan aku siap dilamar, mbak?", terdengar ******* berat dari Kalista.
"Masalahnya bapak selalu berpindah-pindah tugas. Baru satu tahun ini, kami kembali berkumpul", keluh Kalista.
"Aku tahu. Seandainya kamu tahu, sangat berat tugas yang kami jalan. Untuk mutasi pindah sesuai dengan keingin, harus punya koneksi.
Seperti yang aku alami, karena rekomendasi dari pak Aris, aku tidak dipindah tugaskan lagi untuk yang kelima kali.
Kau tahu, dalam satu tahun aku sudah dipindahkan sebanyak empat kali ditempat yang berbeda", cerita Sania kepada Kalista.
Kalista menoleh kesamping melihat Sania. "Mbak tidak punya keluarga", Kalista bertanya.
Sania hanya tersenyum getir. Saat mengenang masa lalunya.
"Mbak tidak bisa cerita banyak tentang hidup mbak. Sebenarnya mbak iri padamu, sampai sekarang mbak masih bertanya.
__ADS_1
Kapan kebahagiaan menyambangi,mbak?", ujar Sania.
Sania berdiri ketika udara malam menyapa tubuhnya.
"Ayo masuk. Udara malam tidak baik untuk calon pengantin".
Kalista bisa melihat ada kesedihan dimata Sania.
**//**//**
Mengapa orang asing seperti keluarga, sedangkan keluarga seperti orang asing. Bertahun-tahun aku menghilang,tidak ada yang ingin mencariku.
Seburuk itukah diriku dihadapan kalian, lukaku sudah begitu dalam,ayah. Maafkan aku,kalau tidak menganggap kalian bagian dari hidupku.
Di hotel tempat acara pertunangan Kalista dan Arga disibukan dengan pemasangan dekorasi.
Mengapa dunia begitu sempit?. Calon tunangan Kalista adalah keluarganya sendiri.
Dalam hitungan jam aku bertemu mereka semua.
Mengapa aku tidak menyadarinya?. Sania menengadahkan wajahnya untuk menghalau bening kristal agar tidak keluar.
"Jangan sampai kelelahan. Bapak sudah membayar mereka, biarkan saja itu sudah tugasnya", ucap pak Aris dengan memberikan minuman dingin kepada Sania.
"Dicari ibu untuk didandani, biar seperti wanita",pak Aris tersenyum melihat keterkejutan Sania.
__ADS_1
"Tidak perlu, pak. Saya berpenampilan seperti biasa saja, saya tidak suka pesta apa lagi harus memakai gaun akan memperlambat ruang gerak saya", ujar Sania.
"Perintah ibu negara. Jika bapak gagal disuruh ronda sama ibu", pak Aris hanya bisa nyengir kuda saat Sania menghela nafas tidak bisa menghindar.
Mau tidak mau Sania memasuki lif menuju lantai tiga. Dimana keluarga besar pak Aris menginap.
Menjelang malam kedua keluarga akhirnya bertemu.
"Selamat datang pak Yoga beserta keluarga besar Wijaya", pak Aris menyambut calon besannya.
"Terima kasih atas penyambutannya", pak Yoga menyambut uluran tangan pak Aris untuk bersalaman sebelum keduanya saling berpelukkan.
"Perkenalkan ini kakak tertua saya", ujar pak Yoga memperkenalkan Surya dengan pak Aris.
"Wajah pak Surya tidak asing, mirip dengan seseorang tapi versi wanitanya.
Iya, kan bu?", ujar pak Aris.
Hal ini membuat Surya cukup kaget dan juga keluarga besarnya.
"Iya, pak. Timpal bu Sari juga ikut mendampingi pak Aris untuk menyambut keluarga besar calon besan.
Melihat Sania bu Sari memanggilnya untuk mendekat dan memperkenalkannya dengan keluarga Arga.
"Sania...
__ADS_1
Keluarga besar Arga ikut menoleh dan betapa terkejutnya mereka melihat Sania yang berbeda.