
Semua mata tertuju kearah Sania.Setelah keluar dari ruangan Sean.
"Dasar perempuan nakal. Wah, Ternyata agresif juga. Tiara Lo kalah telak. Lihat tuh saingan lo,lewat.
"Hai, Sania lo ganjen juga, yah", ujar Tiara sengit.
"Kalau, iya emangnya kenapa?"balas Sania.
Saat Tiara ingin mengangkat tangannya, Sania terlebih dahulu memegang kerah bajunya.
"Dengarkan aku baik-baik,aku tidak takut padamu, karena kau tidak selevel denganku",ucap Sania.
"Berani kau menyentuhku, besok dirimu tidak akan bekerja lagi disini. Jadi, jangan sampai hal Ini terulang lagi", ancam Sania melepaskan kerah baju Tiara.
Semua sangat kaget melihat kesangaran Sania,mereka tak pernah menduga Sania yang kelihatan lemah,bisa garang seperti singa betina.
Saat Sania memasuki ruang kerjanya,ia sengaja memasang wajah resah,seolah-olah ia habis dimarah-marahi,sang direktur.
"Sania..., apa yang terjadi?",tanya mbak icha pada Sania.
"Gue ngak tahu kalau dia seorang pimpinan perusahaan besar,karena diclub tadi malam gue gampar dia.
Gue menolak melayani dia, karena tugas gue adalah sebagai bartender.
Bukan wanita penghibur,Sania harus bersandiwara dihadapan teman-temannya, kalau gue ngak keluar, kepala bagian yang akan dikeluarkan.Keputusannya besok, itu katanya".
"Sania.
Maafkan kami yang tidak bisa membantu", ucap Icha.
"Aku tahu,sebaiknya kita kekantin. Dua jam aku diceramahi, membuat perutku jadi lapar",ujar Sania.
"Baiklah,ini juga udah jam istirahat kita isi amunisi", ujar Icha merangkul lengan Sania.
Dikantin seluruh karyawan perusahaan sudah mulai memenuhi meja makan.
Tiba-tiba semuanya terasa hening karena melihat sang pucuk pimpinan perusahaan memasuki area kantin.
Beberapa petugas memperlihatkan menu makanan yang dihidangkan untuk para karyawan.
"I like it very good", puji Sean.
Sean,selalu teliti dalam setiap hal, termasuk menu makanan yang disajikan, karena karyawan baginya adalah keluarga.
"Sania...".
Sania menoleh kearah Rista.
"Iya, ada apa Rista", tanya Sania.
"Tuh, pimpinan sudah datang. Gue bisa cuci lihat yang cakep-cakep", ucap Rista.
__ADS_1
"Udah,ah.
Gue laper banget, kalau melihat dia gue makin tambah laper. Biarin aja, kita pesan makan", ujar Sania yang tidak mau pusing mendengar ocehan Rista.
Sean yang melihat Sania hanya tersenyum. Sudah banyak rencana yang akan ia siapkan untuk Sania.
*/*/*/*/*/*/*/*
"Pak Eko.
Tuan Sean sudah datang", lapor anak buahnya.
"Dia ada dimana?,"tanya Eko kepada anak buahnya.
"Dia sudah ada diruangannya,pak.Ingat kalau Sania sudah datang bawa keatas", perintah Eko.
"Baik, boss".
Eko segera keatas menemui Sean.
"Good night,Mr.Sean?",ucap Eko sebagai basa basai.
"Good night too, Mr. Eko", balas Sean.
"Please sit down,Mr.Sean", ucap Eko.
"Okay,thank you".
Dan akhirnyanya mereka berdua duduk sambil menunggu kedatangan Sania.
"Iya,masuk", Eko.
"Maaf,gue terlambat?",ucap Sania tanpa merasa bersalah.
"Duduklah?", ucap Eko setelah melihat kedatangan Sania.
"Mr. Sean, I'm going to have a good time",ucap dengan sopan.
"Thank you very much,Mr.Eko".
"Layanilah dia" ,ucap Eko kepada Sania.
"Baiklah", ucap Sania.
Setelah Eko pergi, Sania benar-benar menumpahkan kekesalannya kepada Sean.
Ia melempari Sean dengan bantalan kursi.Sean hanya tersenyum, membiarkan Sania melakukannya sampai ia puas dan merasa lelah.
"Sudah puas"tanya Sean.
"Sekarang giliranku", Sean menarik tangan Sania dan merengkuh tubuh mungilnya kedalam pelukkan dan ******* bibir manis Sania.
__ADS_1
Sania tidak mampu menolak kehangatan yang diberikan oleh Sean.
Sean makin berani melakukanmya, karena tidak ada penolakkan dari Sania.
"Apakah dirimu setuju menjadi istriku?",tanya Sean setelah melepas pagutan panasnya sebagai awal permulaan.
"Iya.
Aku mau,jawab Sania".
"Sebaiknya kita pergi dari sini?", Sean menarik tubuh Sania kedalam pelukannya.
"Kemana,Sean?", tanya Sania.
"Ikut saja, nanti kau akan tahu,sayang?", ucap Sean dengan mengecup bibir Sania.
"Sean....?
Apakah kau ingin melakukannya disini?",tanya Sania membulatkan matanya.
"Tidaaaak", ujar Sean.
Sania mengandeng tangan Sean dengan manja.
Setelah dua jam perjalanan,Sania sangat takjub melihat rumah mewah Sean yang bergaya klasik.
"Ini tempat tinggal kita", ucap Sean.
"Ini terlalu mewah untukku,Sean", protes Sania.
"Sebaiknya kita jangan menikah secara resmi,aku tidak ingin menyusahkanmu.
Sebaiknya kita menikah secara kontrak saja atau menikah sirih",usul Sania
"Sewaktu-waktu kau bisa meninggalkan aku tanpa beban,Sean". Sania menatap mata biru Sean.
"Sania...
Sania tidak mau mendengar apa-apa lagi. Sebelum Sean melanjutkan kata-katanya, Sania langsung mencium Sean.
Sean melepaskan semua pakain yang menempel ditubuhnya dan melemparkannya disembarang tempat,ia membawa Sania menaiki tangga menuju kamar atas, sambil membalas kecupan.
Mereka terus melanjutkan pergulatan diatas tempat tidur,Sean merasa sedikit kesulitan memasukkan juniornya kedalam miss vis Sania yang masih rapat seperti tidak pernah tersentuh.
"Sean..!", Sania merintih.
"Jangan takut aku akan pelan-pelan memelakukannya,rasa sakit ini hanya sebentar, setelah itu kamu akan merasakan kenikmatannya".
"Sania hanya menganggu. Sania merasakan ada benda tajam mengiris bagian dalamnya, tapi setelah itu ia tidak merasakannya lagi, yang ada hanya rasa nikmat yang luar biasa.
Sean kasihan melihat Sania yang sudah kelelahan,melayani hasratnya.
__ADS_1
Sean menatap wajah Sania yang sudah tertidur didalam pelukkannya. Setelah pergulatan panasnya.
"I Love you Sania, I love you so much",ucap Sean.