PAHIT

PAHIT
BAB 2 Perbatasan 2


__ADS_3

Ini hari kedua masih dipos1.


Hari ini kita menyisir jalan setapak. "Siapa yang menjaga pos?",Nyoman bertanya dan aku heran  tidak ada satu pun yang mengangkat tangan.


"Sania sebaiknya kau yang tinggal untuk menjaga pos",perintah pak Abdi.


"Aku tidak mau,kalian sengaja tidak mau mengajak ku ikut serta",ucap ku merasa diremehkan.


"Sania ini sangat berbahaya,untuk mengelilingi tempat ini,kita tidak kembali ke pos selama tiga hari dan harus membuat tenda ditengah hutan",ujar pak sidik padaku.


"Tidak masalah, aku tetap ikut", ucap ku untuk meyakinkan mereka.


Aku juga ingin tahu apa penyebab orang-orang tidak mau ditugaskan ditempat ini, daerah ini cukup indah dan damai.


Karena ini mengingatkan aku saat mengikuti kemah dulu. Pergi ke hutan belakang sekolah untuk menjelajah.


Sekarang aku merasakan hutan yang sebenarnya, gumam ku dalam hati.


"Hah.. baiklah!.


Kami mengalah", jawab pak Aris dengan wajah dingin.


"Yes!",aku menang ucap ku dalam hati.


"Flash back"


"Pak...!.


Mengapa sih kemahnya harus didalam hutan?,ngerik atuh,pak!",ucap Lila bersama gengnya yang membuat ku ingin tertawa.


"Kalau kemahnya di pasar,namanya kita shopping?,sahut ku mengejek mereka yang protes.


Kamu itu siap apa tidak  sih jadi anak pramuka?",mendapat tantangan seperti ini sudah takut ujar mengibas-ibaskan tangan ku.


"Eh, Sania!. Gue tidak bertanya sama lo", teriak Lila.

__ADS_1


"Masak bodoh karena gue dengar, jawab ku.Kalau lo tidak  mau kemah,ya sudah pulang aja sana",usir ku kepada Lila dan juga anteknya.


"Apa tidak tahu kalau kemah tempatnya didalam hutan? ",dasar anak manja,ucap ku dengan tersenyum kearah mereka.


"Sania...???,gue jambak lo teriak Lila yang ingin mengejar Sania.


"Awas Lila dibelakang lo?,"teriak Sania.Jangan banyak bergerak Lila karena ulat sudah menempel di ransel lo",ucap Sania.


Karena takut dan jijik, Lila melemparkan tasnya ke semak-semak,ia lupa kalau isi perbekalannya didalam tas ikut terbuang.


"Hahaaaaa.... !"


Sania mentertawai Lila. "Apa lo bilang tadi,mau jambak gue. Dengan ulat aja lo takut,jambakan  aja deh sama ulat",ujar Sania berhasil mengerjai Lila.


"Gue tidak takut ama ancaman lo Lila,teriak Sania pada Lila dan berlalu pergi".


Lila hanya diam menahan amarah dan kesel. Yang lain hanya memperhatikan perdebatan mereka dan tidak menanggapi apa yang terjadi.


***


"Oke,pak?",jawabku.


"Gawat nih kita hanya punya satu tenda", ucap pak Aris.


"Terus masalahnya apa?", jawab ku enteng.


Yang lain memandang kearah ku,yang membuat ku bingung.


"Dirimu mau satu tenda bersama kami?",tanya pak Aris lagi.


"'Tidak masalah",jawab ku cuek dengan mengangkat kedua bahuku.


"Sania...?",panggil pak Abdi.


"Kemari?",ucap pak Andi. Membuat aku terpaksa melangkah mendekati pak Andi.

__ADS_1


"Ada apa lagi,pak?", tanya ku.


"Kamu kesambet sama hantu penunggu hutan ini dengan memegang kepalaku dan meniup ubun-ubun dikepala ku".


"Kalian nih aneh, saya tidak kesambet sama penunggu hutan",jawabku.


"Sania..kami ini laki-laki normal dan waras,kata pak Andi.


"Iya, saya tahu?",kalau kalian tidak normal, tidak mungkin kalian punya istri jawabku.


Andi mengaruk kepalanya yang tidak gatal,karena kalah berdebat dengan Sania.


"Nyoman!",sekarang giliran kamu yang bicara,mulut saya sudah capek karena anak itu tidak peka banget.


"Begini Sania.


Kamu perempuan satu-satunya diantara kita berempat.Jadi kami bingung,kamu harus tidur dimana?",ucap Nyoman.


"Ooo....!",masalahnya hanya itu, saya pikir apaan. Mau bicara seperti itu saja mutar-mutar kayak roda, ujar ku.


Mudah tidak  sulit saya bisa tidur di pinggir tenda.Dulu saat pramuka saya tidur satu tenda dengan anak cowok, hukuman karena saya kalah dalam suatu permainan.


"Permainan apa yang sampai membuat dirimu kalah?", tanya pak Sidik penasaran.


"Menghias boneka,pak",jawabku sehingga semua mentertawai ku.


"Hahaaaaaa...!".


"Tapi itu memang sulit,pak?",saya butuh waktu satu jam tapi tidak bisa menyelesaikannya.Mereka kembali mentertawai ku.


"Ini sudah larut malam, sebaiknya kita tidur,perintah pak Sidik.


"Kami setuju",jawab mereka kompak.


"Kalau kita tidur berlima ditenda ini. Aku rasa kami yang tidak bisa tidur malam ini.Karena baru pertama kali ini patroli ada wanita dalam kelompok para pria", ujar pak Nyoman.

__ADS_1


"Terserah jawab ku",yang langsung membelakangi  mereka.


__ADS_2