
Mendengar rintihan Sania dari dalam kamar membuat para maid mengedor pintu kamar Sania.
Teriakan Sania yang begitu keras dari dalam kamar, membuat salah satu maid berlari mencari bantuan.
Melihat keluarga sedang berkumpul diruang keluarga, maid langsung memberitahukan keadaan Sania.
Gwen langsung naik keatas di ikuti dengan yang lainnya. Paul membuka pintu kamar Sania yang terkunci dari dalam dengan kunci cadangan.
Gwen membulatkan matanya melihat botol obat yang tergeletak dilantai. Ia tahu jenis obat yang Sania minum.
Obat peransang tingkat tinggi,Gwen mentitikkan airmata.
"You stupid, Sania",teriak Gwen dengan berusaha mengembalikan kesadaran Sania.
"No,problem Gwen. I am bored", sahut Sania yang sedang menahan hasratnya yang mulai memuncak.
Sania mengeliat diatas tempat tidur. Berusaha menahan hasrat yang harus dituntaskan.
Rasa panas menyerang tubuhnya. Ia menarik selimut untuk membungkus hasratnya yang butuh pelepasan.
Sania berteriak dan menangis memanggil nama Sean.
"Please,honey come here",buat aku lelah.Sania bangkit mengikat pergelangan tangan dan kaki.
Sania,tahu obat yang diminumnya berdosis tinggi,menjadi dirikannya sebagai kelinci percobaan.
Tidak ada yang berani untuk menolong Sania,menjelang pagi barulah teriakan Sania berhenti.
Pukul 10 pagi waktu Paris,Sania baru sadar kepalanya masih terasa pusing.
__ADS_1
Sania menyandarkan kepalanya dengan tumpukkan bantal.
Setelah kepergian Sean. Almaoura juga ikut menyusul dua minggu setelah Sean.
Mereka berdua meninggalkanku. Tidak terdengar lagi suara ringkikkan dari Almaoura. Apakah Alonso berduka sepertiku,juga?
Ku tenggelamkan tubuhku di bathtub untuk mengurangi rasa sakit dikepalaku.
Sekarang aku benar-benar hampa,disini aku selalu mendapatkan kehangatan seorang suami.
Ahaha.... ku hela nafasku untuk melepaskan kerinduan. Setelah selesai mandi. Ku pakai dress seatas lutut tanpa lengan yang super ketat yang memperlihatkan lekukan tubuhku.
Lipstik merah marron menghiasi bibirku. Sejak menikah dengan Sean,aku tidak diizinkan menggunakan warna ini karena terlalu menggoda,itu yang Sean katakan.
Sean tidak menyukai warna-warna yang mencolok,karena baginya itu sangat menjijikan.
Sean akan memperlihatkan sikap kasarnya, Jika ada sesuatu yang tidak ia sukai.
Aku menangis menahan sakit dan malu, karena ulahnya. Walaupun aku tidak tahu apa sebabnya sampai saat ini,aku tetap mematuhinya.
"Sorry, my honey. Apakah ini sangat sakit?", tanya Sean.Aku menggelengkan kepala dan tersenyum kepadanya.
Sekarang tidak ada lagi yang memarahi dan menyayangiku. Aku turun kebawah untuk sarapan berkumpul bersama keluarga.
"Hey".
Aku tersenyum keseluruh anggota keluarga,aku tarik kursi meja makan, untuk sarapan karena aku sangat lapar.
Ku santap daging steak dihadapanku,ku teguk anggur untuk menghilangkan dahagaku.
__ADS_1
Aku melihat Scot dan Paul menelan Salivanya melihat penampilanku yang berbeda.
"Gila,mengapa Sania bisa berubah seperti ini?" Sangat cantik dan menggoda,batin Scot dan Paul.
Setelah selesai makan,kami duduk diruangan Keluarga.
"Paul and Scot,I want to talk to you guys",ucapku kepada Paul dan Scot.
"What do you want talk about,Sania",tanya Scot padaku.
Aku menunjukkan orang-orang yang terlibat, atas kematian Sean.
"I need your help,to approach them", pinta Sania.
Scot dan Paul membulatkan matanya dan menatapku tajam.
"No,Sania,I don't want to help you", ucap Scot.
"Why?",tanyaku berteriak karena tidak terima mereka menolak membantu.
"Because,it's very dangerous,they aren't reckless,sania",ucap Scot padaku.
"It doesn't matter if you don't want to help,I have my own way to do it".
Ku katakan kepada Scot dan Paul bahwa aku akan melakukannya dengan caraku sendiri,walaupun keluarga melarangku.
Aku hanya ingin membalaskan dendamku kepada mereka yang telah merenggut kebahagianku.
Aku berlutut dihadapan Ny.Alenta,untuk meminta izin kepadanya,dengan melukai bagian tubuhku yang membuat mereka panik.
__ADS_1
Ku biarkan darah mengalir dari pergelangan tanganku.Sehingga aku tidak sadarkan diri.
Dengan cara ini,aku yakin mereka pasti akan membantuku,sorry.